“Alamat oii alamaat!” teriak Alisa di seberang sana, lalu mematikan sambungan. Malam-malam begini nelpon cuma minta alamat rumah. Aku menepuk dahi, lupa kirim alamat ke Alisa. Penyakit lupaan emang payah. Buru-buru aku menuliskan alamat rumah ini pada sepupuku itu. Pesan terikirim. besok ia akan datang. Aku senang akhirnya Alisa mau bertandang ke sini, menemaniku selama Mas Fery tidak di rumah. Sebelum memaksakan tidur, aku sempat mengirim pesan kepada suamiku. “My love, mimpi indah untukku.” Aih, berasa kayak masih jaman pacaran. Hihii. *** Aku kembali mendengar suara bel berbunyi, hanya satu kali. Alisa? Aku melirik jam di dinding, sekarang pukul 23:00. Tapi rasanya tak mungkin Alisa datang tengah malam begini. Aku ragu untuk turun ke bawah, tapi ketukan pintu tadi membu

