bc

Garis Singgung

book_age18+
0
IKUTI
1K
BACA
love-triangle
family
HE
love after marriage
kickass heroine
blue collar
drama
sweet
bxg
lighthearted
campus
city
highschool
childhood crush
like
intro-logo
Uraian

“Would you mind if i call you mine?”“No”“We will see”

chap-preview
Pratinjau gratis
Garis Singgung
2007 SMP Negeri 1 Jayakarsa Jam menunjukkan pukul 06.55, dimana banyak sekali siswa-siswi berbaris rapi dihalaman sekolah menandakan sebentar lagi upacara bendera akan segera dilangsungkan. Banyak sekali bisik-bisik, canda tawa dan juga teriakan yang bersahut-sahutan disetiap barisan dari sisi kanan ke kiri tanpa terkecuali. "Komando saya ambil alih. SIAAAAP GRAK!" Terdengar suara lantang dari depan barisan, dimana terlihat siswa yang berdiri tegak dengan dagu terangkat yang terlihat begitu mendominasi suasana riuh di pagi hari itu. "Liat deh! komandan upacara itu ganteng loh" Arina mencoba menarik pandangannya menuju titik dimana sahabatnya Nana mengungkapkan kalimat itu dengan begitu semangat. Saat komandan upacara itu menghadap ke barisan untuk memastikan barisan rapi, untuk sepersekian detik tatapan mata antara Arina dan si Komandan Upacara bertemu dalam kurun waktu satu hingga dua detik. Deg Ada rasa penasaran akan sesuatu ketika ia menangkap sorot teduh dari mata tajam si Komandan Upacara. Ini tidak bisa dibiarkan, Arina menggeleng-gelengkan kepalanya mengenyahkan pikirannya yang mendadak sedikit kacau beberapa saat lalu. "Malah geleng-geleng kamu, ganteng kan?" Masih saja Nana sahabatnya berusaha memastikan jawaban dari bibir Arina. Nana Setyaningrum adalah sahabat baik Arina Anastasha sedari SD kelas 5. "Iya ganteng, cuma ya nggak yang ganteng banget. Gantengan kak Ferdy kok" Dosa apa Arina pagi ini, ia harus berbohong pada Nana. Jelas dihatinya berkata sebaliknya. Komandan Upacara itu ganteng banget! Tapi tidak mungkin Arina berkata gamblang, gengsi dong! "Ya jelas! Kak Ferdy tiada tanding kali Rin" Nana dan Arina sesekali mengobrol berbisik-bisik selama upacara berlangsung. Untuk Arina sendiri, ia terus memerhatikan punggung komandan upacara didepannya. Ia tidak jadi mengeluh seperti upacara sebelum-sebelumnya ketika diminta baris didepan karena tubuhnya yang mungil sekali, pagi ini ia semangat sekali berbaris tanpa ada gerutuan sedikitpun. Mentari pagi ini begitu sejuk, batinnya. Arina gadis berkulit sawo matang dengan rambut pendek dibawah telinga seketika memikirkan banyak hal yang mengganggunya. Ia adalah sosok gadis tomboy yang lebih sering bermain bersama teman laki-laki dibanding teman perempuannya. Ia adalah pribadi yang selalu percaya diri dan penuh keceriaan. Namun pagi ini berbeda. Ia merasa tidak cukup menarik. Lucu sekali, selama ini ia belum pernah merasakan ketertarikan pada laki-laki. Entah kenapa pagi ini ia menaruh seluruh atensinya pada komandan upacara didepannya. Bahkan, Arina berpikir bahwa komandan upacara itu sendiri saja tidak tahu kalau ada sosok Arina yang menghirup oksigen yang sama dengannya. Jam pulang sekolah. Arina dan Nana berjalan bergandengan menuju parkiran sepeda. Arina mengenakan jaket pink-nya, sebenarnya ia terpaksa memakai jaket pink itu karena kado dari Mamanya. Padahal jelas warna pink adalah warna yang paling ia hindari. Tapi baiklah, demi mamanya ia tetap memakainya. Siang itu begitu terik, ia melihat si komandan upacara berjalan bersama dua orang temannya. Arina hanya menatapnya dari kejauhan. Lantas ia tersenyum sekilas pada dirinya sendiri. *** 2009 SMP N 1 Jayakarsa Hari Perpisahan kelas IX. Perpisahan kali ini bertema kebaya dan jas formal. Pukul 02.00 Arina sudah mengantri di salon yang jauhnya sekitar 7 Km dari rumahnya. Ia dan teman-temannya mengantri untuk di makeup dan disanggul. Karena ia telat membooking kebaya, ia mendapat kebaya yang tidak sesuai keinginannya. Tersisa warna kuning dan pink. Tentu saja ia memilih warna kuning, ia menghela nafas dengan berat. Hatinya begitu berisik menggerutu sepanjang helaan nafasnya, semoga nanti hasil makeup dan sanggulnya tidak mengecewakan. Cukup kebayanya yang ngejreng sampai membuatnya sakit mata. Tolong makeup dan sanggulnya jangan sampai menyakiti mata orang lain. Ia tidak ingin seluruh siswa kelas IX buta atau mengalami sakit mata karenanya. "Nduk, giliranmu ini" terdengar suara budhe Arina memanggilnya. Karena sedari pagi buta Arina ditemani budhenya untuk makeup dan menata dirinya di salon langganan sejuta umat. Setelah berjam-jam lamanya akhirnya selesai juga. Bagaiman bisa, kebayanya berwarna kuning, jarik bawahannya berwarna coklat terang. Sekarang lihat ke arah sanggulnya dimana ada bunga orange dengan daun lebar selebar hatinya, dimana daun itu menjuntai diperpotongan antara rambut asli dan sanggulnya. Jangan lupakan eye shadow-nya setebal kasur springbed barunya, yang tidak kalah membagongkan adalah warnanya hijau tua. Ingat itu! HIJAU TUA. Darimana korelasinya kebaya kuning, bawahannya coklat dan eye shadow-nya hijau tua. Sungguh detik itu juga Arina ingin menangis, tapi melihat senyum merekah si perias dan budhenya ia tidak sampai hati berkomentar ataupun menyuarakan isi hatinya. Sialan untuk perasaan tidak enakan ini. Ia pasrah kalau pagi ini diacara perpisahan yang begitu spesial ia harus cosplay menjadi Nyi Blorong. Sekuat tenaga Arina menahan tangisnya. Dalam hati ia mengumpat hebat, ia bersumpah ketika ia sudah besar ia ingin sekali belajar makeup. Ia ingin bisa membuat orang-orang dihari spesialnya terlihat jauh lebih cantik dari biasanya. Ia ingin melihat orang yang selesai dimakeup tersenyum haru dan penuh rasa percaya diri, tidak seperti dirinya sekarang. Acara perpisahan berjalan dengan khidmat, semua siswa-siswi terlihat begitu antusias dikursi mereka. Satu persatu maju ke pendopo untuk menerima penghargaan dari guru dan kepala sekolah. Ada satu hal yang menyita perhatian Arina, saat kelas si pemimpin upacara disebutkan. Ia langsung menegakkan tubuhnya. Ia melihat dari kejauhan si pemimpin upacara berjalan dengan tegas.Tanpa sadar Arina tersenyum dan bangga melihat hal itu. Arina sendiri tidak tahu kenapa ada rasa asing dalam hatinya, ia merasa harus melindungi sosok laki-laki itu. Tapi melindungi dari apa? "Semoga kamu sukses ya, semoga aku juga sukses. Semoga jalan kamu dipermudah, dan semoga kita bisa bertemu lagi nanti" Hanya doa itu yang Arina ucapkan dengan lirih dan hanya ia dan Tuhan yang tahu doa yang baru saja ia langitkan disela-sela helaan nafasnya. *** 2012 Warung Mie Ayam Putra Pak Tuman Sore ini Reni sahabatnya sedari kelas X mengajaknya untuk membeli mie ayam langganan mereka yang berada di kota. Tanpa pikir panjang Arina menuruti ajakan sahabat kesayangannya itu. "Besok kamu ambil jurusan apa?" Arina menyendok kuah merah menyala mie ayam miliknya dengan penuh semangat sembari menunggu jawaban Reni. "Kayaknya sedapetnya deh, dicoba aja dulu kan" Dengan anggun Reni memakan mie ayamnya dan sesekali menggelengkan kepalanya karena merasakan kenikmatan di setiap suapan yang masuk ke mulutnya. "Bener sih, kita coba dulu ya. Moga nanti kampus kita sama. Minimal deket lah kalau nggak sama" Reni mengangguk semangat dan mengaminkan ucapan dari Arina. Mereka berdua larut dalam obrolan sampai beberapa waktu kedepan. Setelah selesai membayar mereka menuju parkiran hendak keluar. Didepan warung terdengar seseorang yang memanggil Arina dengan lantang. "Arina" Segera Arina menoleh ke sumber suara, disana terlihat sahabat baiknya sedari SD. Bagus Permana sedikit berlari menghampirinya sesaat setelah turun dari boncengan seseorang yang masih duduk tegak diatas motornya. Dengan langkah pasti Bagus mendekat dan mengacak-acak rambut lurus Arina. "Haissh! Apaan sih bang! Rusak rambutku ini" Bagus hanya tertawa acuh, "kesini nggak bilang, kan kita bisa makan bareng-bareng disini" Terdengar dengusan kasar dari Arina. "Aku mau me time sama Reni kok, eh bang kenalin ini Reni sahabatku. Ren, kenalin ini Bagus cah edan. Sahabat cowok sekaligus abang terbaikku" Bagus hanya mendelik pasrah ketika sahabat kesayangannya menyebutnya dengan sebutan yang amat kurang ajar itu "cah edan". Reni dan Bagus bersalaman dan beberapa pertanyaan meluncur dari keduanya untuk saling mengenal namun masih tahap basa-basi yang basi. Namanya juga cowok berlabel buaya, maklum lah lihat yang bening dikit udah kayak kucing lihat ikan kembung. Alias nggragas. Seseorang dari belakang turun dari motornya dan mendekat ke arah mereka bertiga dengan langkah yang begitu tenang dan terasa sedikit familiar untuk seorang Arina saat ini. "Hai" Perlahan tapi pasti Arina menoleh ke sumber suara, ia merasa pernah melihat orang ini tapi dimana ya. "Oh iya ini temenku, namanya Panca Nugraha" Reni menjabat tangan Panca dengan sedikit canggung. "Reni" Setelahnya uluran tangan Panca mengarah ke Arina. Arina masih menatap lekat-lekat wajah Panca, ia seperti kehilangan sesuatu, ia terus menatap wajah Panca dengan kerutan didahinya. Berusaha sekuat tenaga mengingat hal yang ia lewatkan. "Heh cil! Malah bengong! Nggak usah kenalan juga gapapa deh orang dia temen SMP kita cil" Bagus mencubit hidung Arina dengan pelan. Barulah Arina tersadar dari kejadian yang mempermalukannya. Bodoh! Kenapa ia malah memikirkan hal yang tidak penting. Astaga! Apa kata Bagus tadi? Teman SMP? Tidak mungkin kan sosok didepannya ini adalah si Komandan Upacara itu. 'Oh my God! Ayo Arina kembali sadar, jangan mempermalukan dirimu dengan memasang wajah bodoh seperti ini' teriak Arina dalam hati. "Arina" Panca tersenyum lembut dan masih menatap wajah cengo Arina. Entah apa yang ada dipikiran Panca karena sedari tadi ia tidak melepaskan pandangannya pada Arina. Panca melihat raut wajah ceria Arina dari kejauhan, raut wajah kaget, bingung dan sekarang ia mendapati Arina dengan wajah berpikir keras seolah Panca adalah soal Matematika saat Ujian Nasional. "Aku duluan ya bang, mas Panca. Keburu sore banget" seru Arina sembari tersenyum kikuk. "Duluan ya" Reni menyahut dibelakangku. Mereka berdua menuju motor dan mengenakan helm dengan penuh semangat. "Oke, nanti bales BBM ku ya" teriak Bagus dibelakang Arina dan dijawab dengan gerakan tangan membentuk kata "OK". Dari spion Arina melihat Panca masih menatap ia dan Reni dari kejauhan hingga ia berbelok ke jalan raya. *** 2013 Indoapril Arina menyelesaikan perkuliahan hari ini dengan begitu sesak. Pasalnya ia lupa mengerjakan tugas writing-nya, jadi ia meminta bantuan teman dekatnya yang selalu stand by membantunya. Sesampai di parkiran ia hendak memesan ojek online karena ia malas menaiki motornya tadi pagi. Sudah telat kalau harus menata parkiran dulu nanti keburu dosennya udah naik haji dua kali. Jadi ia memilih memanfaatkan fasilitas ojek online. "Dek" Terdengar suara berat seseorang yang sangat ia kenali. Lantas ia mendongak ke arah suara dan mendapati seorang pria tampan yang sudah menjabat menjadi kakak nemu gede alias udah dianggapnya layaknya kakak kandungnya sendiri. "Loh mamas ngapain disini?" Pria tampan dengan kemeja panjang berwarna biru muda yang digulung sebatas siku dan dipadukan celana jeans yang sedikit longgar menambah kesan maskulin sekali pandang. Dialah Bagas Setya Kalendra. Sosok pria tampan yang selalu ada untuk Arina. Selalu membantu Arina, menemani makan bahkan menjadi ATM berjalan Arina selama ini. Begitu baik sekali Tuhan menghadirkan sosok Bagas Setya Kalendra dalam hidup Arina yang sedikit penuh atraksi ini. "Mamas udah BBM kamu, tapi belum kamu bales. Mamas mau ngajak beli sate di Pamularas. Mau?" Dengan gerakan cepat Arina berlari menuju Bagas tanpa meninggalkan senyum sumringahnya. "Ya maulah. Yakali rejeki ditolak. Ya dosa namanya bapak!" Tangan kekar Bagas terulur untuk mengacak acak rambut Arina dengan gemas. Mereka berdua menuju motor dan menuju lokasi yang mereka inginkan. Motor matic Bagas berhenti di toko Indoapril. "Mau ikut turun apa disini aja dek?" "Ikutlah, mau minta beliin jajan buat camilan habis makan sate dong" "As you wish" Mereka pun masuk ke Indoapril dengan tangan saling tertaut. Setelah mengambil beberapa jajanan yang ia suka, tidak lupa teh kotak andalannya. Arina menuju kasir sambil menunggu Radenmas Bagas Setya Kalendra memilih minuman kaleng serasa milih capres, benar-benar penuh pertimbangan. "Ada tambahan kak?" Nada suara kasir seperti menahan senyum dan tawa bersamaan, sedikit aneh batin Arina. Tapi ia mengenyahkan pikiran detektifnya. "Titip ini dulu ya kak, tunggu bentar ya" Arina fokus pada handphonenya tanpa melirik kasir dihadapannya. "Hai Arina" Sial. Siapa lagi ini? Suara maskulin ala deep voice gitu pokoknya. Perlahan tapi pasti Arina mendongak menatap pria didepannya yang saat ini menjabat sebagai kasir. "Lho mas Panca?" Kasir dihadapannya sekarang adalah Panca, teman Bagus Permana. Panca tersenyum ramah, setelahnya Arina mencoba membalas senyuman itu tak kalah ramah. "Kamu di Semarang juga ya Arina, waktu itu Bagus cerita kalau kamu kuliah disini” Setelah mengucapkan kalimat itu, Panca menatap ke arah balik punggung Arina. "Iya mas, aku udah hampir satu semester disini" Panca mengangguk samar dan tersenyum. "Pacarmu ganteng Arina" Mendengar kata yang terlontar dari mulut Panca membuat Arina melotot kaget. "Bukan mas, dia kakakku bukan pacarku" "Ha? Syukurlah" terlihat Panca menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Aneh sekali pria didepannya, apa-apaan coba asal nebak dan bilang syukurlah. Dari arah belakang terdengar langkah kaki mendekat. "Udah semua dek?" "Udah mas, nanti pas udah mau balik kos aku mau beli pukis dulu ya" "Jangan makan manis-manis terus dek, beli kebab aja nanti" Mendengar keputusan final sang radenmas ia hanya mendengus dan mengerucutkan bibirnya. Setelah menyelesaikan pembayaran. Arina hendak keluar bersama Bagas. Disusul teriakan Panca yang membuat langkah kaki Arina terhenti. "Sampai ketemu lagi, Arina" Menahan rasa aneh dihatinya, ia menoleh dan tersenyum hangat. Apakah garis takdir mempertemukan keduanya atau bahkan mereka tidak akan dipertemukan lagi? Entahlah biarkan takdir menentukan jalannya sendiri. *** Bersambung...

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Yüzbaşının Cerrahı

read
1.5M
bc

The Silver Wolf

read
579.0K
bc

The Billionaire’s Intern

read
1.1M
bc

Chosen, just to be Rejected

read
894.5K
bc

Inferno Demon Riders MC: My Five Obsessed Bullies

read
1.2M
bc

Claimed by the Biker Giant

read
2.3M
bc

Unscentable

read
2.3M

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook