Bagian 24

1161 Kata
Perjalanan Khai dan Calla kembali berlanjut. Setelah selesai makan, Calla mengajak Khai untuk menemaninya mencari baju untuk nya. Calla tidak mungkin melewatkan kesempatan untuk berbelanja barang-barang yang ia inginkan. Ia juga sangat jarang berada di mall seperti ini, alhasil Calla tidak ingin kehilangan kesempatan berharganya. "Gimana menurut lo?" Tanya Calla sambil menunjukkan kedua dress yang memiliki warna yang sama, biru Dongker. Khai terlihat sedang membandingkan dress yang Calla tunjukkan. Ia menunjuk dress yang berada di tangan kanan Calla. "Bagusan ini," ucap Khai. Calla tersenyum melihat pilihan Khai. "Gue juga suka yang ini. Teryata selera kita sama juga, ya." Calla mengembalikkan dress yang tidak ia pilih. Ia hanya mengambil dress yang tadi dipilihkan Khai untuknya. Calla dan Khai berjalan hendak keluar dari toko tersebut setelah selesai berbelanja keperluan Calla. Di pertengahan jalan langkah Khai dan Calla berhenti ketika melihat ketiga pria taman yang berada tak jauh dari hadapan mereka. Siapa lagi kalau bukan Arlo, Dante dan tentunya Axel. Mereka masih dengan seragam sekolah. Axel berjalan mendekati Khai dan Calla. "Kebetulan banget kita jumpa di sini," ucap Axel menyapa Khai dan Calla. Calla memutar bola matanya malas. Ia sangat tau tidak ada yang namanya kebetulan. Apalagi jika Axel yang bilang. "Lo sengaja kan? Biar apa sih ganggu gue terus?" Calla sudah tidak mood dengan kedatangan Axel yang tiba-tiba seperti ini. Axel terlihat tidak menyangkal perkataan Calla. Dia hanya tersenyum tipis tanpa dosa. "Kalian lapar gak? Kita makan dulu, yuk!" Ajak Axel kepada Khai dan Calla. "Udah makan. Lo aja yang makan sama temen Lo itu. Kami pergi dulu!" Jawab Calla ketus. Ketika Calla hendak menarik tangan Khai untuk berjalan pergi, Khai malah menahan Calla untuk tetap di tempat. "Kebetulan, gue haus. Gimana kalau kita cari cafe aja?" Tanya Khai. Calla terkejut mendengar perkataan Khai. Bagaimana bisa Khai menyetujui ajakan Axel dengan begitu santai. Banyak orang yang ia kenal malah takut untuk berhadapan dengan Axel. Tetapi Khai malah dengan santai mendekat kepada Axel. Axel yang mendengar itu malah senang. Ia semakin ingin mengenal Khai lebih jauh lagi. Terlihat lagi Khai memang terlihat sangat berbeda dari pria kebanyakan. "Oke. Gue tau tempat yang bagus, yok!" Ajak Axel. Axel, Arlo dan Dante berjalan di depan dan diikuti oleh Calla dan Khai yang berada di belakang. "Lo yakin?" Tanya Calla dengan sedikit berbisik. Ia sangat berharap Khai mengubah pemikirannya. "Iya.. gue lagian belum pernah ngobrol sama mereka. Ini kesempatan yang bagus kan?" Calla hanya bisa menggelengkan kepalanya. Khai memang memiliki keberanian yang tinggi. Akhirnya mereka sampai di tempat yang Axel masuk. Tempat yang sangat sepi. Padahal mall ini sangat ramai tetapi cafe yang mereka kunjungi ini sangatlah sepi. Hanya mereka sajalah pelanggan yang ada di cafe ini. Calla sama sekali tidak terkejut dengan kesepian Cafe ini. Ia sangat tau jika Axel sudah merencanakan semuanya dengan sangat matang. Setelah duduk, seorang pelayan menghampiri meja mereka. Semua orang langsung memesan minuman dan beberapa cemilan untuk mereka. Setelah itu, pelayan tersebut pergi meninggalkan meja Khai untuk menyiapkan makanan yang sudah di pesan. "Udah kemana aja kalian?" Tanya Axel membuka pembicaraan. "Bukan urusan lo, kan? Kenapa sih nanya-nanya terus.." Jawab Calla dengan sewot. "Lo pindahan dari mana?" Kali ini Dante membuka suaranya. Ia menatap Khai dengan santai tetapi tatapan Dante sangat dalam. Untuk sebagian orang, mungkin akan langsung terintimidasi oleh tatapan Dante. "Gue homeschooling." "Dari kecil?" Tanya Arlo. "Dari TK mungkin. Gue sama sekali gak pernah ke sekolah seperti kalian. Baru kali ini gue berada di lingkungan sekolah yang nyata," jawab Khai dengan santai. Calla, Axel, Arlo dan Dante menatap Khai dengan sedikit pandangan kasihan. Padahal Khai menceritakan semuanya dengan sangat santai. Tetapi mereka berpikir sebaliknya. "Kasian ya lo.." tutur Arlo lirih. Dante dan Axel langsung memberikan tatapan tajam mereka kepada Arlo. Seketika Arlo memajukan bibirnya beberapa senti. "Jadi gimana menurut lo sekolah yang beneran ini?" Tanya Khai mencoba untuk mencairkan suasana. "Bagus.. menyenangkan." "Gue sih kalo jadi Lo ya, bagusan gue milih homeschooling aja. Enak cuy.. gak perlu berteman lah, gak perlu cari muka sama guru lah.. dan yang lebih penting...gue gak perlu mandi pagi-pagi." Arlo berbicara dengan sangat semangat. "Minusnya gak bisa lihatin cewek bohay, Ar." Sambung Dante. "Akh iya.. minusnya gak enak bangat ya. Gak bisa cuci mata," tutur Arlo dengan kecewa. "Otak lo cewek bohay aja sih.." Sahut Calla. "Eh Calla.. gue bilangin nih. Wajar tau pria tuh lihatin cewek bohay. Dari pada lihatin pria macho kan? Gue normal.. makannya gue suka lihatin cewek bohay. Gak kayak Abang lo tuh!" Balas Arlo. "Emang gue kenapa?" Axel menatap Arlo. Padahal ia sama sekali tidak menganggu Arlo, tetapi Arlo tiba-tiba membawa namanya seperti ini. "Ya.. Lo kan gak pernah lihat cewek bohay. Lo kayaknya harus di periksa ke psikolog, Xel." Jawab Arlo. "Selera Axel tuh anak baik-baik. Gak kayak selera lo!" Calla mencoba untuk membela Axel. Axel menganggukkan kepalanya mendengar perkataan Calla. Ia emang tidak suka jika melihat cewek berpakaian terbuka, seperti yang Arlo suka. Jika ada siswi dengan rok ketat dan pendek berjalan di depan mereka, Arlo dengan sigap langsung memberikan tatapan menggodanya dan siulan terbaiknya. Tak butuh waktu lama untuk Arlo mendapatkan nomor kontak dari siswi yang ia inginkan. Tentu saja karena kepopuleran Arlo dan juga ketampanannya, mampu membuat siapa saja mau dengan Arlo. Di sela pembicaraan mereka, pesanan mereka akhirnya sampai di meja mereka. Dante, Arlo dan Axel segera memakan makanan pesanan mereka. Mereka terlihat sangat lahap memakan makanannya. "Mereka emang gitu kalau udah lihat makanan enak," tutur Calla. Calla tau jika Khai sedang melihat cara makan ketiga sekawan yang ada di depan mereka ini. Khai menganggukkan kepalanya tanpa mengerti. Ia meminum minuman yang ia pesan. Khai memang tidak memesan makanan karena ia masih kenyang. Tidak ada yang bicara selama tiga sekawan ini menikmati makanannya. Khai sesekali menatap ketiga pria yang ada di depannya dengan bingung. Kenapa mereka sangat berbeda ketika sedang bersama dengan Khai. Axel dan kedua tangannya ini tidak terlihat menakutkan untuk Khai. Malahan Khai sangat menikmati waktunya berbincang dengan mereka. Tidak ada pembullyan yang Khai rasakan saat ini. Axel terlihat sangat baik kepada dirinya. Mereka juga memiliki selera humor yang lumayan. Menurut Khai. Semakin Khai mengenal ketiga orang ini, semakin Khai mendapatkan fakta yang sangat berbeda. *** "Calla pulangnya gue yang antar ya," ucap Khai kepada Axel. Axel menatap Khai sambil memicingkan matanya. "Gue bawa mobil kok. Dia sama gue aja." Axel tidak mau melepaskan Calla pulang dengan Khai. "Calla tadi perginya sama gue, jadi lebih baik dia pulang sama juga juga. Gue gak mau terlihat seperti cowok pecundang," jelas Khai. Arlo menepuk tangannya mendengar perkataan Khai. Ia memberikan kedua jari telunjuknya kepada Khai dengan bangga. "Ini yang selama ini gue cari. Pria gentleman yang sangat bertanggungjawab," tutur Arlo sambil merangkul pundak Khai. "Jangan di embat juga dong yang ini," sela Calla sambil menurunkan tangan Arlo dari pundak Khai. Khai hanya bisa tersenyum melihat kelakuan Calla dan juga Arlo. "Ya udah.. tapi kalau ada satu goresan aja di badan Calla, lo siap-siap!" Axel memperingati Khai. Khai tersenyum mendengar pringatan Axel. "Iya Lo harus siap-siap.. soalnya Axel mau ngasih doorprize!" Sahut Arlo dengan leluconnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN