Bab 8

1018 Kata
"Tolonglah, Dia. Demi Aqila, jangan memintaku melepasmu. Karena aku tidak akan sanggup." Dani kembali memohon. Bahkan ia rela bersimpuh di depan kaki Diandra. "Aku sangat kecewa sama kamu, Mas! Lepaskan tanganku! Jangan cegah aku lagi karena hatiku saat ini sudah mati." "Sayang ...." "Di mataku, kau tak punya cela, Mas. Kau suami yang sempurna. Namun, ternyata aku salah. Aku bodoh karena sudah terlalu percaya denganmu." "Dia sayang ... itu tidak seperti yang kamu kira. Aku akan jelaskan semuanya setelah kita pulang. Aku akan mengakui semuanya." "Jelaskan itu semua di depan keluarga kita. Akui bahwa kau memang sudah menikah lagi. Lalu lepaskan aku!" "Tidak!" Dani tak mau melepaskan tangan Diandra. Adegan itu rupanya telah disaksikan oleh seorang wanita yang kini tangannya mengepal keras. Bibirnya yang merah merona itu mengatup rapat. Wanita berwajah muram itu mendekat lalu menarik lengan suaminya setelah berhenti di dekat Dani. "Mas, ngapain kamu bersimpuh begitu? Kamu itu laki-laki! Jaga martabat kamu. Enggak pantas kamu meminta sampai begitu," ungkapnya. Dani yang masih terbawa suasana pun hanya diam. "Mbak Dia, kalau Mbak mau berpisah dengan Mas Dani, silakan gugat di pengadilan. Kalau Mas Dani tidak mau menceraikan Mbak, biarkan saja. Jangan buat Mas Dani makin stres karena anak kami lagi kritis." Mendengar Dewi menghantam dengan ucapan kasar itu, Diandra memegangi dadanya. Bibirnya bergetar menahan sakit hati yang tak tertahankan lagi. Dia memutar badan berniat meninggalkan mereka. Namun, Dani mencegah dengan mencekal tangan istri pertamanya itu. Seketika langkah Dia terhenti. "Dia, jangan pergi! Tolong, maafkan Mas." Dani membuat Dewi terkejut lagi. Wanita di samping Dani itu geram. Ia langsung mendorong punggung Dia hingga wanita itu hampir tersungkur ke lantai jika tak ada yang menangkap tubuhnya. Dia mendongak, menatap sosok tampan yang baru saja menyelamatkannya. "Kamu enggak apa-apa?" tanya pria berkemeja putih itu. Wajahnya putih bagai mutiara. Potongan rambutnya rapi dengan kedua sisi yang tipis. Aroma maskulin yang keluar dari tubuhnya, membuat Dia ingin menarik udara dalam-dalam. "Maaf, saya enggak tau," jawab Dia. Dani langsung melotot. "Dia!" Ia ingin melangkah, melepaskan tangan pria yang memegang lengan istrinya itu. Namun, Dewi selalu mencegahnya. Dani kalah. Lelaki itu tak kuasa menolak atau menghempas tangan Dewi. "Jangan berlaku kasar dengan wanita!" Pria yang menolong Diandra mulai angkat suara. Bahkan suaranya yang khas matang itu membuat Dani ciut nyali. Dani tak menjawab. Apalagi pria tadi tak mengetahui apa yang sudah terjadi. Ditambah suasana di rumah sakit mulai kembali memanas gara-gara mereka. "Udahlah, Mas! Enggak usah cegah dia lagi! Dia itu sudah enggak mau sama kamu. Jangan-jangan juga lelaki itu adalah simpanannya," tuduh Dewi seraya menyipitkan matanya. "Diam kamu, Dewi! Gara-gara kamu semua ini terjadi! Keluargaku hancur!" Dani memberontak. Lalu ia memutar arah dan pergi dari dekat istri keduanya. Di depan ruangan yang lain, Dia diajak duduk oleh pria tadi. Lelaki itu tak banyak bicara selain duduk saja. "Maaf, Pak. Saya sudah tidak apa-apa. Saya permisi dulu," ucap Dia dengan lirih. Ia sama sekali tak memandang wajah pria itu selain sekali saja saat ditolong tadi. "Ya sudah." Pria itu membiarkan Dia pergi setelah itu. Namun, tatapannya selalu mengunci setiap langkah Dia yang semakin menjauh. *** Angin menyapu air mata Dia. Wanita itu sampai juga di rumah. Dia bergegas menata pakaian yang akan ia bawa ke rumah sakit lagi. Inginnya pergi dari rumah itu selamanya saat menatap bingkai foto dua sosok di dalamnya. Fotonya bersama Dani saat liburan ke pantai. Senyum mereka tampak begitu bahagia. Namun, semua itu telah lebur bersama dengan panasnya mata saat menyaksikan Dani bersama wanita lain. Dia mempercepat gerakan tangannya. Ia langsung keluar dari kamar setelah membawa tas berukuran sedang. Tiba-tiba ponselnya berdering di dalam tas, tanda panggilan dari Imran. Namun Dia tak sempat, ia langsung berjalan cepat lalu mengunci pintu rumahnya lagi. Sampai di depan pintu gerbang dan pamitan pada satpam, sebuah mobil berhenti di depannya berdiri. Lalu keluarlah seorang wanita tua putrinya. "Mama," ucap Dia lalu berniat menyalami tangan Eni. Eni sendiri malah menyembunyikan tangannya ke belakang tubuhnya yang gendut itu. "Mama mau pesan sama kamu. Tolong jangan usik kebahagiaan Dani dan Dewi lagi. Saya sudah dengar kalau kamu sudah tau bahwa Dani sudah menikah lagi. Saya yang menyuruh Dani menikah lagi." "Kenapa Mama lakukan itu? Saya kurang apa? Saya enggak mandul. Saya juga yang menemani Mas Dani dari nol. Dari dia masih kuliah, Ma." Wajah Dia kembali memerah. "Bukan itu yang jadi masalah. Yang jadi masalah adalah sejak dia kenal sama kamu, sakit jantungnya sering kumat. Dan akhirnya malah anak kalian juga kena imbasnya. Jangan bawa kesialanmu di keluarga kami!" Gadis muda di sebelah Eni itu bersedekap sambil menatap penuh ejekan pada istri kakaknya itu. Tak sudi bicara dengan Diandra. "Penyakit jantung Mas Dani itu karena keturunan, Mah. Bukan gara-gara saya." "Iya, tapi sejak kalian menikah Dani makin sering mengeluh dadanya sakit. Itu semua gara-gara kamu!" Kesal Eni menatap wajah Diandra. Seperti musuhnya sendiri. "Jauhi anak saya, kalau kamu masih mau Dani sehat-sehat. Dasar pembawa sial!" Dia meredam sakit hatinya itu seraya menatap kepergian menantu bersama adik iparnya. Lemas rasanya saat ia ingin berangkat. Selang beberapa menit berlalu, Dia melihat sebuah mobil yang ia kenali berhenti di depannya. Kaca mobil itu turun, tampak senyum pria yang tadi ada di rumah sakit duduk di jok depan bersama Imran. "Dia!" Imran memiringkan kepalanya sambil memanggil. "Masuk! Kita berangkat sekarang." Saat masih dalam keterkejutan itu, Dia menjawab, "Ii--iya, Mas." Dia lantas masuk ke dalam. Ia duduk di jok belakang, tetapi tak bertanya mengapa pria yang tadi menolongnya ada di dalam mobil Imran. Mobil pun melaju kembali membelah jalanan yang mulai padat. Dua pria itu terlihat saling bicara. "Nanti malam jadinya nginep?" tanya Imran pada pria itu. "Gimana lagi, aku anak pertama, Im. Lagian, aku juga yang tak mau jauh dari ibu." Imran mengangguk. "Aku kira kamu masih di Singapur." "Sejak dapat kabar dari Safia, aku langsung pulang. Kerjaan di sana aku kerjakan di Jakarta. Kalau ibu udah sehat, aku ke sana lagi buat ngecek aja." "Enak ya udah punya perusahaan sendiri. Tinggal nyari bini aja," sindir Imran lalu tertawa. Begitu juga dengan pria itu. "Dia!" Imran menatap dari kaca spion dalam. "Kenalin ini temen lama Mas. Namanya Zayyan." Dia mengangguk. "Dia tadi ketemu beliau di rumah sakit, Mas." "Hah?" Imran terkejut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN