"Jangan buka kunci dan tetap di dalam kamar." Perintah Frans dengan tegas.
"Baik, Pak."
Setelah bicara dengan Frans, Karin mengakhiri panggilan, lalu mendekap handphonenya di d**a, kembali mengintip keluar dan dia melihat Bella saat ini sedang berusaha menghubungi Frans dalam sambungan telepon.
"Kamu di mana?" tanya Bella, samar-samar Karin mendengar suaranya dari dalam.
Entah apa yang Frans jawab, Bella langsung bertanya perihal kunci password. "Kenapa kamu ganti password-nya?"
Setelah itu, Bella meminta password yang baru. "Ya udah kasih tau aku."
Tidak lama Bella pun mengiyakan ucapan Frans yang entah apa, Karin hanya mendengar Bella berkata, "Janji, ya. Aku pulang sekarang." Setelah itu sambungan telepon pun berakhir, lalu Bella pun pergi meninggalkan apartemen.
"Ah, akhirnya." Karin mengusap dadanya lega.
Setelah Bella pergi, Karin kembali ke kamar untuk beristirahat. Handphone yang katanya seharga motor itu pun ia nonaktifkan, agar Frans tidak bisa menggangu.
***
Begitu sampai di tempat tujuan, ia buru-buru masuk ke dalam rumah, menghampiri orang tuanya yang saat ini pasti sedang berbincang hangat di ruang keluarga. Dia berjalan sambil melepaskan jasnya, lalu jas tersebut ia takutkan pada lengannya.
"Malam semuanya," sapa Frans di tengah-tengah obrolan serius antara orang tuanya dengan orang tua Bella.
Mereka menoleh ke arah sumber suara, lalu ayah dari Bella bernama Prayoga bicara. "Frans, kenapa baru datang? kita nungguin dari tadi loh."
Calon mertuanya itu adalah seorang pemilik salah satu perusahaan besar di kota Jakarta dan sudah memiliki beberapa cabang di beberapa kota lainnya. Seperti Bandung, Makassar, Bali, bahkan beberapa kota lainnya.
Memang kekayaan Prayoga lebih banyak dari keluarga Frans, untuk itulah dia menerima perjodohan ini walau terpaksa, karena sang ayah bernama Suryo ingin mengembangkan perusahaannya. Bukan Frans tidak berterus terang, dia justru mengatakan kepada Bella dan Bella tidak keberatan, dia hanya menginginkan kepuasan bersama Frans.
"Tadi ada banyak kerjaan di kantor, Om. Ditambah lagi macet." Frans menjawab sambil berjalan menuju sofa di mana orang tuanya duduk, lalu ia duduk di sebelahnya.
"Oh, pantesan. Kita baru aja selesai membicarakan tema pernikahan kamu nanti."
"Tema pernikahan? Bukannya masih lama, Om?"
"Masih lama, cuma kan kita harus persiapkan dari sekarang."
"Saya sama Bella memutuskan pihak WO yang mengatur semuanya, karena Bella pun tidak ada waktu untuk ikut mengatur, Om."
"Iya, anak itu model saja yang diurusin. Heran saya juga."
"Nggak apa-apa, Om. Saya juga santai kok. Biarkan Bella bersenang-senang sama karirnya dulu."
"Kalau dibiarkan, nanti malah keenakan, Frans."
"Nggak kok, Om. Saya sama Bella juga masih menikmati masa pacaran."
Tidak lama setelah itu, Bella pun datang dan langsung mengungkapkan kekesalannya. "Frans, kenapa pas code apartemen kamu ganti? Kamu menyembunyikan sesuatu dari aku?"
"Bella, datang-datang kok langsung marah-marah. Bicara yang baik di depan calon suami kamu, apa lagi di sini ada calon mertua kamu," tegur Prayoga.
Bella yang baru menyadari itu pun langsung meminta maaf kepada Suryo. "Maaf, Om. Suka lepas kendali. Aku cuma mau tau aja kenapa password apartemen diganti."
"Kita bicara di luar," ajak Frans kembali berdiri. Berjalan menghampiri Bella, lalu meraih tangannya.
"Mau ke mana?" tanya Bella.
"Kita ngobrol di luar." Frans berjalan sambil menarik tangan Bella menuju taman.
Taman seluas lapangan futsal itu tampak dihiasi oleh lampu taman berwarna emas. Terdapat empat tempat duduk yang masing-masing hanya cukup untuk diduduki satu orang, di mana di tengah-tengahnya terdapat satu meja bundar tempat menyimpan minuman ketika bersantai. Frans duduk di kursi dekat dengan pit bunga anggrek, sedang Bella duduk di kursi dekat dengan bunga melati.
"Kenapa duduk di sini sih? Bau bunga orang mati," ujarnya sambil mendengus.
"Cocok," ucap Frans asal.
"Maksud kamu?"
"Nggak, udah lupain."
"Kasih aku penjelasan kenapa password apartemen diganti."
"Bel, aku punya privasi sama kayak kamu. Masa aku nggak boleh mengganti password apartemen aku? Aku aja nggak tahu password apartemen kamu." Frans mengeluarkan satu batang rokok dari dusnya yang baru ia keluarkan dari dalam jas, lalu dibakar menggunakan korek api gas yang selalu ia bawa.
"Kamu kan tau aku model, nggak enak kan tiba-tiba kamu liat isi apartemen aku gimana, berantakan banget loh." Bella memberikan alasan, padahal Frans sama sekali tidak perduli.
"Ya makanya aku juga nggak minta kamu kasih tau dan kamu juga nggak perlu tau password apartemen aku." Setelah bicara, Frans menghisap rokoknya, lalu menghembuskan asapnya jauh ke udara.
"Besok aku mau ke luar kota, kamu mau ikut?"
"Nggak, aku banyak kerjaan. Kamu pergi aja."
"Yakin nggak mau ikut? Kita tinggal satu hotel loh."
Frans menggeleng-gelengkan kepalanya. "Nggak, kamu aja."
"Kalau kamu mau nyusul juga boleh sih. Tapi kalau mau ke sana, kabar-kabarin dulu, ya."
"Hemm ... gampang."
Bella bangkit dari duduknya, lalu berjalan menghampiri Frans, menggoda sang calon suami dengan duduk di atas meja, tepat di depannya seraya menautkan kaki kanan pada kaki kirinya, sehingga kulit putih mulus itu tampak jelas di depan mata Frans.
Lantas, apakah hal itu membuat Frans tergoda? Jawabannya tentu tidak. Tidak munafik mereka pernah melakukan hubungan terlarang, tetapi Frans hanya memanfaatkannya, tidak lebih dan saat ini Frans benar-benar tidak mau, apa lagi sekarang sudah ada Karin.
"Kita bisa masuk ke kamar lewat pintu belakang, ayo!" Ajak Bella dengan nada menggoda.
"Lagi nggak mood, Bel. Lain kali aja, ya."
"Yakin?" Kaki jenjang Bella menjalar di kaki Frans sampai ke atas, lalu Frans pun berdiri.
"Kita masuk lagi yuk. Nggak enak sama ayah kamu." Belum satu batang habis, Frans membuang puntung rokok tersebut ke dalam tong sampah yang tersedia di dekat sana.
Frans segera masuk ke dalam rumah, sedangkan Bella mendengus kesal karena mendapatkan penolakan. "Sial!"
***
Pagi hari. Frans bangun tidur langsung beringsut turun dari atas ranjang, lalu duduk di tepiannya. Dia mengambil handphone dari dalam laci, hal pertama yang dia lakukan adalah menghubungi calon istri tercinta dengan memasang raut wajah sumringah. Namun, senyum Frans berubah dalam sekejap saat nomer Karin tidak aktif. Di kembali menghubunginya sampai beberapa kali dan tetap tidak aktif.
"Ke mana itu anak?" gerutu Frans sambil melihat layar handphonenya.
Setelah itu dia memutuskan menghubungi Dani, menanyakan keberadaan Karin kepadanya. Tidak lama sambungan telepon terhubung, Dani menjawab sambil ngos-ngosan.
Dani: Iya, Pak?
Frans: Di mana Karin?
Frans merasa jijik atas apa yang sedang Dani lakukan saat ini. Tidak terlihat, tetapi dia bisa mendengar suara lenguhan seorang wanita bersama pria b******k itu.
Dani: Karin sudah menjadi milik Anda, Pak. Kenapa Anda masih bertanya kepada saya?
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Frans langsung memutus sambungan telepon.
"b******k. Ke mana kamu, Karin? Sampai kamu nggak ada di apartemen, habis kamu," pekik Frans sangat marah.