Sepanjang perjalanan menuju kantor, Anya tenggelam dalam lamunan. Bayangan masa depan yang tak pasti menghantuinya. Bagaimana ia akan memberitahukan Ethan tentang kehamilannya? Apakah ia harus membatalkan kontrak nikah? Dan dari mana ia akan mendapatkan dua miliar untuk membayar hutangnya? Pikirannya kalut. Ethan, tentunya menginginkan seorang istri yang baik dan perawan- bukan dirinya, yang bahkan tak tahu siapa yang telah menidurinya malam itu. Langkahnya terlihat berat, tanpa memperhatikan sekitar. Tubrukan keras pun menghentikan lamunannya. Seorang wanita berdiri di depannya, ternyata Karin, wanita pilihan orang tua Ethan. “Kenapa dia bisa ada di sini?” batin Anya bertanya-tanya. “Kau punya mata tidak sih? Menabrak orang saja!” karin membentak, suaranya tajam dan keras. Anya tert

