Labil

1000 Kata
*~*~*~ Sesampainya di kelas Zara melangkahkan kakinya menuju bangku tempat ia duduk. Saat di sekolah ia hanya menunduk terdiam tidak seperti biasanya. sepatah kata pun tidak ada yang keluar dari mulutnya. Zara yang ceria tiba - tiba berubah menjadi pendiam. Zara yang usil kini berubah seratus delapan puluh derajat dari biasanya. Tiba-tiba Nana datang. "Hai Zaraaaa.. tumben jam segini sudah datang? Dapat hidayah apa semalam?" sindir Nana di iringi tawa nya "Iihh apaan sih mbak, bukan hidayah Namanya tapi malapetaka." Ujar ku "kok malapetaka? Abis jatuh dari mimpi ya kamu hahaha." Ketus Nana "bukan jatuh aja tapi sudah kehilangan mimpi." kata Zara Ucapan Zara membuat Nana bingung, dan bertanya, "kamu sebenarnya kenapa sih Ra? Apa masalah kemarin belum selesai juga?" "Selesai sih enggak, tapi malah nambah." Jawab ku sambil meletakkan kepala di atas meja "kok tambah?" tanya Nana Zara pun menceritakan kepada Nana, Ryan yang memblokir akun BBM nya hanya karena foto berpose memegang batang rokok. "hanya karena itu kamu di blokir?" tanya Nana Zara hanya menganggukkan kepala nya. "Gilaa... " Ujar Nana spontan "Kok gila?" tanya ku " Bodoh..." Aku hanya terpaku menatap Nana di depan ku, dia seperti sedang memikirkan sesuatu. "Ohh aku ingat, bukan gila dan bodoh. Tapi.. Labil." Ucap Nana "yaudah mbak terserah kamu saja." jawab Zara pasrah Pelajaran pun dimulai. seluruh siswa siswi mengikuti pembelajaran dengan baik terkecuali Zara yang hanya diam saja. Sesekali Ketika berkumpul dengan teman nya ia sudah Kembali ceria. Teng... Teng... Teng... Terdengar suara Bel pulang. Seluruh siswa berjalan menuju gerbang utama sekolah. Mereka melajukan motor nya masing-masing untuk pulang. *~*~*~ Malam pun tiba, Zara sedang berbaring dengan memainkan ponsel miliknya sesekali ia melihat akun Ryan yang belum juga membuka blokiran nya. "Akan aku lihat sampai kapan kamu bertahan memblokir aku, apakah besok masih bertahan?" batin Zara Zara menutup akun BBM miliknya, dan membuka aplikasi youtube untuk menonton film kesukaannya. Jam menunjukkan pukul 20.05 WIB, Ryan belum juga membuka blokiran nya di akun BBm nya Zara. Drt...drt...drt... Terdengar dering suara telpon di ponsel Zara. "Ryan?" gumam Zara "sayang keluar dong, aku ada di depan rumah sekarang." Pinta Ryan "Blokir nya sudah di buka? Eh kok tiba-tiba kesini sih." Tanya Zara Zara terbangun dari tidurnya dan melihat jendela, ternyata Ryan sudah ada di bawah. Zara bingung harus keluar menemui Ryan atau tidak, tapi hati nya sangat merindukan Ryan. Tanpa berpikir lagi Zara melangkahkan kaki nya untuk menemui Ryan. Ryan sedang duduk di bangku teras depan Rumah di bawah pohon , Zara melangkahkan kaki nya mendekati Ryan. "Ryan mau ngapain kesini, bukan nya semalam marah kenapa sekarang ke rumah?" batin Zara Zara duduk di sebelah Ryan dengan tatapan mata melihat arah Lain. "Apa kamu marah?" Tanya Ryan "bukan nya yang marah kamu ya?" tanya ku balik "Apa aku sudah keterlaluan?" "hmm." Jawabku "Maafkan aku ya sayang, kemarin aku sangat marah jadi nggak bisa ngontrol diri." "Lalu apa dengan kamu blokir aku masalah akan selesai?" "Enggak." ucap nya lirih "justru aku merasa kehilangan seseorang yang cerewet, usil dan manja" Lanjut Ryan "Kenapa tiba-tiba buka blokir nya?" tanya ku "Aku Rindu.." Lirihnya "Ohh.." jawab ku singkat "Maafin aku yaa sayang? Aku menyesal." ujar Ryan "Apa karena aku pose pegang rokok kamu bisa marah sebesar itu?" "Aku tidak sengaja, Maafin aku?" ucap Ryan "Harusnya aku yang blokir kamu, harusnya aku yang marah, tapi justru semua berbalik. Aku kecewa sama kamu, kemarin Aku sangat sedih, aku butuh kamu. tapi kamu malah memblokir ku, yang di fikiran saat itu hanyalah jika kamu memang benar ingin pergi aku persilahkan. Aku tidak akan menahan orang yang ingin pergi dariku, karena aku tau semua ini percuma." Ryan hanya diam mendengarkan orang yang di cintai nya sedang meluapkan emosi nya.Karena ia tau, apa yang sudah ia lakukan pada Zara sangatlah menyakiti hatinya. "Maafin aku sayang... sungguh aku sangat menyesal." Kata Ryan dengan menundukkan wajah nya Zara menarik nafas nya dalam-dalam dan menghapus sisa air mata nya di pipi chubby miliknya. Hati nya sangat kecewa karena Ryan telah menyakiti hatinya. "Baiklah, aku maafkan." Ucapku dengan berat "Terima kasih sayang... Cinta ku bertambah untukmu." "Hmmm.." jawab Zara Ryan mengerti jika Zara masih marah padanya. "Tapi kenapa kamu marah sama aku?" Tanya Ryan "nggak ada papa kok yang." Ucap ku bohong "ngomong aja yang.. aku nggak mau kamu menyembunyikan sesuatu sama aku." "baiklah. Tunggu disini dulu aku ambilkan sesuatu." Zara melangkahkan kaki nya ke dalam Rumah meninggalkan Ryan. Ryan pun menuruti apa yang dikatakan Zara. Ryan duduk diam menunggu Zara keluar dari Rumahnya. Beberapa menit kemudian Ryan melihat Zara keluar dari dalam rumahnya, di lihat nya Zara membawa secarik kertas dan berjalan menuju ke arahnya. Ryan memilih diam sebelum Zara menceritakan semuanya, ia tidak ingin merumitkan masalah seperti kemarin. Zara menyodorkan secarik kertas di hadapan Ryan. "Ini surat dari adikmu, Walsa." Ucap Zara "Walsa?" Ryan menerima surat dari tangan Zara "Iya, kamu bacalah.." Ryan lalu membaca surat dari adiknya, Walsa. Dapat di lihat dari ekspresi wajahnya kalau dia sedang menahan emosi nya. Zara hanya diam melihat pemandangan di sekeliling nya, karena Zara pun bingung harus bagaimana menyikapi ini semua. Ryan menatap Zara yang duduk di sampingnya dengan tatapan mata yang tidak bisa di artikan. Zara pun menatap Radit, tatapan mata mereka pun bertemu. Dapat terlihat jelas Mata Ryan memerah menahan amarah sedangkan mata Zara sudah berkaca-kaca karena menahan air matanya. Ryan memeluk Zara. "Maafkan aku sayang.." Ucap Ryan pelan Zara tidak bisa menahan air matanya, kini Zara menangis di pelukan Ryan. "Maafkan aku sayang, karena aku kamu harus mendapatkan masalah, aku janji akan menjaga mu dengan baik meski suatu saat kita akan di pisahkan karena keadaan. Tapi yakinlah aku akan selalu mencintai mu meski kelak itu tak terlihat." Batin Ryan "Terima kasih karena sudah menenangkanku, aku membutuhkan mu saat ini." Ucap Zara "Maafkan aku karena aku terlambat. kamu menahan sakit hati ini sendiri, maafkan aku sayang." Ucap Ryan Malam itu akhirnya masalah mereka terselesaikan. Untuk surat dari Walsa, Zara sudah melupakannya. Ia tidak ingin melihat Ryan memarahi Walsa, Ryan pun setuju untuk tidak menanyakan apapun pada Adiknya meski sejujurnya ia sangat marah atas tingkah adiknya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN