Bab 8. Hanya Aku

1039 Kata
"Bukan saya loh yang bilang," ujar Frans seraya mengangkat kedua tangannya. "Ah, sudahlah. Anda bisa tinggalkan saya sekarang? Saya mau istirahat." Karin berjalan ke arah pintu, membuka pintu setinggi dua meter itu lebar-lebar. "Kenapa saya harus keluar dari sini? Ini kan apartemen saya." Bukannya keluar, Frans malah duduk di ujung ranjang dengan santainya. "Karna saya ada di sini, kita nggak mungkin tinggal satu unit." "Kata siapa? Justru kita akan sering tinggal satu unit, walau tidak satu ranjang. Kalau di antara kita ada batasan, buat apa saya bawa kamu ke sini? Sia-sia dong uang saya?" Karin memutar kedua bola matanya dengan malas. "Saya nggak suka saat kamu memutar kedua bola matamu. Sekali lagi kamu lakukan itu di depan saya, saya tidak akan segan-segan melakukan hal gila yang nggak pernah kamu duga." "Kalau saya melakukannya lagi?" ucapan Karin menantang. "Coba saja kalau kamu berani." Kali ini Karin merasa takut. Takut Frans benar-benar melakukan hal yang tidak diinginkan, memaksanya melakukan hubungan suami istri misalnya, padahal mereka belum menikah. Dari pada hal itu benar terjadi, Karin memilih diam dengan perasaan kesal. "Baiklah, baiklah. Saya pergi." Frans berdiri, lalu berjalan menuju sofa mengambil jasnya, lalu mengenakan jas tersebut sambil berjalan menghampiri Karin yang masih betah berdiri di depan pintu. "Kebetulan hari ini saya ada makan malam, jadi saya harus ada di rumah tepat waktu." Karin masih diam, Frans mengulurkan tangan tanpa bicara membuat Karin merasa bingung. "Apa?" "Mana handphone kamu?" "Buat apa?" Dahi Karin mengerut. "Kamu nggak boleh menghubungi orang lain kecuali saya dan orang lain nggak boleh ada yang menghubungi kamu." Kalimat yang diucapkan penuh ketegasan. "Bagaimana sama orang tua saya? Anak saya?" "Termasuk mereka." "Ya nggak bisa gitu dong, Pak. Kalau mas Dani mungkin dia mantan suami saya, tapi ibu sama anak saya, mereka anggota keluarga saya yang nggak ada bekasnya." Kalau begitu, biarkan asisten saya yang menghubungi mereka dan kalau ada kabar apa-apa yang mendesak. Keluarga kamu yang di kampung akan menghubungi asisten saya." "Tapi, Pak ...." Belum satu kalimat selesai diucapkan, Frans memangkasnya cepat. "Tidak ada tapi-tapian. Sekarang kamu sudah menjadi milik saya dan harus patuh dengan semua perintah dan aturan saya. Berikan handphone kamu kepada saya, cepat!" Karin mengeluarkan handphone dari dalam saku celana, lalu menyerahkannya kepada Frans. "Ini namanya penjara buat saya." "Saat kamu terbiasa hidup seperti ini, kamu akan menyukainya." "Mana ada yang suka hidup di dalam penjara?" "Penjara termewah adalah menjadi tawanan saya. Kalau kamu mau beradaptasi, semuanya akan menjadi indah." "Indah buat Anda, belum tentu bagi saya." "Berhenti mengeluh dan mulailah hidup baru." Frans memasukkan handphone milik Karin ke dalam saku jasnya, lalu mengeluarkan handphone lain dari saku lainnya. "Apa lagi itu?" "Kamu nggak liat ini apa? Handphone terbaru. Harganya dua puluh juta," ujar Frans menunjukkan dus handphone tersebut di depan Karin. "Apa fungsi handphone itu?" "Komunikasi kita berdua." "Handphone saya juga bisa digunakan untuk komunikasi. Nggak perlu harga puluhan juta." "Dasar orang nggak tau diuntung. Bukannya terima kasih malah banyak omong. Nih pegang." Dus berisi handphone itu ia serahkan langsung ke tangan Karin. "Di sana hanya ada satu nomer, yaitu nomer saya." Karin diam, lalu handphone milik Frans berdering. Dia mengambil benda pipih berwarna hitam itu dari dalam saku jasnya, melihat nama Bella tertera jelas pada layar ponselnya. "Bella, kamu jangan bicara." Frans bicara kepada Karin, lalu dia menjawab telepon dari tunangannya, Bella "Ada apa?" "Kamu tau sekarang jam berapa? Kamu nggak lupa kan kalau malam ini kita ada acara makan malam." Frans melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya dan saat ini waktu menunjukkan pukul 05.00 sore, di jam segini seharusnya Frans sudah ada di rumahnya untuk bersiap-siap karena Bella ingin makan malam ini berkesan untuk dua keluarga mereka. "Sebentar lagi aku pulang." "Baiklah. I love you," ungkapan cinta Bella. Frans diam sambil menatap wajah Karin. Wanita dalam sambungan telepon mengungkapkannya lagi. "I love you, Frans." Frans masih diam, hingga Karin merasa kebingungan sendiri. Tidak lama setelah itu Frans pun membalas ungkapan cinta Bella. "I love you to." Setelah itu sambungan telepon pun terputus. Frans memasukkan kembali handphonenya ke dalam saku jas, melihat ke arah Karin yang saat ini sedang menahan tawa. "Kenapa kamu tertawa?" "Kenapa memangnya? Nggak boleh? Mau Saya tertawa atau menangis itu hak saya." "Oke, kali ini kamu menang karna saya tidak ada waktu untuk berdebat. Saya harus pergi sekarang, jaga diri kamu baik-baik." Frans berjalan ke arah pintu utama, diikuti oleh Karin dari belakang. "Di dalam handphone itu hanya ada nomer saya dan hanya nomer telepon saya, tidak ada yang lain. Jika dalam keadaan mendesak, kamu bisa menghubungi saya kapan saja." "Saya akan baik-baik aja. Jadi saya tidak akan menghubungi Anda." Saat ini mereka berdua berdiri di depan pintu utama. Belum Frans pergi, Karin langsung menutup kembali pintu tersebut cukup kencang. Frans hanya menggelengkan kepalanya dan memilih tetap pergi dari apartemen, meninggalkan Karin sendirian di sana. Setelah Frans pergi, Karin baru ingat kalau Frans belum memberikan sandi pintu. "Sial! Jadi harus menghubungi dia, kan." Karin menghentakkan langkah kakinya menuju sofa yang ada di ruang keluarga, duduk di sana, lalu mengeluarkan handphone dari dalam dusnya. Melalui proses panjang, akhirnya ia menemukan satu nama yaitu, 'Calon Suami' nama itu membuat Karin merasa mual. Segera ia menekan nama tersebut, lalu mengirim pesan. "Berapa sandi pintu?" Tidak menunggu lama, ia pun mendapatkan balasan. "020202." "Apa itu? Tanggal lahir saya?" "Iya, tanggal lahir kamu sekaligus tanggal pernikahan kita." Setelah itu Karin tidak lagi membalas pesan. Dia meletakkan handphonenya di atas meja, bersandar seraya memikirkan keadaan Dani, bahkan nasibnya sendiri ini sangat menyedihkan. "Lagi apa kamu, Mas? Apa kamu juga memikirkan aku? Sama seperti aku yang saat ini sedang memikirkan kamu." Diam seraya memikirkan kondisi kesehatan sang mantan suami, tiba-tiba terdengar seseorang sedang menekan sandi pintu dari luar dan hal itu membuat Karin bertanya-tanya sendiri. "Siapa?" Dia bangkit dari duduknya, berjalan menuju pintu utama hendak mengintip karena hanya itu yang bisa ia lakukan, sesuai dengan pesan Frans. Namun, hal mengejutkan terjadi ketika melihat siapa orang yang ada di luar. Seorang wanita cantik tengah berdiri memasang raut wajah kesal. "Apa itu tunangannya pak Frans, ya?" Monolog Karin. Tidak ingin melakukan kesalahan, Karin pun coba menghubungi Frans melalui sambungan telepon, tidak lama Frans pun menjawab telepon darinya. "Ada apa? Kamu merindukan saya?" "Pak, Anda bilang tunangan Anda ada di rumah? Lalu, siapa wanita yang datang ke sini?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN