Arlan sudah berbaring di ranjangnya. Ia pura-pura tidak mendengar dan mengetahui apa pun tentang kondisi kesehatannya. Semua keluarganya mungkin akan sedih dan merasa kasihan seandainya mereka tahu kalau Arlan sudah mendengar kondisi buruknya. Dengan mata terpejam, Arlan bisa mendengar kembarannya terus mengucap maaf padanya. "Dek, maafin Aa." Diusapnya pelan punggung tangan Arlan yang terbebas dari infus. Keluarganya masih berusaha bicara pada dokter Danu untuk mengupayakan semua yang terbaik untuk Arlan, dan di ruangan itu kini hanya ada Arkan. Ia tidak beranjak sedikitpun dari sisi kembarannya itu. "Kamu orang baik, Dek. Coba bilang sama Tuhan supaya kamu diizinkan untuk tetap tinggal, dan sebagai gantinya biar Aa yang pergi," ujar Arkan sembari terisak. Arkan menangis, mengetahui ko

