Prolog
Smith Creek, Wimberley, TX
“Namanya Sheila Walker, korban ketiga dalam dua bulan belakangan. Tubuh tercabik, jantung hilang. Apa ada kemungkinan ini ulah pembunuh berantai?”
Pertanyaan dari deputi Will Black ini tidak bisa dijawab dengan cepat oleh Tom Douglas. Sebagai seorang Sherrif di kota kecil ini, dia sudah bisa menebak apa yang sedang terjadi.
Di depan dua pria paruh baya ini, para petugas koroner sedang memasukkan mayat wanita muda ke dalam kantong. Garis kuning sudah mengintari area hutan cemara yang menjadi lokasi kejadian. Seorang wanita tewas mengenaskan dengan tubuh terkoyak, penuh cakaran binatang buas dan jantungnya telah lenyap.
Sherrif Tom Douglas melihat bercak darah di rerumputan, daun-daun kering serta bebatuan yang ada di sekitar area pembunuhan. Pandangannya mengedar ke para wartawan kota maupun lokal yang berusaha menembus penjagaan dari petugas. Dia berjalan menghampiri pohon terdekat, lalu menyentuh bekas goresan mirip cakar di kulit batangnya.
“Sungguh Minggu pagi yang buruk,” katanya seraya menghela napas panjang. Setelah jeda sesaat, dia melanjutkan, “apapun yang terjadi, masalah ini harus cepat diselesaikan atau kita akan dalam masalah besar.”
“Apa mungkin serangan beruang liar? Cakarnya besar dan kelihatan kuat. Musim panas seperti sekarang, mereka jelas sudah berkeliaran.”
“Bukan, binatang buas, petugas cagar alam tidak menemukan keberadaan binatang pembunuh di sekitar sini.”
Petugas koroner menggotong kantong mayat menuju ke mobil ambulans. Begitu mereka pergi, hampir seluruh dari wartawan yang berkerumun ikut pergi menuju rumah sakit.
“Well, mungkin juga bukan ulah binatang buas, tapi catatan dari dua pembunuhan sebelumnya, ini kemungkinan besar dilakukan oleh binatang buas, anehnya kenapa binatang itu mengincar jantung? Ini perilaku yang tidak wajar.” Deputi Will Black sangat tidak paham dengan tiga peristiwa pembunuhan yang terjadi di wilayah mereka. Kepalanya pusing selama berbulan-bulan karena belum juga mendapatkan titik terang motif dan terduga pelaku. “Bukan binatang, dan sulit juga mengatakan ini ulah manusia.”
Dia berjalan menelusuri jejak-jejak darah, lalu menemani para petugas yang masih mencari serta memotret bukti-bukti. Kepalanya sering pening karena pembunuhan beruntun ini.
“Ini memang bukan dilakukan oleh manusia … biasa,” sahut Sherrif Tom Douglas menoleh ke sisi kanan, tepatnya pada luar garis polisi dimana ada seorang pemuda berambut coklat kehitaman tiba-tiba saja sudah berdiri disana sembari mengamati situasi.
Pria dua puluh tahunan tersebut tampak mengeryitkan dahi seakan banyak hal yang dia sembunyikan. Ketika matanya bertemu dengan Sherrif, dia lantas berbalik dan berjalan masuk ke kedalaman hutan.
Deputi Will Black menatap atasannya kembali. Sorot matanya mengarah ke arah tempat Sherrif melihat, tapi tidak ada siapapun kecuali pepohonan cemara yang semakin lebat dari hari ke hari. “Ada apa?”
“Tidak apa-apa, coba kau periksa berkas mantan narapidana yang keluar dari penjara tahun ini,” perintah Sherrif Tom Douglas. Dia tidak serius saat memerintahkan hal tersebut, terkesan ingin menyibukkan wakilnya saja. “Ini adalah kota kecil dengan penduduk yang sedikit, tidak akan ada penjahat yang bisa bersembunyi lama disini.”
“Tapi aku sudah ...” Deputi Will Black tampak mengerutkan dahi. Dia ingin sekali menyanggah, tapi urung ketika melihat tatapan sang atasan terlihat penuh tekanan. “Baiklah.”
“Aku ada urusan sebentar, aku akan kembali ke kantor selepas makan siang.”
“Oke.”
***