Jeritan Kirana seakan tertelan gemuruh longsoran yang masih terus berlanjut. Tangan wanita itu meraba tepian tanah yang baru saja runtuh, kini yang tersisa hanyalah permukaan tanah yang kasar dan berantakan, tanpa ada jejak sedikit pun dari kedua orang yang tadi berdiri di sana. Arga dan Danu berusaha menahannya agar tidak terjatuh lebih jauh, namun tubuh Kirana terasa lemas seolah seluruh tenaganya ikut lenyap bersama lenyapnya sosok suami dan sahabatnya. “Satria! Bayu!” teriaknya lagi meski suaranya kini mulai serak dan parau. Hanya gema samar yang kembali menyapa, diikuti suara batu-batu kecil yang masih terus meluncur jatuh ke kedalaman jurang yang penuh kabut tebal itu. Tiara berdiri tidak jauh dari sana dengan air mata mengalir di pipi, menatap ke bawah dengan pandangan kosong, tida

