Hujan turun. Menciptakan aroma patrichor yang membuat rinduku akan kampung halaman semakin berkerat. Mengingatkanku akan masa kecil yang sering menanti hujan hanya untuk mencium aroma tanah basah yang khas. Secangkir kopi karamel menjadi penghangat sore ini, bersamanya yang sejak tadi juga memandangi setiap tetes air hujan yang mengguyur bumi. Kami tenggelam dalam pikiran masing-masing. Aku tak tahu kenangan apa yang menggelayut di kepala laki-laki yang kini menjadi suamiku itu. tak ada ekspresi yang menyiratkan kebahagiaan. “Apa yang kamu pikirkan, Mas?” tanyaku penasaran. Sudah hampir dua puluh menit kami saling diam, berkelana dalam pikiran yang entah. Ada helaan panjang, dan tatapan sendu yang mengarah padaku. “Mas hanya berpikir, seperti apa rasanya ditinggalkan orang yang paling

