Mencoba Menghindar

2362 Kata
Memasuki gerbang mansion, Emily berlari kencang sambil melirik arloji. Oh no. Dua menit lagi. Ia menyesali waktu cepat berlalu, terlebih lagi harus menjadi atlet marathon dadakan, menempuh 100 meter untuk bisa tiba di beranda mansion itu. “Seharusnya kau menyediakan mobil golf di gerbang sana, Allan,” keluhnya yang akhirnya tiba di depan pintu mansion yang sudah berdiri dua bodyguard di sana. “Mana bos kalian?” Napas Emily tersengal-sengal, kembali melirik arloji. Tersisa waktu satu menit. Salah satu bodyguard itu menunjuk ke belakang. “Di taman belakang, Nona,” sahutnya, menunjuk dengan kelima jari. “Thanks.” Emily berlari lagi dan kali ini ia menambah kekuatan pada kedua kakinya hingga akhirnya tiba di taman. Suara tepuk tangan menyambut kedatangan Emily. Allan bertepuk tangan sembari duduk di kursi yang tubuhnya hanya dibalut kimono handuk putih. Di sampingnya berdiri Perrie yang tersenyum tipis. “Selamat, Emily. Akhirnya kau tiba lagi di sini,” puji Allan, melihat Emily bergegas mengeluarkan sesuatu lalu menaruhnya di atas meja “Ini uangmu. $1.000." seru Emily lugas, dengan napas terengah-engah menaruh amplop coklat. Allan mengangkat sebelah sudut bibirnya, ia menengadahkan tangan menunjuk ke arah kursi kosong. “Duduklah,” sahutnya menyilakan Emily duduk di hadapannya. Allan meraih amplop coklat lalu menghitung dengan teliti beberapa lembar uang pecahan seratus dollar itu. Sementara itu Emily duduk bersandar, ia kini bisa bernapas lega walau hanya mempunyai waktu sebulan lamanya bisa terlepas dari jeratan pria yang kini menatapnya serius. Allan menaruh amplop itu di atas meja lagi, melirik Perrie lalu berkata, “Berikan dia minum, Perrie,” titahnya melihat Perrie mengangguk cepat lalu berjalan memasuki ke dalam rumah. “Apa kau meminjamnya dari kawanmu yang bekerja di klub itu?” tebak Allan, mengusap pelan bulu-bulu halus di rahangnya sambil menatap Emily. “Itu bukan urusanmu, Sir.” Emily menolak menjawab. "Saat ini yang terpenting aku bisa membayar hutangku dan tentu saja bisa terbebas darimu selama satu bulan." Senyum Emily mengembang, membayangkan betapa kesalnya hati Allan yang tidak berhasil mendapatkan dirinya sebagai b***k. Setidaknya selama satu bulan ini. Dahi Allan berkerut. "Terbebas? Siapa bilang kau terbebas dariku, Emily?" Lagi-lagi ia menyeringai dan menantang. "Kau memang bebas bulan ini, tapi sampai kapan kau sanggup mencari pinjaman kepada kawanmu untuk membayar hutang? Apa kau akan kembali bekerja di klub itu?" Emily setengah tertawa dan membuang wajah sebentar. "Dimana aku bekerja ataupun kepada siapa aku meminjam uang, itu bukan urusanmu, Sir. Karena aku bukan slavemu dan aku belum menandatangani surat perjanjian itu denganmu," tegas Emily, yang kembali mengungkit masalah statusnya yang masih 'bebas'. Allan tertawa mendengar ucapan Emily, ucapan yang menyiratkan sebuah kebebasan karena belum menjadi miliknya, tapi ia yakin, cepat atau lambat ia akan memiliki Emily secara utuh. “Aku menghargai kerja kerasmu yang bisa membayar hutang untuk bulan ini. Tapi, jika bulan depan kau tidak sanggup membayarnya, dengan tangan terbuka aku menerima kedatanganmu, Emily,” kata Allan lagi, selalu serius setiap mengungkit masalah surat kontrak. Selesai Allan bicara, Perrie tiba bersama seorang maid yang membawa segelas air putih, beberapa potong buah dalam piring kecil dan kue. Sekali lagi Allan menjamu Emily layaknya pada seorang tamu, bersikap ramah walau tatapannya seperti elang yang mengintai mangsa. Emily meraih gelas. "Thanks." Ia meneguk habis air di gelas itu dan kembali menatap Allan yang berbisik kepada Perrie. Allan bangkit dari kursi, melirik Emily. "Ikut aku ke ruang kerjaku sekarang," pinta Allan Allan. Dahi Emily berkerut. "Untuk apa?" Ia tidak beringsut dari kursi, hanya memandang Allan yang akan beranjak dari sana. "Ayo." Allan meraih dan menarik tangan Emily. "Untuk menandatangani dokumen," Ia memaksa Emily bangkit dan mengikuti langkahnya ke dalam rumah walau Emily berteriak dan meronta. "Hei! Aku sudah membayarmu $1.000, Sir. Dan aku membayarnya tepat waktu sebelum jam dua belas siang!” Emily berteriak sementara kedua kakinya mengikuti langkah panjang Allan. “Jika kau menyuruhku menandatangani dokumen sebagai slavemu, aku menolaknya. Kau paham?!” “Aku paham, Sayang.” Allan menjawab cepat, mengeratkan genggamannya dan membawa Emily menaiki tangga. Perrie yang mengikuti mereka dari belakang, berdehem menahan tawa. Terutama setelah mendengar kata 'sayang'. "'Sayang?'" Emily mendengus kesal dan tidak mengerti dengan rencana Allan sekarang, ia terus berjalan dan langkahnya terhenti di depan pintu ruangan tempat pertama kali ia bertemu Allan. Pintu ruangan itu terbuka dan mereka masuk ke dalam, begitu juga Perrie yang sejak tadi mengikuti dari belakang. Tiba di dalam, Allan melepaskan genggaman tepat di depan meja kerja. “Duduklah,” pintanya kepada Emily, ia berjalan menuju kursi besar berwarna coklat tua yang berdiri di balik meja. Merasakan genggaman Allan tadi terlalu erat, Emily mengusap pergelangan tangannya sambil mengeluh. “Kau membuatnya hingga membekas,” keluhnya kesal. Emily pun terpaksa menuruti Allan. Duduk di hadapan pria itu sedang mengambil berkas dari laci meja. Allan menaruh beberapa lembar kertas lalu menyodorinya ke arah Emily. “Kau harus menandatangani surat ini karena sudah membayar angsuran bulan pertama. Surat ini berlaku sebulan setelah kau tanda tangan. Sebagai contoh, tanggal 31 ini kau menanda tangani surat ini, itu berarti tanggal 30 tepat jam 12 malam bulan berikutnya kau harus membayar hutangmu, untuk angsuran berikutnya,” jelas Allan dan yakin Emily paham. “Kali ini aku tidak akan memberi dispensasi lagi, Emily,” sambungnya lagi. "Baiklah." Emily mengangguk, ia sudah salah paham dan berpikir yang tidak-tidak. Ia memaklumi dirinya tidak bisa berpikir jernih, ketika Allan mengajaknya ke dalam ruangan hanya mengenakan kimono, terlebih lagi pria itu sangat terobsesi untuk memilikinya sebagai slave yang bisa menemaninya selama setahun. “Aku paham, Sir,” sahutnya lagi, meraih kertas itu dan membacanya teliti. Perrie yang sejak tadi berdiri di samping Emily, menyodori pena lalu menunjuk kolom yang harus Emily bubuhkan tanda tangan dan namanya di sana. Setelah Emily menanda tangani surat itu, ia terdiam melihat Allan bangkit dari kursi besarnya. “Kau jangan kemana-mana, tunggu aku di sini,” pinta Allan melangkah ke arah samping, yang tidak jauh terdapat sebuah ranjang besar. Begitu juga sebuah pintu yang sejajar dengan bagian kepala ranjang. Ia melihat Allan membuka pintu itu lalu masuk ke dalamnya. Seperti sebuah ruang rahasia. “Perrie,” panggil Emily dengan suara pelan dan nyaris berbisik, matanya sempat melirik ke arah pintu yang sudah tertutup. Memastikan Allan belum keluar dari ruangan itu. Perrie berdehem. Menegakkan kedua pundak dan sedikit mengangkat dagu. “Ada apa?” Ia menyahut dan bersikap biasa. Emily mendongak dan melihat kesal Perrie yang kaku. “Maukah kau menjawab pertanyaanku?” tanyanya, sedikit memaksa Perrie. “Tergantung dari pertanyaanmu, Nona Emily.” Perrie menunduk menatap bola mata Emily yang tidak lama berputar. “Oh ... kau menyebalkan. Tidak bisakah kau menjawab ‘baik aku akan menjawabnya, Emily’.” Emily memperagakan cara bicara Perrie yang kaku lalu menatapnya lagi. Perrie menahan tawa. “Baiklah apa pertanyaanmu?” Ia terpaksa menyerah menuruti permintaan Emily. Senyum Emily mengembang. Ia bangkit lalu mendekatkan mulut ke telinga Perrie setelah meminta pria kurus itu untuk sedikit membungkuk. “Apakah dia masih lajang?” tanya Emily sambil berbisik. Perrie tersenyum dan mengangguk. “Ya.” Lalu ia mengangkat wajah dan melemparkan pandangan ke atas. “What?!” Mata Emily membulat tidak percaya. “Kau yakin? Kau tidak sedang mengerjaiku 'kan?” Emily tidak percaya begitu saja. Untuk ukuran pria setampan dan sekaya Allan terlalu mustahil untuk dikatakan melajang di usianya yang akan memasuki senja. Perrie menggeleng. “No.” Menjawab cepat dan pandangannya reflek tertuju ke arah pintu yang sudah terbuka lalu Allan keluar mengenakan kaos slimfit polos warna abu dan celana jeans. Pandangan Emily tertuju pada Allan yang berjalan ke arah mereka. Ia menunjuk surat kontrak yang sudah ditandatangani. “Aku sudah menandatangani surat itu, Sir. So, aku permisi dulu.” Ia bermaksud beranjak tapi langkahnya tertahan ketika Allan berhasil mencengkram tangannya lagi. “Kau boleh pulang setelah menemaniku makan siang hari ini.” Allan menarik tangan Emily menuju pintu lalu melirik ke arah Perrie. “Pesankan meja di restaurant Perancis Vos Gouts untuk kami, Perrie,” titahnya lugas. “Baik, Sir.” Perrie mengangguk cepat. Tangannya mengambil ponsel dari saku dalam jas lalu menghubungi seseorang berbicara menggunakan bahasa Prancis. “Lepaskan aku!” Emily mencoba melepaskan cengkraman tangan Allan seperti tadi. “Aku tidak menyukai makanan Perancis. Sebaiknya kau pergi bersama Perrie, Sir.” Ia menolak dan tidak menyetujui ide Allan yang terdengar mendadak. Menurutnya makanan Perancis aneh. Sangat aneh. Allan terus berjalan menuruni tangga. “Aku yakin kau menyukainya, Sayang.” What?! Dia bilang ‘Sayang’ lagi? "Sial!” ❤❤❤ Tiba di restoran Perancis, pelayan mengantarkan Emily dan Allan menuju ruangan VIP. Sementara Perrie dan dua bodyguardnya berada di ruangan umum, ruangan yang hampir dipenuhi oleh pengunjung yang menyantap makan siang mereka di restoran yang terlihat nyaman dan ramai. Tidak seperti restoran mewah perancis yang biasa dikunjungi sekumpulan orang kaya. Emily duduk setelah Allan menarik kursi. "Terima kasih." Ia duduk dan melihat Allan bergegas menuju kursi di hadapannya. Pelayan memberikan buku menu pada mereka berdua. Allan tidak melihat isi buku menu, ia langsung memesan menu yang sama setiap kali mengunjungi restoran itu. Dan si pelayan sudah hafal benar dengan menu makan siang favorit CEO AA Company itu. Berbeda dengan Emily yang terlihat bingung memilih menu makanan. Ia tidak pernah menyantap makanan Perancis sebelumnya, itu sebabnya ia bingung memilih makanan walau berharap ada seporsi spaghetti atau lasagna. Tapi sayangnya makanan itu bukan berasal dari Perancis, tapi Italia. Allan mengambil buku menu dari kedua genggaman Emily, ia melirik pelayan. "Antarkan saja menu yang sama untuk kami berdua," pintanya yang tidak lama pelayan itu mengangguk dan mengiyakan ucapan Allan lalu pamit meninggalkan mereka berdua. "Sepertinya kau sering ke sini?" tebak Emily melihat Allan menatapnya serius sambil duduk bersandar dengan kedua tangan menyilang di d**a. "Ya." Allan menjawab singkat. "Bersama wanita?" tebak Emily lagi mengangkat sebelah alisnya. "Ya," jawab Allan lagi. Emily setengah tertawa. "Oh ... sudah kuduga," gumamnya pelan sembari membuang wajah. Karena merasa terus diperhatikan Allan, Emily menjadi salah tingkah. Ia mengambil ponsel dari dalam tas yang ia taruh di kursi samping. Ia terkejut menerima pesan dari Tom. 'Kau sudah membayarnya?' tanya Tom di pesan itu. Pesan yang ia kirim sekitar dua puluh menit yang lalu. Emily membalas. 'Sudah. Tapi aku pulang terlambat. Ada sesuatu yang harus aku selesaikan dengannya.' Sebuah pesan masuk. Tom membalasnya. 'Aku akan ke rumahmu nanti malam. Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu.' Emily tersenyum dan bermaksud untuk membalas tapi Allan berhasil merebut ponsel dari genggamannya secepat kilat. "Hei, ponselku!" Emily tidak terima. Ia berusaha merebut kembali tapi Allan menyita dan menaruhnya ke dalam saku celana. "Kau sedang bersamaku, Emily. Sebaiknya kau menghargai orang yang ada di dekatmu, bukan asyik membalas pesan," serunya tegas. Emily membuang wajah kesal. “Baiklah, Sir. Aku akan menghargaimu tapi kumohon kembalikan ponselku,” pintanya dengan wajah memelas. “Aku harus membalasnya sekarang. Please ....” “No.” Allan menolak. Ia mengabaikan permohonan Emily walau wajah wanita itu memelas meminta iba. Tidak ada yang bisa Emily lakukan selain mengembuskan napas dan melihat Allan kesal sambil bergumam hingga makanan mereka tiba di atas meja. Seporsi Confit De Canard, segelas wine dan Creme Brulee tergeletak di atas meja dan menggugah selera Emily. Menu yang sama yang Allan santap untuk makan siang hari ini juga. Seumur hidup Emily tidak pernah menyantap hidangan mahal makanan Perancis, baginya steak bison buatan neneknya adalah yang paling mewah dan terlihat ‘mahal’. Tapi kali ini Emily mengakui makanan yang terbuat dari daging bebek itu terasa lezat walau tiba-tiba ia teringat dengan pria yang ada di hadapannya sekarang. “Kau mengajakku makan siang denganmu tidak memasukkan ke dalam daftar hutang ayahku 'kan?” Menatap Allan yang sedang menghabiskan makanan pencuci mulut. Memastikan Allan tidak sedang menjebaknya dengan cara menambah jumlah hutang yang harus ia bayar. Allan menyeka bibir dengan sapu tangan. Ia setengah tertawa mendengar ucapan Emily yang terdengar ketakutan. “Aku memang tegas pada orang yang berhutang denganku tapi aku tidak sekejam itu, Sayang.” “Bisakah kau berhenti memanggilku 'Sayang'?” sela Emily cepat, keberatan Allan memanggil panggilan intim itu sementara mereka tidak memiliki hubungan istimewa sama sekali. Allan menggeleng. “Maaf aku tidak bisa, Emily.” Ia menolak tanpa ragu. “Selama kau masih berhutang padaku, kau adalah milikku. Kau paham?” Entah sebuah peringatan atau ancaman, raut wajah Allan tidak berubah, menyeringai menatap Emily penuh makna. Helaan napas kesal selalu menjadi tanda kekesalan Emily terhadap Allan. “Anda selalu menyebalkan.” “Tentu,” sambung Allan cepat. “Terutama di ranjang.” Lalu tertawa melihat Emily memutar bola matanya dan menggeleng. ❤❤❤ Emily melirik Allan yang duduk di samping sedang menatap ke jendela mobil yang ia naiki sekarang. Hanya salah satu mobil sedan mewah milik Allan selain mobil tipe SUV atau mobil sport lainnya yang terparkir memenuhi garasi di mansion miliknya. Hari ini banyak hal baru yang Emily alami. Makan siang di restoran Perancis dan menaiki mobil sedan milik CEO Allan Anderson, pria pengusaha yang punya pengaruh besar di Amerika serikat. Emily sadar bisa bergaul bersama Allan mungkin salah satu kebanggaan seseorang bahkan wanita cantik manapun. Tapi tidak dengan dirinya. Bagi Emily, setiap detik bersama Allan adalah ancaman. Ia takut Allan akan melakukan segalanya untuk mendapatkan dan menjadikan dirinya sebagai slave. Kata ‘slave’ atau ‘peliharaan’ selalu membuat Emily bergidik. Membayangkan kekejaman Allan. Terutama di ranjang. “Kenapa?” Allan menoleh ke samping, melihat Emily yang reflek membuang wajah. “Kau terpesona padaku?” tuduh Allan tertawa renyah. “What?!” Emily kembali melihat Allan dengan kedua mata membulat. “Apa aku tidak salah dengar? Sepertinya kau harus menikah, Sir. Agar kau tidak terlalu percaya diri padaku lagi,” balasnya ketus, pandangannya fokus ke depan, melihat Perrie dan supir. Allan menyampingkan tubuhnya cepat, mengapit Emily hingga membuat wajah mereka berdekatan. Saking dekatnya, Emily bisa mencium aroma wine dari mulut Allan. Merasa tersudut, Emily memundurkan kepalanya hingga membentur kaca jendela, menghindari pesona dan gairah Allan yang seketika membuat darahnya berdesir kencang. "Kau mau apa?" Suara Emily bergetar, matanya sempat terpejam pasrah ketika hidung mereka beradu. Allan menatap bola mata bergantian dengan bibir Emily lalu menyeringai. Ia membisikkan sesuatu yang membuat Emily terkejut. "Aku akan selalu percaya diri di depanmu, Emily," ucapnya serius. "Karena aku akan membahagiakanmu. Aku janji." Emily mengangkat dagu, mencoba santai walau jantungnya berdetak kencang, pipinya terasa panas. "Dengan cara apa kau membahagiakanku?" Senyum Allan memudar, berganti dengan raut wajah serius. "Menjadi budakku." "No!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN