Bagian 10

3035 Kata
Mendengar panggilan dari Khai, Ian membalikkan badannya ke belakang dan ia dapat melihat Khai yang sudah berdiri tepat di belakangnya. Air mata Ian menetes ketika melihat wajah Khai yang menatapnya dengan wajah bingung. Ian sedikit bergeser ke kanan sehingga apa yang tadi ia tutupi terlihat dengan jelas oleh Khai. Dan betapa hancurnya Khai ketika melihat tubuh Rama yang sudah terbaring lemah di atas tempat tidur. Khai tidak tau apa maksud semua ini. Tangisan yang dikeluarkan oleh kedua orang tuanya, wajah pucat Rama dan tubuh Rama yang sudah terbaring itu. Langkah kaki Khai mulai berjalan menuju ke arah Rama. Khai juga dapat melihat mama tirinya yang terus menangis tanpa henti. Khai memegang tangan Rama yang pucat. Ia juga merasakan suhu di tangan Rama yang sangat dingin. Ketika Khai melepaskan tangan Rama, tangan itu langsung terjatuh dengan cepat. Air mata Khai perlahan menetes. Ia tidak tau apa yang sudah terjadi kepada Rama saat ini. "Kenapa.. kenapa Rama seperti ini, ma?" Tanya Khai dengan suara seraknya karena menahan isakkan tangis. Risma sama sekali tidak menjawab pertanyaan Khai, malahan tangisannya semakin kencang ketika mendengar pertanyaan Khai. Ian yang melihat itu menghapus air matanya yang tadi sempat menetes. Ia menghela napas panjang. Ian tidak mau ikut terpuruk seperti ini. Harus ada seseorang yang bersikap tegar ketika sedang menghadapi masalah seperti ini. "Rama ditemukan di lapangan sekolah dengan keadaan yang.. yang sudah tidak bernyawa. Ia di duga bunuh diri." Ian sangat tidak sanggup menyampaian apa yang sudah terjadi. Ia masih tidak percaya jika anaknya akan melakukan perbuatan yang seperti ini. Ian sangat tidak percaya dengan kenyataan ini, tetapi pihak sekolah mengatakan demikian. Khai menggelengkan kepalanya dengan yakin. Rama tidak mungkin melakukan hal demikian, Rama tidak mungkin meninggalkannya dengan cara seperti ini. "Enggak pa. Rama enggak mungkin bunuh diri, Khai sangat yakin Rama tidak akan pernah melakukan hal itu. Mereka pasti berbohong... Rama tidak mungkin.." Khai mulai mengeluarkan isakkan tangisnya. Ia tidak tahan melihat tubuh Rama yang lemas tak berdaya itu. Khai kembali menggenggam tangan Rama yang dingin itu. Ia mengenggelamkan wajahnya di tangan Rama sambil mengeluarkan tangisannya. "Khai benar.. Rama tidak mungkin bunuh diri, Ian. Saya sangat yakin jika mereka sudah merekayasa semua ini.. Anak saya tidak mungkin meninggalkan saya seperti ini," tutru Risma dengan yakin. Ia menatap suaminya dengan air mata yang masih terus menetes. Ian yang melihat itu langsung mengalihkan wajahnya ke arah lain. Ia tidak tahan melihat wajah Risma yang seperti itu. Risma mulai bangkit dari duduknya, ia berjalan mendekati Ian dan berdiri tepat di depan Ian. Ian tidak bisa lagi menghindari tatapan Risma. Beberapa detik kemudian.. Risma berlutut tepat di depan Ian. Ia memegang kedua tangan suaminya itu sambil mengeluarkan isakkannya. "Saya mohon... kamu harus mencari tau tentang semua ini, Ian. Rama anak kamu.. Dia tidak mungkin melakukan hal itu Ian... Percaya sama saya," Pinta Risma. Khai sama sekali tidak berani menatap wajah Risma. Sebenci apapun dia kepada mama tirinya itu, Khai tidak tega melihat wanita itu menangis seperti ini. Apalagi jika melihat Risma yang sudah kehilangan anaknya. Khai juga sedang kehilangan saudaranya. "Kita tidak mungkin bisa mencari taunya, Risma.. kamu tau sendiri bagaimana sistem sekolah itu. Sangat kecil kemungkinan kita bisa mencari tau apa yang sudah terjadi. Mereka bahkan tidak memiliki cctv di sana. Apa yang bisa kita lakukan, Risma? Kita hanya bisa diam dan menerima semua ini," jelas Ian dengan lembut. Khai sangat tidak percaya jika ada sekolah seperti itu. Bagaimana bisa mereka seperti lepas tangan menghadapi permasalahan ini. Risma yang mendengar penjelasan suaminya itu semakin lemas. Ia merasa harapannya untuk mencari tau kebenaran mengenai kematian Rama sudah tidak ada. Rama akan dianggap bunuh diri oleh semua orang. Tetapi tidak dengan Khai. Khai ikut bangkit dari duduknya dan menatap papanya dengan tatapan tegas. "Papa harus mencari tau siapa yang sudah melakukan ini kepada Rama, pa.. kita enggak bisa membiarkan semua ini terjadi gitu aja. Khai enggak mungkin terima jika Rama diperlakukan seperti ini." Khai melihat reaksi yang di berikan oleh papanya. Ian sama sekali tidak bisa melakukan apapun saat ini. Ia bahkan tidak tau harus mengatakan apa. Ian kembali mengalihkan pandangannya ke arah lain. "Papa enggak bisa melakukan apapun lagi. Maaf.." tutur Ian kepada kedua orang yang sangat ia sayangi. Perlahan tangan Risma yang memegang kaki Ian terlepas. Ia tidak bisa melakukan apapun selain menangis saat ini. "Kita harus bersiap.. Rama akan segera di mandikan dan dimakamkan." Sambung Ian. Setelah mengatakan itu, Ian hendak berjalan pergi meninggalkan kamar. Tetapi sebelum Ian sepenuhnya keluar dari kamar, Ian berhenti ketika Khai mengatakan sesuatu hal yang membuatnya terdiam. "Kalau papa enggak bisa ngelakuin itu, Khai sendiri yang akan mencari tau semuanya." Tatapan Khai sekarang dipenuhi oleh kebencian dan juga balas dendam. Khai kecewa dengan sikap papa nya yang seperti ini. Jika papa nya tidak mau melakukan hal apapun untuk Rama, maka ialah yang akan menyelesaikan semuanya. Ian kembali berjalan pergi meninggalkan kamar Rama. Khai meratapi kepergian papanya yang begitu saja. Kekecewaannya kepada pria itu kembali bertambah. Khai semakin hancur jika seperti ini. Ia bahkan tidak tau bagaimana dan seperti apa caranya untuk mencari tau mengenai hal ini. Ia bukanlah siswa dari sekolah itu dan Khai bahkan tidak mengetahui bagaimana kejadiannya secara terperinci. Tetapi semangat Khai tidak akan pernah pupus untuk mencari tau kebenarannya. Ia akan mengetahui semuanya dan akan membalaskan dendamnya kepada orang yang telah melakukakn semua ini kepada Rama. *** Senyuman palsu diberikan oleh keluarga Khai. Ucapan terima kasih juga mereka berikan kepada beberapa orang yang telah berlalu pergi meninggakan pemakaman umum ini. Tak banyak memang yang hadir di pemakaman Rama. Hanya kerabat terdekat dan juga beberapa rekan bisnis Ian. Pihak sekolah bahkan tidak hadir ke pemakaman ini, alasannya karena mereka sibuk mengurus sekolah yang 'berantakkan' karena penemuan mayat Rama. Tersisa hanya Khai, mama tirinya dan juga papanya. Mereka kembali meratapi kepergian Rama. Kali ini mereka benar-benar tidak akan pernah lagi bertemu dengan Rama. Risma kembali duduk di sebelah makam Rama dan memeluk erat batu nisan yang bertulisan nama Rama. Ia benar-benar terlihat sangat hancur sehancur-hancurnya. Anak satu-satunya sudah pergi meninggalkan dirinya. Alasan Risma bertahan dalam rumah tangganya adalah karena Rama. Dan jika Rama sudah pergi dari hidupnya.. tidak ada lagi alasan Risma mempertahankan semuanya. "Sudah sore.. kita harus kembali pulang ke rumah," Ucap Ian kepada Risma dan Khai. Risma menghapus air matanya dengan sedikit kasar. Ia mencium batu nisan Rama untuk yang terakhir kalinya. Setelahnya, Risma berdiri dan berjalan pergi meninggalkan pemakaman itu dengan langkah yang lunglai. Pandangannya yang hanya ke bawah karena ia menyembunyikan air matanya yang masih belum mau berhenti. Ian pun ikut berjalan di samping Risma. Untuk saat ini, Ian perlu berada di samping Risma. Ia tidak mau Risma melakukan sesuatu hal yang akan ia sesalkan nantinya. Khai pun ikut berjalan di belakang Risma dan Ian. Khai sesekali melihat kebelakang. Melihat tempat peristirahatan Rama untuk yang terakhir kalinya. Ia tidak tega meninggalkan Rama sendirian di sini. Mata Khai yang mulai memerah ketika kembali mengingat kenangan dirinya dengan Rama. Kali ini kenangannya akan terus disimpan bersama dengan Rama. Mereka naik ke mobil yang berbeda. Ian dan Risma di satu mobil yang sama sedangan Khai, ia memilihh untuk naik mobilnya sendiri. Ia tidak mau jika ia naik di mobil yang sama dengan mama tirinya, ia akan diusir atau mungkin akan terus di sindiri. Khai tau jika mama tirinya ini masih sensitif terhadap dirinya. Ia tidak mau mencari masalah yang akan semakin memburuk nantinya. Tapi kali ini Khai akan menginap beberapa hari di rumah utama. Khai sebenarnya ingin langsung kembali pulang ke rumahnya. Tetapi papanya dengan keras melarangnya untuk pulang. Khai tidak tau alasannya kenapa papanya memintannya untuk tinggal di rumah utama. Khai hanya bisa menuruti perkataan papanya. Ia tidak mau membuat papanya kembali sedih lagi. Akhirnya mereka pun sampai di rumah. Risma langsung berjalan masuk ke kamarnya tanpa mengatakan hal apapun lagi. Begitupula dengan Ian. Khai pun ikut melakukan hal yang sama. Ia masuk ke dalam kamar miliknya. Ia mengunci pintu kamar dan mengurung dirinya di dalam kamar. Khai meratapi semua hal yang terjadi begitu cepat. Ia tidak tau harus bagaimana lagi menyikapi semua hal yang terjadi saat ini. Menangis? Khai bahkan sudah tidak bisa lagi mengeluarkan air matanya sangkin seringnya menangis. Mungkin saat ini ia hanya bisa menerima takdir yang telah ditentukan Tuhan kepada dirinya dan juga keluarganya ini. Khai menatap beberapa foto yang ada di dinding kamarnya. Terutama foto dirinya dan juga Rama. Ia mengelus lembut foto tersebut. Foto kecil mereka yang sangat Khai ingat. Suara pertengkaran itu terdengar hingga halaman belakang rumah. Khai dan Rama saat itu masih berusia sepuluh tahun. Khai yang mendengar ibunya di marahi seperti itu merasa sangat sedih. Ia tidak bisa membela ibunya dan tidak bisa melakukan apapun. Setiap saat ia dan ibunya berada di rumah ini, ibu nya akan selalu mendapatkan amarah dari Risma. Oleh karena itu ia tidak suka jika ia dan ibunya pergi ke rumah ini. Tetapi entah mengapa, ibunya selalu membawanya ke rumah ini setiap Sabtu. Ibunya selalu berkata jika ia perlu untuk bermain bersama Rama. Ibu Khai tidak mau persaudaraan diantara anaknya dengan Rama akan hancur hanya karena keegoisan orang tua. Bahkan ia rela menahan amarah dan hinaan dari Risma asal kedua saudara ini bermain bersama. Seperti saat ini, Khai dan Rama sedang duduk di halaman sambil melihat ikan-ikan yang ada di kolam. Khai saat ini tidak fokus dengan penglihatannya. Pasalnya matanya sudah berair dan siap meneteskan air matanya. Rama yang menyadari hal itu langsung menghapus lembut air mata Khai. Ia memberikan senyuman terbaiknya kepada Khai. Menatap Khai seolah berkata semuanya akan baik-baik saja. Tapi Khai sangat tau jika semuanya tidak mungkin akan baik-baik saja. "Tenang aja.. kalau nanti kita udah besar, mama sama ibu pasti enggak akan berantam lagi. Percaya sama aku.." tutur lembur Rama kecil. Khai menatap saudaranya itu dengan dalam. Dia sangat ingin mempercayai ucapan itu. Tetapi akan terlihat sangat sulit untuk hal itu terjadi. "Kalau mama dan ibu enggak baikan sampai kita besar gimana?" Tanya Khai dengan wajah sedihnya. Ia harus memikirkan hal yang mungkin saja terjadi nantinya. "Gak masalah. Kan Khai ada Rama. Rama yang akan lindungi Khai kalau kita besar nanti. Khai tenang aja ya. Khai enggak boleh nangis.. kalau Khai nangis, Rama juga akan sedih," jawab Rama. Rama juga sebenarnya ikut sedih mendengar pertengkaran yang sedang terjadi di dalam rumah itu. Ia tidak tau apa yang sedang terjadi dan apa yang sedang mereka debatkan. Tetapi Rama mengetahui satu hal. Kenapa mereka bertengkar dan di dengar oleh anak-anak mereka. Dengan melakukan hal itu, orang-orang dewasa itu telah membuat anak mereka memili trauma yang besar. Khai yang mendengar itu langsung menghapus air matanya. Ia menatap Rama dengan senyuman cerahnya. Ia tidak mau membuat saudara satu-satunya ini ikut sedih karena dirinya. Khai tidak mau hal itu terjadi. "Aku gak akan nangis lagi." Sahut Khai dengan semangat. Rama ikut tersenyum lebar melihat senyuman Khai. Rama mengacak rambut Khai dengan lembut dengan senyumannya. Mendapatkan perlakuan seperti itu, Khai mengeluarkan tawa kecilnya. Rama mengalihkan pandangannya dan menatap salah satu bodyguardnya. Ia tidak mau kenangannya dengan Khai yang terlihat romantis ini terbuang sia-sia tanpa diabadikan. "Pak.. tolong fotokan Rama dan Khai dong.." pinta Rama kepada salah satu bodyguardnya itu. Sang bodyguardnya dengan sigap mengambil ponsel miliknya dan mengabadikan momen itu. Momen yang tidak akan pernah Khai lupakan. "Pembohong!" Ucap Khai ketika kembali mengingat perkataan Rama. Rama tidak akan bisa menjaga dirinya lagi. Rama tidak menepati janjinya. "Lo bohong sama gue, Ram. Lo bilang mau jaga gue dan sekarang lo bahkan pergi dari kehidupan gue. Kenapa? Kenapa lo ngelakuin itu Rama? Sebenci itu Lo sama gue sampai Lo pergi ninggalin gue seperti ini?" Saat ini Khai seperti orang yang tidak waras. Ia berbicara kepada foto Rama yang bahkan tidak akan pernah dijawab oleh Rama. Khai hanya ingin mengungkapkan semua yang ada di dalam hatinya. Bahkan jika ia dipikir stress, Khai akan terima semua itu. Khai juga sangat menyesal.. ia menyesal telah mendiamkan Rama. Ia menyesal tidak berbicara dan bertemu dengan Rama beberapa hari terakhir ini. Hanya karena amarahnya, Khai tidak mau berbicara kepada Rama. Hingga semua ini terjadi. Khai sudah tidak akan lagi bisa berbicara dengan Rama. Kalau saja ia bisa memutar waktu, Khai akan memberikan semua kenangan manis kepada Rama sebelum hari kematiannya. Dan mungkin Khai akan melakukan hal apapun agar Rama tidak melakukan hal yang membuatnya pergi dari semua orang. Bodoh.. Khai merasa bodoh saat ini. Tidak ada lagi yang bisa ia sesali. Semuanya sudah terjadi. Khai mengambil foto dari dinding itu dan memeluknya dengan erat. Kali ini.. ia kehilangan dua orang yang sangat berharga baginya. Dua orang yang menyayanginya dengan tulus. Dua orang yang siap melindunginya dengan berbagai cara. Khai kembali meneteskan air matanya. Ia sangat benci dengan takdirnya. Kenapa takdir membuatnya kehilangan ibu dan saudaranya. Kenapa hanya dirinya yang selalu merasakan ketidakadilan ini? Mungkin saat ini Rama sudah bertemu dengan ibunya. Mungkin mereka sedang menatapnya. Menatap dirinya dengan senyuman cerahnya. Atau mungkin mereka menatap Khai dengan air mata karena mereka telah pergi meninggalkan Khai sendiri di dunia ini. Khai tidak tau lagi bagaimana kehidupannya nanti. Ia bahkan sudah tidak memiliki semangat apapun untuk menjalani hidup ini. Karena ia sudah tidak memiliki alasan agar bisa terus hidup di dunia ini. *** Khai membuka matanya dengan berat. Kepalanya terasa sangat berat. Mungkin karena ia menangis semalaman. Ia bangkit dari kasurnya dan berjalan mendekati kaca yang ada di kamarnya. Mata Khai terlihat sangat sembab dan juga sedikit bengkak. Ia juga menatap dirinya Nyang terlihat seperti mayat hidup, sangat berantakan. Ia pun berjalan keluar dari kamar. Saat ini tujuan Khai adalah meja makan. Sudah beberapa pelayan yang tadi mengetuk kamarnya agar Khai segera sarapan. Tapi baru sekarang Khai bangkit dari kasurnya itu. Sebenernya Khai sangat lapar. Tapi ia sama sekali tidak selera akan makanan yang disediakan. Khai dapat melihat mama dan papanya yang sedang sarapan di meja makan. Khai duduk di kursi meja makan dan mengambil nasi goreng ke piringnya. Hanya sedikit yang Khai ambil. Nafsu makannya tidak besar hari ini. "Makan yang banyak, Khai. Kamu harus sehat," tutur papanya ketika melihat Khai yang hanya makan sedikit. "Khai enggak selera makan, Pa." Terdengar helaan napas Ian ketika Khai membalas ucapannya. Ia juga melihat piring istrinya yang bahkan tidak berkurang sedikitpun. Risma hanya memainkan nasi goreng yang ada di piringnya. Ian tidak tau bagaimana keluarganya akan kembali seperti semula. Ia tau akan memakan waktu lama untuk memperbaiki keluarganya ini. Trauma yang dialami oleh keluarnya cukup dapat membuat mental mereka hancur. Kepergian satu orang keluarga bukanlah satu hal yang kecil. Rama memiliki peran yang cukup besar di keluarga ini. Orang yang ceriah dan cukup dewasa itu telah membuat banyak orang berubah dalam satu malam. Ian tidak bisa menyalahkan siapapun di sini. Bahkan ia tidak bisa menyalahkan keputusan yang sudah Rama buat. Mungkin selama ini, ia hanya melihat topeng yang sudah Rama munculkan ketika sedang bersama mereka. Ian tau jika Rama sangatlah tertutup. Mungkin Rama telah menyimpan semuanya sendiri dan ia tidak tau harus melakukan hal apapun selain melakukan hal yang membuatnya pergi dari dunia ini. Ian juga tidak bisa menyalahkan Risma. Ia tidak memiliki alasan yang tepat untuk menyalahkan Risma. Karena Risma merupakan orang yang paling hancur di sini. Kehilangan seorang anak merupakan kepedihan yang paling besar. Seorang ibu bahkan siap untuk menukarkan jiwa dan raganya untuk anaknya. Begitu pula dengan Khai. Ian juga tau jika Khai ikut terluka dengan kepergian Rama. Hanya Rama lah yang selalu membela Khai jika Risma memarahinya. Hanya Rama lah yang selalu melindungi Khai. Pasti akan banyak perubahan dalam diri Khai nantinya. Mungkin saat ini, semua hal yang terjadi adalah kesalahan dirinya sendiri. Ia yang tidak bisa menyatukan keluarga ini. Ia yang tidak bisa bersikap adil dan tegas dalam keluarganya sendiri. "Saya enggak mau ada kesedihan lagi. Saya tau.. kita semua hancur dengan kepergian Rama yang tiba-tiba seperti ini. Tapi saya tidak mau kita terus terpuruk dan semakin hancur. Kehidupan harus terus berjalan. Mungkin Rama juga tidak mau jika kita terus-menerus bersedih karena dirinya. Ayo kita susun semuanya dengan perlahan. Bantu saya agar keluarga ini tidak hancur.." pinta Ian sambil menatap Risma dan Khai bergantian. Ia perlu bantuan untuk membangun keluarganya kembali. Jika hanya Ian yang berusaha, tidak mungkin akan berjalan dengan lancar. Risma tersenyum miring mendengar perkataan Ian. Ia melepaskan sendok yang ia pegang dan menatap Ian dengan sendu. "Kenapa sekarang? Kenapa sekarang kamu minta bantuan agar keluarga ini enggak hancur? Kemarin.. kamu kemana aja, Ian? Apa yang bisa dibantu dalam keluarga ini? Apa yang harus diperbaiki? Enggak ada. Setelah kepergian Rama, kamu baru mau memperbaiki segalanya. Hidup memang harus berjalan, tapi tanpa Rama.. saya enggak tau apakah hidup saya akan terus berjalan. Satu lagi.. kamu enggak mau keluarga ini hancur? Tapi kamu sedirilah yang sudah menghancurkannya sejak awal, Sejak saya mengandung Rama." Suara bangku yang tergeser terdengar. Risma berdiri dan bergi dari ruang makan setelah mengatakan isi hatinya. Ia tidak tahan terus mendengar perkataan Ian yang hanya akan menyakiti hatinya. Ian juga tidak bisa menjawab atau membalas perkataan Risma. Ia tau memang dirinya yang bersalah. Semua yang dikatakan Risma benar adanya. Tidak mungkin ada perubahan dalam keluarga ini. "Maaf pa.. maaf karena sudah menghancurkan keluarga ini," tutur Khai tiba-tiba. Ian menoleh ke arah Khai dengan bingung. "Kenapa kamu yang minta maaf?" Khai mengangkat kepalanya dan menatap Ian dengan wajah sedih. "Karena ibu mengandung saya, keluarga ini hancur. Karen itulah penyebab awalnya. Khai seharusnya tidak boleh terus menerus menjadi parasit di keluarga ini." "Kalau soal itu.. seharusnya kamu menyalahkan saya, Khai. Karena saya lah yang telah menghamili ibu mu dan membuat ibumu mengandung kamu. Kamu sama sekali tidak salah dalam masalah ini. Jangan pernah menyalahkan dirimu dan menganggap diri mu itu parasit. Saya yang seharunya minta maaf. Karena selama ini saya sudah tidak adil kepada kamu. Seharusnya saya adil dalam mengambil sikap antara kamu dan Rama." Khai diam mendengar semua penjelasan Papanya ini. Semakin ia berada di rumah ini, semakin Khai sadar jika Rama memiliki tekanan yang cukup besar di dalam rumah ini. Khai sangat yakin jika banyak sekali pertengkaran yang ada di dalam rumah ini ketika Rama masih hidup. "Lanjutkan makan mu!" Perintah Ian kepada Khai. Khai kembali melanjutkan makannya dengan lambat. Ia kembali memikirkan apa yang harus ia lakukan selanjutnya. Kembali ke rumahnya atau tetap tinggal di rumah ini. Khai juga takut jika ia tetap tinggal di sini, mamanya akan terus merasa tersakiti. Karena setiap mamanya melihat Khai, ia akan terus teringat dengan wanita yang telah merusak rumah tangganya. Khai tidak mau kembali menambah beban kepada mamanya itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN