BAB 21

1014 Kata
Anehnya, dia tidak takut sama sekali sekalipun sudah tahu begitu. Malahan, dia berharap agar pemuda itu segera mengalahkan dua pria misterius yang sudah pasti sedang mengindarnya tersebut. Dia memandang Jett dengan penuh kekhawatiran. Jett meregangkan otot bahunya. Sama sekali tidak ingin menjelaskan apapun. Dia mengepalkan tangannya yang sudah dipenuhi otot-otot luar biasa. Kekuatan serigalanya mulai muncul. Dia langsung menyerang mereka tanpa banyak basa-basi. Mereka berdua melawan balik. Jett kelihatannya jauh lebih berpengalaman dalam berkelahi, sekalipun dia lebih muda ketimbang mereka. Dia bisa mengimbangi kecepatan manusia serigala lain. Lambat laun, kedua matanya kini berubah warna menjadi predator. Dia makin gesit dalam menghantamkan tinju-tinju. Hampir semua tinju tersebut mengenai d**a dan perut mereka berdua. Dua serigala tadi mulai panik. Tidak ada yang menyangka kalau akan selemah ini berhadapan dengan satu manusia serigala yang masih muda. Mereka makin brutal sehingga membuat beberapa goresan di d**a Jett. Kuku mereka yang tajam seperti bilah pisau akhirnya mampu menyayat kulit Jett tersebut hingga kaos yang dia kenakan sobek, dan darah segar mulai mengalir. Hal ini membuat Elsie nyaris berteriak histeris. Pemandangan mengerikan seperti ini tidak pernah dia lihat secara langsung sebelumnya. Karena sudah mulai keterlaluan, dia mulai mengeluarkan ponselnya. Kemudian, dia menelpon nomor darurat yang sudah diberitahukan oleh Nyonya Leda sewaktu dia baru datang kemari. Nomor tersebut adalah milik dari Sherif itu sendiri. “Halo, halo, tolong, tolong aku, tolong aku, namaku adalah Elsie dan Jett sedang melawan … itu kami diserang …” Elsie bingung sendiri ketika menjelaskan semua itu karena memang sedang panik. Dia bahkan lupa nama lengkapnya sendiri sampai harus mengatakan nama panggilan. Sherif sudah mengenali nama Elsie dari Nyonya Leda. Lagipula, siapa lagi yang nermam Jett kalau bukan cucu dari wanita itu. Karena itulah, dia langsung menenangkan, “tenanglah, Nona, aku memang sedang kesana. Kau tutup sambungan ponsel ini, lalu tetaplah tenang, bersembunyilah, Jett sedang melindungimu, kan?” “Iya.” “Baiklah, kau tenanglah.” Elsie tenang. Dia menutup sambungan telepon tersebut dengan hati yang dipenuhi tanda tanya. Dia tidak tahu ternyata Jett sudah dikenali oleh Sherif. Tapi, tidak heran memang, ini kota kecil, pastinya orang akan saling mengenal satu sama lain. Namun, ketenangannya itu hanya sebentar, karena Jett sudah mulai kewalahan, dan jatuh terkapar. Sekalipun begitu dia tetap bangkit walau dengan luka sayatan dimana-mana. Kaos yang dia kenakan sudah tidak berbentuk lagi. Sekilas, dia seperti sedang bertarung melawan beruang liar. Elsie terus berdoa dalam hati, dia tidak mau kehilangan Jett ataupun melihatnya terluka parah. Dia tidak mungkin membantu di saat seperti ini. Apa yang bisa dilakukan oleh seorang gadis di saat seperti ini? Jika melawan manusia normal, mungkin dia akan bisa membantu dengan menghantamkan kayu. Akan tetapi lawannya ini adalah manusia serigala kelaparan yang jelas takkan ragu-ragu merobek dadanya hanya untuk memakan jantungnya. Dia tidak bisa bergerak. Saking takutnya, napas pun terasa sesak. Ini lebih mengerikan daripada apapun. Dia ketakutan setengah mati. Membayangkan tubuhnya dikoyak saja membuat kepalanya pening dan rasa mual sudah muncul hingga tenggorokan. Ia mendadak ingin pingsan. Tidak kuat dengan semua ini. Tak berselang lama, satu pria serigala itu menoleh pada Elsie, lalu berkata,” kurasa ini waktunya untuk makan, aku akan membuatnya tidak merasakan sakit sama sekali, Jett, kau tidak perlu cemas. Lagipula, kalaupun dia mati, kau akan mendapatkan pasangan lain. Dewi Luna akan selalu menyertai semua manusia serigala seperti kita, dialah yang akan memberikan kita pasangan kembali apabila pasangan kita sudah mati.” Elsie ketakutan, mundur selangkah demi selangkah, bersiap untuk melarikan diri demi nyawanya. Jett menghajar teman dari pria yang berkata lancang tersebut dengan keras sekali sampai pria itu tersungkur ke atas tanah. Kemudian, Jett menyambar baju orang itu, dan menghajarnya pula. “Berani kau sentuh Elsie, aku akan memisahkan kepala dan badanmu saat ini juga.” Mereka kembali bertarung sengit hingga babak belur. Setelah beberapa menit kemudian, terdengar suara sirine mobil sherif yang sudah datang. Karena itulah, dua manusia serigala misterius tadi langsung melarikan diri. Mereka berdua sangat mengenal siapa itu sherif dan tidak mau menanggung resiko dengan berhadapan dengannya. Setelah mereka pergi menghilang ke balik pepohonan rimbun ini, Jett jatuh terduduk di atas tanah dengan kondisi berdarah-darah. d**a dan tangannya mengalami luka goresan kuku yang cukup banyak sampai-sampai darah serigalanya kuwalahan memulihkan diri. Belum lagi wajahnya juga babak belur. Elsie berlari ke arahnya. “Jett!” Dia takut melihat kondisi mengerikan Jett. Jett tersenyum. “Kenapa kau melihatku seperti itu? Aku tidak apa-apa.” Dia mengusap darah yang membanjiri dagunya. “Ini akan sembuh sendiri, butuh waktu karena sepertinya pukulan mereka sampai menembus tulang rusukku.” “Astaga, kita harus ke rumah sakit.” “Tidak, Elsie, kau sudah tahu siapa aku sekarang bukan? Maka ,aku tidak bisa menyembuhkan diri dengan tubuh yang regenerasi lebih cepat ketimbang manusia ini di rumah sakit. Dokter dan suster akan mencurigaiku.” “Tapi …” “Ngomong-ngomong, kau cukup cerdik karena memanggil Sherif.” Jett melihat Sherif yangs udah datang dengan membawa s*****a api laras panjang yang dia ketahui sudah pasti berisi peluru perak yang ditakuti oleh manusia serigala. Sherif langsung menghampiri mereka, mengendus udara, dan tidak menemukan adanya musuh kembali. “Kalian tidak apa-apa?” “Tidak apa-apa.” Jett beridir dengan dibantu oleh Elsie. Dia menatap Sherif serius. “Mereka sepertinya liar.” “Aku tahu. Kau obati saja lukamu di dalam, aku akan memeriksa hutan ini dengan yang lain.” Sherif mengeluarkan sebuah pistol kecil dari kantong khusus yang ada di sabuknya. Dia menyerahkan itu kepada Elsie. Sekarang sudah tidak ada yang perlu disembunyikan. Dia sudah pasti mengetahui bahwa penyerang bukanlah manusia biasa. “Ini adalah peluru perak, Nona Wilson, kau bisa pakai saat situasi darurat. Peluru perak bisa menghentikan pergerakan mereka.” Elsie agak kaget. Tanpa diberitahu pun tampaknya sherif sudah mengetahui siapa sebenarnya musuh yang dimaksud. Dia tidak mau membahasnya, jadi langsung saja menerima pistol tersebut. “Terima kasih.” “Sekarang masuklah ke dalam, dan tolong bantu Jett membersihkan lukanya.” “Iya.” Elsie menuruti perintah Sherif dan membantu Jett untuk kembali masuk ke dalam rumah. Dia merasa rumah ini tidak aman lagi setelah ada serangan. Akan tetapi, dia tidak mungkin mengajak Jett kemanapun untuk sekarang mengingat lukanya yang lumayan parah. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN