"Aku tidak menyangka kita akan berada di sini sampai waktu yang tidak ditentukan, kau ingin bercerita tentang ini, South?" Elsie duduk di pinggiran ranjang, menikmati betapa empuk ranjang ini. Belum sempat South menjawab, dia mendadak sakit kepala sehingga memijatnya.
"Ada apa, Elsie?" South khawathir, khwatir kalau efek dari manteranya tidak bekerja. tetapi, dia yakin itu tidaklah mungkin karena Elsie hanyalah manusia biasa, manusia biasa sangat rentan terkena guna-guna dari sihir ini, terlebih lagi ini merupakan sihir kuno.
Elsie menggeleng. "Tidak apa-apa, hanya pusing sesaat barusan. tapi, sekarang sudah tidak apa-apa, ayo ceritakan tentang tempat ini."
"Katakan dahulu, apakah kau suka kamar kita ini, Sayang?"
"Sangat suka, Tentu saja. Aku merasa kita seperti berada di kastil Vampire." Elsie tertawa pada ucapannya sendiri. "Tapi ini versi lebih baik dan bagus, dan yang paling penting aroma bunga disini sangat harum. rasanya seperti di kebun bunga saja."
"Iya, itu karena di luar memang ada kebun bunga." South menoleh ke jendela luar kamar yang terlihat begitu asri. dia tersenyum melihatnya pula. pagi yang akan selalu indah saat dia bangun dan melihat pemandangan luar jendela dan Elsie di sampingnya. "Aku beruntung sekali sekarang."
"Apanya? beruntung kenapa?"
"Tidak apa-apa. Tempat ini memang dirawat hampir setiap Minggu, jadi tentu saja akan selalu bagus begini. aku puas dengan kinerja orang-orang yang melakukannya. mungkin aku akan tetap menyewa mereka sekalipun kita tinggal disini."
"Tentu saja, itu adalah hal yang sangat perlu."
"Ngomong-ngomong, barusan kau mengatakan tentang Vampire, bukan Elsie?"
"iya, kenapa?"
"Apa kau percaya dengan hal semacam itu?"
"Kau seorang penyihir, South, dan temanmu yang mendadak aneh dan jadi gila kemarin itu ... dia seorang manusia serigala. aku pertama kalinya melihat sosok manusia serigala di dunia nyata, dan dia menunjukkan perubahannya padaku. ini sangat luar biasa. dan, iya, intinya tentu saja aku percaya di luar sana banyak yang seperti itu, Vampire dan lainnya. kenapa kau tanya begitu?"
"Tidak, aku hanya penasaran dengan pendapatmu."
"Memangnya kau tidak percaya. Oh, apa jangan-jangan kau memang pernah melihat sosok Vampire yang sesungguhnya?"
"Kau sudah tahu siapa aku, Elsie, dan bagaimana aku tumbuh besar. aku dibesarkan oleh kakek dan nenekku dengan kegiatan yang nyaris tidak ada aktifitas sihir. kami ini keturunan berdarah campuran, dan kami lebih condong hidup sebagai manusia biasa. karena itulah, aku nyaris tidak pernah ingin tahu tentang hal-hal supernatural di sekitar kita, makhluk supernatural yang kuketahui hanyalah penyihir, manusia serigala dan iblis."
"Aku sungguh penasaran dengan lenyihir lain, terutama wanita, apa mereka seperti yang selalu tertulis di internet? bahwa mereka berbahaya, dan licik ..."
"Itu sudah jelas, Sayang, penyihir wanita memang begitu, rata-rata malah membenci manusia. mereka bahkan juga ada yang membenci keturunan campuran sepertiku. makanya aku jarang ikut campur dalam dunia sihir."
"Kurasa memang menakutkan."
"Tapi kau tidak takut padaku 'kan?"
"Tentu saja tidak, Sayang."
South mendekati Elsie, lalu duduk di sebelahnya, kemudian kembali mencium bibirnya yang ranum nan seksi tersebut.
.
.
.
"Jangan pernah menyentuhku, aku tidak mengenalmu sama sekali, ini sangat menggelikan dan memuakkan, sekali lagi kau membuat ulah, aku akan mengadukan ini ke kepolisian, sekalipun kau seorang manusia serigala, kau tidak akan lolos dari ini,” kata Elsie.
Jett kecewa mendengarkan itu. Dia tidak mau lagi mendengar omong kosong aneh seperti ini, dan memutuskan untuk membicarakannya dengan Alfa. Semakin cepat maka akan semakin baik. Kalau sudah begini, maka solusinya adalah mencari jalan bersama. Dia juga berencana untuk membicarakan dengan seluruh anggota kelompok serigala yanga ada di kota kecil ini.
“Aku tidak akan membicarakan ini terjadi, jadi tunggu saja disini, aku kan membuatmu sadar kembali, Elsie,” katanya, yang kemudian berbalik dan berlari menuju ke jalanan yang gelap, untuk bertemu dengan pimpinannya. Dia sama sekali tidak mengetahui tentang sihir, tentu saja stau-satunya opsi hanyalah bertemu Alfa.
.
.
.
Menemui Alfa memang adalah opsi terakhir dan terbaik. Bagi Jett. Dia tidak punya pilihan lain selain itu. Pikirannya menjadi kalut dan bingung, apalagi setelah merasakan kalau belahan jiwanya sudah pergi meninggalkannya. Dia merasa dunianya runtuh, segala macam kesenangan duniawi rasanya takkan bisa membuat senyuman di bibirnya lagi. Ini keterlaluan, dia marah, bingung, sedih. Semua perasaan negatif terus berkumpul di d**a dan pikirannya.
Dia sedang duduk di kursi teras rumah sang sang Alfa. Matanya tampak tertuju pada pria yang merupakan pimpinan dan sedang duduk di kursi sebelahnya.
Pagi hari ini, semua keindahan di sekitar rumah ini mendadak sirna. Tidak ada kebahagiaan lagi. Kepala Jett terasa tidak ada isinya kecuali Elsie. Jauh dari gadis itu terasa segalanya hampa dan hatinya hanya merasakan neraka.
“Kau tidak perlu khawatir, semua akan kembali ke arah yang benar. Tapi, memang tetap saja, ini sudah kelewatan.” Alfa mengatakan itu setelah mendengar penjelasan singkat dari Jett. Sebenarnya tanpa dikatakan apapun, dia bisa merasakan dan mengetahui apa yang terjadi pada Jett, iya karena pemuda ini adalah anggotanya.
Jett menatapnya lebih serius. “Apa yang harus aku lakukan, Alfa? Aku tidak mau membuat keributan juga, aku mencintai Elsie, tapi dia ... Dia sungguh tidak mengenaliku. Aku tidak percaya hal ini bisa terjadi.”
“Kau bisa meraih hatinya lagi, kau terus saja mendekatinya, tak perlu dengan k*******n, maka aku yakin Elsie akan kembali ingat. Kalau memang itu yang kau inginkan, dan aku punya cara lain agar temanmu si penyihir ini bisa mengungkap kedok jahatnya di hadapan Elsie. Kau bisa melakukan caraku barusan, dekati Elsie, dan kau akan melihat kalau Shawn alias South akan mulai menunjukkan taringnya. Elsie akan sadar kalau dia sedang diguna-guna.”
“Aku akan menuruti perintah itu, Alfa.”
“Dan bagaimana dengan kondisi wanita itu, Jett?”
“Aku mengurungnya di rumahnya, dan aku tidak tahu serta tidak peduli bagaimana keadaannya sekarang. Dia iblis, aku tidak percaya ini. Dia bahkan tidak menunjukkan karakteristik iblis. Iya, itu karena dia memang setengah iblis. Aku bisa paham hal itu.”
“Selama kau membawa Elsie kembali, biar aku dan yang lainnya yang mengurus wanita itu. Aku selalu penasaran, bagaimana mungkin di wilayah kita ini bisa masuk seorang iblis. Kalau penyihir memang sudah banyak, kebanyakan mereka juga tidak mengganggu, tapi kalau iblis memang berbahaya karena mereka selalu mencari keuntungan agar bisa menjalin kontrak dengan manusia.”
“Baiklah, Alfa, aku tidak peduli apapun yang terjadi padanya, aku akan pergi menyusul Elsie dan melakukan perintahmu itu.”
“Aku akan memberimu sebuah alat, dan kau harus menggunakannya setiap saat. Itu biasa menguatkan dirimu agar tak jatuh dalam pengaruh sihir.”
“Baiklah.”
****