Bagian 6

2148 Kata
Khai melambaikan tangannya lewat jendela mobil ketika melihat Rama yang sedang melambaikan tangan kepadanya. Mobil yang Khai naiki berjalan pergi meninggalkan pekarangan rumah yang sudah Khai tempati selama satu malam ini. Khai menutup jendela mobil ketika sudah menjauh dari rumah dan sudah tidak melihat tubuh Rama lagi. Khai mulai memejamkan kedua matanya di sepanjang jalan menuju rumahnya. Tidak beberapa lama kemudian, Khai akhirnya sampai di depan rumahnya. Ia segera turun dari mobil ini dan berjalan masuk ke dalam rumah. Beberapa pelayan menyapa dirinya tetapi Khai sama sekali tidak merespon sapaan itu. Ia segera naik ke atas menuju kamarnya. Khai masuk ke kamar dan mengunci pintu kamarnya. Ketika Khai membalikkan badan, betapa terkejutnya ia ketika melihat perubahan yang ada di kamarnya saat ini. Semua buku komik dan novel yang ia letakkan di rak buku, seketika tidak terlihat sekarang. Semua buku itu telah di ganti dengan buku-buku pembelajaran yang masih tersegel dengan rapih. Khai yakin semua ini adalah ulah mana tirinya itu. Khai kembali berjalan menuju kasurnya dan merebahkan badannya di atas kasur empuk itu. Dia diam sesaat sambil melihat langit-langit kamarnya. Khai menarik napas dalam. Ia mencoba untuk menahan emosinya saat ini. Khai paling benci jika barang-barang miliknya di berantaki bahkan di buang. Dan sekarang hal itu terjadi. Seketika, Khai berteriak dengan kencang. "b*****t!" Ia mengeluarkan kekesalannya dengan berteriak. Khai menatap langit-langit kamarnya dengan tatapan tajamnya. Ia mencoba untuk menahan amarahnya dengan mengatur napasnya yang tidak beraturan saat ini. Setelah beberapa menit ia hanya diam di kamarnya, Khai segera bangkit dari tempat tidurnya. Ia mengambil beberapa buku yang ada di rak buku. Buku baru yang masih tersegel itu. Khai menatap sebentar buku-buku tersebut. Setelahnya ia berjalan keluar dari kamarnya dan berjalan menuju ruang belajar yang tak jauh dari kamarnya. Khai memegang kenop pintu ruang belajarnya. Sebelum ia masuk ke dalam ruang belajar, Khai berteriak dengan sedikit kencang. "Siapkan jus untuk saya!" Teriak Khai. Ia berteriak agar pelayan di rumahnya mendengar perkatannya. Lalu Khai masuk ke dalam ruang belajarnya dan menutup pintunya. Ia langsung duduk di tempat biasa dan mulai membuka buku yang tadi ia bawa. Itu adalah kebiasaan Khai. Belajar ketika ia mendapatkan masalah seperti ini. Memang kelihat aneh, Tetapi ia sudah terbiasa dengan semua itu. Karena dari dulu, Khai selalu di didik untuk terus belajar bahkan ketika ia sedang banyak masalah sekalipun. Sepuluh menit kemudian, pintu ruangan tersebut terbuka dan menampakkan seorang pelayan yang membawa nampan yang berisikan buah-buahan dan jus untuk Khai. Pelayan tersebut meletakkan makanan dan minuman itu di sudut meja Khai. Ia hendak berjalan keluar dari ruangan, tetapi Khai menghentikan niat dari pelayan tersebut. "Siapa yang udah mengacak kamar saya?" Tanya Khai dengann suara dinginnya. Pelayan yang mendengar pertanyaan itu berusaha untuk menelan ludahnya dengan susah payah. "Itu tuan.. pengawal yang menjeput tuan kemarin, sebagian langsung naik ke kamar setelah tuan pergi meninggalkan rumah." Pelayan tersebut sama sekali tidak berani untuk menatap wajah Khai. Ia hanya menundukkan wajahnya ketika berbicara. Khai menghela napas berat ketika mendengar jawaban yang dilontarkan oleh pelayan tersebut. Khai kembali melanjutkan belajarnya dan pelayan tersebut berjalan dengan pelan keluar dari ruangan. Khai menyungkirkan senyuman ketika ia baru menyadari hal tersebut. Pantas saja, sebagaian pengawal tidak ikut pergi bersama dirinya. Ternyata mereka yang melakukan hal itu. *** Khai tidak tau mengapa ia menjadi pemberani seperti ini. Sejak kapan ia mulai berani untuk melawan perintah dari mama tirinya itu. Tapi untuk saat ini, Khai sama sekali tidak perduli dengan semua konsekuensi yang akan ia dapatkan nantinya. Ia hanya ingin menikmati waktunya untuk hari ini. Melihat beberapa siswa dan siswi yang berseragam Putih abu-abu itu berlalu lalang di samping dan depannya. Khai sudah berdiam diri di dalam mobilnya ini dari limabelas menit yang lalu. Tetapi ia masih belum melihat kehadiran dari saudaranya, Rama. Saat ini Khai memang sedang berada di gedung sekolah Rama. Bukan, lebih tepatnya di depan gerbang sekolahnya. Ia hanya memarkirkan mobilnya di depan gerbang sekolah ini. Ia ingin melihat bagaimana kehidupan sekolah yang dilewati oleh Rama beberapa tahun belakangan ini. Ia juga sangat ingin menjadi salah satu diantara mereka. Menjadi siswa SMA dan bercanda tawa dengan teman-teman dekat. Tapi Khai masih belum mendapatkan hal tersebut. Mungkin sebentar lagi. Sebentar lagi ia akan meminta haknya untuk bersekolah di tempat ini. Mama dan papanya sudah berjanji untuk memasukkannya di sekolah yang sama seperti Rama. Ia akan sangat menantikan janji itu ditepati. Khai memang masih belum bisa mempercayai kedua orang tuanya. Terutama mama tirinya itu. Tetapi ia barus tetapi berpikiran positif. Kali ini, ia tidak akan menyerah. Ia akan melakukan apapun agar dapat bersekolah di satu tempat bersama Rama. Ia sangat menginginkan hal tersebut. Tidak beberapa lama kemudian, Khai dapat melihat mobil yang sangat ia kenal. Mobil itu, yang sering membawa Rama kemanapun. Khai melebarkan senyumannya ketika melihat mobil itu memasuki sekolah. Dengan sigap, Khai memakai jaket Hoodie miliknya dan memakai topi serta memakai masker. Kali ini ia ingin berkeliling di sekolah Rama. Ia juga ingin melihat bagaimana reaksi Rama jika ia datang ke sekolah ini. "Maaf tuan.. akan sangat bahaya jika tuan masuk ke dalam sekolah. Lebih baik tuan melihatnya dari dalam mobil saja," tutur sopir pribadi Khai. Khai tersenyum mendengar peringatan yang diberikan oleh sopirnya. Mungkin kalau itu dulu, ia akan mendekatkan semua perkataan sopirnya. Ia juga takut untuk melakukan hal yang akan membuatnya mendapat hukuman nantinya. Tapi kali ini, ia tidak perduli akan hal tersebut. Ia akan tetap melakukan niatnya tanpa mau mendengarkan siapapun saat ini. "Bapak gak usah khawatir. Saya mampu menjaga diri saya. Bapak tunggu aja di sini dan saya akan keluar nanti," balas Khai. Tanpa mendengar jawaban dari sopirnya, Khai langsung membuka pintu mobil dan berjalan masuk menuju pekarangan sekolah. Khai tersenyum lebar di balik masker yang sedang ia gunakan. Ia dapat melihat sekolah yang sudah ia idam-idamkan di depan matanya saat ini. Khai berjalan dengan santai menuju area sekolah. Tetapi langkahnya terhenti ketika tanpa ia sadari, ia telah menabrak seorang wanita yang berseragam SMA. Buku yang tadi di bawa oleh wanita tersebut terjatuh karena Khai yang tidak sengaja menyenggol lengannya. "Maaf gue gak sengaja," tutur Khai kepada Wanita tersebut. Khai dengan cepat berjongkok untuk membantu wanita tersebut mengutip buku-bukunya. Ia dapat melihat nama wanita tersebut yang berada di seragam sekolahnya. Lamia. Nama yang sangat singkat. Khai tersenyum simpul ketika membaca nama tersebut. Ia juga mencuri pandang kepada wanita itu. Setelah selesai membereskan buku-buku yang berjatuhan, Khai dan wanita itu berdiri dan untuk sesaat mereka saling bertatapan. "Gak papa. Lain kali hati-hati." Ucapan yang sangat singkat tetapi padat. Wanita tersebut berlalu pergi meninggalkan Khai yang masih terdiam di tempatnya. Khai kembali menyadarkan dirinya. Ia pun berjalan kembali masuk ke dalam perkarangan sekolah. Tujuan Khai saat ini adalah kelas Rama. Ia ingin melihat seperti apa kelas Rama dan teman-temannya. Tetapi tentu saja Khai tidak akan melihatnya dari dekat. Mungkin ia akan melihat sekilas saja. Khai berjalan di lorong dimana menuju kelas Rama. Ia tidak tau tempatnya di mana, tetapi ia sering mendengar cerita Rama mengenai letak kelasnya. Karena itulah Khai mengetahui dimana letak kelas Rama. Khai melihat papan kecil yang bertuliskan XII IPA 1. Kelas unggulan yang sering Khai dengar dari Rama. Kelas yang di dalamnya merupakan murid-murid yang pandai dan sangat ambis. Rama pernah bercerita, bahkan nilai mereka hanya beda satu, dua angka saja. Khai berhenti di depan pintu kelas ini. Dia hanya mengintip sebentar dan mencari keberadaan Rama. Tetapi Khai hanya melihat murid-murid yang belajar masih-masing di bangkunya. Ia tidak melihat keberadaan Rama. Khai menghela napas panjang. Ia tidak dapat mengetahui dimana keberadaan Rama sekarang. Mungkin memang dia masih belum waktunya bertemu dengan Rama di sekolah ini. Khai pun berbalik badan. Hendak berjalan pergi meninggalkan kelas ini dan juga sekolah ini. Tetapi ketika ia berbalik, ia melebarkan matanya ketika melihat Rama yang sedang berdiri tak jauh di depannya dan sedang menatap dirinya dengan pandangan yang sulit diartikan. Rama berjalan mendekati Khai dan langsung menarik tangan Khai. Membawa pergi Khai dari tempat itu. Khai hanya diam ketika Rama menarik tangannya. Rama membawa Khai menuju taman belakang sekolah. Di mana hanya tempat itu yang sepi untuk jam seperti ini. Rama langsung menghempaskan tangan Khai dengan kasar ketika sudah sampai di taman. Tatapan matanya sudah tajam saat ini. Ia merasa sangat kesal melihat kehadiran Khai di sekolahnya ini. Apalagi Khai yang datang tiba-tiba tanpa memberitahukan dirinya. "Lo ngapain datang ke sini?" Tanya Rama langsung. Ia sudah tidak ingin berbasa-basi lagi. "Gue mau lihat lo. Sekalian gue lihat sekolah ini, semester depan gue juga akan sekolah di sini jadi gak ada salahnya kan gue lihat-lihat dulu?" Tanya Khai balik. Rama hampir saja lupa jika nanti Khai juga akan bersekolah di tempat ini juga. Itu adalah hal yang selalu Rama inginkan. Tetapi entah kenapa, ia merasa ada yang berbeda saat ini. Ia sudah tidak ingin lagi untuk hal itu terjadi. Ia tidak ingin Khai bersekolah di tempatnya. Mungkin karena kejadian di kantor kemarin, Rama menjadi berubah pikiran. Untuk sesaat, Rama setuju dengan perkataan mamanya. Khai adalah saingannya. Tetapi ia juga sangat menyayangi Khai. Ia tidak mungkin bisa menganggap Khai sebagai saingannya. Hanya Khai yang Rama punya dan juga sebaliknya. Mereka hanya punya satu sama lain. Tidak ada lagi yang lebih Rama sayangi selain Khai. "Lo harusnya bilang dulu ke gue. Gue terkejut lihat kehadiran lo di sini, Khai. Gimana kalau teman-teman gue tau dan g--" "Emangnya kenapa kalau teman-teman lo tau tentang gue? Lo.. malu, Ram?" Senyuman bahagia Khai seketika hilang. Rama memang terlihat tidak bahagia dengan kehadirannya. Entah mengapa, Khai merasa kecewa dengan sikap Rama. "Bukan gitu, Khai. Lo tau gue sama sekali belum cerita apapun sama mereka. Mereka hanya tau kalau gue ini anak tunggal. Jadi pasti akan semakin buruk nantinya kalau mereka tau kita saudaranya," jawab Rama mencoba untuk membela diri. "Setelah gue masuk ke sekolah ini, mereka juga akan tau, Ram. Dan mereka juga pasti akan terkejut. Enggak ada bedanya kan? Apa lo berniat untuk menyembunyikan gue selamanya? Lo enggak mau gue terlihat di dunia lo?" Mata Khai mulai berair. Ia tidak tau kenapa pembelaan yang diberikan oleh Rama membuatnya menjadi kesal dan kecewa. Semakin hari, Rama semakin menjauh dari dirinya. Rama mulai berbeda hari demi hari. Ia tidak tau bagaimana lagi untuk meyakinkan dirinya bahwa ia masih punya Rama di hidupnya. Karena Rama sendiri yang menunjukkan jika Rama mulai menjauh dari kehidupannya. Rama berjalan mendekati Khai. Tetapi sebelum Rama meraih Khai, Khai langsung mundur beberapa langkah. Ia menatap wajah Khai dengan penuh amarah. "Lo selalu meyakinkan gue kalau gue punya lo di dunia ini. Gue punya saudara yang bisa gue andalkan. Tapi kenapa Lo sendiri yang menyakiti gue, Ram? Lo hancurkan semua harapan gue ke lo. Kenapa?" "Enggak Khai.. lo salah paham. Gue enggak mungkin nyakiti lo," Tutur Rama. Ia menjadi merasa bersalah saat ini. Ia sudah menjadi saudara yang buruk di mata Khai. "Lo tau.. kalau dari dulu lo enggak ada di sisi gue, gue udah gak ada di dunia ini. Gue ada karena gue masih sayang sama lo. Karena gue tau hanya lo yang bisa gue andalkan. Tapi ketika gue dengar semua ini, gue nyesel. Kenapa gak dari dulu gue mati dan ninggalin semua ini! Lo pikir gue mau kayak gini? Hidup sembunyi dari orang-orang hanya karena gue anak haram? Gue juga mau diakui sebagai bagian dari keluarga, Ram. Gue mau tinggal satu atap sama papa dan elo. Gue menahan semua ini karena Lo janji gue akan mendapatkan semua itu." Air mata Khai sudah tidak bisa ia bendung lagi. Air matanya mengalir keluar membasahi pipinya. Khai akhirnya mengeluarkan semuanya. Kerapuhannya. Rama seperti Dejavu. Ia pernah melihat Khai seperti ini. Ketika Ibu Khai meninggal waktu itu. Dan sekarang Rama melihat hal ini kembali. Kerapuhan dan kehancuran Khai. Rama tidak tau harus mengatakan hal apa lagi. Ia sudah membuat semuanya berantakan. Khai tidak mungkin akan percaya dengan ucapan yang akan ia keluarkan nantinya. Ia juga tidak mungkin bisa menenangkan Khai untuk saat ini. Rama menjadi serba salah sekarang. "Gue enggak akan lagi ngerepotin lo, Ram. Makasih atas semuanya," putus Khai. Setelah mengatakan itu, Khai berjalan pergi meninggalkan Rama sendiri. Khai menghapus air matanya dengan kasar. Ia sangat ingin berteriak saat ini. Berteriak melampiaskan kemarahannya. Untung saja, Khai masih tau tempat. Ia tidak mungkin mau membuat semua perhatian orang-orang tertuju kepada dirinya. Khai berjalan tanpa melihat sekelilingnya. Ia hanya fokus ke jalan dan menundukkan kepalanya. Hingga Khai menabrak seseorang, lagi. Khai tidak menoleh ke arah orang yang ia tabrak. Ia tidak perduli lagi. Hingga langkahnya berhenti ketika seseorang itu mengajukan pertanyaan yang membuatnya harus berhenti. "Lo saudaranya Rama ya?" Suara lembut itu membuat Khai berbalik badan. Ia dapat melihat wanita yang tadi sudah ia tabrak berdiri di depannya. Senyuman tipis wanita itu berikan kepadanya. Khai tidak tau harus menjawab apa. Ia takut jawaban yang ia berikan nanti akan membuat Rama kesulitan di sekolah ini. Mungkin saja gosip cepat menyebar. Tetapi entah mengapa, tatapan yang diberikan wanita itu serta senyuman yang ia berikan membuat Khai mereka tersihir. Perlahan Khai menganggukkan kepalanya, tanda bahwa ia adalah saudara Rama. Dan senyuman yang diberikan wanita itu semakin melebar ketika mengetahui fakta itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN