bc

Perfect Co-Pilot

book_age16+
3.7K
IKUTI
24.1K
BACA
love after marriage
drama
sweet
bxg
city
pilot
stubborn
like
intro-logo
Uraian

Yang terbaik kadang bukan datang dari apa yang kita Yakini, tapi Tuhan yang mengaturnya.

Sejauh apapun mengelak rasa, jika memang takdir berkata dia, maka tidak ada satupun yang bisa menyela.

Takdir bisa saja selucu itu, tapi keputusan Tuhan tidak pernah bisa dianggap bercanda.

Bermula dari Kiandra yang tidak sengaja menggores mobil Dimas dihari pertama orientasi kampusnya, ia tidak menyangka jika semua itu adalah awal dari cerita panjangnya bersama Dimas yang sudah jatuh cinta dengan suara sebelum dengan dirinya.

Taruhan konyol menjadi pengantar awal pernikahan mereka, bagaimanakan perjalanan kisa dari keduanya?

Penasaran denga napa yang mereka pertaruhkan?

Dan siapakah yang akan berhasil memenangkan taruhannya?

chap-preview
Pratinjau gratis
1. Pagi yang Sempurna
Pagi mulai menyapa, sinar matahari sudah menguning di langit dan menyebar hawa hangat ke beberapa penjuru dunia. Tetesan-tetesan embun masih mengalir dan menggantung di ujung dedaunan dan ranting pohon. Pagi yang sempurna. Ku sibakan gorden di jendela dan kubuka setelahnya, membiarkan hawa hangat memasuki seluruh penjuru rumah keluarga kecilku. Namaku Kiandra. Lebih panjangnya, Kiandra Laras Andini Soetomo. Usiaku 21 tahun, seorang istri. Ya, aku menikah di usia yang muda, jangan terlalu terkejut, bukankah sekarang sudah menjamur pasangan yang menikah muda?  Aku anak tunggal dari pasangan Abimana Soetomo dan Dini Saraswati. Ayahku seorang Nahkoda, berbulan-bulan pergi bekerja, dan jarang sekali pulang, sedangkan ibuku hanya seorang ibu rumah tangga. Melalui jaringan luas pertemanan yang dibentuk oleh Ayah, begini lah awal kisah kami bermula. *** Aero Flyer Institute, Serdang Wetan, Legok, Tangerang, Banten. Seluruh lapangannya penuh dengan lulusan sekolah penerbangan tersebut. Mereka merayakan hari kelulusan mereka dengan sukacita. Tak hanya kebahagiaan bagi mereka yang baru saja lulus, akan tetapi, lapangan tersebut penuh dengan desakan para orang tua yang membawa perasaan bangga terhadap anak-anaknya. Satu keluarga melajukan mobilnya dari Jakarta di jam yang masih terbilang pagi menuju Tangerang dengan tujuan menghadiri upacara kelulusan sang anak sulung. “Bu, Ayah sudah ganteng, belum?” tanya Sardi, selaku kepala keluarga Aditama. Seseorang terdengar mendengus pelan, “Ayah dari tadi nggak bosan-bosan tanya terus, padahal Alya bilang sudah ganteng, nanti pasti tanya lagi,” sahut si bungsu yang bernama Alya. Seseorang yang duduk di samping kursi kemudi tertawa pelan sambil menggelengkan kepalanya. “Ayahmu ini kan, memang seperti itu Al, sudah biarkan aja, cukup sahut 'sudah ganteng', selesai,” sahut Lia, istri Sardi. Sardi tertawa pelan, “Ayah kan, cuma tanya, kan, nanti kalau jelek, kalian juga yang malu,” sahut Sardi yang masih fokus menyetir mobil. Menempuh perjalanan cukup jauh, akhirnya keluarga tersebut tiba di Tangerang. Mereka bertiga sudah sampai di depan Aero Flyer Institute. “Bu, nanti Ayah kebagian jatah pidato, ya?” tanya Alya pada ibunya yang saat ini berjalan di sampingnya.  “Iya, Al, katanya, sih, pidato sambutan karena kakak kamu menjadi lulusan terbaik tahun ini,” sahut Lia sambil menggandeng tangan si bungsu agar berjalan lebih dekat.  “Berarti dari semua teman-teman seangakatannya Kak Dimas, Kak Dimas peraih nilai tertinggi, dong, Bu?”  “Jelas, Al, kalau tidak seperti itu, buat apa Ayah diminta untuk memberi sambutan di depan seluruh tamu yang hadir hari ini, makanya dari tadi Ayah tanya, Ayah sudah ganteng apa belum,” jawab Sardi pada pernyataan putrinya.  Alya terkekeh geli, “Oh, pantas aja dari tadi tanya terus, iya deh, sekarang Ayah udah kelihatan ganteng, percaya, deh, sama Alya, iya, nggak, Bu?” Lia hanya menggelengkan kepalanya pelan. “Sudah-sudah, kita sudah di depan pintu, ayo masuk, kakakmu sudah menunggu.” Mereka bertiga pun masuk ke ruang aula besar. Di dalamnya terdapat ratusan bahkan ribuan kursi yang disusun sebagai tempat duduk keluarga serta kerabat peserta kelulusan hari ini. Keluarga Aditama tidak perlu repot mencari tempat untuk duduk. Tempat mereka sudah disediakan oleh panitia acara kelulusan di jejeran depan barisan. Dimas, calon pilot yang sudah siap menerbangkan pesawat tersenyum senang ketika melihat seluruh anggota keluarganya datang. Dimas menatap Ayah, Ibu, dan Alya, adiknya, dengan tatapan lega. Sudah 6 Bulan ia tidak bertemu dengan anggota keluarganya tersebut karena sangat sibuk menyelesaikan ujian akhirnya. Perhatian Dimas tak terlepas dari gerak-gerik seluruh keluarganya. Matanya masih menangkap bagaimana keluarganya duduk berbaur dengan keluarga teman-temannya. Sebagaimana ayahnya yang menjabat banyak tangan orang-orang di sekitarnya, ibu yang tak pernah luntur senyumnya, dan Alya yang sesekali tertunduk malu saat ayah mengenalkannya pada orang tua teman-temannya. Lama menatap, mata Dimas dan Alya bertemu, Alya memicingkan mata minusnya sambil membenarkan letak kacamatanya. Dimas tertawa sambil menjulurkan lidahnya pada Alya, sementara Alya membalas tatapan Dimas dengan tatapan jengkel. Alya memanggil ayahnya dengan beberapa kali menepuk lengan Sardi,  Alya menunjuk ke arah di mana Dimas berada. Sardi mengikuti arah Tunjukkan Alya, dan di sana ia melihat Dimas yang tengah melambaikan tangannya pada sang ayah. Sardi menatap putra sulungnya dengan bangga, ia menatap dengan air mata yang sedikit menggenang di pelupuk matanya. Dimas berdiri dan memberikan gerakan hormat pada sang ayah, Sardi pun dengan cepat membalas hormat dari anaknya tersebut, kemudian setelahnya mereka berdua bertukar tawa. *** Acara kelulusan tengah berlangsung. Saat ini para alumni tengah mendengarkan sambutan-sambutan. Kini satu jam berlalu setelah sambutan dibacakan satu-persatu, sekarang tiba lah saat di mana Dimas dipersilakan maju ke depan untuk menyampaikan sesuatu berkenaan dengan predikatnya menjadi alumni dengan nilai tertinggi. Dimas maju ke depan dan menaiki panggung, ia mendehemkan tenggorokannya pelan sebelum berbicara. “Selamat pagi semua, Assalamu’alaikum, dan salam sejahtera bagi kita semua,” ucap Dimas sebagai awal kata. “Rasa syukur yang sebesar-besarnya saya panjatkan pada Tuhan yang Maha Esa, rasa terima kasih yang juga tak kalah besar saya berikan pada keluarga saya yang hari ini telah hadir, dan juga rasa terima kasih pada keluarga di rumah kedua saya, di Aero Flyer Institute.” Setengah jam berlalu atas 2 sambutan yang diberikan oleh ayah dan anak dari alumni terbaik, sekarang waktunya mereka pulang. Dimas turun panggung dan berjalan dengan rasa bahagia menuju ke keluarganya. Dimas berlari kecil dan merentangkan kedua tangannya seraya ingin memeluk. Sardi juga merentangkan tangannya dan menyambut pelukan sang putra. “Selamat, Nak, kamu membuat kami bangga,” ucap Sardi sambil mengusap punggung Dimas. “Terima kasih, Yah, tanpa kalian, Dimas juga tidak akan bisa seperti sekarang,” sahut Dimas masih dengan senyum yang mengembang di wajahnya. Dimas kini menatap lalu menghampiri Lia. “Bu!” serunya sambil memeluk ibunya. Lia meneteskan air matanya saat Dimas mengeratkan pelukan padanya. “Nak, kamu terlihat lebih kurus dari terakhir kali kita bertemu, apa kamu sehat-sehat saja?” tanya Lia sambil membelai kedua pipi Dimas. Air mata masih mengalir pelan di pipinya, Dimas mengangguk dan menyeka air mata di ujung mata Lia. “Dimas sehat, Bu, Dimas tidak pernah merasa kekurangan berkat Ayah dan Ibu,” sahut Dimas dalam haru. Dimas beralih dari orang tuanya ke arah sang adik yang sedari tadi berdiri diam di samping sang ibu. Dimas memeluk Alya erat. “Adiknya Kakak sudah tinggi,” ucap Dimas di sela pelukannya. Alya melapaskan pelukannya lalu menatap sebal kearah sang kakak.  Dimas pun tertawa sambil mengacak surai hitam Alya. “Sudah-sudah, baru bertemu sudah berantem, ayo kita jalan, kita harus cepat pulang, biar kamu bisa cepat istirahat juga, Dim,” ucap Lia. Semuanya pun kini berjalan keluar dari aula dan melangkahkan kaki menuju tempat parkir. Sesampainya di depan mobil, Dimas dan Sardi berebut siapa yang harus menyetir. “Biar Dimas aja, Yah, yang nyetir, Ayah, kan, sudah nyetir tadi pagi,” ucap Dimas pelan. Sardi menggeleng cepat. “Nggak usah, Dim, biar Ayah saja, kamu kan baru pulang, biar istirahat saja di mobil.” Keluarga Aditama pun memulai perjalanan pulang mereka, namun saat di tengah perjalanan, Alya terlihat mulai gelisah. “Kamu kenapa, Al, dari tadi duduknya susah diam?” tanya Dimas pada adiknya yang duduk tepat di sampingnya. “Aku lapar, Kak, kan, tadi tidak sempat makan,” keluh Alya sambil mengusap pelan perutnya. Lia menepuk pelankeningnya. “Ya ampun, Nak, kok, Ibu bisa lupa, kamu tadi pagi nggak sempat sarapan.” “Ya, sudah, kita mampir aja dulu, Yah, Bu, ke rumah makan sebelum sampai ke rumah,” sahut Dimas menengahi. “Rumah Makan Sawahan, ya, Yah? Sudah lama kita nggak makan di sana, kan, terakhir makan di sana waktu mau lepas Kak Dimas kuliah,” ucap Alya semangat dengan mata yang berbinar. Dimas mengangguk setuju. “Bener, Al, Kakak juga sudah lama nggak makan pepesan di Rumah Makan Sawahan, kita ke sana aja, Yah, Bu,” pinta Dimas. “Iya, iya, sebentar lagi juga sampai, nunggu satu belokan lagi, sabar, ya, anak-anak,” sahut Lia lembut. Terlewati satu belokan, akhirnya keluarga Aditama sampai di Rumah Makan Sawahan, seperti kemauan Dimas dan Alya. Mereka berempat menuruni mobil dan memasuki rumah makan tersebut dengan masih berbicang ringan. *** Masih di pagi yang sama, di dalam kediaman keluarga Soetomo. Kiandra sebagai anak tunggal dari pasangan Abimana Soetomo dan Dini Saraswati kini masih menggulung tubuhnya dengan selimut. “Kian, bangun, Nak, sudah pagi!” seru Dini sambil menepuk-nepuk pelan lengan Kiandra. Dini berdiri dan mulai menyisiri dinding-dinding kamar anaknya tersebut sambil membuka semua tirai. Mata Kiandra memicing karena merasa silau. Kiandra pun menggeliat pelan setelahnya. “Ma, masih subuh,” rengek Kiandra sambil membalikkan tubuhnya ke arah berlawanan. Dini berjalan mendekati Kian lagi, lalu menepuk sedikit lebih keras pada punggung Kiandra. “Bangun cepat, Kian, hari ini kamu ada acara orientasi di kampus baru, kamu lupa?” Kian membuka paksa matanya, dan nyawanya seakan terkumpul dengan cepat. “Sekarang jam berapa, Ma?” tanya Kian dengan ekspresi masih setengah sadar.  “Jam 7,” sahut Dini sambil berlalu keluar dari kamar Kiandra. Kiandra mengacak rambutnya dengan gemas. “Aishh … aku terlambat!” serunya lalu berlari menuju kamar mandi yang kebetulan memang sudah tersedia di dalam kamarnya. Kiandra mandi dengan cepat, lalu dengan tergesa-gesa memakai baju yang sudah ia siapkan sejak semalam. “Drama, sialan, gara-gara episode terakhirnya selalu gantung gue jadi nonton marathon, dan akhirnya bangun telat,” gerutu Kiandra sambil mengancing kemeja putihnya. Kiandra kini telah siap dengan perlengkapan orientasi kampusnya, ia pun bergegas keluar kamar, dan menuruni tangga dengan sedikit berlari. Kiandra tak menemukan siapa pun di ruang tengah maupun ruang tamu, ia langsung menuju ke ruang makan. “Ma, Pa, aku nggak sarapan, ya, sudah telat soalnya,” ucapnya heboh. “Kian, Stop!” tegur Abimana pada putri kesayangannya. Kiandra sudah sangat panik saat ayahnya memintanya untuk berhenti. “Ada apa lagi, Yah? Kian sudah telat ini!” sahutnya dengan gelisah. “Telat apanya? Masih jam setengah 7, bernapas,” ucap Abimana dengan tenang. Kian menyadari arah jarum jam saat ia mengarahkan kepalanya pada dinding. Kian menatap sang ibu dengan tatapan jengkel. Merasa ditatap dengan jengkel, Dini pun hanya terkekeh pelan, “Kalau nggak digituin, kamu nggak bakalan bisa cepat siap-siapnya, Yan. Sudah, mukanya nggak usah ditekuk, sini duduk, sarapan dulu sama-sama.” Kiandra masih menekuk wajahnya. “Aku sudah bela-belain nggak pakai make-up, loh, Ma, karena ngira aku beneran telat,” gerutu Kian sambil mengunyah rotinya. Abimana menurunkan korannya, kemudian menatap wajah sang anak. “Kamu itu mau dipakaiin apa lagi, Yan?” Kiandra mendengkus kecil. “Papa nggak liat, Kian tuh cuma sempat pakai bedak sama lipgloss aja, Pa.” “Emang kalau pakai yang lebih dari itu, kamunya bisa lebih cantik?” sahut Abimana. Kiandra memutar matanya jengkel. “Papa nggak usah mulai, deh.”  *** Menghabiskan waktu setengah jam sarapan, Kiandra akhirnya pamit untuk berangkat ke kampus barunya untuk mengikuti kegiatan orientasi. Seperti biasa, Kiandra pergi tak mau diantar Abimana, melainkan lebih memilih naik motor kesayangannya, Omen. “Yakin hari pertama nggak mau Papa antar?” tawar Abimana. Kian menggelengkan kepalanya pelan sambil memasang helmnya. “Nggak usah, Pa, lagipula kampusnya, kan, dekat, jadi naik motor nggak berasa, aku berangkat, Ma, Pa,” pamit Kiandra sambil memutar perlahan gas motor di tangan kanannya. Kiandra tiba di kampus dengan waktu tersisa 15 menit lagi sebelum jam orientasi dimulai. Kiandra berjalan santai sambil mengedarkan pandangannya menyapu sekitar untuk mencari sahabatnya yang juga berkuliah di kampus yang sama dengannya. “Kiaann!!!” seru seorang gadis yang suaranya terdengar dari arah belakang.  Kiandra menoleh ke belakang, dan menemukan sahabatnya di sana sambil melambaikan tangannya. “Resni!” serunya juga tak kalah bersemangat. “Kamu bawa motor?” tanya Resni tiba-tiba. Kiandra menganggukkan kepala. "Memangnya kenapa?” “Nanti sepulang orientasi, aku boleh minta tolong?” tanya Resni tanpa basa-basi. “Boleh, lah Res, mau minta tolong apa?” “Anterin aku ke Rumah Makan Sawahan, ya, bibi aku datang, dan mama malas masak, aku disuruh ngambil pesanan di sana.” Kiandra pun menganggukkan kepalanya. “Oke, nanti pulang, kamu akan aku antar ke sana.”

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Love Match

read
180.3K
bc

Happier Then Ever

read
93.1K
bc

Stuck With You

read
75.9K
bc

Pengganti

read
304.1K
bc

Sweetest Pain || Indonesia

read
77.7K
bc

Ditaksir, Pak Bos!

read
149.8K
bc

Rainy

read
19.3K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook