Bagian 16

1247 Kata
Lamia diam beberapa saat. Pertanyaan dari Khai tidak ia jawab. Melihat itu, Khai yang berjalan mendekati Lamia. Ia memegang tangan Lamia dengan erat. "Katakan yang sebenarnya, Lamia. Mereka yang udah membully Rama?" Tanya Khai lagi. Lamia mengerjabkan matanya ketika melihat ekspresi wajah yang diberikan oleh Khai. Khai benar-benar sangat menyeramkan saat ini. Seperti di hipnotis, Lamia menganggukkan kepalanya. Ia membenarkan pertanyaan dari Khai. "Lo tau dari mana kalau mereka yang membully Rama?" "Semua orang juga tau kali. Axel dan teman-temannya itu memang terkenal kalau soal bully membully. Rama bukan satu-satunya korban mereka. Nugi.. dia yang sekarang lagi jadi bahan pembullyan mereka. Dan gak ada satu orang pun yang bisa menghentikan tindakan mereka itu," jelas Lamia kepada Khai. Khai semakin kesal mendengar penjelasan yang dilontarkan oleh Lamia. Rama bukanlah satu-satunya korban mereka. Mungkin juga sudah banyak dari korban mereka yang memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. "Lo pernah tanya kan sama gue, kenapa gue masuk ke sekolah ini?" Lamia mengingat pertanyaannya tadi pagi yang ia lontarkan kepada Khai. "Iya dan lo jawab kalau lo mau belajar di sini." "Bukan itu tujuan utama gue untuk masuk ke sekolah ini," tutur Khai. "Maksud lo?" Khai mendekatkan bibirnya ke telingga Lamia. Lamia menelan ludahnya ketika menyadari posisi dirinya dan Khai yang begitu dekat. "Gue mau malas dendam dengan orang-orang yang udah membully Rama. Itu adalah alasan gue yang sebenarnya." Khai kembali menjauhkan dirinya dari Lamia. Ia melihat ekspresi yang Lamia berikan seperti biasa saja. Lamia tidak menampakkan keterkejutannya. "Gue udah bisa menebaknya. Berarti kabar itu benar.. Rama meninggal karena pembullyan yang di lakukan oleh mereka. Jadi apa yang akan Lo lakukan setelah Lo tau siapa yang udah membully Rama?" "Lo lupa yang barusan gue bilang? Gue mau balas dendam," ucap Khai. "Banyak jenis balas dendam yang bisa lo lakuin, Khai. Gue mau tau balas dendam seperti apa yang akan lo berikan kepada mereka." "Gue kehilangan Rama gara-gara mereka. Nyawa harus dibayar oleh nyawa. Mereka akan menyesal karena telah membuat Rama memutuskan untuk melenyapkan nyawanya sendiri." Entah kenapa Lamia tersenyum mendengar perkataan Khai. Ia seperti tertarik dengan tindakan yang akan Khai lakukan kedepannya. Lamia menepuk pundak Khai. "Semoga berhasil," ucapnya. Setelah mengatakan itu, Lamia berjalan pergi meninggalkan Khai sendiri di taman. Sepeninggalan Lamia, Khai baru menyadari sesuatu. Seketika ia menepuk kepalanya sendiri. Khai merasa sangat bodoh karena sudah memberitahukan kepada Lamia mengenai niatnya datang ke sini. Ia baru saja bertemu dengan Lamia dan masih belum mengenal wanita itu. Kenapa bisa Khai malah memberitahukan semuanya. Masih ada kemungkinan Lamia bisa membongkar semua niatnya ini kepada Axel. Bel tanda masuk berbunyi. Khai sangat tidak memiliki niat untuk masuk ke dalam kelas. Moodnya sudah tidak baik hari ini. Tetapi Khai tidak mungkin masuk ke dalam kelas. Ini adalah hari pertama ia berada di sekolah ini. Mau tidak mau, Khai pun berjalan menuju ke dalam kelas. Ia melewati koridor dari belakang. Karena ini taman belakang, suasana di daerah sini memang sepi. Langkah Khai berhenti ketika ia melihat Axel dan kedua temannya itu berjalan keluar dari sebuah ruangan. Ruangan yang tidak Khai ketahui apa itu dan untuk apa ruangan itu. Mereka bertiga berjalan menuju kelas. Khai yang melihat mereka sudah pergi langsung berjalan menuju ruangan tersebut. Khai memegang kenop pintu dan hendak membukanya. Tetapi pintu tersebut tidak bisa di buka. Padahal mereka pergi tadi tidak mengunci pintu ini. Usaha Khai kali ini gagal. Mungkin ia harus mencari tau lebih mengenai ruangan yang ada di depannya ini. Khai pun memutuskan untuk kembali ke dalam kelas. Mata Khai langsung tertuju kepada Lamia ketika ia baru saja masuk ke dalam kelas ini. Khai melihat Lamia yang sedang membuka bukunya dan sibuk dengan buku yang ada di hadapannya. Sepertinya Khai juga harus mengawasi Lamia. Ia takut Lamia akan mengatakan rahasianya. Khai duduk di bangku miliknya. Ia juga mulai mengeluarkan buku kosong miliknya. Hingga Axel memegang pundak Khai dan membuat Khai menoleh ke arahnya. Axel memberikan senyumannya kepada Khai. "Lo les di mana, bro? Kok lo bisa jawab pertanyaan kimia tadi? Spill lah tempat lo belajar.. biar gue bisa nambah ilmu nih," tutur Axel kepada Khai. Khai menatap wajah Axel untuk beberapa saat. Axel serius menanyakan hal itu. "Gue belajar di rumah sendiri," jawab Khai. Ia memang tidak pernah belajar di luar seperti kebanyakan orang seusianya. "Masa sih.. kok lo bisa sepintar itu ya? Atau mungkin gen Lo ya? Orang tau lo pasti pintar. Makannya anaknya ikutan." Axel melepaskan tangannya dari pundak Khai. Khai hanya diam mendengar perkataan Axel itu. Ia menoleh ke arah kedua teman Axel yang tersenyum melihat tingkah Axel sendiri. "Makannya lo belajar lebih giat, Xel. Biar pinter. Jangan cewek aja di otak lo," sahut salah satu diantara temennya. "Kalo gue gak belajar gak mungkin lah gue masuk di kelas ini.. gila ya lo!" Seru Axel tak mau kalah. Khai tidak mengerti mengapa perbincangan diantara mereka malah membahas hal yang tidak penting seperti ini. Setahunya, jika mereka orang yang benar-benar bandel, pastinya mereka tidak akan peduli dengan hal belajar. Mungkin saja mereka memiliki orang tua yang kaya. Yang bisa membantu mereka untuk mencapai keinginan mereka. Khai kembali menghadap ke depan. Ia masih mendengar perbincangan dari Axel mengenai kepintaran dan lain sebagainya. Sesekali Khai juga menoleh ke arah sampingnya. Pria yang tadi Axel bully. Dia malah sibuk dengan handphone miliknya. Tidak menunggu lama, seorang guru masuk ke dalam kelas. Mata pelajaran yang berbeda akan segera di mulai. Sebenarnya Khai juga suka dengan sistem belajar di kelas ini. Walaupun ia sudah mengerti mengenai materi yang diberikan, tetapi Khai lebih suka jika orang menjelaskan materinya dengan rinci. Khai malah akan semakin pintar jika seperti ini terus. Saat ini bahan bukunya sudah di penuhi oleh berbagai rumus yang diberikan oleh guru. Tidak ada satu pun siswa yang membuka suaranya. Mereka dengan serius mencatat semua materi yang diberikan. Khai sepertinya beruntung bisa masuk di kelas ini. Kelas yang memang sesuai dengan dirinya. Tidak ada kebisingan dan serius jika sedang belajar. Satu jam setengah tak terasa berjalan dengan cepat. Pelajar fisika memang sangat membuat Khai merasa lebih baik. Moodnya malah kembali seperti semula. Biarpun tadi Lamia sempat membuat moodnya memburuk. Tapi dengan klik pelajaran fisika ini, Khai malah membaik dengan cepat. Ia mengerjakan soal yang diberikan dengan cepat. Bahkan Khai hanya membutuhkan waktu satu menit untuk satu soal. Mengerjakan soal adalah salah satu kegiatan kesukaan bagi Khai. Setelah ia siap mengerjakan soal, Khai segera mengumpulkan bukunya. Ia di persilahkan keluar dari kelas karena telah selesai dengan soal-soal yang diberikan. Khai merasa sangat senang jika sistem pembayarannya seperti ini. Ia malah memiliki banyak waktu untuk mengenal tempat ini. Untuk mengenal orang-orang yang telah menyembunyikan mematikan Rama. Tujuan Khai kali ini ialah ruangan yang tadi masih belum bisa ia buka. Khai masih penasaran dengan ruangan itu. Kenapa pintunya tidak bisa di buka. Setelah sampai di depan pintu, Khai kembali mencoba untuk membukanya. Tetapi hasilnya sama seperti tadi. Sama sekali tidak bisa di buka. Khai pun mulai mengintip dari lubang kunci yang ada. Ia sama sekali tidak melihat apapun. Karena lubang tersebut kecil. Sepertinya kali ini Khai harus menyerah. Khai melebarkan matanya ketika mendengar langkah kaki yang semakin mendekat. Ia pun segera berlari untuk bersembunyi. Tidak ada seorang pun yang boleh tau jika Khai sedang mengintai ruangan ini. Khai bersembunyi di balik dinding. Ia dapat melihat Axel yang berjalan sendiri menuju ruangan itu. Hanya dengan menggunakan tangannya, Axel bisa membuka pintu tersebut. Khai yang melihat itu menjadi mengerti. Mungkin mereka memakai sensor tangan mereka untuk bisa masuk ke dalam ruangan itu. Sepertinya pekerjaan Khai akan semakin rumit kedepannya. Ia harus mencari cara agar ia bisa masuk ke dalam ruangan tersebut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN