BAB 17

1009 Kata
Nyonya Leda ternyata tidak kunjung pulang, dan jam malam telah resmi dijalankan . Tidak ada orang yang akan mengira kalau situasi di kota jauh lebih membahayakan daripada yang mereka pikirkan. Elsie merasa ini akan memburuk kembali, mengingat sudah ada korban yang muncul lagi. Meskipun dia masih ragu kalau mungkin saja ini pembunuh yang sama, tapi pemberitaan terus menayangkan kalau ini memang dilakukan oleh orang yang sama. Jett masih gelisah di luar rumah. Dia sendirian duduk di kursi malas teras sembari menatap ke halaman depan. Dia merasa kalau semua ini sangatlah cepat dan tidak tahu aturan. Dia seperti memikirkan hal yang serius dan penting. Hal tersebutlah yang mengganggunya berkonsentrasi dari kemarin. Dia menghela napas panjang, pandangan masih ke arah lampu halaman yang menyala. Tak banyak lampu jalan di depan rumah ini, karena itulah sewaktu malam tiba seperti sekarang, situasinya benar-benar agak mencekam. Terlebih lagi tidak ada siapapun disini kecuali dirinya dan Elsie. Selama neneknya pergi, dia bertekad untuk melindungi Elsie dari marabahaya apapun. Dia sendiri sudah tahu bagaimana wujud dari musuhnya, dan kelihatan tidak takut sama sekali. Baginya yang terpenting adalah menjauhkan rumah ini dari pemilik bau-bau misterius yang sangat dia benci. Karena masih gelisah, dia menenangkan diri dengan turun dari undakan teras, kemudian berkeliling rumah ini. Dia memastikan sebenarnya siapa yang sudah mengintai selama beberapa hari di sekitar sini. Dengan penciuman tajamnya, dia mengendus udara malam yang bercampur aroma aneh. Bulu-bulu misterius sangat bisa dia lihat berterbangan di udara. Tidak perlu dicaritahu lagi, dia sudah bisa menduga siapa pemilik bulu tersebut. Bukan binatang, kelas bukan binatang biasa. Sekitar rumah Nyonya Leda ini sangat gelap dan sunyi, apalagi saat malam tiba. Hanya ada satu penerangan di halaman belakang. Jett sempat memeriksa gembok dan rantai yang melindungi pintu belakang. Teralis besi yang ada di pintu ini tidak akan mungkin bisa dihancurkan begitu saja. Tetapi, memang bisa hancur dengan sedikit usaha. Di tempat lain, Elsie kelihatan keluar dari pintu rumah, kemudian mengamati sekitar, mencari sosok Jett yang entah ada dimana. Dia berteriak memanggil, “Jett?” Tidak ada jawaban. "Jett, dimana kau?" "Iya. Aku disini." Jett berjalan ke depan kembali. Dia mengubah mimik wajah gelisah menjadi lebih ceria. “Ada apa? Kau butuh sesuatu?” “Tidak, aku hanya khawatir kau meninggalkanku di tempat ini sendirian, sementara nenekmu tidak kunjung pulang.” “Tidak, aku hanya melihat-lihat sekitar, memeriksa keamanan di rumah nenek ini. Aku harus memastikan keadaan bukan, kita tidak boleh berleha-leha, karena sesuatu mungkin terjadi secara mendadak. tetapi, Ternyata masih cukup bagus. Gembok dan rantainya masih kokoh. Jadi, tidak ada masalah yang kulihat disini." "Benarkah?" "Benar." "Apa tidak ada kendala lain? tidak ada orang yang mengintai kan? tingkahmu agak membuatku takut, Jett, aku takut kalau kita sebenarnya diintai, tidak kan?" "Kenap kau berpikir begitu? aku kan hanya memeriksa keadaan." "Tidak ada, aku sungguh hanya khawatir. kita hanya berdua di tempat ini. aku terlalu cemas. hanya itu." "Sekalipun hanya berdua, tapi Kau jangan khawatirkan itu. aku ini tidak semudah itu untuk dijatuhkan. Aku akan melindungimu." "Aku percaya padamu, cuma agak khawatir." "Oh, Elsie, sudahlah, tidak ada apa-apa." “Ngomong-ngomong, apa nenekmu memang tidak akan pulang lagi malam ini? Aku juga cemas padanya." “Mungkin tidak. Aku tidak tahu, tapi kelihatannya memang tidak akan pulang." "Dia akan baik-baik saja bukan? kau kelihatannya tidak khawatir." "Well, nenekku sangat mengenal tempat ini, lagipula sekalipun dia sendirian, dia pasti akan langsung ditemani oleh Sherif. mereka berteman. sudahlah, jangan khawatir padanya juga." "Baiklah kalau kau memang berpikir demikian. aku akan lega sekarang." "Iya." “Disini gelap sekali kalau malam dan dingin. bagaimana menurutmu, Jett?" “Iya memang. selalu seperti ini setiap malam. terlebih, ini adalah kota kecil yang sebagian besar masih banyak tumbuh pohon, hutan basah juga masih banyak. jadi sekalipun musim panas pasti akan tetap agak dingin sekalipun pagi ... ya bagi sebagian orang, bagiku tetap saja panas." “Padahal aku sudah menggunakan jaket, tapi ternyata masih saja bisa menembus kulitku. Aku merasa dingin sekarang.” Elsie duduk di kursi malas teras sembari merapatkan jaket biru yang dia kenakan. "Kau benar, saat pagi udara juga terasa masih dingin, tapi anehnya kau malah lebih sering telanjang." "Well, memang kalau bagiku itu panas. aku lebih tahan udara dingin ketimbang panas, aku lebih suka musim dingin ketimbang musim panas." Elsie tersenyum. "Aku lebih suka musim semi." "Ah, kau akan semakin suka jika berada disini, Nona. musim semi disini sangat indah sekali." "Benarkah?" "Iya, kalau kau tinggal disini, aku akan dengan senang hati menunjukkan tempat yang akan menjadi surga ketika musim semi." "Aku akan menunggu itu." Elsie mendadak bimbang. perkataan Jett seakan mengharapkannya tinggal di kota kecil itu. tetapi, Elsie tidak mungkin meninggalkan pekerjaan yang akan dia lakukan bersama pamannya. Jett menaiki undakan, lantas mendekati salah satu kursi yang tersisa di teras. Kemudian, dia duduk di sebelah Elsie. “Kau sudah makan malam?” “Iya, terima kasih selalu membuatkan makanan untukku.” “Tidak masalah.” Elsie terdiam cukup lama, dia tidak ada keinginan untuk melakukan apapun atau membicarakan apapun untuk beberapa menit pertama. "Oh iya, Elsie, kalau kau sulit tidur, aku bisa membuatkanmu s**u hangat." Jett menawarkan diri untuk membuatkan s**u hangat bagi wanita itu. Elsie menggeleng. "Aku bukannya tidak bisa tidur, ini belum juga terlalu malam. aku hanya ingin berada disini sejenak, memastikan kau tetap berada disini dan tidka meninggalkanku." "Tentu saja tidak, mana mungkin aku meninggalkanmu." "Kau tidak akan kesepian berada di tempat ini, bukan?" "Tidak sama sekali, Elsie, aku cukup senang berada disini denganmu dan pokoknya selama tak ada masalah, aku bisa lebih santai disini. lagipula kalaupun aku pergi, tidak akan bisa kemanapun, teman-temanku sebagian besar telah mengungsi karena takut, dan pekerjaanku di bengkel juga tidak terlalu dibutuhkan, aku hanya akan memeriksanya setiap Minggu, itu saja, semua orang sudah bisa mengurus diri sendiri dan aku percaya pada bagaian administrasi yang bekerja disana." "Begitu ya, kedengarannya, kau memang seorang bos yang pemalas." Elsie menahan tawa. "Demi menjaga tamu dari nenekku, aku tidak masalah berdiam diri disini seperti keong." Elsie tertawa. "Kau lucu terkadang." Jett ikut tertawa. "Dan kau pun juga lucu terkadang." mereka terus tertawa terbahak-bahak sampai memecah keheningan malam tersebut selama beberapa detik. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN