Pagi hari yang cerah, Anya melangkah dengan senyum merekah di bibirnya ke gedung perusahaan tempat ia bekerjaan saat ini. Senyumnya tak pernah lepas dari wajahnya saat membayangkan uang pemberian Ethan kemarin. Berkat uang tersebut ia bisa membeli baju baru dan juga baju untuk ibu dan adiknya. Begitu tiba di kantor, tatapan-tatapan karyawan lain kembali menyambutnya. Kali ini, tatapan mereka terasa lebih tajam dan menilainya dari ujung rambut hingga ujung kaki. Seakan ada yang aneh dengan pakaiannya. “Apakah ada yang salah dengan pakaianku?” gumam Anya pada dirinya sendiri, sedikit risih dengan tatapan karyawan lain padanya. Anya mencoba mengabaikannya dan melangkah tegak menuju mejanya. Namun, sebelum sempat duduk, seorang karyawan menghampirinya. “Bu Anya, Wakil direktur meminta An

