Setelah melakukan perjalanan yang cukup panjang, mobil yang ditumpangi oleh Elsie dan sopir yang sedang mengantarnya masih belum juga melewati jalan hutan yang cukup sunyi. Tapi, ada beberapa bangunan yang merupakan tempat untuk berhenti sejenak, salah satunya adalah minimarket dan pengisian bahan bakar.
Pepohonan Aras tampak berjajar di sepanjang jalan, dedaunnanya cukup rimbun dan kelihatan makin mengerikan jika dilihat terlalu lama. Karena situasinya yang sunyi, dan hanya beberapa saja kendaraan melintasi tempat itu, tak hanya itu langit juga mulai terlihat berawan sehingga membuat suasana menjadi agak lebih redup.
Sopir yang mengendarai mobil itu merasa tidak enak. Dia merasa ada hal yang akan terjadi. Karena itulah, dia hendak mencari minimarket untuk membeli beberapa makanan ringan dan pergi ke kamar mandinya.
“Kau tidak keberatan kalau aku mampir dahulu ke tempat pengisian bahan bakar, kita bisa membeli beberapa camilan kalau kau mau.” Sopir itu mengatakannya.
Elsie setuju. Dia mengangguk, kemudian menjawab, “tidak masalah, aku juga ingin makan sesuatu. Rasanya aneh sekali, perjalanan ini lama, padahal saat datang, tidak selama ini.” Dia kemudian tertawa akan ucapannya sendiri. “Aku baru sadar kalau tempat ini memang sangat rimbun seperti apit oleh hutan.”
“Memang benar.” Sopir itu ikut tertawa. Kemudian, dia bergegas untuk mempercepat laju kendaraannya untuk menuju ke minimarket terdekat. “Beberapa saat lagi kita akan sampai di tempatnya.”
Belum sempat Elsie menjawab, tiba-tiba di kejauhan terlihat ada orang yang tiba-tiba berdiri di sana. Iya, orang itu seperti muncul begitu saja. Semua itu bisa terjadi karena memang kecepatannya terlalu sehingga tak dilihat oleh mata manusia Elsie maupun sopir itu.
Sang sopir yang kaget melihat ada orang langsung menginjak pedal rem. Dia panik bukan main, takut kalau akan terjadi kecelakaan. Dia membuat Elsie ketakutan sampai berpegangan pada pintu dan dashboard depan. Dia berteriak sedikit dan menutup mata.
Tetapi, ketika mobil tersebut hendak menabrak sosok misterius tersebut, sosok itu malah merentangkan tangan, dan tangannya mampu menghentikan laju kendaraan tersebut tanpa ada masalah. Dia benar-benar menghentikannya hanya dengan kemampuan tangannya saja. Tangan itu dipenuhi oleh otot-otot yang kuat.
Dia membuka tudung jubah hitam yang dia kenakan, terlihatlah sosok pria berambut hitam legam yang terlihat sepertinya bukan manusia biasa. Ya, itu karena di mulutnya terlihat sekali kalau terdiri dari deretan gigi mengerikan.
Elsie sadar itu mungkin musuh. Dia merasakan aura yang sama antara pria itu dengan dua orang yang telah menghajar Jett. Dia langsung berteriak pada sopir, “tabrak saja dia, dia bukan manusia! Cepat tabrak!”
Sopir itu masih panik, tapi langsung menginjak pedal gas setelah sadar kalau gigi pria itu tidak normal. Sayangnya bemper mobil itu dihantam pukulan luar biasa dari tangan pria tersebut sampai ringsek parah.
Pria itu langsung mendekati pintu sopir, membukanya paksa, lalu menarik kerah baju pria paruh baya tersebut, dan dihempaskan keluar sampai ke rerumputan sekitar jalanan.
“Ah!” Elsie menjerit keras karena melihat perbuatan itu. Dia sedikit lega melihat sang sipir tampaknya hanya terluka, bukan tewas.
Pria itu langsung menarik tangan Elsie, yang tidak bisa dilawan sama sekali. Kekuatannya bukan kekuatan manusia. Elsie tidak bisa menolak itu, dan hanya bisa menjerit sekerasnya saat ditarik, dan digendong olehnya, kemudian di ajak kabur. Titik lemah tengkuknya juga telah dilumpuhkan sehingga gadis itu kehilangan kesadaran tepat setelah melihat sang sopir mencoba untuk bangun menyelamatkannya.
Tetapi, semua sia-sia karena Elsie telah dibawa pergi.
.
.
.
Tak lama setelah menghilangnya koneksinya dengan Elsie, Jett menyadari hal tersebut. Ini tidak salah lagi, Elsie telah dibawa pergi oleh kelompok pembunuh gadis muda yang merupakan kelompok serigala liar yang biasanya hidup berpindah-pindah. Dia geram sampai tidak bisa mengendalikan diri.
Di hutan saat itu, dia hanya bersama dengan Sherif yang merupakan seorang Beta, dan alfa mereka yang sengaja turun langsung karena sudah keterlaluan. Mereka bertiga sengaja tidak mengajak para kelompok lain karena memang tahu bahwa jumlah mereka juga tidak banyak. Akan lebih baik jika tidak terlalu banyak korban dan kegaduhan.
“Aku akan menghabisi mereka semua.” Jett sudah muak dengan semua ini. Dia marah sampai matanya kini berubah menjadi predator yang haus darah. “Elsie-ku.”
Alfa, yang merupakan pria yang kelihatan seperti berusia empat puluh tahunan, tampak menoleh padanya, lalu menenangkan, “tenanglah, kita sudah tahu kalau kelompok ini hanya berjumlah lima orang, termasuk alfa Gregori dan istrinya. Ini akan mudah. Dua orang sudah kau lawan sebelumnya, mereka mungkin masih terluka.”
“Ada yang menculik Elsie …”
Sherif mengangguk. “Mungkin itu pria yang pernah aku sekap, dan aku tanyai bersama nenekmu. Aneh sekali, padahal aku sudah yakin sudah mengurungnya. Menurutku mereka memang sudah sangat lihai dalam hal melarikan diri. Kita harus berhati-hati.”
“Kalian tenang saja, aku yang memimpin, semua akan baik-baik saja, seperti biasa.” Alfa menatap mereka berdua, meyakinkan keduanya kalau semua ini tidak akan menjadi masalah setelah menemukan sarang musuh. Ini akan menjadi akhir bagi Alfa Gregori dan kelompoknya.
“Kita harus cepat, Alfa.”
“Iya.”
Mereka mulai mempercepat diri dengan berlari. Lari mereka cukup sangat cepat sampai-sampai pemandangan pepohonan saja menjadi kabur. Untuk beberapa saat, tidak ada yang saling bicara dari ketiga orang ini. Mereka fokus melihat ke arah kedalaman hutan, sang alfa tetap memimpin di depan.
Iya, pria itu memiliki aura yang sangat berwibawa serta tegas. Dia juga tidak kelihatan seperti pemimpin yang hanya tahu kebrutalan. Dia memang lebih mementingkan ketenangan dan efisien waktu. Dia tidak mau membuat seluruh kelompok bertarung habis-habisan hanya untuk kelompok kecil seperti Gregori.
Hal yang membuatnya kesal adalah kelompok ini lihai sekali dalam kamuflase dan melarikan diri sehingga dirinya ataupun wakilnya sulit mendeteksi sebenarnya mereka ada dimana. Tetapi, beruntung, bukti-bukti akhirnya telah mengantar mereka pada kebenaran.
Tetapi, kelompok Gregori ini mulai melakukan kesalahan mungkin karena menginginkan daging dari gadis muda yang sedang berlibur kemari alias Elsie. Semua itu akhirnya terbukti ketika Jett mendapatkan firasat kalau Elsie memang sudah diambil darinya.
Tadinya, dia mengira kalau membiarkan seorang sopir yang mengantarnya di rute perjalanan pagi akan baik-baik saja. Namun akhirnya malah seperti ini. Kalau dia tahu ini akan terjadi, dia sendiri yang akan mengantarkannya. Dia juga tidak yakin kalau teman sesama manusia serigalanya juga bisa mampu menangani para orang-orang yang meresahkan kota mereka ini.
“Jett, setelah semua ini, kau harus melaporkan tindakanmu bersama Elsie, agar aku tahu dan menyambut kehadirannya di keluarga kita,” ucap Alfa di sela-sela larinya.
Jett menjawab, “itu sudah pasti, maaf aku bertindak terlalu cepat, aku sudah merasakan kehadiran Elsie yang berbeda sejak bertemu, Alfa.”
“Tidak masalah. Kita akan menyelamatkannya sekarang, jadi teguhkan hatimu. Kita akan menyelamatkannya tanpa ada masalah dan memberantas pembunuh-pembunuh ini. Mereka makin keterlaluan jika dibiarkan.”
“Benar.”
Sherif menuding ke depan, terlihat ada asap yang samar-samar. Dia bisa mencium aromanya dari jarak yang masih jauh tersebut. “Lihat, kurasa itu bekas mereka tempati. Aku tidak mencium aroma serigala lain.”
Alfa bisa mencium dari jarak yang lebih jauh. “Mereka ada di sekitar sana, aku bisa merasakannya, jadi bersiap-siaplah. Kita akan menggunakan perak jika memang sangat terpaksa. Tapi, untuk sementara jauhkan perak dahulu karena itu akan melukai diri kita sendiri.”
Sherif paham. “Oke.”
***