Senyum dingin Mayor Rezky masih menempel di wajahnya saat prajurit-prajuritnya mulai bergerak mendekat. Ujung senjata diarahkan ke tanah, namun ancamannya terasa jauh lebih tajam daripada bilah senjata itu sendiri. Di hadapan mereka, Kirana berdiri kaku, jantungnya berdegup kencang seolah hendak melompat keluar dari dadanya. Ia bisa merasakan dinginnya laras senjata yang kini menempel samar di sisi pelipisnya bukan menyakitkan secara fisik, namun menembus lurus hingga ke sanubari, mengingatkannya betapa tipisnya garis antara hidup dan mati saat ini. “Jangan bergerak,” bisik Arga pelan dari samping, matanya tak lepas dari setiap gerakan prajurit maupun sosok yang baru saja datang. “Kita tunggu saja dulu. Melawan sekarang hanya akan membuat dia menarik pelatuknya lebih cepat.” Kelompok pen

