BAB 08

1223 Kata
Di kedalaman hutan Cemara, terdapat sebuah pondok kayu yang cukup besar, tempat yang biasa digunakan/disewakan untuk pemburu di musim panas. Pondok itu berada cukup jauh dari kediaman Nyonya Leda, dan pemiliknya adalah Sheriff Tom. Pria itu sedang bersama Nyonya Leda saat memasuki pondok yang tampaknya sudah dimodifikasi menjadi sebuah penjara pribadi. Dia masih memasang wajah tegang seperti ketika dia memeriksa satu per satu mayat wanita muda yang telah meninggal secara misterius selama beberapa bulan belakangan. Ini adalah wilayahnya, sudah pasti dia sangat serius untuk membongkar kedok pelaku yang sesungguhnya. dia yakin sekali kalau ini memang dilakukan secara kelompok. Mereka berhenti di depan jeruji perak yang telah mengurung seorang pria berjaket hitam. Pria yang kemungkinan berusia tiga puluh tahunan itu terlihat duduk di lantai kayu dengan kedua tangan memakai borgol khusus. Begitu didatangi tamu, dia mendongak, menunjukkan wajah tampannya, lalu tersenyum lebar sampai memperlihatkan deretan gigi taringnya yang mengerikan. Taring itu jelas tidak wajar dimiliki oleh manusia biasa. Bisa dipastikan kalau dia kemungkinan makhluk lainnya, makhluk yang berbahaya. “Jadi ... Kau menemukan sesuatu yang mencurigakan rupanya. Pantas saja kau memintaku kemari.” Nyonya Leda tidak nyaman melihat senyuman mengerikan dari pria itu. “Kelihatan sekali memang dia.” Pria itu menunggu beberapa detik, lalu mengatakan, “aku tidak tahu kenapa kalian melakukan ini. Apa yang kulakukan sehingga aku disekap di dalam jeruji ini? Kalau kalian tidak segera melepaskan ku, aku yakin dalam waktu dekat akan terjadi pertarungan dia kelompok.” “Hentikan ancaman tidak berguna itu, kalaupun kau kubunuh, kau pikir teman-temanmu bisa membalas dendam?” Sherrif Tom memperingatkan dengan nada yang tegas sekaligus aura kejam. Terlihat sekali kalau dia sedang menampakkan aura yang mengancam pula. “Memang begitu kenyataannya.” “Aku membawamu kemari karena kau jelas mencurigakan, Tuan. Bisakah kau menjelaskan padaku, kenapa kau terang-terangan mengejar seorang wanita dengan gigi yang tidak normal begitu? Aura haus darahmu sangat kental sampai siapapun bisa merasakannya dari jarak bermil-mil.” “Jangan berlebihan begitu, aku tidak melakukan apapun, aku tidak menguntit ataupun menganggu manusia manapun. Aku hanya jalan-jalan ... Dan ... Kenapa kau malah menganggap gigiku tidak normal, kau seperti mengatai dirimu sendiri, Tuan.” “Kita semua hidup berdampingan dengan manusia biasa, jadi, sekali lagi kau melakukan hal seperti itu aku bersumpah, akan mengguyurkan darahmu di sepanjang jalan.” “Kau bisa memegang kata-kataku, aku sungguh tidak terlibat dengan kejadian ini. Aku selalu mencintai kota kecil ini. Ayolah ... Aku ini memang suka memperlihatkan gigi, bukan berarti aku ini haus darah, lagipula, aku hanya memakan daging binatang lain. Aku ini karnivora, jangan mengekang apa yang secara alami terjadi padaku.” Nyonya Leda menatap Sherrif Tom dengan ekspresi bingung dan penuh tanya. Dia tidak mengerti mengapa mendadak pria ini ingin melepaskan orang yang mereka curigai ada hubungan dengan kematian para gadis-gadis muda disini, terlebih lagi ada kemungkinan besar kelompoknya juga terlibat. Membiarkan pria aneh bergigi runcing di kota akan membahayakan. Dia tidak percaya kalau orang berbahaya ini akan dilepaskan. Namun, Sherrif Tom memilki tujuan lain melakukan itu. Dia tahu kalau orang aneh itu tidak akan membocorkan apapun, jadi terpaksa dengan cara seperti ini. Setelah dibebaskan, dia berharap bisa memperhatikan gerak-geriknya lebih banyak. *** Malam Jett lebih berwarna ketika hanya bersama Elsie saja. dia tidak bisa membayangkan dirinya yang akan selamanya bersama wanita ini. Dia menggoda Elsie dengan bertanya, "kau tidak takut bersamaku malam ini? hanya denganku?" Elsie tersenyum. "Harusnya kau tanya itu sebelum kita berada dekat seperti ini, Tuan Mingan. kita sudah bersama sejak aku berusaha menusuk pantatmu dengan garpu." Jett tertawa mengingat awal pertemuan mereka. dia lantas mengatakan, "aku benar-benar menyebalkan, ya, aku tahu, tidak usah dibahas lagi." "Kau memang menyebalkan." "Tapi?" "Tapi oke, tetap menyebalkan." mereka tertawa terbahak-bahak. Elsie mengangguk, dan sangat bahagia bisa bercanda dengan orang yang dia sukai. selain itu, Jett juga merasakan hal yang sama. dia tidak ingin hari ini cepat berlalu. mereka bercanda hingga duduk mereka melorot ke karpet bawah sofa. baik Elsie dan Jett sama-sama bersandar dan saling membicarakan hal lain. mereka mulai bercerita tentang diri mereka sendiri, tapi Elsie khusus ingin mengenali diri Jett lebih lagi, terutama tentang pergaulannya di kota kecil ini. "Hei, boleh aku tanya sesuatu?" tanya Elsie kemudian. Jett mengangguk. "Apa? berapa mantan kekasihku?" "Entah kenapa kau mendadak jadi sok dekat denganku." "Maaf, apa yang ingin kau ketahui?" "Tentang tempat ini. bagaimana menurutmu? maksudku saat tidak ada kejadian pembunuhan berantai yang terjadi. apakah biasanya ramai? ceritakan tentang tempat ini, dan kemana saja biasanya orang-orang menikmati hari liburnya. kau bilang kau dan teman-temanmu suka bersenang-senang disini." "Memang. kau tidak akan bosan jika melihat tepi danau Cemara yang agak jauh dari sini. tempatnya biasanya ramai dengan orang-orang yang menikmati hari libur. kebanyakan orang yang kemari hanyalah mereka yang punya sanak saudara dari kota besar. mereka kemari untuk menikmati udara segar. Semua juga sudah tahu, Texas itu indah." "Aku sudah tahu itu." "Terutama Wimberley." "Kau terlihat sangat mencintai tempat ini." "Jelas saja, ini adalah tanah kelahiranku. aku hanya sedih karena peristiwa menyebalkan yang terjadi belakangan. aku tahu Sherif sudah bekerja keras dan bahkan dibantu oleh kepolisian pusat, tapi memang ... harus hati-hati." "Maksudmu?" "Tidak apa-apa." Elsie bingung. dia memperhatikan raut wajah Jett yang mendadak serius seolah dia bisa menduga sebenarnya pelaku kejahatan yang masih berkeliaran di kota ini. namun, dia tidak mau mengulik hal itu jika Jett tidak mau membahasnya. dia tidak mau menghancurkan momen kebersamaan mereka dengan pembahasan yang tidak menyenangkan, atau malah suram. "Oke, jadi ceritakan tentang teman-temanmu disini? maksudku, bagaimana watak mereka? apakah mereka sama sepertimu yang sinis pada orang baru? aku jadi takut kalau hendak berkenalan dengan mereka nanti." sindiran sekaligus godaan dari Elsie ini membuat Jett tersenyum. dia kemudian tertawa lirih, kemudian menjawab, "Jangan khawatir semua orang tidak sepertiku yang sinis pada orang baru. kau akan betah disini. semua orang jauh lebih bersabahat ketimbang warga kota besar. disini bahkan lebih menyenangkan ketimbang berada di Austin." "Aku sudah bisa menebaknya. tapi, sayangnya aku tidak bisa berkeliaran untuk sesat, ya, padahal aku benar-benar ingin menikmati semua itu." "Tenang saja. kau akan bertemu dengan semua orang nantinya. kuncinya sekarang hanyalah tenang dan sabar." "Iya, aku tahu." "Oh iya, kau mau nonton horor? ada film horor yang sedang tayang hari ini." "Tentu. Aku suka horor, asalkan bukan horor dengan bumbu Gore, membuatku mual saja." "Iya, kebanyakan film jaman sekarang memang seperti itu. Kurasa sekarang filmnya semacam kerasukan hantu. Entah kenapa manusia suka sekali membuat film seperti ini ..." "Manusia?" "Maksudku orang-orang suka sekali membuat film semacam itu. padahal horor tidak perlu melibatkan hantu, mungkin bisa semacam sekte sesat. aku suka sekali dengan cerita misterius semacam itu." "Oh, benar juga, aku juga suka kalau seperti itu. Tapi tak masalah, aku ingin menonton film apapun sekarang. situasinya mendukung." "Maksudmu situasi romantis?" Pipi Elsie merona. tapi, dia tetap berusaha untuk tenang. "Jangan menggodaku, ya." Jett hanya tersenyum. dia jelas ingin sekali mencubit pipi Elsie, memainkan bibirnya, mengecupnya sampai mereka terlelap nanti. namun, tidak mungkin juga sekarang. dia harus bertahan. alhasil, mereka berdua menonton film horor yang dikatakan oleh Jett. Filmnya cukup panjang dan malah cenderung membosankan bagi Elsie. bahkan karena terlalu banyak adegan bicara, dia sampai mengantuk. Jett tetap menonton dan membiarkan Elsie tidur di bahunya. dia malah senang dan sesekali membelai rambutnya. lalu, dia mengecup kening wanita itu. sebenarnya, Elsie menyadari peristiwa itu dengan masih setengah sadar. namun, dia tidak mau banyak bergerak dan bereaksi. dia memilih berpura-pura untuk tetap terlelap, dan memang akhirnya benar-benar terlelap. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN