Angry Boss
Prang. Braak.
Terdengar bunyi barang yang pecah disusul dengan suara gebrakan meja. Seorang laki-laki tampak bergetar memungut pecahan gelas yang dilempar oleh orang yang sekarang tengah berkacak pinggang sambil terus mengoceh.
“Apa kau tidak bisa membaca aturan karyawan di sini. Memangnya kau ini siapa berani memberiku perintah, hah?” bentak orang berwajah arogan itu sambil menunjuk muka laki-laki yang tengah merapihkan pecahan gelas itu.
“Maaf Pak Presdir, aku bukan maksud untuk memberi perintah. Aku kan hanya memberi saran padamu,” ucap laki-laki itu kemudian kembali berdiri setelah mengumpulkan serpihan gelas itu dengan kedua tangannya.
“Kau anggap itu saran, apa aku tidak salah dengar. Sekarang kemasi barang-barangmu dan hari ini kau kupecat!” teriak laki-laki bertubuh tinggi atletis dengan wajah yang arogan.
“Tapi Pak Presdir, kenapa hanya karena masalah ini saja, kau tega memecatku. Tolong maafkan aku Pak. Aku punya istri yang sedang mengandung dan sebentar lagi melahirkan. Apa jadinya aku kalau menjadi seorang pengangguran?” ucap laki-laki itu memohon dengan tangan masih menangkup pecahan gelas di tangannya.
“Itu masalahmu, lagipula kenapa kau membuatku marah!”
“Aku mohon –”
“Pergilah dari hadapanku. Aku tidak mau berbicara dengan pegawai yang tidak professional sepertimu,” usir laki-laki itu kasar.
Seorang laki-laki yang merupakan seorang pegawai itu pun dengan menahan kesal karena sikap bosnya yang semena-mena itu. Dia menggerutu kesal sambil keluar dari ruangan bosnya itu dengan wajah merah menahan kesal.
Dia tersadar ketika dia keluar dari ruangan bosnya itu dengan membawa pecahan gelas yang bosnya banting ke lantai. Dengan geram dia pun menaburkan itu di depan pintu bosnya yang sudah memecatnya hanya karena perkataannya yang menurutnya itu hanya sebuah lelucon saja.
Jonathan Lee adalah seorang bos yang memiliki temperamen buruk, malah paling buruk mungkin bagi seseorang yang menyandang sebagai pemimpin perusahaan. Semua karyawan di perusahaannya menjulukinya sebagai The Angry Boss.
Sifatnya yang cepat marah dan naik darah selalu menjadi hal yang menakutkan bagi seluruh pegawainya. Tak jarang pegawai yang bekerja di perusahaannya banyak yang tidak betah di sana. Walaupun sebenarnya mereka keluar dari perusahaan karena dipecat olehnya. Gaji di Lee Luxury Corporation adalah gaji yang paling tinggi di antara gaji di perusahaan sejenisnya. Maka dari itu,meskipun mereka punya The Angry Boss mereka sebenarnya mencoba untuk bertahan di sana.
Bos mereka itu tidak kenal ampun jika berurusan dengan karyawan yang bekerja tidak sesuai dengan standarnya. Mau itu seorang laki-laki atau pun seorang wanita. Dia tidak akan memandang bulu dalam memarahi dan menceramahi karyawannya.
Hari ini, seorang bernama Adam menjadi korbannya yang ke sekian kali. Dia dipecat Jonathan hanya karena Adam memberinya saran padanya untuk segera menikah dengan model perusahaannya.
Adam memberitahu Jonathan, kalau Anita tidak mau memperpanjang kontrak kerjasamanya dengan LLC karena dia ditawari kontrak yang lebih bagus dengan perusahaan pesaing. Tentu saja itu membuat Jonathan marah karena Adam tidak bisa membujuk Anita untuk memperpanjang kontraknya.
Dan celetukan itu pun tidak dia sadari, “Bagaimana kalau Pak Jonathan menikahi Anita saja, karena yang saya tahu kalau sebenarnya Anita itu sudah lama menyukai Bapak!”
Yang pada akhirnya celetukannya berakhir dengan bantingan gelas dan gebrakan meja. Satu hal yang harus diketahui oleh semua karyawan LLC, kalau Jonathan itu tidak suka dengan perempuan. Dia seperti alergi dengan makhluk yang bernama perempuan. Tentu saja saran Adam tadi membuat Jonathan mengamuk besar.
Jo terlihat gusar setelah tadi dia memecat Adam. Wajahnya terlihat merah seperti kepiting rebus. Kulitnya menjadi gatal-gatal. Dia juga terlihat seperti sesak napas.
Satu hal yang tidak banyak orang tahu, kalau di balik sifatnya yang pemarah, Jo memiliki satu masalah yang serius. Yaitu masalah psikologisnya yang dia tutup rapat-rapat dari semua karyawannya.
Jika dia tidak bisa menahan emosi amarahnya, dia akan sulit bernapas dan seluruh tubuhnya akan berubah menjadi merah. Jonathan merasa kesal jika dia kambuh seperti ini lagi. Tubuhnya merah dan urat-uratnya akan menonjol keluar. Dia sangat tersiksa jika itu terjadi.
Jonathan kemudian segera mengambil ponselnya dan menelepon seseorang. Hanya ada satu orang yang mengetahui rahasianya itu. Dia adalah Frans, dia satu-satunya yang bisa membantunya saat ini.
Telepon Jonathan tidak segera dia angkat. Terpaksa dia harus menghubungi langsung Agnes. Dia adalah salah satu wanita yang sering dia pesan melalui Frans.
Tak menunggu nada sambung ketiga. Telepon Jo langsung diangkat Agnes.
“Halo Agnes, bisakah kau datang ke tempat biasa saat ini juga?” tanya Jonathan dengan suara yang payah. Napasnya memang sedang tidak beraturan.
“Tentu saja. Tapi sebenarnya saat ini saya sedang ada urusan lain Boss.”
“Bisakah kau tunda dulu. Aku akan memberikan bayarannya dua kali lipat dari biasanya,” ucap Jonathan memberikan penawaran menarik pada Agnes.
“Okay Boss. Sampai bertemu di sana!”
Klik.
Jonathan segera mengambil kunci mobilnya dan sebelum dia keluar. Dia sempatkan dulu untuk melihat wajahnya di cermin. Wajahnya sangat merah dan tubuhnya pun seperti terbakar.
Bagaimana caranya aku bisa keluar kantor dengan kondisi seperti ini. Semua karyawan pasti akan tahu kalau aku punya penyakit aneh begini.
Masalah baru datang, bukan karena hanya gejalanya yang tiba-tiba datang karena kambuh jika sudah marah. Biasanya Frans selalu stand by di kantor. Kali ini dia tidak bisa dihubungi. Kalau ada Frans di kantornya. Dia akan bisa membantunya pergi tanpa ketahuan para pegawai yang lainnya.
“Bagaimana ini, kenapa dia tidak mengangkat teleponku?” teriak Jo semakin marah karena frustasi dengan kondisinya saat ini. Dia sudah mulai tidak tahan dengan rasa panas yang menjalar dari seluruh tubuhnya.
Dan belum sempat punya rencana untuk keluar dari kantornya. Kini rasa gatal di kulit mulai menyerangnya. Jonathan mulai kehilangan akal. Dia harus segera mungkin pergi ke hotel dan bertemu dengan Agnes.
Jonathan membuka kancing jas dan kemejanya. Dia sudah merasa tidak tahan dengan hawa panas dan gatalnya. Dia juga melepas sepatunya dan kaos kakinya. Dia merasa kakinya agak adem ketika dilepas alasnya.
Jonathan kemudian membuka pintu ruangannya dia mengintip sedikit lorong di depan ruangannya. Ternyata sepi, dia harus bisa menjangkau pintu lift sebelum orang lain melihat.
Tapi baru saja dia melangkah keluar dari pintunya.
Teess. Aaaaaarggh.
Jonathan merasa kakinya menginjak sesuatu yang tajam. Dan ketika dia melihat ke lantai. Di sana berserakan beling gelas yang tadi sempat dia lempar di hadapan Adam.
“Kenapa dia meletakkannya di sini, dasar b******k!” umpat Jonathan sambil jalan terpincang-pincang.
“Bos, kenapa Bos?” terdengar suara memanggilnya.
Jonathan panik karena ada orang yang datang. Dia tidak mau kalau ada pegawai yang tahu kondisi tubuhnya yang seperti itu.