Mobil yang membawa Khai berhenti di sebuah pemakaman umum. Tempat di mana Khai ingin berkunjung. Khai keluar dari mobil tersebut dan berjalan sendiri menuju makam Rama. Makam Rama tidak jauh dari tempat parkiran.
Makam yang masih basah dan di penuhi oleh bunga. Khai berjongkok di samping kiri makam Rama. Ia memegang lembut batu nisan yang bertuliskan nama Rama. Khai mulai mengelus batu nisan tersebut.
"Hai Ram.. gue ke sini hari ini. Mau bilang kalau besok.. gue akan masuk ke dalam sekolah lo. Bertemu dengan orang-orang yang telah membully lo. Bantu gue.. bantu gue untuk menemukan mereka. Gue tau lo pasti aka bantu gue supaya gue bisa membalaskan semuanya," tutur Khai. Ia seperti berbicara dengan Rama secara tatap muka. Entah kenapa Khai selalu merasa kalau Rama ada di sebelahnya.
"Gue akan sering datang ke sini, Ram. Lo gak akan ngerasa sendiri, lo tenang aja. Gue sebenarnya gak tau apakah gue bisa masuk lebih dalam ke keluarga kita. Gue juga gak tau apakah gue akan lama tinggal di rumah itu. Tapi.. gue ngerasa seperti punya keluarga yang utuh kembali, Ram. Punya sosok seorang ibu dan ayah, walaupun mereka masih sibuk dengan urusan masing-masing."
Khai menundukkan kepalanya. Ia mencoba dengan sangat untuk tidak mengeluarkan air matanya. Ia ingin berbicara dengan Rama tanpa air mata yang mengalir. Tetapi sepertinya hal itu akan sulit untuk ia lakukan.
"Gue jahat banget ya, Ram? Gue ngerasa gue udah ngerebut posisi lo. Posisi yang selalu lo inginkan. Maaf Ram.. Tapi gue juga ingin posisi ini. Di sayang sama papa dan mama. Di beri fasilias yang gue inginkan dan mendapatkan pengakuan. Lo tau dari dulu gue selalu ingin itu semua. Gue akhirnya mendapatkan semuanya Ram... di saat lo gak ada lagi di sisi gue."
Akhirnya Khai kalah. Ia mengeluarkan air matanya di saat ia tidak mau untuk mengeluarkannya. Ia mencoba untuk menghapus air matanya itu. Tetapi untuk saat ini, air mata Khai sepertinya tidak ingin untuk berhenti mengalir.
Dering handphone milik Khai berbunyi dan membuat Khai kembali menghapus air matanya untuk yang kedua kalinya. Khai mengambil handphone miliknya dari saku celananya. Ia dapat melihat mama nya menelpon dirinya. Ia segera mengangkat panggilan tersebut.
"Halo ma."
"Segera pulang, Khai. Saya tunggu!"
Panggilan itu langsung di matikan sepihak oleh Risma. Khai hanya bisa menghela napas melihat sikap mama tirinya ini. Tetapi ia tetap menuruti perkataan Risma. Ia tidak mau Risma memandang buruk dirinya karena tidak menuruti perkataannya.
Khai kembali menyimpan handphone miliknya ke dalam saku celananya. Setelahnya, Khai tak lupa menaburkan bunga yang sudah ia bawa tadi. Bunga yang ada di atas makam ini memang belum kering, tetapi Khai tetap membawa bunga ini. Ia tidak mau makam Rama tidak dihiasi dengan satu pun bunga.
"Setelah gue selesai naburin bunga ini.. gue akan pulang, Ram. Hari ini sampai di sini perbincangan kita. Maaf karena gue cepat pulang hari ini. Jangan marah sama gue, ya. Gue cuman mau jadi anak yang berbakti."
Bunga terakhir telah habis. Khai pun bangkit dari posisinya. Ia memberikan senyuman terbaiknya kepada Rama. Ia tidak mau meninggalkan tempat peristirahatan Rama dengan tangisan. Hanya akan ada senyuman mulai sekarang.
Khai berjalan pergi meninggalkan makam Rama dan menuju mobilnya. Ia tidak menoleh ke belakang sama sekali. Khai tidak mau semakin hancur nantinya. Karena perjalanan dirinya masih panjang. Ia akan melanjutkan kehidupannya tanpa menoleh ke belakang lagi.
Sopir Khai berdiri membukakan pintu untuk dirinya. Khai memberikan senyum tipisnya kepada sopirnya ini.
"Pak Abdi.. bisa antar saya ke Danau kemarin?"
Sopir Khai mengernyitkan dahinya mendengar permintaan Khai. "Maaf tuan. Tapi nyonya sudah menyuruh tuan untuk pulang sekarang," ucapnya.
"Kali ini.. tolong antar kan saya ke sana," pinta Khai sekali lagi.
Pak Abdi tidak bisa menolak jika Khai sudah seserius ini. Ia hanya bisa menuruti permintaan majikannya ini.
"Baik tuan." Putusnya.
Khai segera masuk ke dalam mobil. Dan diikuti oleh pak Abdi. Mobil mulai melaju menuju tempat dimana Khai ingin berada untuk beberapa saat.
Empat puluh menit perjalanan, akhirnya mereka sampai di Danau tersebut. Danau yang tidak Khai ketahui namanya. Tetapi ia mengenal Danau ini dari wanita yang ia sukai.
Ketika mobil sudah berhenti, Khai langsung turun dan berjalan menuju pinggir danau. Tidak ada yang spesial dari Danau ini memang. Tetapi ia selalu ingin berada di Danau ini. Khai duduk di pinggi Danau. Kicauan burung berbunyi dan semakin membuat Khai merasa lebih tenang dari sebelumnya. Khai menghirup udara segar yang ada di tempat itu dalam. Perlahan ia mulai memejamkan kedua matanya. Ia mencoba untuk menenangkan pikiran dan juga harinya.
Hingga seseorang dengan tiba-tiba memegang pundak Khai. Seketika Khai membuka matanya dan menoleh ke belakang. Ia dapat melihat Pak Abdi sudah berada di belakangnya dengan posisi jongkok beserta cengirannya.
Pak Abdi menunjukkan dua botol kaleng minuman soda kehadapan Khai. Khai bahkan tidak tau jika sopirnya ini memiliki minuman seperti ini di dalam mobil.
"Duduk pak," tutur Khai sambil menepuk rerumputan di sebelahnya. Pak Abdi duduk di sebuah Khai dan memberikan minuman soda itu kepada Khai. Mereka berdua kembali berfokus kepada Danau yang ada di depan mereka ini.
"Waktu cepat banget berlalu ya, tuan. Padahal kalau di ingat saya dulu sangat suka dengan tuan Rama. Tata bahasanya, serta sopan santunnya itu sangat memikat banyak orang. Beliau juga baik hatinya. Tapi kok bisa ya.. dia memutuskan untuk melakukan perbuatan itu.. sayang sekali lihatnya," tutur pak Abdi.
Khai menatap pak Abdi sedikit heran. Pasalnya ia sangat jarang melihat pak Abdi berbicara sepanjang itu. Biasanya mereka hanya membicarakan mengenai hal-hal penting saja. Khai juga tidak pernah mau bercerita mengenai kehidupan pribadinya kepada siapapun. Tetapi sepertinya, pak Abdi orang yang tepat untuk bisa berbagai cerita.
"Kita gak tau bagaimana kehidupan yang sudah di hadapi oleh Rama, Pak. Mungkin di balik ia menghibur banyak orang, dia yang sebenarnya butuh untuk di hibur. Dan saya benar-benar merasa bersalah jika mengingat hal itu. Rama selalu ada di saat saya butuh. Sedangkan saya tidak ada di saat dia membutuhkan saya. Rasanya saya seperti saudara yang jahat sekali. Tidak tau mau melakukan apa lagi. Penyesalan? Saya sangat menyesal dengan semuanya. Tetapi tidak akan ada yang berubah."
Pak Abdi tersenyum mendengar perkataan Khai. Akhirnya tuan mudanya ini berbicara panjang mengenai keluh kesahnya.
"Mungkin tuan hanya perlu berdamai dengan semuanya. Tuan benar.. tidak ada yang akan berubah bahkan jika tuan menyesal. Semuanya sudah terjadi sesuai dengan kehendak-Nya."
Khai hanya bisa mengangguk kepalanya mendengar perkataan sopirnya ini.
Tidak ada pembicaraan untuk beberapa saat. Khai sibuk dengan pikirannya sendiri, begitu juga dengan pak Abdi. Minuman kaleng yang ada di depan mereka sudah habis setengah.
Pikiran Khai kembali teralihkan kepada perkataan pak Abdi. Tidak akan ada yang berubah sama sekali. Jika ia kembali melanjutkan misi pembalasan dendam ini, Rama tetap tidak akan ada di sisinya lagi. Tetapi jika mengingat bagaimana orang-orang itu membully Rama, api di dalam diri Khai terasa membesar.
Ia tau tidak akan ada kemungkinan Rama akan kembali di sisinya. Tapi Khai yakin jika Rama akan bangga dengan dirinya. Karena Khai yang akan membalaskan perbuatan mereka kepada Rama dulu.