"Khai kamu duduk di bangku itu." Guru tersebut menunjuk sebuah bangku yang memang kosong tanpa penghuni. Semua mata tertuju kepada Khai yang mulai berjalan menuju bangku tersebut. Bangku yang pemiliknya sudah tidak ada lagi.
Khai duduk di tempat tersebut dan mengeluarkan bukunya. Ia terlihat biasa saja. Khai sangat tau jika tempat yang ia duduki sekarang ini merupakan tempat Rama dulu. Khai merasa nyaman berada di tempat ini. Pasalnya Khai seperti merasakan sosok Rama di dekatnya.
Khai mulai fokus ke depan. Memperhatikan guru yang sedang menjelaskan materi untuk hari ini. Materi yang bahkan Khai sudah sangat faham. Tetapi Khai mencoba untuk mengikuti pembelajaran yang ada di sekolah ini.
Murid-murid di dalam kelas juga terlibat sangat konsentrasi dengan materi yang sedang di jelaskan. Khai lupa jika kelas ini adalah kelas unggulan. Pantas saja mereka sangat konsen dengan pembelajaran yang di berikan.
Sesi soal akhirnya di mulai. Semua murid di berikan satu soal oleh guru Kimia. Tampak dari raut wajah mereka yang seperti sangat tertekan. Kelas mereka memang unggulan, dan tentu saja soal yang diberikan lebih sulit dari kebanyakan.
Beberapa dari mereka ada yang menjawab pertanyaan dengan benar dan beberapa ada yang menjawab salah. Wajar saja jika salah.
Hingga satu pertanyaan yang diberikan oleh guru tersebut. Pertanyaan yang bahkan tidak dapat dijawab oleh sang ranking satu di kelas ini. Khai yang melihat itu membuatnya menjadi peluang bagi dirinya.
Dengan cepat Khai mengangkat tangannya dengan tinggi. Ia menatap tenang guru yang sedang menatapnya dengan penuh tanda tanya.
"Kenapa Khai?" Tanya guru tersebut.
"Saya mau menjawab soal itu, Bu." Khai menunjuk soal yang sudah tertera di papan tulis. Semua mata seketika langsung menoleh ke arah Khai. Mereka menatap Khai dengan penuh selidik. Meremehkan Khai dengan tatapan mata mereka.
"Baik kamu bisa maju," tutur guru tersebut. Khai dengan langkah yang pasti berjalan menuju depan kelas. Ia mengambil spidol yang berada di meja dan mulai mengerjakan soal yang ada di depannya ini.
Tak butuh waktu lama, Khai dengan cepat langsung bisa menjawab pertanyaan tersebut. Guru kimia yang melihat itu langsung memberikan senyumannya. Ia tidak menyangka Khai mampu mengerjakan soal yang bahkan tidak bisa dikerjakan oleh siswa lainnya.
"Jawaban Khai benar."
Perkataan dari guru tersebut membuat para siswa menatap Khai dengan takjub. Beberapa diantara mereka bahkan ada yang bertepuk tangan. Lamia yang melihat itu juga ikut memberikan applaus untuk Khai.
Khai kembali berjalan menuju tempat duduknya. Tepat di belakangnya, Axel mengapa Khai dengan pandangan yang sulit diartikan. Khai dapat merasakan itu, tetapi ia berpura-pura untuk bersikap biasa saja. Khai malah kembali fokus dengan materi yang di sedang di bahas di depan.
Tak terasa.. waktu berjalan dengan cepat. Bel tanda istirahat telah berbunyi dan siswa sudah berhamburan keluar dari kelas. Khai masih tidak tau harus pergi ke mana. Ia tidak memiliki seorang pun yang ia kenal di sini.
"Beliin gue makanan di kantin!" Perintah dari seseorang yang ada di sampingnya membuat Khai menoleh ke sumber suara. Khai dapat melihat tiga orang pria yang sedang menganggu murid lainnya.
Pria dengan kaca mata itu dengan cepat langsung berdiri dari duduknya dan berlari dengan tergesa-gesa keluar dari dalam kelas.
"Lima menit!" Teriak salah satu diantara mereka dengan kuat.
"Lama banget lima menit. Biasanya dia mah bisa empat menit dah sampai di sini," jawab teman nya.
"Biarin aja. Mana tau dia ngantri."
Mereka kembali tertawa. Khai mengernyitkan dahinya. Ia tidak mengerti mengapa mereka tertawa seperti itu. Menurutnya tidak ada yang sedang lucu sekarang.
Perlahan mereka menoleh ke arah Khai. Mereka bertiga juga menatap Khai dengan serius. Sepertinya mereka sadar jika Khai sedang menatap mereka.
Salah satu diantara pria tersebut berdiri hendak menuju ke arah Khai. Tetapi langkahnya berhenti ketika Lamia memegang pundak Khai dan membuat Khai mengalihkan pandangannya.
"Kantin, yuk!" Ajak Lamia. Tanpa menunggu jawaban Khai, Lamia segera menarik tangan Khai dan membawa paksa Khai dari dalam kelas.Ketiga pria itu menatap kepergian Lamia dan Khai.
Lamia melewati kerumunan siswa-siswi yang sedang beristirahat itu. Ia masih terus memegang tangan Khai dengan erat. Sebenarnya tujuan Lamia bukanlah kantin. Ia hanya ingin menyelamatkan Khai dari Axel dan kedua temannya itu.
Lamia akhirnya memutuskan untuk membawa Khai menuju taman belakang. Taman yang sangat jarang di datangi oleh siswa lainnya. Bahkan saat mereka tiba, tidak ada orang lain selain Khai dan Lamia.
Khai dan Lamia berdiri saling berhadapan. Tatapan mata Lamia membuat Khai sedikit terpesona. Ia seperti pernah melihat tatapan mata yang seperti itu.
"Jangan serius banget lo tatap gue. Nanti Lo suka lagi," tutur Lamia membuka pembicaraan. Ia melepaskan tangan Khai dan duduk di bangku yang ada.
Lamia menepuk bangku yang ada di sebelahnya. Menyuruh agar Khai bisa duduk di sampingnya. Khai menuruti perintah Lamia. Ia sebenarnya tidak tau kenapa dari tadi ia selalu menuruti perintah Lamia. Lamia seperti memiliki sihir yang mampu membuat Khai diam seribu bahasa.
"Lebih baik lo menjauh dari mereka."
"Maksud lo?"
Lamia menghela napas panjang. Ia menatap Khai dengan serius dan memegang pundak Khai. "Orang yang lo tatap tadi. Mereka gak baik, Khai. Jangan pernah lo deketin mereka." Lamia memperjelas ucapannya. Khai baru mengetahui jika pria yang tadi ia tatap bernama Axel.
"Emangnya kenapa? Dia sebegitu bahayanya untuk gue emangnya?" Tanya Khai lagi. Khai tidak ingin untuk terhasut oleh perkataan orang lain. Ia harus mengetahui dengan jelas alasan Lamia menyuruhnya untuk tidak dekat dengan Axel.
"Lo akan terkejut kalau gue kasih tau. Mungkin juga lo akan membenci mereka setelah gue kasih tau, Khai."
Khai semakin tidak mengerti dengan semua ucapan yang Lamia lontarkan. "Maksud lo apa sebenarnya? Gue sama sekali gak ngerti arah pembicaraan yang lo lontarkan ini," seru Khai dengan sedikit kesal. Ia paling tidak suka jika orang berbicara setengah-setengah.
Lamia hanya tersenyum mendengar perkataan Khai. Ia malah bangkit dari duduknya. Lamia mulai berjalan meninggalkan Khai yang masih dipenuhi oleh pertanyaan.
"Kenapa lo malah pergi. Lo yang tadi bawa gue sendiri dan melontarkan perkataan-perkataan gak jelas lo. Dan sekarang lo malah mau pergi gitu aja. Dasar cewek aneh!" Teriak Khai dengan kesal.
Lamia menoleh ke arah Khai. Ia tersenyum tipis sangat tipis. "Merek selama ini udah banyak membully sodara lo. Jadi gue harap lo akan lebih berhati-hati dengan mereka. Jangan sampai mereka tau kalau lo itu adiknya Rama. Bisa berabe nantinya.
"Mereka yang membully Rama?"