Arlan terus berjalan mundur, menghindari sang Ayah. Namun, langkahnya terhenti ketika punggungnya menabrak dinding kamar. "Ayah jangan marah lagi. Adek, kan, nggak nakal," tutur Arlan dengan mata yang sudah memerah seperti siap menangis. "Dek, Ayah cuma bawain makana." Devan berjalan mendekat, tak perduli putranya itu semakin bergetar ketakutan. Arlan menutup kedua telinganya rapat-rapat. Meskipun suara ayahnya begitu lembut, namun yang terdengar di telinganya hanyalah umpatan-umpatan menyakitkan yang sempat dilontarkan ayahnya tempo hari. Devan meletakan piring yang dibawanya di atas meja belajar Arlan. Ia hendak merengkuh tubuh putranya. Devan tidak mungkin membiarkan Arlan terus menerus merasa takut padaanya. "Dek." Devan menarik Arlan ke dalam pelukannya, sama seperti apa yang Ink

