BAB 19

1005 Kata
Selama beberapa menit berselang, Elsie masih terdiam. Cinta memang indah saat dijadikan sebuah kisah imajinatif, kisah fiktif yang jelas hanya khayalan sang penulis. Terkadang, Elsie ingin sekali pergi ke dunia dimana imajinasi yang bekerja. Dia tidak perlu menghadapi kejamnya dunia, ataupun kerasnya kehidupan bersama orang-orang berhati dingin. Tidak ada cinta, segalanya di dunia ini hanyalah nafsu belaka. Elsie muak dengan ini semua. Jett menyadari bahwa gadis ini memang menyimpan masalah yang berkaitan dengan ketidakpercayaan dengan sebuah cinta. Ini sedikit membuatnya terdiam. Pandangannya kembali mengarah ke air sungai. Dia juga tidak mempercayai adanya cinta sebelumnya, tetapi setelah bertemu dengan Elsie, dia baru merasakannya. Seperti yang telah terjadi pada seluruh kaumnya, ketika bertemu dengan orang yang dicintai, maka segalanya berubah. Mulai dari cara berpikir ataupun cara melihat dunia. Cinta itu membahagiakan, hanya saja harus tahu bagaimana untuk melihatnya. Elsie memandangi Jett yang terdiam. Dia tak lagi gundah. Entah mengapa, dia jadi ingin bercerita tentang masalah ini. Kepada Jett, dia merasa aman dan percaya, dan iya dia ingin menceritakannya sedikit sekarang. “Kau benar, aku tidak percaya cinta, tapi aku menikmati karya yang berkaitan dengan cinta. Cinta di dunia fiktif memang lebih indah ketimbang di dunia nyata.. karena itulah aku suka membacanya, aku hanya kagum seandainya cinta sejati seperti di dalam kisah percintaan memang ada, aku akan bahagia, tapi sayangnya sampai sekarang pun aku tidak melihatnya.” “Kau akan melihatnya.” “Hah?” “Tidak, lupakan, sebenarnya apa yang membuatmu berpikir begitu?” Elsie sebenarnya agak malu juga bercerita seperti ini, dari hati ke hati, dengan seorang pria. Namun, seperti yang sebelumnya, dia memang merasa nyaman dengan Jett sekarang. Dia mengatakan, “sebenarnya aku tidak tahu harus mulai bercerita dari mana, akan tetapi, aku memang tidak bisa mempercayai adanya cinta untuk sekarang. Saat kau bertanya apakah aku memiliki kekasih waktu itu, ya mungkin inilah alasan aku tidak memilikinya, atau tepatnya tidak mau memilikinya. Aku hanya ingin sendiri dan aku terbiasa mengandalkan diri sendiri.” “Aneh, dulu aku juga berpikir seperti dirimu, Elsie. Aku juga menganggap cinta sejati memang tidak ada. Aku juga selalu mengandalkan diri sendiri karena orang lain takkan ada yang akan peduli dengan kita sebesar kita peduli pada diri sendiri.” “Iya, kau benar, aku selalu merasa kalau diriku egois, tapi kembali lagi ke realita yang sekarang terjadi, semua orang tidak bisa dipercaya, dan tidak ada yang bisa kucintai juga, tidak ada yang mencintaiku, intinya aku tidak mempermasalahkan apapun. Aku bisa hidup dengan diriku sendiri.” “Tetapi, Elsie, kurasa pemikiran kita yang seperti itu adalah salah. Aku punya banyak teman, memang aku tidak mengandalkan mereka, tapi aku percaya mereka. Untuk masalah cinta, aku pun masih tidak bisa percaya kalau cinta sejati memang ada, tapi, kurasa itu memang ada.” Jett tersenyum memandangi Elsie sekilas, lalu pandangannya kembali ke air sungai. Dia tidak mau Elsie menyadari sekarang kalau dia menyukainya. Dada Elsie berdebar karena senyuman Jett yang hanya sesaat itu. Rasanya dunianya berputar tidak karuhan. Inilah yang dimaksud dengan cinta, membuat hati dan pikiran tidak bisa dikendalikan. “Jett ..” Jett kembali berkata, “aku benar-benar tidak percaya cinta sebelumnya, sungguh, aku sepertimu, aku bahkan tidak pernah memiliki kekasih.” “Omong kosong.” “Sungguh, aku tidak memilikinya.” “Oh.” “Tapi iya, sekarang aku percaya kalau cinta sejati memang ada, dan setiap orang berhak bahagia.” Jett kembali menatap Elsie, kali ini dengan tatapan yang penuh cinta sekaligus senyuman yang penuh makna indah. Elsie mendehem untuk menghentikan tingkah Jett yang memandangnya. "Jadi, kau tidak pernah punya kekasih, memang mencurigakan. tapi apa peduliku juga. Kau berbohong atau tidak, aku juga takkan mengetahui hal tersebut juga." Jett tertawa. "Kau terkadang memang menyebalkan. aku benci sekali harus menceritakan hal ini. menurutmu kenapa aku harus berbohong masalah ini?" "Kau itu mirip dengan teman-temanku di kota, banyak dari mereka yang sepertimu." "Sepertiku? seperti apa? aku sangat yakin kalau aku ini hanya satu-satunya di dunia." Jett tersenyum. Elsie tersenyum pula. "Kau tampan, Jett, kau adalah orang populer jika berada di kalangan atau kelompok. orang sepertimu selalu berganti-ganti pasangan, tapi selalu bilang tidak punya kekasih. sangat menjengkelkan bukan?" "Oh, tipikal pria seperti itu memang biadab. ayolah, kenapa kau malah menyamakanku dengan orang seperti itu. Aku sungguh tidak pernah punya kekasih, semua wanita yang berteman denganku memang hanya berteman. Kalau di kota kecil ini, semuanya memang rata-rata berteman saja." "Dan aku yakin kau pasti pernah menggoda salah satu dari teman itu, bukan?" "Oh, kenapa malah mengarah ke interogasi begini?" goda Jett menyeringai pada Elsie. pembicaraan mereka sudah bisa bisa nyambung dan bahagia. Sudah pasti dia sudah berani menggodanya. "Kenapa? kau cemburu?" "Lucu sekali, ya? percaya diri sekali kau ini?" Pipi Elsie langsung memerah, karena tidak sengaja dia memang sedang cemburu kalau saja ada wanita yang memang benar pernah digoda oleh pria ini. "Jujur saja, kau manis sekali saat tersipu, dan mengenai pertanyaanmu itu, tidak ada yang pernah kugoda, sudah bilang aku ini berteman dengan mereka semua. sekalipun ada yang menyukaiku, aku merasa mereka tetap menjaga persahabatan daripada menggodaku." "Berarti kau tahu ada yang menyukaimu?" ",Hal semacam itu pasti selalu ada, bukan? dan aku yakin ada orang lain di kota yang menyukaimu juga, Elsie. tapi karena kau terlalu suram, makanya pasti mereka mundur satu per satu." "Suram katamu?" "Tolong katakan kalau aku salah? Tapi, memang kenyataannya memang begitu kan? Kau suram, Nona, kau seperti menajuh saat didekati. kalau saja kau tahu aku bersamamu bukan untuk melindungimu, kau pasti akan menghindari ku juga karena aku laki-laki." "Iya, kau benar dalam hal itu." "Jadi, bagaimana dengan hal orang yang menyukaimu itu? apakah kau menyukainya juga?" "Sebenarnya aku selalu tahu ada orang yang menyukaiku dari temanku, mereka pasti akan bilang kalau menyukaiku, dan hal yang membuatku kesal adalah terkadang mereka memberikan nomor ponselku atau data pribadiku pada mereka, dan dengan cara itulah orang asing ini menghubungiku, itu adalah tindakan yang membuatku kesal." "Lalu, biasanya apa yang kau lakukan untuk menghentikan niat para pria kasihan ini untuk mendekatimu?" "Aku menghiraukan mereka, kalau mereka dihiraukan, sudah pasti akan menjauh dengan sendirinya 'kan?" "Oh, kau memang s***s, Nona." Elsie tertawa pelan. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN