BAB 10

1022 Kata
Nyonya Leda pulang dengan membawakan banyak sekali bahan makanan yang sudah dia beli dari supermarket terdekat. Dia tidak ada keinginan untuk menceritakan dari mana dia telah pergi kepada Elsie. Sementara itu, dia sudah bisa menduga kalau cucunya, Jett, sudah bisa mengetahui kemana saja dirinya telah pergi. Jett sendiri tidak ingin membahas itu, terlebih ketika di rumah sedang ada tamu yang berasal dari kota. Dia membantu neneknya itu untuk membereskan semua hal di dapur, termasuk menaruh bahan makanan ke dalam lemari pendingin. “Apa saja yang kalian lakukan di rumah?” Nyonya Leda sepertinya ingin menggoda cucunya karena merasakan ada sesuatu di antara Jett dan Elsie selama dia pergi. Jett menutup pintu lemari pendingin, dan menjawab, “tidak ada, seperti biasa, dia seperti kucing pemalas.” “Kau bisa membohongi orang lain, Jett, tapi aku bisa mencium baunya. Kau tidak bisa menipu hidungku.” Nyonya Leda menyeringai. Dia sudah selesai membuat teh hangat, kemudian duduk di salah satu kursi yang ada di situ. “Nenek, tidak ada yang terjadi.” “Lalu kenapa aku mencium sesuatu di sekitarmu itu, hah? Baunya seperti ...” “Hentikan.” Jett tidak mau membahas ini. Dia menyukai Elsie, tapi tetap saja, agak kesal kalau neneknya ikut campur. Dia tidak mau sesuatu yang menjadi ketakutannya ini terbongkar. “Seperti biasa, kau pemarah seperti singa.” Nyonya Leda tertawa melihat cucunya yang jelas salah tingkah. “Kenapa kau tidak bersiap-siap saja? Elsie ingin pergi belanja beberapa camilan di toko kelontong, pergi dan temani dia.” “Sebaiknya dia tidak usah kemanapun. kau sendiri yang bilang, lebih baik semuanya di rumah. Aku ... Aku merasakannya kemarin.” “Apa?” “Seseorang.” Nyonya Leda tertegun. Dia berhenti meminum tehnya, kemudian memandangi sang cucu dengan serius. Selepas menghembuskan napas panjang, dia lalu bertanya, “kau serius mengatakan itu?” “Iya. Aku bisa menciumnya, entahlah, tapi aku yakin .. orang ini baunya menyengat sekali, dia berbau darah. Mungkin dia mendekat karena menyadari ada wanita muda sedang berkunjung ke kota ini.” “Sejak awal, aku sudah curiga kalau ada yang mengawasi rumah ini. Mungkin dia mengintai Elsie saat kemari. Untungnya saat dia kemari masih pagi, dan untung juga aku segera memanggilmu kemari. Ini situasi yang buruk.” “Jadi ...” “Kau jangan pernah membiarkan Elsie sendirian. Kau juga tidak usah mengatakan hal apapun tentang semua ini. Pokoknya buat dia aman dan nyaman. Dia sedang sedih sekarang. Tujuannya pergi dari rumah dan kemari sebenarnya ingin menenangkan diri. Tetapi, dia datang di saat yang salah. Walau begitu, kita harus menjaganya.” “Aku tahu.” “Aku sudah bicara dengan Tom kemarin, dan kami menemukan seseorang yang mencurigakan. Dia sepertinya berasal dari kelompok liar, dan memang seperti dugaan kita semua, ini jelas dilakukan oleh kelompok liar. Biasanya kelompok seperti ini berpindah-pindah tempat setelah puas. Tetapi, sepertinya mereka takkan pindah sebelum mendapatkan Elsie.” “Iya, aku merasa juga begitu, sepertinya Elsie mengundang keingintahuan mereka. Kedatangannya seperti membawa angin segar. Bagaimana pun, dia memang cantik dan berbau sangat menggoda, jelas saja ...” Jett berhenti bicara. Ia baru sadar kalau bicaranya sangat lepas dan memalukan. Benar, Nyonya Leda saja sampai tertawa karena mendengar hal tersebut. “Cantik dan menggoda.” Nyonya Leda mengulang bagian itu. Sekarang dia yakin kalau cucunya memang sedang kasmaran. “Itu tidak ...” Jett menahan malu. Dia ingin membantah itu, tapi berhubung sudah terlalu malu, dia pun melarikan diri. “Ah, sudahlah, aku akan mengantarnya membeli makanan.” Nyonya Leda masih tertawa. “Hati-hati, Nak.” Jett yang kesal tidak menjawab. . . . di kamar, Elsie masih membersihkan ranjangnya. dia masih ingat makan berdua dengan Jett. entah mengapa segalanya terasa sangat membahagiakan sekali sekarang. makin sering bersama pria itu rasanya makin membahagiakan. dia ingin sekali kalau segalanya ini selalu dia rasakan bersama Jett. dia memikirkan pria itu sampai membuatnya tidak bisa tenang dalam melakukan apapun. Tanpa diduga, ponselnya berdering. sudah lama rasanya ponsel itu tidak berdering karena seseorang memanggil. bukan orang tuanya, Elsie bisa menduga jelas hal itu, dan memanglah bukan. itu merupakan panggilan dari salah satu teman sekolahnya yang masih akrab dengannya, meskipun jarang bertemu. Iya, dia adalah seorang wanita muda bernama Julia. Elsie segera menerima panggilan telepon tersebut. "Halo, Julia." Elsie senang menerima panggilan telepon dari temannya itu. Dia tidak memiliki banyak teman, dan teman-teman dekatnya pun tidak terlalu dekat, dalam artian hanya sebagai teman nongkrong semata. di balik sambungan telepon, Julia menjawab [Elsie, astaga, apa kabar?] "Aku baik-baik saja. bagaimana kabarmu?" "Aku juga baik-baik saja. hei, kudengar kau sedang ada di wilayah Wimberley, benar?" "Iya." "Wah jauh sekali sampai pergi Texas begitu. tapi, apakah kau tidak takut, disana sedang ada pembunuhan berantai." "Tidak apa-apa, disini ada orang yang akan menjagaku." "Kedengarannya akan baik-baik saja." "Itu pasti." "Begini, jadi aku menelpon itu untuk bertanya apakah kau akan di Wimberley terus?" "Memangnya kenapa?" "Aku akan mengadakan pesta ulang tahun untuk anakku yang pertama bulan depan, aku tahu kau belum menikah dan punya anak, tapi jujur aku ingin mengajak semua teman-teman sekolah kita agar sekalian reuni." "Bulan depan, ya?" "Iya, bagaimana?" "Kurasa bulan depan aku juga pasti sudah kembali pulang. aku akan mengabarimu setelah aku mendapatkan peluang untuk pulang." "Itu baru gadisku." "Tapi tolong cepat memberikan kepastian tanggal, aku tidak suka yang mendadak." "Haha, tentu saja, Sayang, kau akan mendapatkannya sebentar lagi. aku hanya ahrus berembuk dengan semuanya dahulu. kau punya tanggal yang tak bisa kau lewati? kami akan mengaturnya nanti." "Tidak ada, tapi tolong jangan awal bulan, mungkin pertengahan saja. aku tidak yakin terjebak disini berapa lama, mengingat ada jam malam juga. disini sedang tegang, jadi aku hany jaga-jaga kalau seandainya tidak boleh keluar." "Baiklah, aku akan mengusahakan hal itu. kau tunggu informasi selanjutnya dariku, mungkin Minggu depan atau dua Minggu lagi. banyak yang harus disesuaikan." "Iya, aku paham , kok." "Kalau begitu itu saja yang ingin kuberitahukan padamu. aku berharap kita bisa bertemu lagi di sana. aku mengharapkan kehadiranmu, Elsie." "Pasti." Telepon pun ditutup. Elsie hanya tersenyum saja memandangi ponselnya. untuk pertama kalinya, ini adalah acara reuni. walau masih lama sekali, tapi dia bertekad untuk tampil beda nantinya agar semua teman-temannya sadar kalau dia sudah berubah menjadi lebih baik dan cantik. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN