Bagian 11

3029 Kata
Setelah selesai makan, Khai melangkahkan kakinya menuju kamar Rama. Ia tidak tau pasti mengapa saat ini ia sangat ingin memasuki kamar Rama. Khai hanya ingin menghirup bau Rama saat ini. Padahal ia baru hari ini tidak bertemu Rama. Tetapi Khai sudah sangat rindu dengan aroma Rama dan bahkan ia sudah sangat ingin memeluk tubuh Rama. Khai tidak dapat membayangkan bagaimana kedepannya nanti. Tanpa sosok Rama yang tidak akan pernah lagi melindungi dirinya. Khai mulai memegang kenop pintu kamar Rama. Ia pun membuka pintu tersebut dan masuk ke dalam kamar Rama. Kamar yang sangat besar dan indah ini. Baru beberapa detik ia di dalam sini, tetapi Khai sudah sangat merindukan sosok itu. Khai melihat kasur Rama. Kasur yang Khai lihat tubuh Rama tidak berdaya lagi. Kali ini kasur nya sudah dibersihkan dan sudah diganti seprainya. Khai memejamkan matanya ketika kembali mengingat tubuh Rama tadi. Ia menggelengkan kepalanya dan kembali membuka matanya. Khai tidak boleh menjadi lemah seperti ini. Ia harus kuat dan mencari tau kebenaran yang sebenarnya. Khai mulai mengalihkan perhatiannya ke seluruh penjuru kamar. Pandangan Khai tertuju kepada meja belajar Rama. Meja yang tertata sangat rapi dan terdapat beberapa buku di atasnya. Khai pun berjalan mendekati meja belajar Rama. Khai pun duduk di kursi yang ada. Ia mulai memegang beberapa buku yang ada di atas meja belajar. Tidak ada buku yang mencurigakan menurut Khai. Hanya beberapa buku pelajaran yang ada di atas meja ini. Hingga sebuah buku yang sedikit mencurigakan. Buku diary. Khai sama sekali tidak tau jika Rama memiliki buku diary seperti ini. Dengan pelan, Khai mengambil buku itu dan mulai membuka buku tersebut. Tertera nama Rama di awal halaman. Tangan Khai sedikit bergetar ketika hendak membalik halaman selanjutnya. Hai... Sebenarnya gak tau mau nulis apa. Tapi akhir-akhir ini rasanya berat banget. Kehidupan di sekolah terutama di rumah. Tetapi belakangan ini... Mereka sangat sering sekali membully dan bahkan melakukan hal yang menurutku tidak masuk di akal. Aku masih bisa menahannya. Tetapi entah mengapa semakin ku menjalaninya semakin merasa sulit. Rasanya sangat ingin menyerah. Menyerah dengan semua hal yang ada di kehidupan ini. Entah kapan niat ku ini akan terjadi, tapi yang pasti hal itu akan menjadi kenyataan nantinya. Menghilang dari dunia ini. Khai terdiam sesaat setelah membaca buku tersebut. Ia membuka halaman selanjutnya. Tetapi kosong. Hanya tulisan itu yang Rama tulis di dalam buku yang tebal ini. Khai tidak tau jika Rama sudah memiliki pemikiran seperti itu. Pemikiran untuk menghilang dari dunia ini. Air mata Khai membasahi buku kosong yang ada di depannya ini. Perlahan Khai mulai meletakkan kepalanya di atas buku tersebut. Air matanya perlahan juga semakin banyak yang keluar. Hancur rasanya. Perasaan Khai yang semakin hancur oleh semua fakta yang ia terima bertubi-tubi. Ia yang awalnya mengira jika tidak ada rahasia diantara dirinya dan juga Rama, malah dikejutkan oleh kenyataan ini. Rama merahasiakan semuanya dari dirinya. Rama tidak mempercayai Khai sehingga ia hanya memberitahukan perasaannya kepada buku ini. Khai tidak pernah membayangkan jika Rama sebegitu tertutup kepadanya. Perlahan tangan Khai mulai ia genggam dengan erat. Ia sangat ingin membalaskan semuanya kepada orang-orang yang telah membully Rama. Orang-orang yang telah membuat Rama melakukan perbuatan bunuh diri ini. Khai tidak akan mau membiarkan perkara ini sampai di sini saja. Khai menegakkan badannya. Ia menutup buku diary Rama, setelahnya Khai pun berdiri dari duduknya dan membawa buku tersebut. Buku ini adalah bukti. Bukti jika Rama melakukan perbuatan bunuh diri itu karena di dorong oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Khai keluar dari kamar Rama. Ketika Khai keluar dari kamar Rama, Khai terkejut ketika melihat mamanya sudah berdiri tepat di depan Khai. Risma menatap Khai dengan bingung, apalagi ketika ia menyadari jika Khai membawa sebuah buku yang sedikit mencurigakan. "Ngapain kamu dari kamar Rama?" Tanya Risma langsung. Risma menatap Khai penuh selidik. "Saya rindu dengan Rama. Karena itu saya masuk ke dalam kamarnya," jawab Khai mencoba untuk mencari alasan yang masuk akal. "Terus... Buku apa itu?" Tanya Risma lagi. Khai menatap buku yang ia pegang dengan lama. Ia sedikit berpikir dengan alasan yang akan ia keluarkan. Risma yang sudah malas mendengar alasan lagi, ia pun langsung melewati Khai untuk masuk ke dalam kamar Rama. Risma memiliki alasan yang sama dengan Khai. Ia rindu dengan Rama. Karena itu ia berada di kamar ini. Khai yang masih berada di luar kamar kembali berpikir kembali. Ia berpikir bagaimana jika ia memberitahukan semuanya kepada Risma. Tetapi Khai kembali menggelengkan kepalanya. Ia tidak mau memberitahukan kepada Risma mengenai ini. Risma tidak mungkin mau membantu dirinya. Khai melangkahkan kakinya untuk kembali ke kamarnya. Tetapi baru dua langkah ia berjalan, langkahnya kembali berhenti. Ia kembali berpikir. Risma tidak mungkin tidak membantunya. Ini menyangkut anaknya, Rama. Risma pasti akan melakukan apapun untuk mencari kebenaran jika menyangkut Rama. Terlebih lagi.. Khai bisa menggunakan hal ini agar ia bisa tinggal di rumah ini. Bukan.. Khai bukan melakukan hal ini karena ia ingin tinggal di rumah ini. Ia murni melakukannya karena ia ingin menemukan orang-orang yang telah membully Rama. Namun, di lain sisi Khai juga ingin mendapatkan kasih sayang orangtuanya. Ia ingin mendapatkan fasilitas yang sama seperti yang Rama dapatkan selama ini. Khai ingin tinggal di rumah ini sebagai anak dalam keluarga ini. Bukan anak dari seorang selingkuhan. Walaupun hal itu benar adanya. Tetap saja, Khai ingin menjadi pengakuan. Ia pun kembali berbalik arah. Khai kembali berjalan masuk ke dalam kamar Rama. Ia membuka pintu kamar dan mendapati Risma yang sedang duduk di kasur Rama sambil memeluk erat baju Rama. Khai terdiam untuk sesaat. Ia sedih melihat apa yang ada di depannya ini. Tetapi di satu sisi, Khai merasa sedikit bahagia. Akhirnya wanita ini merasakan apa yang selama ini Khai rasakan. Kehilangan sosok orang yang paling di sayang. Khai pernah mengalami hal ini. Saat ia kehilangan ibunya. Saat itu Khai sangat hancur. Ia tidak tau harus melakukan apa dan hanya bisa memeluk baju ibunya saja. Dan sekarang, Khai terasa seperti Dejavu. Ia melihat hal yang sama terjadi kepada orang yang ia tidak sukai dulu. Khai menghentikan pikirannya. Ia tidak boleh terus berada di masa yang sudah berlalu. Khai menatap lurus ke arah Risma yang masih belum menyadari kehadirannya. "Ma.." panggil Khai dengan lembut. Risma yang mendengar itu langsung menoleh ke sumber suara. Ia menghapus cepat air matanya ketika melihat Khai di hadapan dirinya. Risma meletakkan baju Rama di atas kasur dan ia bangkit dari duduknya. Ia menatap Khai dengan kesal. Saat ini Risma sangat tidak ingin diganggu oleh siapapun. Termasuk oleh Khai. "Ada yang perlu saya sampaikan," sambung Khai. "Kalau ini tidak penting, lebih baik kamu keluar sekarang dan tinggalkan saya sendiri. Saya lagi tidak mau membahas hal tindak penting dengan kamu, Khai." Khai tidak membalas perkataan Risma. Ia malah berjalan mendekati Risma. Khai berhenti tepat di depan Risma dan memberikan buku yang ia pegang tadi kepada Risma. Khai memutuskan untuk memberitahukan segalanya kepada Risma. Risma menerima buku tersebut. Ia juga penasaran dengan isi buku ini. Risma mulai membuka buku tersebut. Ia melebarkan matanya ketika nama Rama tertulis di dalam buku itu. Dengan cepat, Risma membalikkan halaman selanjutnya. "Saya baru menemukannya tadi, di atas meja belajar Rama. Saya tidak tau siapa orang-orang yang sudah membully Rama. Tetapi yang saya tau, mereka adalah alasan kenapa Rama mampu melakukan hal ini," tutur Khai. Risma menutup mulutnya dengan tangannya. Ia sangat syok membaca setiap kalimat yang Rama tulis. Hancur rasanya mengetahui anaknya selama ini mendapatkan perlakukan seperti itu. Air mata Risma tidak berhenti mengalir hingga membasahi buku yang ia pegang. Risma perlahan terduduk kembali di atas kasur Rama. Ia menutup buku itu dengan kasar dan kembali memeluk baju Rama. Rasanya sangat sesak. Risma merasa dadanya di hantam oleh benda yang berat. "Saya tau, mama pasti hancur ketika membaca buku itu. Tapi kita harus membalaskan semua ini. Saya tidak tau harus berbuat apa jika saya melakukan semua ini sendiri. Saya perlu bantuan dan dukungan. Saya tidak mau Rama pergi begitu saja sedangkan mereka sudah membuat Rama seperti ini." Khai mulai mengatakan niatnya. Ia ingin meminta Risma untuk membantunya. Membantu dirinya untuk melaksanakan aksinya. Risma menatap Khai dan menganggukkan kepalanya. Ia sangat setuju dengan perkataan Khai. Ia harus membalaskan kematian Rama. "Apa yang harus saya lakukan?" Tanya Risma kepada Khai. Risma mengulum senyumannya. "Pertama.. izinkan saya untuk tinggal di rumah ini. Serta perlakukan saya seperti anda memperlakukan Rama. Kedua.. biarkan saya masuk ke sekolah Rama. Karena di salah saya akan menemukan orang-orang yang telah membully Rama," jawab Khai dengan tegas. Tanpa berpikir panjang, Risma langsung menganggukkan kepalanya. Ia akan melakukan apa saja agar mematikan Rama terungkap. "Baik. Saya akan memperlakukan kamu sama seperti saya memperlakukan Rama. Saya juga akan memfasilitasi kamu dengan semua hal yang kamu mau. Tapi satu yang harus kamu lakukan, bunuh orang-orang yang telah membully Rama. Saya ingin melihat mereka merasakan bagaimana rasanya mati dengan rasa sakit. Rekam reaksi mereka ketika kamu melakukan hal itu dan tunjukkan kepada saya." Khai tidak mungkin menolak hal itu. Tanpa di suruh ia pasti akan melakukannya. Ia tidak hanya memberikan pelajaran kepada mereka. Ia akan melakukan hal yang setimpal. Biarpun mereka tidak membunuh Rama secara langsung, tetapi mereka telah membunuh mental Rama. Oleh karenanya, Khai lah yang akan membalaskan semuanya. Nyawa harus dibalas dengan nyawa. *** Suasana di meja makan kali ini terlihat sedikit tenang. Risma mulai memakan makanannya dengan lahap, begitu juga dengan Khai dan Ian. Tidak ada satu orang pun yang membuka mulutnya ketika mereka sedang makan. Hingga setelah selesai makan, Risma membuka pembicaraan. Ia tidak mau rencana yang sudah ia rencanakan dengan Khai berjalan lama. Ia ingin semuanya cepat dijalankan. "Saya sudah putuskan.. bagaimana jika Khai tinggal di rumah ini saja? Rumah ini akan semakin kosong tanpa kehadiran seorang anak. Bagaimanapun Khai juga anak saya. Saya rasa, Tuhan telah mengirim Khai sebagai pengganti Rama buat saya." Risma menatap lembut Ian. Ia memberikan senyuman tipisnya kepada suaminya itu. Ian yang mendengar itu senang bukan main. Hal ini yang ingin ia dengar dari mulut Risma. Bukan karena ia tidak sayang kepada Rama. Ian hanya ingin Khai juga ikut tinggal bersama dengan keluarga lengkapnya. Ian menggenggam tangan Risma dengan lembut. Ia menganggukkan kepalanya. "Saya senang kalau kamu sudah berpikir terbuka seperti ini. Rama memang tidak ada yang bisa mengantikan. Tetapi bagaimanapun juga, Khai anak kita. Biarpun dia tidak lahir dari rahim kamu. Kalau begitu, saya akan meminta pelayan di rumah sana untuk membereskan barang-barang Khai dan mengirimkannya ke sini." "Saya juga berpikir untuk menyekolahkan Khai di sekolah umum. Khai dari dulu sangat ingin sekolah sama seperti Rama. Mungkin ini sudah saatnya ia bergaul dengan teman-teman sebayanya," sambung Risma. Senyuman Ian semakin lebar ketika mendengar hal itu. "Tentu saja. Memang sudah waktunya Khai untuk memiliki pertemanan yang baik dengan anak seusianya. Soal sekolahnya, saya akan mencari sekolah terbaik untuk Khai nanti." Balas Ian. "Untuk apa cari sekolah lagi? Khai bisa sekolah di sekolah Rama yang dulu. Sekolah itu bagus kan? Bukannya Khai ingin satu sekolah dengan Rama?" "Tidak. Khai tidak usah sekolah di sana. Kita sudah kehilangan anak kita di sana, Risma. Saya tidak mau kita kehilangan untuk kedua kalinya. Khai tidak boleh sekolah di sana." Risma menoleh ke arah Khai. Ia meminta Khai untuk mengatakan sesuatu kepada Ian dengan tatapannya itu. "Pa.. Khai bukan Rama. Khai enggak mungkin melakukan hal yang akan membahayakan diri Khai. Sekolah itu adalah impian Khai. Dari dulu.. ketika Rama selalu bercerita mengenai sekolahnya, Khai merasa ikut ada di sana. Khai ingin bersekolah di sana, pa.. tolong biarkan Khai untuk sekolah di tempat itu," pinta Khai dengan lembut. Mendengar permintaan Khai, hati Ian merasa sangat luluh. Entah mengapa ia menjadi ingin menuruti semua permintaan Khai. Karena sekarang, hanya Khai yang bisa ia harapkan dan ia andalkan. Ian menghela napas panjang. Ini adalah keputusan yang sulit untuknya. Tetapi jika itu adalah keinginan Khai, Ian tidak mungkin menolaknya. "Baiklah. Kita akan mendaftarkan Khai di sekolah itu," putus Ian. Risma dan Khai tersenyum lebar mendengar keputusan Ian. "Terimakasih pa." Khai tak lupa mengucapkan terimakasih kepada papanya ini. "Saya yang akan mengurus pendaftarannya. Kamu gak perlu repot. Saya tau kamu sudah repot di kantor." Risma membalas genggaman tangan Ian. Ian hanya menganggukkan kepalanya. Sebenarnya Ian merasa sedikit curiga dengan sikap Risma yang tiba-tiba berubah seperti ini. Risma yang sangat keras kepada Khai, seketika bersikap sangat perhatian dan seperti menyayangi Khai. Tetapi Ian membuang jauh semua kecurigaannya. Mungkin saja pemikiran Risma benar-benar sudah terbuka, pikirnya. Ian meninggalkan meja makan terlebih dahulu. Pasalnya masih banyak pekerjaan yang perlu ia selesaikan. Ketika Ian sudah tidak terlihat lagi, Khai menatap Risma. "Saya rasa.. identitas saya sebagai saudara Rama harus dirahasiakan. Pihak sekolah akan curiga jika saya tiba-tiba masuk ke sana ketika kasus Rama saja belum terpecahkan. Tanpa adanya rasa curiga.. saya yakin semuanya akan berjalan dengan baik," tutur Khai. Risma sangat setuju dengan perkataan Khai. Tidak boleh ada sedikit kecurigaan nantinya. Misi ini harus selesai dengan baik tanpa kesalahan sedikitpun. "Baik. Kamu tenang saja. Saya akan mengatur semuanya. Jika ada yang mencurigakan, segera lapor kepada Saya. Saya akan mengurusnya dengan cepat," ucap Risma. Khai merasa sangat senang bisa bekerja sama dengan mama tirinya ini. Semuanya akan berjalan sesuai rencana. Khai akan mendapatkan orang-orang yang telah membully Rama dan ia juga akan mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tuanya ini. Risma bangkit dari duduknya dan meninggalkan Khai sendiri di ruang makan ini. Khai menatap sekeliling rumah ini. Rasanya seperti mimpi bagi Khai. Mendapatkan semua ini, mendapatkan kepercayaan dari mana tirinya serta mendapatkan semua fasilitas ini. Khai tidak perlu lagi bersembunyi di rumah kecil itu. Ia akan tinggal di istana ini mulai saat ini. Tetapi.. semua ini terjadi ketika Rama tidak ada di sisinya. Padahal dulu Rama lah yang berjanji untuk membawa dirinya tinggal bersama di rumah ini. Apa mungkin dengan kepergian Rama, ia bisa tinggal di rumah ini? Khai tidak akan menyia-nyiakan kepergian Rama. Ia akan menjadikan kepergian Rama sebagai simbol, simbol untuk membangkitkan semangatnya mencari orang-orang itu. *** Kamar Khai saat ini sangat kecil menurutnya. Tidak mungkin ia bisa tidur di kamar ini. Apalagi jika barang-barangnya datang nantinya. Khai sepertinya harus pindah ke kamar Rama. Ya.. kamar Rama lah yang pas untuk ia tinggali. Kamar yang besar dan mewah itu. Khai mulai melepaskan foto-foto yang ia pajang di dinding kamarnya. Ia akan meletakkannya di kamar Rama nantinya. Suara pintu di ketuk terdengar dari luar. Tanpa menoleh ke arah pintu Khai menyuruh orang yang sedang mengetuk pintu kamarnya untuk masuk. Seorang pelayan masuk ke dalam kamar Khai. "Maaf tuan.. ada yang bisa di bantu?" Tanya pelayan tersebut. Khai tadi memang sempat memanggil seorang pelayan untuk membantunya membereskan semua barang-barang miliknya. "Iya. Tolong pindahkan barang-barang Rama ke kamar ini." Pelayan tersebut bingung dengan permintaan Khai. "Maksud tuan?" Tanya pelayan tersebut. Khai menghela napasnya. Ia tidak tau bagaimana cara mama tirinya itu mencari seorang pelayan. Bagaimana bisa ia mendapatkan pelayan yang lemot seperti ini. Khai mengalihkan pandangannya dan menatap pelayan tersebut. "Kamu bereskan semua barang-barang Rama dari kamarnya dan pindahkan ke kamar ini. Karena mulai sekarang, saya yang akan menempatkan kamar Rama. Jelas?!" Khai menekan nada suaranya di setiap kalimat yang ia keluarkan. "Maaf tuan. Tapi apakah nyonya sudah memberikan izin untuk memindahkan barang-barang tuan Rama?" Tanya pelayan itu lagi. Kesabaran Khai benar-benar diuji sekarang. Khai memberikan senyuman terbaiknya kepada wanita itu. "Masalah itu, urusan saya. Kamu hanya perlu menuruti perkataan saya saja. Jelas?" "Baik tuan," jawab pelayan tersebut. Setelahnya, ia pun menutup pintu kamar tersebut dan segera melaksanakan perintah Khai. Khai sudah memikirkan beberapa alasan yang akan ia sampaikan kepada Risma. Alasan yang masuk akal pastinya. Foto terkahir yang akan Khai lepas. Foto dirinya dan Rama saat kecil. Khai akan memajang foto ini di kamar Rama nantinya. Ia akan menjadikan foto ini sebagai semangatnya. Semangat untuk membalaskan semuanya. Khai mengelus foto wajah Rama. "Tenang aja.. gue akan membalaskan semuanya, Ram. Lo akan tenang di sana. Bantu gue untuk menemukan mereka. Gue tau lo akan selalu ada di sisi gue." Khai meletakkan foto tersebut di atas meja di sebelahnya. Ia menatap kamar miliknya yang jarang ia tempati ini. Kali ini ia akan meninggalkan kamar ini dan akan berada di kamar yang ia impikan. Khai berjalan keluar dari kamar miliknya. Ia masuk ke dalam kamar Rama. Ia dapat melihat beberapa pelayan yang mulai membereskan barang-barang Rama. Mungkin Payan tadi meminta bantuan kepada teman-teman. Khai duduk di kursi meja belajar milik Rama, yang sekarang adalah miliknya. Ia mengawasi para pelayan itu yang sedang membereskan semuanya. Hingga pandangan Khai tertuju kepada seorang pelayan yang membawa semua kotak kaleng. Khai tidak tau jika Rama menyimpan hal itu di dalam lemari bajunya. "Kaleng itu.. bawa ke sini!" Perintah Khai sambil menunjuk kaleng yang sedang di pegang oleh pelayan. Payan tersebut mendekat ke arah Khai dan memberikan kaleng itu kepada Khai. Setelahnya ia kembali melanjutkan pekerjaannya. Khai meletakkan kaleng tersebut di atas meja belajar. Ia mulai membuka kaleng tersebut. Sedikit kesusahan memang. Karena sepertinya, kaleng ini sudah lama tidak di buka. Khai bahkan baru bisa membukanya di percobaan ketiganya. Khai melebarkan matanya ketika melihat apa isi dari kaleng ini. Foto-foto dirinya dan juga Rama. Khai tidak tau jika Rama menyimpan foto-foto ini di dalam kaleng. Khai membalikkan foto tersebut dan tersenyum hari ketika membaca tulisan Rama. My little brother. Tiga kata itu mampu membuat Khai terguncang. Ternyata.. Rama sesayang itu kepada dirinya. Khai kembali mengeluarkan foto-foto lainnya. Hingga ia mendapatkan sebuah surat kecil dari origami. Khai sangat ingat dengan kertas ini. Saat mereka kecil, Khai dan Rama menulis keinginan mereka di dalam kertas origami yang mereka bentuk menjadi surat. Khai juga memilikinya, tetapi kertas itu di koyak sampai hancur oleh mama tirinya. Khai tidak tau jika Rama masih menyimpan surat ini. Khai membuka lipatan kertas origami ini dan mulai membaca isinya. Rama dan Khai akan pergi ke tempat yang jauh dari rumah dan jauh dari mama. Kami akan pergi ke luar negeri dan akan tinggal berdua saja. Rama akan bekerja dengan keras dan Khai akan belajar dengan baik. Rama akan selalu melindungi Khai, selalu. Khai tersenyum lembut membaca tulisan Rama yang sedikit berantakan itu. Sepertinya.. mimpi mereka ini tidak akan pernah menjadi kenyataan. Rama tidak lagi melindungi dirinya. Surat itu kembali Khai lipat dan ia kembali menyimpan semua foto-foto serta surat tadi ke dalam kaleng. Khai akan menyimpannya lagi. Ia tidak mau kenangan satu-satunya dengan Rama akan hilang begitu saja. Khai memeluk kaleng tersebut dengan erat. Ia membawa harapan dan kenangan yang ada di dalam kaleng ini kepada dirinya. Dengan begitu, ambisi Khai akan semakin besar untuk menghancurkan mereka semua.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN