Bagian 14

2158 Kata
"Saya sebenarnya ingin berterima kasih kepada tuan Khai. Kalau tuan lebih memilih sopir pribadi di rumah utama, mungkin saat ini saya sudah tidak lagi memiliki pekerjaan," tutur pak Abdi. "Saya pasti akan lebih nyaman bersama dengan bapak. Pak Abdi gak perlu berterimakasih kepada saya. Saya yang harusnya berterimakasih kepada bapak karena ada di samping saya. Bapak juga sudah banyak membantu saya dan Ibu dulu. Saya gak mungkin bisa melupakan jasa bapak kepada kami," Balas Khai. Khai memang memiliki sifat yang seperti itu. Selalu membalas kebaikan orang yang telah berbuat baik kepada dirinya terutama ibunya. Pak Abdi adalah salah satu diantara orang baik itu. Khai sangat ingat ketika ibunya pingsan di kamar beberapa tahun silam, pak Abdi lah yang membantu ia untuk membopong ibunya dan membawa ke rumah sakit. Saat itu bahkan mama tirinya tidak mau merespon sama sekali. Papanya juga tidak bisa dihubungi. Khai sangat stress memikirkan semua itu, hingga pak Abdi datang dan membantun dirinya. Dari situlah Khai mulai membalas perbuatan pak Abdi kepada dirinya. Senyuman tipis Khai pancarkan ketika kembali mengingat kejadian itu. Saat itu ia sangatlah membenci keluarganya sendiri. Tetapi perlahan.. Khai mulai menyembuhkan lukanya itu. "Apakah saya boleh bertanya kepada tuan Khai?" Tanya pak Abdi dengan hati-hati. Khai hanya menganggukkan kepalanya mendengar pertanyaan itu. "Hm.. Sebenarnya apa tujuan tuan masuk ke sekoah itu?" Khai langsung menoleh kepada pak Abdi. Ia tidak tau bagaimana mau menjawab pertanyaan dari sopirnya ini. "Tentu saja saya ingin belajar di sana, pak. Apalagi emangnya?" Jawab Khai yang tentunya. Pak Abdi tersenyum mendengar jawaban Khai. "Saya tau tuan sedang berbohong kepada saya. Belajar tidak mungkin menjadi alasan tuan untuk masuk ke sana." Khai tidak bisa berkata lagi. Khai menundukkan kepalanya, tak mau untuk menatap ke arah pak Abdi. Suasana diantara mereka seketika sunyi. Tidak ada yang membuka suara. Hingga Khai mendengar suara mobil yang mendekat. Khai menoleh kesumber suara begitu juga dengan pak Abdi. Dua orang pengawal pribadi dari rumah utama keluar dari mobil dan berjalan mendekati Khai. Khai menghela napas melihat kehadiran mereka berdua. Ia merasa sedikit kesal dengan keberadaan mereka di sini. Khai sangat tau jika mereka adalah suruhan dari mama tirinya. Kedua pengawal tersebut mendundukkan kepalanya di hadapan Khai. "Nyonya menyuruh tuan untuk pulang sekarang," ucap salah satu diantara mereka. "Iya saya akan pulang nanti. Kalian pulang saja duluan," Balas Khai. Tapi bukannya pergi, kedua pengawal itu malah tetap berdiri di hadapan Khai. Mereka memang tidak mengatakan satu kata pun tapi mampu membuat Khai mulai mengeluarkan emosinya. Khai bangkit dari duduknya dan menatap tajam kedua pengawal itu. Ia tau jika pengawal itu akan pergi kalau Khai ikut pergi bersama dengan mereka. "Kita pulang sekarang, pak!" Perintah Khai kepada pak Abdi. Pak Abdi dengan sigap berdiri dan berjalan mendahului Khai untuk membukakkan pintu mobi. Ketika Khai berjalan, kedua pengawal itu juga ikut berjalan di belakang Khai. Mereka masuk ke mobil yang tadi mereka bawa mengikuti mobil Khai dari belakang. Khai di dalam mobil menatap mobil yang ada di belakangnya. Ia tidak tau bagaimana mereka bisa mengetahui keberadaan dirinya. "Kenapa mereka bisa tau kalau kita ada di Danau ya, pak?" Tanya Khai kepada pak Abdi. Pak Abdi menelan ludahnya dengan susah payah mendengar pertanyaan dari Khai. "Pak?" Panggil Khai. Pak Abdi sama sekali tidak menjawab pertanyaan yang di lontarkan oleh Khai. "Nyonya memasang GPS di mobil ini tuan," Jawab Pak Abdi kepada Khai. Helaan napa berat keluar. Khai sudah bisa menebak hal itu. Untung saja mama tirinya itu tidak memasang GPS di handphone miliknya. Setengah jam berlalu, akhirnya Khai sampai di rumah. Ia keluar dari mobil dan terdiam di tempat untuk beberapa saat. Mamanya sudah berdiri di depan pintuk rumah dengan wajah datarnya. Khai yakin jika mamanya itu tidak berdiri di situ untuk menyambutnya pulang. Pak Abdi yang melihat Risma langsung ikut keuar dari mobil untuk menyapa majikannya itu. Khai mulai berjalan menuju Risma. Belum sampai Khai berada di depannya, Risma berjalan melewati Khai menuju pak Abdi. Tangan Risma menyentuh pipi Pak Abdi dengan keras. Suara nya terdengar sangat nyaring. Khai melebarkan kedua matanya ketika melihat apa yang Risma lakukan. Dengan cepat, Khai berjalan medekati Risma dan sopirnya. "Apa yang mama lakukan?!" Tanya Khai dengan sedikit meninggikan suaranya. "Saya menyuruh mu untuk membawanya pulang. Kenapa malah kamu menurti perkataannya? Apakah Khai yang menggaji mu selama ini?!" Risma meluapkan emosinya kepada Abdi. Ia Bahkan tidak menjawab pertanyaan dari Khai barusan. Tatapan tajam Risma berikan kepada sopirnya ini. Pak Abdi hanya bisa diam dan menundukkan kepalanya. Ia tau jika ia salah, oleh karenanya ia sama sekali tidak berani menatap wajah majikannya ini. "Maaf nyonya saya salah," tutur pak Abdi. Hanya itu yang bisa ia ucapkan untuk situasi yang ada sekarang ini. "Sekali lagi.. kalau kamu melawan perintah saya, kamu akan saya pecat." Risma mengalihkan pandangannya kepada Khai. Ia juga memberikan tatapan tajamnya kepada Khai. Tetapi Risma tidak mengatakan apapun kepada Khai. Ia malah berjalan masuk ke dalam rumah. Sepeninggalan Risma, Khai segera mendekat kearah Pak Abdi. Ia mengecek keadaan sopir kesayangannya ini. "Bapak gak papa kan?" Tanya Khai dengan nada khawatir. Pak Abdi menyungkirkan senyuman tipisnya. "Saya baik-baik aja tuan" jawabnya. Khai tidak yakinn dengan jawaban yang berikan oleh sopirnya. "Lebih baik sekarang tuan Khai masuk ke dalam. Nanti nyonya akan semakin marah kalau tuan masih berdiam di sini," saran pak Abdi. Khai menganggukkan kepalanya. Tanya berkata apa-apa lagi, Khai berjalan masuk ke dalam rumah. *** Akhirnya hari ini tiba. Hari yang Khai sudah nantikan begitu lama. Ia menatap dirinya di depan cermin yang sudah rapi dengan seragam sekolahnya. Khai mengambil tas ranselnya dan juga handphone miliknya. Ia berjalan keluar dari dalam kamar menuju ruang makan. Khai dapat melihat Risma sudah berada di sana sambil meminum teh kesukaannya. "Pagi ma.." sapa Khai. Risma hanya menganggukkan kepalanya, membalas sapaan dari Khai. Setelah Khai duduk, ia mulai mengambil dua lembar roti tawar yang menggoda. Untuk sarapan hari ini, Khai lebih memilih memakan roti saja. Ketika Khai sedang mengoleskan selai ke roti, Risma menatap penampilan Khai dengan seksama. "Jangan ada kesalahan di hari pertama mu masuk sekolah," tutur Risma. "Pasti. Saya tidak mungkin mengecewakan mama." "Saya tidak minta kamu untuk buru-buru mencari siapa pelakunya. Hanya saja kamu tidak boleh terlalu terlena dengan yang ada di sekolah itu nantinya. Jangan buat mereka mencurigai mu. Satu lagi.. kamu harus menarik perhatian mereka," sambung Risma lagi. Khai tidak mungkin bisa tidak menarik perhatian banyak orang. Dengan tampangnya yang seperti sekarang ini, tentu saja akan banya orang yang akan tertarik kepada Khai. Mungkin untuk masalah rupa, Khai akan menang. Apalagi jika terkait dengan kepintaran. Khai sudah muak dengan soal-soal yang sudah ia kerjakan. Bahkan ia sudah mengerjakan soal-soal yang seharusnya untuk mahasiswa. Jadi akan sangat mudah bagi Khai untuk menarik perhatian banyak orang. Khai sangat yakin itu. Setelah Khai selesai dengan sarapannya, ia segera bangkit dan tak lupa berpamitan ke Risma. Ia berjalan menuju luar rumah untuk naik ke dalam mobil yang akan membawanya ke sekolah barunya. Perjalanan dari rumah ke sekolah tidaklah lama. Hanya membutuhkan waktu sepuluh menit. Tetapi Khai merasa perjalanannya seperti satu menit saja. Walaupun ia konsisten dengan misinya, tapi Khai tetap merasa gugup kali ini. Pasalnya ini adalah kali pertama ia masuk ke dalam sekolah. Ia akan belajar bersama dengan murid-murid lainnya. Khai akan mulai bersosialisasi dengan teman-teman sebayanya. Sangat berbeda dari biasanya. "Sudah sampai tuan," ucap pak Abdi menyadarkan Khai yang masih bertaut dalam pikirannya sendiri. "Akh.. iya pak." Khai pun turun dari mobil. Ia dapat melihat banyaknya siswa yang sedang berjalan masuk ke dalam pekarangan sekolah. Khai menarik napas dalam dan menghembuskan dengan perlahan. Ia mencoba untuk meyakinkan dirinya jika ia bisa. Lima menit Khai berdiri mematung. Setelahnya ia pun mulai berjalan masuk ke dalam pekarangan sekolah bersama dengan siswa-siswa lainnya. Sebenarnya tempat ini tidak asing untuk Khai, karena Khai pernah masuk ke sekolah ini sekali. Walaupun begitu, Khai masih belum hafal betul mengenai lokasi dari sekolah ini. Seperti saat ini, ia bahkan tidak tau dimana letaknya kantor kepala sekolahnya. Khai harus melapor jika ia adalah siswa baru sekolah ini. Mata Khai menyusuri ruangan-ruangan yang ia lewati. Ia tidak tau harus bertanya dengan siapa untuk saat ini. Khai masih merasa canggung untuk berbicara oleh orang yang belum ia kenal. Akhirnya Khai menyerah. Ia berhenti di sudut koridor dan mulai membuka handphone nya. Khai hendak menghubungi mamanya untuk menanyakan dimana letak kantor. Tetapi belum sempat Khai menekan nomor mamanya, seseorang memegang pundak Khai. Khai menoleh ke dan mendapati wanita yang sangat familiar baginya. "Lo murid baru?" Tanya wanita itu. Khai menganggukkan kepalanya. "Lagi cari kantor kepsek ya? Mau gue antar gak?" Tawarnya. "Boleh." Tentu saja niat baik seseorang tidak boleh kita tolak. Khai dengan senang hati menerima tawaran dari wanita ini. Mereka berdua mulai berjalan menyusuri koridor. Khai sesekali menoleh ke arah wanita ini. Ia sangat ingin berbicara kepadanya. Menanyakan banyak hal yang masih menjadi tanda tanya di kepala Khai. Dengan keberanian yang mulai tumbuh, Khai mulai membuka suaranya. "Kita pernah ketemu kan?" Tanya Khai membuka percakapan diantara mereka berdua. Wanita itu menganggukkan kepalanya. "Waktu gue gak sengaja nabrak lo dan buat buku lo berserakan. Sorry atas kejadian itu," tutur Khai. "Santai aja. Kita banyak ketemu kan? Ya.. walaupun tanpa di sengaja. Tapi sepertinya mulai sekarang kita akan sering ketemu dengan sengaja. Lo satu sekolah sama gue." "Iya.. kenalin gue Khai. Murid baru di sekolah ini," Khai memperkenalkan dirinya kepada wanita itu. Wanita itu berhenti berjalan. Khai pun ikut berhenti berjalan. Ia menghadap ke arah Khai dan tersenyum. "Lamia," ucapnya. "Dan lo.. saudara Rama kan?" Pertanyaan dari Lamia membuat Khai melebarkan matanya. Ia tidak tau jika Lamia mengetahui hal ini. Pekerjaan Khai akan sia-sia jika identitasnya sebagai adiknya Rama diketahui oleh banyak orang. Lamia yang mengerti dari ekspresi yang Khai buat langsung memegang pundak Khai. Ia tertawa, mencoba mencairkan suasana. "Tenang aja. Gue gak akan bilang ke siapa-siapa. Gue tau lo adiknya Rama karena gue gak sengaja dengar percakapan kalian di taman waktu itu." "Gue harap lo akan pegang omongan lo," jawab Khai. Lamia menganggukkan kepalanya. "Jadi.. apa tujuan lo datang ke sekolah ini? Mencari keadilan? Atau mau mencari tau penyebab Rama meninggal?" Khai tidak tau bagaimana bisa Lamia mengetahui semua yang menjadi alasannya datang ke sini. "Gue.. gue ke sini untuk sekolah gak lebih." Lamia tersenyum mendengar jawaban klise dari Khai. Ia sangat tau betul jika Khai sedang membohongi dirinya. "Lebih baik kita kembali berjalan menuju kantor. Udah mau bel masuk kayaknya," pinta Khai. Khai tidak mau berlama-lama bersama dengan Lamia. Lamia sangat menyeramkan menurutnya. Lamia yang mendengar itu menunjuk ke arah belakang Khai. Khai mengikuti arah petunjuk Lamia dan membaca papan dengan tulisan kantor kepala sekolah. "Kita udah sampai," tutur Lamia. "Terimakasih udah ngasih tau gue arah kantor ini." Tanpa menunggu jawaban dari Lamia Khai berjalan menuju pintu kantor tersebut dan mengetuknya. Setelahnya, barulah Khai masuk ke dalam kantor tersebut meninggalkan Lamia yang masih diam di tempatnya. Tadinya Lamia ingin menunggu Khai sampai keluar dari kantor. Ia masih mau berbicara banyak hal dengan Khai. Tetapi bel tanda masuk sudah berbunyi dan Khai masih belum keluar dari dalam kantor. Lamia akhirnya menyerah. Ia pun kembali berjalan menuju kelasnya. Lamia tidak tau apakah ia akan berjumpa lagi dengan Khai atau tidak. Ia juga masih belum tau di kelas mana Khai akan masuk. Lamia sangat berharap Khai akan masuk ke kelasnya. Lamia masuk ke dalam kelas dan duduk di kursinya. Ia menoleh ke arah kanan ketika melihat temannya yang sedang di bully oleh Axel dan teman-teman brengseknya itu. Setiap hari hal ini selalu saja terjadi. Lamia sudah sangat muak dengan tawa yang mereka ciptakan di atas penderitaan orang lain. Tapi Lamia juga merasa beruntung sebenarnya. Ia tidak pernah sekalipun di bully oleh orang-orang itu. Karena memang mereka tidak pernah membully wanita. Kadang Lamia sedikit bingung oleh geng Axel. Kenapa korban yang mereka bully selalu saja laki-laki. Bahkan mereka sangat menghormati wanita. Walaupun begitu, bully tetaplah bully. Lamia tidak pernah membenarkan siapapun untuk membully. Jika ia memiliki sikap yang baik sekalipun, itu bukanlah poin plus untuknya. Lamia merutuki guru mata pelajarannya. Kenapa guru tersebut sangat lama sekali masuk ke dalam kelas. Pembullyan yang dilakukan oleh Axel dan teman-temannya semakin lama jadinya. Setelah menunggu sepuluh menit, Akhirnya guru mereka masuk ke dalam kelas dan membuat Axel dan teman-temannya itu berhenti untuk membully. Mereka duduk di bangku masing-masing seolah tidak terjadi apa-apa. "Selamat pagi semuanya!" Sapa guru Kimia mereka. "Pagi Bu.." balas murid. "Hari ini kita kedatangan teman baru. Saya harap kalian akan berteman dengan baik dan tidak menceritakan yang bukan-bukan kepadanya. Ingat.. jangan merusak nama baik sekolah!" "Baik Bu." Jawab murid-murid berbarengan. Lamia menatap ke arah depan dengan serius. Ia sangat berharap jika Khai lah yang akan menjadi murid baru di kelasnya. "Ayo masuk!" Perintah guru tersebut. Tak menunggu lama, murid baru yang dimaksud masuk ke dalam kelas dan seketika mendapatkan sorakan dari murid wanita khususnya. Khai tersenyum dengan penuh pesona. Ia akan membuat banyak mata memperhatikan dirinya mulai sekarang. "Silahkan perkenalkan diri kamu," ucap guru tersebut. "Perkenalkan gue Khai." "Wow.." "Ganteng gila." "Boyfriend goal." Semua wanita di dalam kelas mulai melontarkan pujian kepada Khai. Termasuk Lamia. Ia sangat bersyukur karena Khai masuk ke dalam kelasnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN