Khai tidak ingin lagi untuk bertemu Rama dalam beberapa hari ini. Ia akan menyembunyikan dirinya di dalam rumah ini untuk beberapa waktu. Khai tidak ingin berkomunikasi dengan Rama dan bahkan melihat wajah Rama. Setelah kejadian di sekolah kemarin, Khai benar-benar memutuskan hubungan dengan Rama. Ia bahkan tidak merespon chat dan juga panggilan yang berasal dari Rama.
Khai kembali melanjutkan mengerjakan soal-soal yang ada di bukunya ini. Saat ini Khai sedang belajar di ruang belajarnya. Sudah lebih dari satu jam Khai berada di ruang belajarnya ini dan sudah hampir 60 soal ia kerjakan. Sudah bosan ia dengan soal-soal yang ada di hadapannya ini. Tetapi mau tidak mau ia tetap harus melaksanakan apa yang sudah diberikan oleh keluargannya.Belajar hingga ia bahkan tidak mengerti cara untuk berhenti.
Tidak beberapa lama kemudian, Khai berdiri dari duduknya. Ia berjalan keluar dari ruangan ini dan tujuannya saat ini adalah keluar rumah. Ia ingin menenangkan dirinya sejenak. Khai bernapas lega ketika ia melihat mobilnya terpakir tepat di depan pintu rumahnya. Khai pun langsung masuk ke dalam mobil di bagian penumpang. Tak menunggu waktu lama, supir pribadinya langsung masuk ke dalam mobil tepat di depannya. Napas supirnya sedikit memburu mennadakan ia tadi berlari menghampiri Khai.
"Jalan!" Perintah Khai.
"Kita mau kemana tuan? apakah tuan sudah memberitahu kepada nyonya jika tuan akan keluar rumah?" Tanya Supir Khai. Khai menghela napas berat mendengar pertanyaan itu.
"Saya gak perlu melapor setiap saat untuk keluar dari rumah ini. Sudah cepat jalan!" Perintah Khai lagi. Mendengar itu, Supir tersebut pun langsung memakai seatbelt dan mulai menghidupkan mesin mobil. Tak lama, mobil pun mulai berjalan. Khai menyandarkan kepalanya dengan santai di kursi mobil.
Satu jam Khai berada di mobil ini. Bahkan supirnya saja sudah bosan untuk menyetiir dan tidak tau arah tujuan. Supir tersebut hanya mengikuti kata hatinya saja. Karena Khai juga tidak mengatakan tempat tujuannya. wajar saja jika ia tidak tau mau kemana.
"Belok ke kanan dan nanti berhenti di caffe yang pertama kali kita lewati," Tutur Khai tiba-tiba. Supir tersebut hanya menganggukkan kepalanya dan mengikuti perintah yang Khai berikan.
Setelah sampai di depan caffe, mobil pun berhenti. Khai keluar dari dalam mobil dan masuk ke dalam caffe. Khai hanya memesan satu kopi kesukaannya dan duduk di tempat yang pas menurutnya. Untung saja saat ini cafee ini tidak terlalu ramai, dapat dikatakan masih sepi. Hanya ada Khai dan dua pengunjung lainnya di dalam caffe ini.
Khai duduk dengan santai. Saat ini ia sedang menunggu seseorang. Seseorang yang pernah ia sukai dan sudah pergi dari hidupnya. Tak menunggu waktu lama, seorang wanita melambaikan tangannya dan berjalan mendekati Khai. Ia duduk tepat di depan Khai. Khai tersenyum lembut melihat wanita ini.
"Apa kabar, tuan?" Tanya wanita itu dengan lembut.
"Kita lagi gak ada di rumah dan kamu juga bukan lagi pelayan ku. Panggil Khai saja," Jawab Khai.
"Baik. Apa kabar Khai?" ualang wanita itu.
"Sama seperti sebelum-sebelumnya. Sama sekali tidak ada yang berubah. Keadaan kamu? kamu baik-baik saja kan, Tasya?"
Yap.. Wanita yang sedang bersama Khai adalah Tasya. Mantan pelayannya dulu. Wanita ini sekarang bekerja di Caffe yang sedang Khai datangi ini. Khai sangat senang ketika ia mengetahui jika Tasya sudah kembali bekerja dan sudah kembali menjalankan kehidupannya dengan normal.
"Aku juga baik-baik saja. Ya.. walaupun gaji di sini tidak sebanding dengan gaji yang sebelumnya aku dapatkan ketika bekerja di rumah mu. Tapi setidaknya aku masih bisa menghidupkan keluarga ku," Jawab Tasya.
Khai menundukkan kepalanya. Ia merasa bersalah kepada Tasya saat ini. Kalau saja ia tidak menyuruh Tasya untuk menemaninya di kamar, Tasya mungkin masih berada di rumahnya dan bekerja dengan layak. Tasya tersenyum tipis melihat wajah Khai. Ia tau jika Khai merasa bersalah kepada dirinya. Tetapi sema ini bukan sepenuhnya salah Khai. Ia juga salah karena sudah menaruh hati kepada anak majikannya ini.
"Kamu enggak perlu merasa bersalah, Khai. Semuanya sudah berlalu. Aku juga gak berniat untuk menyalahkan siapapun di sini. Lagian kita masih bisa bertemu seperti ini saja, aku sudah senang. Aku harap kamu enggak akan memutuskan hubungan baik ini."
"Tentu saja tidak. Aku akan sesekali mengunjungi tempat ini. Sekalian menghirup udara segar," Balas Khai.
Tasya sebenarnya merasa kasihan dengan Khai. Jika orang lain melihat Khai dari luarnya saja, mereka pasti akan merasa iri kepada Khai. Hidup mewah. Tetapi jika mereka liat ke dalam kehidupan Khai yang sebenarnya, mereka pasti akan merasa kasihan. Tasya sangat ingin rasanya membantu Khai untuk keluar dari rumah itu. Tetapi ia sediri tidak tau bagaimana caranya.
"Tau gak.. temen aku bilang, ada danau buatan di sekitar sini. Airnya jernih dan nyaman banget. Kalau kamu gak sibuk, sabtu ini kita ke sana yuk!" Ajak Tasya. Mungkin dengan melihat sesuatu yang asri, stress Khai akan sedikit menghilang.
"Danau? aku belum pernah ke danau," Tutur Khai.
"Makannya itu. Ayo kesana dan aku pastiin kamu enggak akan nyesal."
Khai berpikir sejenak. Ia saja kesini pasti akan mendapatkan masalah nantinya. Apalagi jika ia pergi jauh lagi. Tetapi Khai tidak mungkin mengecewakan Tasya. Ketika ia melihat Tasya yang antusias menawarkan ajakan itu, Khai merasa sangat bahagia.
"Akan aku usahakan," Putus Khai.
Senyuman di wajah Tasya seketika melebar. Ia tidak sabar untuk pergi ke tempat itu bersama dengan Khai. Hanya dia dan Khai.
Setelah berbincang satu jam lamanya, Khai akhirnya memutuskan untuk kembali pulang. Ia menatap Tasya sebelum kembali masuk ke dalam mobil yang akan mengantarnya ke rumah yang membuatnya stress itu.
"Sampai jumpa, hari sabtu." Ucap Tasya sebelum Khai pergi.
"Aku duluan," Sahut Khai dan dibalas anggukkan kepala dari Tasya. Setelah itu, Khai pun masuk ke dalam mobil. Dan mobil berjalan pergi meninggalkan tempat itu sekaligun Tasya. Khai merasa ada yang janggal di hatinya ketika meninggalkan Tasya sendiri seperti itu. Ia tidak tau kenapa tetapi, Khai langsung menggelengkan kepalanya. Ia tidak mau berpikiran yang negatif.
"Tadi nyonya nelpon saya dan menanyakan keberadaan tuan." Supir Khai membuka pembicaraan diantara mereka.
"Bapak jawab apa?" Tanya Khai langsung.
"Saya jawab tuan sekedar jalan-jalan menghirup udara segar saja," Jawab supir tersebut. Khai bernapas lega mendengar jawaban itu. Jika mama tirinya tau kalau ia bertemu dengan Tasya, Khai tidak tau apa yang akan terjadi kepada Tasya nantinya.
"Bagus. Sekarang kita pulang saja. Dan jangan sampai mama tau kalau saya baru saja ketemu dengan Tasya!" Ucap Khai memperingati supirnya. Supirnya langsung menganggukkan kepalanya tanpa mengerti.
***
Khai berhenti di depan pintu rumah ketika melihat mobil yang sangat ia kenal sudah terpakir rapih. Helaan napas berat mulai terdengar. Mungkin Khai akan kembali mendapatkan masalah lagi.
Ia pun berjalan memasuki rumah dengan langkah lebarnya. Ia ingin segera menyelesaikan permasalahannya dengan wanita yang mungkin sudah menunggu kepulangannya di dalam kamarnya.
Khai membuka pintu kamar dengan napas berat. Benar dugaannya. Mama tirinya sudah menunggu kedatangannya dengan duduk di atas kasur miliknya. Ketika melihat kedatangan Khai, Risma tersenyum tipis tetapi penuh makna itu.
"Anak mama dari mana?" Tanya Risma dengan lembut. Khai yang mendengar pertanyaan itu merasa merinding seketika. Entah kenapa ia lebih suka dengan sikap Risma yang kasar ketimbang lembut seperti ini.
"Saya tadi hanya menghirup udara segar di luar. Tidak lebih," jawab Khai.
Risma tertawa mendengar jawaban bohong yang Khai lontarkan. Ia sangat tau jika Khai sedang berbohong sekarang.
"Kamu tidak perlu membohongi saya, Khai. Saya sudah tau dan bahkan saya sangat tau, kemana saja kamu pergi."
Khai menelan ludahnya dengan susah payah. Jantungnya mulai berdetak tak karuan.
"Saya sudah baik sama kamu akhir-akhir ini. Tapi kalau kamu terus seperti ini, saya gak akan tinggal diam. Kamu terlalu banyak bertingkah, Khai."
Risma berdiri dari duduknya dan memgbil tas jinjingnya. Ia berjalan mendekati Khai. Tangan Risma ia ulurkan dan mengelus rambut Khai dengan lembut.
"Kalau kamu terus bertingkah lagi, saya pikir kamu enggak akan pernah untuk sekolah di sekolah yang sama dengan Rama," Putus Risma. Setelah mengatakan itu, Risma berjalan pergi keluar dari kamar Khai dan meninggalkan Khai sendiri.
Khai memejamkan matanya ketika Risma telah pergi dari dari hadapannya. Kali ini, Risma mulai mengancam dirinya. Dan ia sangat tau jika ancaman yang diberikan oleh Risma tidak main-main.
Risma pasti akan melakukan apa yang sudah ia katakan. Khai mengacak rambutnya dengan kesal. Semua perkataan Risma membuatnya takut untuk melangkah melawan Risma. Mau bagaimanapun juga, ia pasti akan kembali menuruti perkataan dan perintah Risma.
Khai berjalan mendekati meja belajarnya dan duduk di kursi yang ada. Ia menggelengkan kepalanya di atas kedua tangannya. Khai sangat stress memikirkan semua yang ada di kehidupannya ini. Padahal ia sudah berjanji kepada Tasya untuk kembaki bertemu. Tetapi mendengar perkataan Risma barusan, Khai sepertinya akan mengingkari janjinya kali ini.
Tok..tok..tok
Khai mengenakkan badannya ketika mendengar suara ketukan pintu. "Masuk!" Ucap Khai.
Seorang pelayan masuk ke dalam kamar Khai. "Tuan.. tuan Rama ada di bawah dan ingin bertemu," Tutur pelayan tersebut kepada Khai.
"Sampaikan kepada Rama kalau saya tidak ingin bertemu dengannya."
Setelah mendengar perkataan Khai, pelayan tersebut menganggukkan kepalanya dan lekas pergi keluar dari kamar Khai.
Khai kembali menenggelamkan kepalanya. Untuk saat ini ia tidak mau dulu bertemu dengan Rama. Mungkin itu semua akan lebih baik untuknya dan juga Rama. Khai tidak mau emosinya memuncak ketika berhadapan dengan Rama. Apalagi di situasi seperti ini. Ia sedang kesal dengan Risma dan ia tidak mau menumpahkan kekesalannya kepada Rama nantinya.
***
Di lain tempat Rama merasa kecewa ketika mendengar penolakan yang diberikan Khai. Tau jika ia salah karena telah membuat Khai tersinggung, tetapi ia ingin memperbaiki kesalahpahaman yang ada diantara mereka. Tetapi sepertinya Khai tidak ingin memperbaiki kesalahpahaman mereka.
"Dia lagi sibuk emangnya?" Tanya Rama kepada pelayan yang tadi menyampaikan pesan dari Khai.
"Tidak tuan, tapi sepertinya tuan Khai sedikit lelah. Dia tadi keluar rumah sebentar dan nyonya datang ke sini," Jawab pelayan tersebut.
Rama menghela napas panjang ketika mendengar jika mamanya telah datang ke sini terlebih dahulu. Pasti mamanya telah memarahi Khai tadi.
Rama tidak habis pikir dengan kelakuan mamanya itu. Selalu saja ia menganggu Khai dan membuat Khai menjadi sedih. Rama saat ini ingin sekali menghampiri Khai dan mencoba untuk menghibur Khai. Tapi sepertinya Khai tidak membutuhkan dirinya.
Senyuman tipis Rama berikan kepada pelayan tersebut. Setelah itu, Rama pergi keluar dari rumah ini. Ia hendak masuk ke dalam mobilnya, tetapi niatnya berhenti ketika ia melihat sopir pribadi Khai yang sedang membersihkan mobil.
Ia pun berjalan mendekati sopir Khai. "Pak.." panggil Rama. Sopir tersebut langsung menghadap ke arah Rama dan menundukkan kepalanya.
"Iya tuan,"
"Saya dengar, Khai baru pergi keluar ya?" Tanya Rama.
"Iya Tuan. Tuan Khai baru keluar dari rumah tadi," jawab sopir tersebut.
"Kemana?"
Pertanyaan Rama kali ini membuat sopir tersebut diam untuk sesaat. Ia tidak yakin apakah ia bisa menyampaikan kemana Khai pergi tadi. Tetapi melihat tatapan yang Rama berikan, membuat sopir tersebut tidak punya pilihan.
"Tuan Khai menjumpai pelayan yang pernah bekerja di rumah ini, tuan."
Pelayan tersebut sama sekali tidak berani untuk menatap wajah Rama.
"Tasya? Dia maksudnya?" Tanya Rama lagi untuk memastikan. Pelayan tersebut hanya menganggukkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan Rama.
Setelah mengetahui hal tersebut, Rama berjalan pergi meninggalkan sopir tersebut dan masuk ke dalam mobilnya.
Rama mengambil ponsel miliknya dan mengetikkan sesuatu di dalam ponselnya itu. Rama mengirimkan pesan kepada seseorang yang akan membantu dirinya. Entah siapa yang Rama chat, tetapi Rama yakin tindakkannya ini akan menyelesaikan semua persamasalahan yang terjadi kepada Khai.
Rama kembali menyimpan handpone miliknya setelah ia selesai dengan urusannya. Ia menghela napas panjang dan mobil yang ia masuki akhirnya berjalan pergi meninggalkan pekarangan rumah Khai.
Khai dapat melihat kepergian Rama. Ia hanya bisa diam melihat kepergian saudaranya itu. Ia juga dapat melihat Rama yang berbicara kepada sopir pribadinya tadi.
Pikiran Khai sekarang tidak karuan. Untuk apa Rama berbicara kepada sopirnya. Apakah Rama sedang mencari informasi mengenai dirinya? Apalagi setelah Rama pergi dengan begitu tergesa-gesa semakin membuat Khai merasa curiga.
Khai berjalan menuju kasurnya dan menidurkan badannya ke kasur. Ia tidak tertidur, ia masih memikirkan mengenai Rama.
Khai seketika langsung menegakkan badannya. Ia jadi mengingat sesuatu. Mama nya yang tiba-tiba datang dan Rama yang datang membuatnya merasa ada yang janggal. Apalagi ketika melihat sikap mama tirinya tadi.
Segera Khai berjalan tergesa-gesa menghampiri sopir pribadinya. Napas Khai masih belum teratur, tetapi ia tetap langsung ingin menanyakan sesuatu untuk memastikan.
"Tadi Rama nanya apa sama bapak?" Tanya Khai. Sopir pribadi Khai langsung merasa gugup ketika mendengar pertanyaan Khai itu.
"I--itu Tuan.. tuan Rama tadi tanya, kemana tuan hari ini."
Sopir itu tidak berani untuk menatap wajah Khai, apalagi melihat mata Khai. Ia tau mungkin Khai sudah memberikan tatapan tajamnya saat ini.
"Apakah mama menanyakan hal yang sama?" Tanya Khai juga. Jawaban yang diberikan sopir tersebut membuat aliran darah Khai terasa berhenti mengalir. Ia tau hal ini pasti akan terjadi.
"Kita ke tempat Tasya sekarang!" Perintah Khai.
Khai segera masuk ke dalam mobil diikuti oleh sopirnya. Tak menunggu lama, mobil segera berjalan pergi menuju tempat dimana Khai bertemu dengan Tasya tadi.
Khai menatap langit yang mulai menggelap dengan perasaan yang tak karuan. Ia tidak ingin terjadi sesuatu kepada Tasya saat ini. Khai sangat berharap Tasya baik-baik saja.
Mungkin saat ini, Khai lagi sial. Pasalnya jalanan yang biasanya tidak pernah macet, saat ini malah macet panjang. Khai terus melihat jam yang ada di tangan kirinya. Hari semakin malam dan membuat Khai semakin khawatir.
Hampir empat puluh menit macet yang Khai dapat. Hingga akhirnya jalanan kembali lancar. Mobil yang Khai naiki juga sudah melaku dengan kencang. Khai tidak perduli dengan keselamatannya sekarang ini, yang penting ia dapat melihat wajah Tasya dan senyuman yang diberikan oleh wanita itu.
Dua puluh lima menit kemudian, mereka akhirnya sampai di kafe yang tadi Khai kunjungi. Khai segera turun dari mobil dan masuk ke dalam kafe tersebut. Ia tidak melihat keberadaan Tasya di tempat ini.
"Cari siapa, mas?" Tanya seorang pelayan kepada Khai.
"Tasya. Salah satu pekerja di sini namanya Tasya. Dia ada?" Jawab Khai langsung. Khai tidak ingin berbasa-basi lagi saat ini.
"Tasya sudah pulang tiga puluh menit yang lalu. Mungkin dia sudah sampai di rumah." Pelaya tersebut menjawab Khai dengan sopan.
"Saya bisa minta alamat rumah Tasya?"
Pelayan tersebut tersenyum dan mengeluarkan kertas yang memang selalu ia bawa dan pulpen dari saku nya. Ia menuliskan sebuah alamat yang tak lain dan tak bukan merupakan alamat Tasya.
Pelayan tersebut tau jika Khai dan Tasya memiliki sesuatu hubungan. Tadi siang ia dapat melihat hal itu. Tatapan yang Tasya berikan kepada Khai membuat pelayan tersebut menyadarinya dengan baik.
Setelah selesai menulis alamat, pelayan tersebut memberikan kertas yang sudah ia koyak kepada Khai.
"Terimakasih," tutur Khai. Setelah itu Khai langsung pergi segera menuju mobil.
Di dalam mobil, Khai memberikan kertas yang tadi diberikan pelayan itu kepada sopirnya.
"Kita ke alamat itu, Pak!" Perintah Khai. Mobil segera melaju dengan kecepatan yang lumayan tinggi.
Di pertengah perjalanan, mobil seketika berhenti mendadak. Tubuh Khai tersentak akibat berhentinya mobil ini.
Khai akan marah kepada sopirnya karena berhenti mendadak begini. Tetapi niatnya tak jadi ketika sopirnya menatap ke arah jalan yang dimana seorang wanita tergeletak dengan darah yang mengalir di sekitanya.
Khai yang melihat itu langsung keluar dengan cepat diikuti oleh supirnya. Ia ingin memastikan siapa wanita itu.
Langkah Khai terasa sangat berat ketika ia sudah melihat siapa wanita yang sudah tak sadarkan diri itu. Air matanya mulai mengalir melihat wajahnya.
Khai terduduk tak berdaya tepat di depan di samping wanita itu. Tangannya yang bergetar mulai mendekat dan memegang wajah wanita yang ia sukai ini.
"Tasya.." suara lirih Khai tidak mampu membuat Tasya untuk membuka matanya.
Sopir Khai mulai mendekati tubuh Tasya dan mengecek pernapasan dan juga nadinya. Ia melebarkan matanya ketika ia tidak merasakan apapun. Sopir Khai seketika melihat ke sekitar area ini. Tempat ini memang sangat sepi. Tidak ada siapapun yang lewat dar arah sini.
Menyadari hal tersebut, sopir Khai segera berjalan mendekati Khai dan menarik tangan Khai agar Khai berdiri.
"Kita harus segera pergi tuan. Akan panjang urusannya jika orang melihat keberadaan kita," tutur sopir tersebut.
Khai tidak bisa melawan. Saat ini ia masih belum bisa mempercayai apa yang ia lihat barusan.
Khai masuk ke dalam mobil di tuntun oleh sopirnya. Sopirnya pun masuk ke dalam mobil dan mulai menjalankan mobilnya.
Khai menatap telapak tangannya yang masih terdapat noda darah. Ia tadi memegang wajah Tasya yang memiliki noda darahnya.
"Dia.. dia udah gak ada, tuan." Sopir Khai sebenarnya masih juga terkejut dengan apa yang sudah ia lihat. Tetapi ia tidak bisa berkata apa-apa lagi.
Khai juga tau jika Tasya sudah tidak ada lagi. Tasya sudah pergi meninggalkan dirinya. Khai mengelap air matanya dengan kasar. Ia sangat ingin berteriak dengan kencang. Tetapi apa daya, Khai bahkan tidak bisa mengeluarkan suaranya saat ini.
Khai tidak tau kenapa bisa prasangkanya benar. Bagaimana bisa Tasya pergi begitu saja meninggalkan dirinya. Dan siapa yang sebenarnya membunuh Tasya. Tidak mungkin Tasya di tabrak tanpa sengaja. Ia sangat yakin ada seseorang yang sengaja melakukan hal tersebut.
Saat ini, semua orang sangat mencurigakan menurut Khai. Ia tidak bisa menuduh satu orang saja, semua yang terjadi hari ini terasa sangat mencurigakan.
Kecepatan mobil yang dibawa oleh sopir Khai sangat tinggi. Katakutan sopirnya membuatnya tidak dapat berpikir jernih. Saat ini sopir Khai hanya ingin segera pulang dan menenangkan dirinya. Ia tidak ingin terlibat dengan hal seperti ini.
Tanpa Khai dan sopirnya tau, seorang wanita melihat semua kejadian itu. Kejadian yang sudah menyebabkan seseorang meninggal. Wanita itu sedari tadi menyembunyikan dirinya di sebuah pohon yang cukup besar. Air matanya juga tidak bisa berhenti. Ia menyembunyikan isakan tangisnya agar tidak terdengar oleh siapapun.
Tatapan mata yang wanita itu pancarkan terlihat sangat tajam. Serta genggaman tangannya yang sudah mengeras.
***
Khai menatap dirinya di depan cermin. Ia tidak tau apa yang akan ia lakukan selanjutnya. Khai benar-benar sangat menyesal. Seharunya ia tidak pernah lagi menghubungi Tasya. Semua ini tidak akan pernah terjadi jika ia tidak menghubungi wanita itu lagi.
Tasya meninggal karena dirinya. Khai merasa sangat bersalah saat ini. Kenapa semua orang yang ia sayang perlahan pergi meninggalkan dirinya. Khai tidak tau apa kesalahannya hingga dia harus menerima semua ini.
Air mata Khai kembali menetes. Ia tidak tau lagi harus berlindung kepada siapa. Satu orang yang Khai harapkan sudah pergi meninggalkan dirinya. Hanya tinggal dirinya dan keluarganya saja. Keluarga yang bahkan tidak seperti keluarganya.
Khai juga ingin membalaskan dendamnya karena kematian Tasya. Tapi ia tidak tau harus membalaskannya kepada siapa. Ia bahkan tidak tau siapa yang sudah melenyapkan nyawa Tasya.
Tapi Khai akan mencari taunya. Ia akan membalaskan dendamnya kepada orang yang sudah menyebabkan Tasya pergi meninggalkan dirinya. Khai pasti akan menemukan orang itu.