“Sueee!” Alisa tertawa sambil memegangi perut. “Tampang lo lucu banget dah, Fel, sumpah!” ketawanya makin kencang. “Berenti mengejek, Al. Candaan lo nggak lucu, tauk!” dengkusku kesal. Alisa benar-benar kelewatan, dia pura-pura melihat bayangan yang lewat ke kamar mandi cuma mau bikin takut aku. “Didatangin beneran tau rasa lo, Al.” Aku meninggalkannya ke ruang tamu, menghempaskan badan di sofa sambil mencomot camilan dalam toples di atas meja. “Yah, gitu aja takut. Pantes aja ditinggal Mas Fery ke luar kota minta ditemenin,” cibir Alisa, ikut duduk di sofa. Aku mendelik tak suka. Duh, nih, cewek, mulutnya gak pernah berubah. “Al, bukannya gue takut. Tapi beberapa malam ini gue selalu mimpi buruk,” ucapku pelan, menatap wajah Alisa lekat. “Mimpi buruk?” Alis Alisa yang diukir

