Tubuh Khai langsung tegap ketika melihat Risma yang masuk ke dalam kamar miliknya. Milik Rama sebenarnya, tetapi sekarang kamar ini adalah miliknya. Khai sangat tau kenapa Risma datang ke kamarnya ini.
Risma menatap Khai ketika ia sudah berada di kamar ini. Baru sehari Khai berada di kamar Rama, Risma merasa banyak perubahan di kamar ini. Apalagi jika Khai sudah lama berada di kamar ini.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" Tanya Risma dengan nada datarnya. Ia menatap Khai dalam. Risma langsung datang ke kamar ini setelah mendengar dari salah seorang pelayannya bahwa Khai memindahkan semuanya barangnya ke kamar Rama. Risma sangat tidak suka dan tidak setuju dengan tindakan Khai yang terburu-buru seperti ini. Pasalnya ia baru saja ingin memperbaiki hubungannya dengan Khai, tetapi Khai dengan tiba-tiba merusak kebaikkannya.
"Saya berniat untuk pindah ke kamar ini," jawab Khai dengan santai. Tidak ada ketakutan dari raut wajah Khai saat ini. Ia seperti sudah bernai melakukan dan mengutarakan keinginannya kepada Risma.
"Kenapa? Kenapa kamu pindah ke kamar ini? bukankah kamu sudah memiliki kamar sendiri?" Pertanyaan bertubi-tubi itu Risma lontarkan kepada Khai.
Khai tersenyum tipis mendengar semua pertanyaan itu. "Ma.. saya akan melakukan semua rencana kita, saya perlu menyusun rencana yang panjang tentunya. Kamar ini sesuai dengan apa yang akan saya lakukan. Tempat yang besar dan tentunya nyaman. Lagian saya rasa, Rama tidak akan keberatan jika saya yang menempati kamar miliknya ini."
Risma yang mendengar alasan Khai hanya diam. Dia tidak tau apakah alasan yang diberikan Khai memang murni benar adanya atau hanya alasan buatan saja. Tetapi apa yang dikatakan Khai benar adanya, Rama tidak mungin marah jika kamarnya di tempati oleh Khai. Malahan Rama pasti akan merasa bahagia jika kamarnya di tempati oleh saudaranya ini. Kali ini Risma mengalah. Karena alasan yang diberikan Khai cukup masuk akal.
"Jika sekali lagi kamu melakukan hal sesuka mu, saya tidak akan tinggal diam Khai. Kita memang membuat perjanjian itu, tapi kamu tetap harus tau posisi mu."
Setelah mengatakan itu, Risma berjalan pergi meninggalkan kamar. Khai mengangkat kedua pundaknya, Ia terlihat sama sekali tidak perduli. Khai merasa jika ia yang akan di sayang oleh keluarga ini. Biarpun mama tirinya tidak akan melakukan itu, tetapi dapat dipastikan papanya akan sangat menyayanginya. Karena hanya tinggal Khai anak yang masih ada di rumah ini.
Khai sama sekali tidak memikirkan apa yang dikatakan oleh Risma. Ia malah berjalan menuju meja belajarnya dan kembali membuka buku diary milik Rama. Sama sekali tidak ada nama siapa orang yang telah membully Rama. Hal ini yang akan menjadi teka-teki yang harus Khai pecahan.
Khai mulai membuka buku baru miliknya. Di dalam buku inilah Khai akan memecahkan semua misteri yang ada. Khai menuliskan sekolah di mana Rama berada. Sekolah yang akan ia masuki nantinya. Karena di sekolah inilah Khai akan mendapatkan setidaknya sedikit kebenaran mengenai misteri ini.
Sebentar lagi Khai akan memasuki sekolah yang penuh misteri dan teka-teki itu. Sebenarnya tidak ada satu pun ketakutan di hati Khai mengenai sekolah itu. Tetapi ia hanya sedikit ragu, ragu apakah ia bisa memecahkan semua misteri yang ada. Karena Khai tidak ada seorang pun yang akan membantunya di sana nanti. Ia tidak tau seperti apa rupa orang yang akan ia hadapi nanti, juga seperti apa musuh-musuh yang harus Khai bunuh.
Khai seketika ingat dengan wanita yang selalu ia lihat. Wanita yang sangat membuatnya penasaran dengan sikapnya itu.
"Lamia," tutur Khai. Nama itu sangat melekat dalam ingatan Khai. Apalagi ketika ia melihat wanita itu di Danau yang kemarin ia kunjungi. Semuanya semakin tidak mungkin untuk di bilang kebetulan. Khai sangat yakin jika ada sesuatu dari Lamia yang penting untuk ia ketahui.
Khai menutup buku yang ada di depannya. Ia sudah lelah untuk berpikir hari ini. Ia merentangkan kedua tangannya agar pegal-pegal di badannya sedikit berkurang. Setelahnya, Khai bangkit dari duduknya. Ia berjalan menuju dapur. Entah kenapa Khai merasa sangat lapar dan ingin memakan sesuatu.
Beberapa pelayan membungkuk ketika melihat Khai. Khai hanya melewati mereka tanpa berkata sepatah kata pun. Tujuannya saat ini ialah kulkas, Khai ingin melihat apa yang ada di dalam kulkas.
Khai melebarkan kedua matanya ketika melihat berbagai macam makanan ringan yang ada di dalam kulkas ini. Khai tidak pernah menyesal tinggal di rumah ini. Semua yang ia inginkan selalu ada.
"Maaf tuan.. ada yang bisa saya bantu?"
Seorang pelayan datang menghampiri Khai. Khai tersenyum simpul menatap pelayan tersebut. "Bisa siapkan beberapa cemilan untuk saya?" Tanya Khai.
"Baik tuan akan saya siapkan segera," jawab pelayan tersebut.
"Saya tunggu di sana ya." Khai menunjuk sofa yang ada di ruang keluarga. Ia ingin makan sambil menonton acara televisi di tempat itu. Setelah mengatakan itu, Khai beranjak meninggalkan pelayan tersebut dan menuju sofa.
Khai menyandarkan badannya di pinggir sofa. Terasa sangat nyaman untuknya. Ia menghidupkan televisi yang ada di depannya dan mulai memilih Chanel yang akan ia tonton.
Tak menunggu lama, beberapa pelayan meletakkan makana yang tadi Khai minta. Khai semakin melebarkan senyumannya melihat berbagai macam makanan yang ada di depannya ini.
Khai langsung mengambil sebuah kue yang terlihat menarik menurutnya. Ia langsung melahap kue tersebut dengan cepat. Ketika semua makanan sudah diberikan kepada Khai, para pelayan kembali meninggalkan Khai sendiri di ruangan itu.
Tawa Khai sesekali tercipta dan terdengar di ruangan ini. Para pelayan yang melihat itu sesekali ikut tersenyum. Mereka sedikit terhibur dengan adanya majikannya di sini. Pasalnya, sangat jarang sekali Rama maupun Ian dan Risma menonton televisi di ruangan keluarga dan tertawa seperti sekarang.
"Akhirnya kita bisa dengar suara tawa dari salah satu anggota keluarga ini," tutur seorang pelayan kepada temannya.
"Bener.. rasanya udah lama banget gak dengar suara orang tertawa di rumah ini, hanya ada wajah serius dan juga muka kusut saja. Tapi semoga dengan kehadiran tuan Khai di rumah ini, suasana di rumah ini akan segera membaik," balasnya.
Mereka berdua kembali memfokuskan pandangan mereka ke arah Khai. Khai benar-benar terlihat seperti menghidupkan suasana di dalam rumah mewah ini.
***
"Kamu akan pakai baju ini mulai lusa."
Perkataan Risma membuat Khai menganggukkan kepalanya. Khai melihat seragam sekolah yang akan ia pakai mulai lusa. Ia akhirnya bisa memakai seragam sekolah sama seperti anak-anak seusianya.
"Jangan sampai kamu lupa dengan tujuan kamu, Khai!" Peringat Risma. Sekali lagi Khai kembali menganggukkan kepalanya. Ia tidak mungkin lupa dengan semua rencana yang sudah ia susun.
"Iya ma. Saya gak akan pernah lupa dengan rencana kita. Saya sekolah di sana, hanya untuk membalaskan dendam Rama. Tidak lebih," tutur Khai. Risma tersenyum mendengar penuturan Khai. Tidak salah ia memilih Khai untuk melakukan aksi ini.
Setelah puas mendengar penuturan Khai, Risma berjalan keluar dari kamar Khai. Ia yakin jika Khai tidak mungkin mengkhianati kepercayaannya.
Khai mengambil seragam sekolah yang ada di atas tempat tidurnya. Ia menatap lambang sekolah yang ada di bagian kiri legan seragam. Khai tidak sabar dengan kejutan-kejutan yang akan ia dapatkan nantinya.
Khai meletakkan seragamnya di lemari pakaian miliknya. Ia mengantungnya di sebelah seragam Rama. Seragam yang sama dengan sekolah yang sama juga. Khai juga akan masuk di kelas dimana Rama dulu ditempatkan. Khai mengelus lembut seragam milik Rama dahulu.
"Lo tenang aja, Ram.. Sebentar lagi.. Sebentar lagi gue akan menemukan orang yang udah membully lo. Dengan tangan gue sendiri, gue akan menghukum mereka. Karena mereka.. mereka udah buat lo pergi ninggalin gue." Tatapan mata Khai sangat serius dan memancarkan kemarahan.
"Lihat dari atas sana dan lo pasti akan bangga sama gue," sambung Khai lagi. Setelah mengatakan itu, Khai menutup lemari pakaian miliknya dan kembali berjalan menuju meja belajarnya.
***
"Bukankah terlalu cepat untuk Khai bersekolah di sana? dan kenapa harus di sana, Risma?"
Khai menghentikan langkah kakinya ketika ia mendengar papa nya bertanya dengan nada yang sedikit tinggi kepada mama titirnya itu. Risma yang medengar pertanyaan itu dengan santai meminum teh miliknya. Ia menghela napas dan setelahnya menatap Ian dengan senyuman tipis.
"Bukankah kita sudah membahas tentang masalah ini? Khai sendiri yang mau untuk dia bersekolah di sana, kamu bahkan dengar sendiri dari mulutnya kan?"
Risma menjawab pertanyaan Ian dengan pertanyaan balik. Ia sebenarnya tidak ingin membahas mengenai sekolah Khai terus menerus. Ia hanya ingin segera mneyelesaikan permasalahan ini.
"Bagaimana jika nasib Khai sama seperti Rama? Jika Khai juga pergi meninggalkan saya, saya benar-benar hancur. Tidak ada lagi harapan untuk kehidupan saya, Risma. Seharusnya kamu memikirkan mengenai hal ini. Jangan hanya demi keegoisan kamu ini, Khai akan bernasib sama seperti Rama."
Ian mulai berbicara serius kepada Risma. Risma yang mendengar semua perkataan Ian seketika tersenyum miris. Bagaimana bisa seorang ayah mengatakan demikian.
"Bukankah sekarang kamu yang terlihat egois, Ian? Kenapa kamu hanya memikirkan tentang nasib mu saja? Bagaimana dengan saya? Kamu masih memiliki harapan, Khai masih ada di dalam dekapan mu. Sedangkan saya? Saya sudah tidak punya siapa-siapa lagi di kehidupan saya. Anak saya sudah pergi dan kamu terlihat sama sekali tidak perduli dengan perasaan saya. Saya seorang ibu kalau kamu lupa. Saya yang mengandung Rama, saya yang melahirkannya dan dengan mata kepala saya sendiri, saya melihat Rama terbaring tak bernyawa."
Mata Risma mulai beraca-kaca. "Kali ini.. tolong jagan bersikap egois. Saya butuh Khai untuk membantu saya dan saya berjanji, Khai tidak akan mendapatkan masalah apapun. Kha tidak akan mendapatkan satu goresan pun di badannya," ucap Risma memohon.
Ian sudah tidak bisa mengatakan apapun lagi jika Risma sudah berkata demikian. Ada rasa iba di dalam hatinya melihat kondisi Risma saat ini. Biapun ia tidak mencintai wanita ini, Ian masih memiliki rasa empati dalam dirinya.
"Baik. Kali ini saya mengalah sama kamu. Hanya kali ini saja, setelahnya saya yang akan mengambil keputusan." Putus Ian.
Obrolan sinngkat antara Ian dan Risma akhirnya berakhir. Ian mulai menyentuh sarapan paginya di hari minggu ini. Begitu pula dengan Risma. Ia pun mulai memakan sarapannya. Khai yang melihat semuanya sudah baik-baik saja pun kembali berjalan mendekati meja makan.
"Pagi pa.. pagi ma," sapa Khai seperti tidak mendengar semua obrolan tadi.
Ian dan Risma memberikan senyuman tipis kepada Khai. Khai duduk di kursi tepat di depan Risma. Ia mulai mengambil sarapannya. Suasana di meja makan kembali hening. Semuanya asik menikmati sarapannya masing-masing.