BAB 01

1517 Kata
“Sempurna.” Elsie cukup senang melihat wujud asli rumah Nyonya Lloyd. Rumah satu lantai ini berada di daerah Smith Creek, pinggiran kota Wimberly, Texas, terlihat sama persis seperti gambarannya, dinding dan lantai kayu, cat didominasi warna putih dengan pinggiran coklat muda. Indah, asri, hijau. Di sekitar rumah ini terdapat sungai kecil, yang dikelilingi kanopi pohon, termasuk pohon Ek raksasa di halaman depan, juga taman bunga mawar berpagar. Sebuah tempat yang cocok untuk menenangkan pikiran sekaligus melarikan diri dari penatnya hidup di kota besar. “Di manapun, Texas selalu indah,” katanya lagi. Sembari menarik koper, dia mendaki undakan menuju teras. Belum sempat dia mengetuk, pintu rumah perlahan dibuka oleh sang pemilik rumah. Leda Lloyd, wanita tua yang sudah menginjak usia enam puluh tahun. Akan tetapi fisik wanita itu terlihat masih bugar dalam balutan kaos dan celana olah raga, hanya saja keriput di wajah tak bisa disembunyikan semuanya. Warna rambut aslinya adalah coklat pirang, sebagian telah menjadi putih uban, terutama bagian poni. “Nona Maristela Wilson?” Wanita itu menyunggingkan senyuman ramah. Elsie mengangguk lemah. “Aku Leda Lloyd, pemilik rumah, silakan masuk, aku sudah membersihkan kamarmu di lantai atas, kau akan suka, semuanya sudah kupersiapkan.” Leda memiringkan badan, membiarkan Elsie masuk. “Terima kasih.” Elsie menggeret koper masuk. Hidungnya disambut dengan aroma bunga mawar semerbak yang seolah telah menyebar ke setiap sela perabotan. Harum sangat menenangkan hingga bibirnya melukis senyuman manis. Mata biru kehijauan, rambut coklat halus, tubuh ramping. Dalam hati, Leda menyimpulkan kesan-kesan pertamanya yang dia lihat dari Elsie. Wanita muda yang dua tahunan ini cantik, sangat menonjol, dan yang paling penting aromanya seperti kuncup bunga mawar yang baru mekar. Tubuh wanita muda yang pastinya akan menarik para predator lokal untuk mendekat. Sebelum menutup pintu, dia memastikan keadaan sekitar rumah. Untuk sesaat, mimik wajahnya berubah serius seakan sedang waspada akan sesuatu. “Aku kemari karena rekomendasi dari pamanku, maaf jika mungkin dia memaksamu untuk menerimaku disni, kudengar ini sebelumnya bukan homestay,” kata Elsie terdengar tidak enak saat memandang sang pemilik rumah. Leda menggeleng cepat. “Tidak, tidak, jangan minta maaf, Nona Wilson, rumahku akan berubah menjadi homestay untukmu dan keluargamu, aku dan pamanmu sudah berteman sejak masih sekolah, jadi tolong, anggap saja rumah sendiri. Aku lebih tenang jika kau ada disini ketimbang penginapan lain.” “Oh, tolong panggil aku Elsie.” “Baiklah, Elsie, bagaimana perjalananmu?” “Menyenangkan.” “Berkeley memang kota yang bagus, ya? Aku pernah kesana, California sangat menyenangkan, indah dan ramai. Aku berharap bisa berkunjung kesana kembali.” Berkeley adalah salah satu kota di California yang menjadi tempat tinggal Elsie. Dia langsung terdiam lama karena nama kotanya disebut. Sikap ini membuat Leda tidak nyaman. Tidak ada balasan, Leda pun mendehem, lalu mengganti topik pembicaraan, “baiklah, kuharap untuk beberapa hari ke depan kau tetap di rumah ini saja dahulu.” “Kenapa?” “Apa kau sudah mendengar berita pembunuhan di Smith Creek ini?” Elsie mengingat surat kabar yang sempat dia baca ketika berhenti sejenak di minimarket sebelum ke rumah ini. Dia sama sekali tidak merasa takut ataupun cemas. “Iya, pembunuhan yang mengincar wanita muda, sudah ketiga kalinya.” “Kejadiannya hutan cemara sekitar satu mil dari sini, cukup dekat, jadi itulah sebabnya akan lebih aman kau berada di rumahku. Kau jangan khawatir, selama di dalam rumah ini, semua akan baik-baik saja.” Kening Elsie mengerut, bingung sekaligus penasaran. Menurutnya malah rumah ini yang paling berbahaya karena berada di sekitar hutan yang menembus langsung ke lokasi kejadian. Terlebih, mereka hanya berdua di tempat ini. Beberapa detik kemudian, dia menghela napas panjang. Dia tidak peduli dengan apapun. Pikirannya sedang kacau, terlalu banyak masalah yang memenuhi kepala. Tujuannya melarikan diri ke kota kecil ini hanyalah untuk beristirahat dan melupakan tentang semua. Tentang orangtuanya yang bercerai setelah bertahun-tahun hidup bersama penuh pertengkaran. Tentang ayahnya yang memasukkan wanita ke rumah mereka sekalipun perceraian belum selesai. Ketidakharmonisan orangtuanya sedikit demi sedikit membuat hati dalam dirinya kering dan kaku seperti lembaran kertas. Baginya, cinta hanyalah sebuah kata-kata karena perasaan manusia itu mudah berubah. Hal itu membuktikan bahwa tidak ada yang namanya cinta sejati Gurat wajah Elsie tampak gundah, Leda semakin yakin kalau wanita muda itu tengah memendam masalah. Dia berbalik, lalu berjalan menuju ke dalam rumah seraya mengajak, “ayo ke dapur, kubuatkan jus selamat datang di Smith Creek. Letakkan kopernya disitu saja dahulu.” Elsie meninggalkan kopernya, kemudian berjalan mengikutinya. Dapur di rumah ini tidak terlalu lebar maupun sempit, cukup untuk orang yang tinggal sendiri atau pasangan muda. Perabotan cukup sederhana, meja persegi dengan tiga kursi kayu mengintarinya, kompor listrik, microwave dan blender di atas meja dapur. Rak bumbu dan alat makan menempel di dinding atas. Sudah tahunan tak mendapat perhatian, terbukti dari warna cat coklatnya telah memudar, serta engsel yang karatan. Elsie duduk di salah satu kursi, lalu melipat tangan di atas meja. Pandangannya terfokus pada keranjang buah apel di tengah meja. Hampir seluruh isinya telah membusuk. Ia bertanya-tanya, apakah wanita ini tidak tahu buahnya menbusuk? Atau memang tidak menyukai buah-buahan? Pertanyaan tersebut terus terbesit dalam benaknya kala melihat isi lemari pendingin yang dibuka oleh Leda. Ketimbang sayuran atau buah, bagian dalamnya hanya terisi daging segar. Leda mengeluarkan satu pak buah stroberi segar, s**u kotak dan balok es dari kulkas, membuatkan jus dari bahan tersebut. “Kau bebas untuk memasak sendiri di dapur ini jika tidak tertarik dengan masakanku, Elsie, kebanyakan memang banyak daging rusa, jangan kaget, sanak keluargaku disini adalah pemburu,” jelas Leda yang sesekali menoleh ke belakang, dan langsung tahu keheranan di wajah Elsie tentang isi kulkasnya. “Tapi, jangan khawatir kita bisa membeli daging babi atau sapi di supermarket.” Elsie mengangguk. Pada dasarnya dia sangatlah pendiam dan cenderung acuh pada sesuatu. Dia tidak memiliki alergi terhadap apapun. Semua jenis makanan bisa dia makan. Manis, asam, pahit, pedas, asin, semua rasa tidak pernah dia keluhkan. Leda menuangkan jus stroberi ke dalam gelas, kemudian menyuguhkannya kepada Elsie. Dia ikut duduk di kursi seberang meja. “Jadi bagaimana keadaan Georgie?” “Paman baik-baik saja,” sahut Elsie kemudian meminum jus tersebut. Senyumannya merekah ketika rasa manis bercampur asam menyentuh lidah. Dari obrolan singkat ini, Leda memahami benar karakter Elsie yang sedikit tertutup. Biasanya dia tidak bisa akrab dengan wanita semacam ini. Ya, itu karena dia terbiasa beradaptasi dengan wanita di kota kecil yang mudah bersahabat. “Dan orangtuamu?” tanyanya lagi. Elsie agak terkejut. “Apa kau mengenal orangtuaku?” “Hanya ibumu saja, tapi tidak terlalu dekat hanya sebatas kenal karena dia adik dari Georgie. Menurutku ibumu sangat lembut dan ramah.” “Orangtuaku baik-baik saja, mereka memutuskan bercerai, dan aku tidak betah tinggal di rumah sekarang karena ayah sudah membawa pulang kekasihnya.” Terjadi keheningan sejenak. Leda menelan ludah dan mengerti suasana hati Elsie yang kemungkinan besar dipenuhi perasaan muak. “Dan ibumu?” “Dia tinggal di rumah kenalannya.” “Kurasa keputusanmu untuk memisahkan diri sudah benar, lalu bagaimana dengan kegiatanmu? Kuliahmu?” “Sudah lulus, aku disini untuk berlibur selama dua bulan ke depan, sebelum bekerja di perusahaan paman George di Austin.” “Itu bagus, aku senang kau bersemangat. Untuk sementara, kau akan betah disini.” Elsie memegangi gelas jusnya yang telah habis. Pegangan tangannya berubah menjadi remasan. “Tapi kurasa libur bagiku artinya tidur.” Suram sekali, begitulah pendapat Leda mengenai Elsie. Dia tersenyum paksa ketika melihat wajah Elsie semakin layu seperti rumput di padang gersang. Mereka baru mengenal beberapa menit, tapi rasanya perkenalan ini tidak akan berlangsung lama. Elsie terlalu introvert. “Maaf, Nyonya Lloyd, aku ingin ke kamarku,” ucap Elsie sembari berdiri dan menatap wanita tua itu yang perhatiannya sedang tertuju ke luar jendela. Elsie berjalan mendekati kusen jendela. Dia menyibak kelambu putih, lalu melongok keluar. Tidak ada apapun kecuali pemandangan hijau dari pepohonan cemara sekitar sungai kecil. Angin mengembus ke kulit wajahnya, terasa sangat lembut nan segar. Udara seperti ini sangat sulit dihirup di kota besar. “Ada apa, Nyonya Lloyd?” tanyanya berbalik lagi, lalu memandangi nyonya rumah yang sudah memalingkan wajah. “Ada masalah?” Untuk sepuluh detik pertama, Leda masih terjebak dalam pemikirannya sendiri. Sesuatu yang ia lihat di luar jendela barusan membuatnya memikirkan beberapa hal. Sikap aneh tersebut membawa kekhawatiran dalam hati Elsie. Sebagian dirinya mulai ragu dengan keputusannya menenangkan diri disini. “Nyonya Lloyd?” “Tak apa.” Leda tersadar, lantas berdiri. Dia berjalan menjauh sambil mengajak, “ayo kuantar ke lantai atas!” Sebelum mengikuti Leda, Elsie menoleh lagi ke arah jendela. Angin sejuk kembali masuk ke dalam, mengibarkan helai demi helai rambut panjangnya yang tergerai. Aneh, ia merasa ada seseorang yang mengintip dari balik pepohonan. Kamar yang ditempati Elsie tampak seperti kamar remaja perempuan biasa. Dinding putih tanpa hiasan dan dekorasi minimalis. Semuanya serba sederhana, dari mulai lemari, meja, hingga kursi. Ranjangnya berukuran untuk satu orang dan telah tertata rapi. Sprei, selimut sampai sarung bantal berwarna putih bersih. Untungnya ada kamar mandi di dalam meskipun sangat sempit. Cukup nyaman, Elsie membatin. Dia langsung menaruh kopernya di samping lemari, dan menghempaskan diri ke atas ranjang. Perjalanan dari Berkeley ke Wimberley sangatlah memakan waktu. Ketika dia memejamkan mata, beberapa detik berlalu—dia pun tertidur dengan sendirinya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN