Chapter 43

1826 Kata

Sudah satu bulan Arlan jadi tahanan rumah sakit. Tubuhnya yang sudah kurus semakin kurus. Ia sudah benar-benar kehilangan rambut pirangnya. Rona-rona kepucatan tak pernah lenyap dari wajahnya. Ya, kemoterapi itu telah mengubahnya, tapi ada satu yang tak pernah berubah darinya. Semangatnya. Malam ini Arlan hanya ditemani nenek, kakek, oma, opa, serta ayahnya. Sang bunda pulang untuk menemani kembarannya. Seperti itulah selama sebulan terakhir, ayah dan bundanya secara bergantian menemaninya. "Yah ...." Devan yang semula fokus dengan dokumen-dokumen di hadapannya langsung menoleh pada Arlan. "Kenapa? Adek mau apa?" "Jangan galak-galak lagi sama Aa," ujar Arlan. Jujur saja Arlan bingung, kenapa ayahnya sangat berubah belakangan ini. Tak jarang Arlan mendengar Arkan tengah dibentak-bentak,

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN