Bagian 17

1454 Kata
Setelah misinya masih belum bisa Khai lakukan, Khai tidak tau harus pergi ke mana. Memang ketika tidak memiliki orang yang dekat, rasanya sangat sepi. Seperti saat ini, Khai hanya berjalan tanpa arah entah kemana. Menyusuri sekolah yang besar ini. Ia bahkan sudah melihat kolam renang yang ada ada di dalam sekolah ini. Khai sangat senang meliahat itu. Pasalnya ia baru pertama kali melihat kolam renang yang ada di pekarangan sekolah. Sepegetahuan Khai, sekolah sangat arang ada yang memiliki fasilitas kolam renang di dalamnya. Sekarang ini Khai sudah berada di lapangan bola basket. Lapangan ini memang di dalam ruangan dan suasana di dalam ruangan ini sangat pas dengan kepribadian Khai. Sangat sunyi dan nyaman. Khai tidak tau kenapa orang-orang tidak banyak berkunjung ke tempat ini. Ia mulai berjalan menaiki tangga dan duduk di kursi penonton. Khai memejamkan kedua matanya dan mendengarkan kepalanya di kursi tersebu. Khai menikmati suasana dan aura yang ada di dalam lapangan ini. Hampir lima belas menit Khai menikmati posisinya. Hingga ia mendengar suara langkah kaki yang mulai mendengat ke arahnya. Posisi Khai tetap tidak berubah. Tangan menyentuh pundak Khai yang akhirnya membuat Khai membuka matanya. Ia mendapatkan wajah Lamia dengan senyuman tipis itu. Khai mengeryitkan dahinya melihat kehadiran Lamia di sini. Lamia juga sudah duduk tepat di sebelah kiri Khai. "Lo tau dari mana gue ada di sini?" Tanya Khai kepada Lamia. "Feeling." Khai tersenyum miring mendengar perkataan Lamia. Sangat tidak masuk akal jika hanya mengandalkan feeling. Khai diam dan tidak melanjutkan pembicaraan. Untuk sesaat Lamia dan Khai hanya diam menikmati kesunyian yang ada di ruangan ini. Khai sebenarnya juga tidak tau harus membuka pembicaraan apalagi dengan Lamia. Lamia hanya orang baru bagi Khai, tetapi Khai sudah membicarakan rencananya kepada wanita ini. Oleh karena itu Khai tidak ingin membuka pembicaraan lagi dengan Lamia. Ia takut akan semakin membicarakan rencananya lebih jauh lagi. "Gue mau ngomong sama lo, Khai." Lamia menatap takut Khai. Khai menoleh dan menatap dalam mata Lamia. Khai tidak mengatakan apapun, karena itu Lamia pun kembali melanjutkan omongannya. "Gue udah berpikir lama soal ini. Gak lama juga sih sebenarnya.. soalnya kan lo baru bicara tadi pagi. Tapi selama beberapa jam ini dan gue udah berpikir, gue memutuskan. Gue memutuskan untuk bantu lo, Khai. Gue tau menurut lo mungkin gue bercanda sekarang, tapi gue akan ngelakuin apapun yang bisa gue bantu untuk rencana lo itu," tutur Lamia. Tentu saja penuturan Lamia barusan membuat Khai terkejut mendengarnya. Khai tidak pernah berpikir bahwa ia memiliki teman untuk melancarkan aksinya ini. Terlebih lagi orang itu adalah Lamia. Tetapi ketika Khai menatap mata Lamia, ia sama sekali tidak menemukan kebohongan ataupun candaan dari perkataan yang barusan Lamia lontarkan. "Lo gak mau respon ucapan gue tadi?" tanya Lamia dengan sedikit ragu. "Gue masih syok dengan ucapan lo ataupun tawaran lo itu. Gue gak butuh bantuan lo, Lamia. Lagian lo dari mana dapat ide untuk bantuin gue? Jangan aneh-aneh deh," tolak Khai secara langsung. Khai sebenarnya tidak yakin dengan ucapannya sendiri. Bantuan? mungkin Khai akan sangat memerlukan bantuan itu. Tetapi ia masih belum yakin dengan semuanya. Apalagi dengan pernyataan Lamia yang secara tiba-tiba seperti ini. Raut wajah kecewa langsung terpancar di wajah Lamia. Ia sangat kecewa dengan penolakan Khai. Niatanya benar-benar tulus untuk membantu Khai, tetapi Khai malah menolaknya seperti ini. Khai sudah tidak tahan dengan suasana yang malah membuatnya sedikit tidak nyaman. Ia berdiri dari duduknya dan hendak pergi meninggalkan Lamia di tempat ini. Tetapi Lamia tidak tinggal diam. Dia juga ikut berdiri dan memegang tangan Khai agar tidak pergi dan meninggalkannya. "Kasih gue alasan kenapa gue gak boleh untuk bantuin lo?" tanya Lamia. "Kasih gue alasan kenapa lo mau bantuin gue?" bukannya menjawab, Khai malah kembali melemparkan pertanyaan kepada Lamia. "Jujur gue muak dengan semua tingkah mereka di sekolah ini. Banyak murid yang udah jadi korban mereka dan semua yang menyaksikan hanya diam tanpa mengatakan apapun. Gue sangat membanci situasi yang seperti itu. Gue murni mau bantuin lo, Khai. Lo bisa tes gue dulu kalau lo mau dan kalau gue gak sesuai dengan kriteria lo, lo bisa buang gue." Lamia bersikeras untuk ikut membantu Khai dalam misi Khai. Tetapi tetap saja, Khai sangat sulit untuk menerima orang dalam hidupnya. "Ini enggak mudah Lamia.. lo gak mungkin bisa bertahan dengan semua yang akan terjadi nantinya. Gue sendiri bahkan gak tau apakah rencana gue ini akan berhasil atau enggak. Gue gak mau buat orang lain terluka karena gue," jelas Khai dengan frustasi. Khai Sudah tidak tau lagi bagaimana menjelaskan semuanya kepada Lamia yang sangat keras kepala ini. Khai melepaskan tangan Lamia yang memegang lengannya. Ia menatap wajah Lamia dengan wajah datarnya. Khai berjalan pergi meninggakan Lamia. Ia menuruni tangga dan berjalan menuju pintu keluar. Lamia yang melihat Khai pergi meninggalkannya segera berlari mengejar langkah Khai. "Gue ngelakuin semua ini karena gue tau rasanya kehilangan!" teriak Lamia dengan keras. Teriakan Lamia berhasil membuat Khai berhenti. Khai berbalik badan melihat Lamia. Napas Lamia yang masih ngos-ngsan karena mengejar Khai masih bisa terlihat. "Gue tau gimana rasanya, Khai. Karena gue pernah ngerasin itu.. tapi gue enggak seberuntung lo. Lo masih bisa mencari orang yang telah membuat lo menderita dan lo bisa membalaskan dendam lo. Sedangkan gue.. gue gak bisa ngelakuin itu. Karena itu.. tolong terima niat baik gue ini," pinta Lamia lirih. Khai sama sekali tidak menunjukkan ekspresi apapun. Ia juga tidak mengatakan apapun kepada Lamia. Khai diam sesaat dan setelahnya.. ia malah kembali melanjutkan jalannya. Khai meninggalkan Lamia. Lamia yang melihat itu tanpa sadar mengeluarkan air matanya. Ia merasa sangat sedih dan kecewa dengan Khai. Padahal Lamia sangat berharap dengan Khai. Lamia menghapus air matanya dan menghela napas panjang. Ia tidak mau terlihat menyedihkan seperti saat ini. *** Khai melihat Lamia yang abru saja masuk ke dalam kelas dengan penampilan seperti biasanya. Seperti tidak terjadi apa-apa. Tetapi satu yang berbeda dari Lamia, ia sama sekali tidak melihat atapun melirik Lamia sama sekali. Tak lama kemudian, Axel dan kedua teman nya masuk ke dalam kelas dengan santai. Mereka bertiga duduk di bangku dan mengeluarkan buku. "Gila.. gue stress banget tadi malam.. tapi materinya masih gak sampek-sampe ke otak gue. Masih di ujung sini.. belum masuk ke intinya." Salah satu teman Axel membuka pembicaraan. "Emang lo nya aja yang males belajar, Gilak!" sahut yang lainnya. "Ya emang gurunya aja yang rada. Yakali kasih informasi cuman tiga hari sebelum ujian," belanya. "Itu waktu yang cukup untuk orang-orang yang serius. Gak kek lo.. malah handphone teross.." Axel hanya bisa tertawa mendengar pertengkaran kedua sahabatnya ini. Tetapi ia tetap konsen dengan materi yang ada di depannya. Tak beberapa lama kemudian, seorang guru masuk ke dalam kelas. Semua murid langsung menyimpan buku-buku mereka ke dalam tas ketika melihat gurunya sudah datang. Kelas ini memang sangat menuruti peraturan yang ada. Guru bahkan tidak perlu untuk mengkhawatirkan terjadinya kecurangan dalam ujian. Karena memang mereka tidak akan melakukan itu. "Ada anak baru di kelas ini?" tanya guru tersebut. Khai pun mengangkat tangannya. "Hari ini kelas ini akan ujian fisika. Mungkin karena kamu anak baru, kamu bisa menunggu di luar untuk pembelajaran hari ini," tutur guru tersebut. Khai tidak berniat untuk menunggu sendiri di luar sana. Ia bahkan tidak tau di mana tujuannya kalau di luar sendiri. "Maaf bu.. apakah saya boleh untuk mengikuti ujian?" tanya Khai. Sekali lagi semua mata terarah ke arah Khai. Meraka merasa Khai sangat aneh dan menyia-nyiakan kesematan emas. Mereka bahkan sangat ingin untuk tidak mengikuti ujian hari ini, sedangkan Khai malah mengajukan dirinya untuk ikut ujian. "Kamu yakin?" "Yakin bu," jawab Khai yakin. Guru tersebut pun mengizinkan Khai untuk mengikuti ujian darinya. Lembar-lembar kertas mulai di bagikan. Para murid mulai menghela napas panjang ketika melihat soal-soal yang akan mereka pecahkan. Setelah pembagian soal, para siswa fokus dengan pekerjaan masing-masing. Hanya di beri waktu empatpuluh lima menit untuk soal yang harus mereka kerjakan. Tetapi Khai tidak membutuhkan waktu sebanyak itu. Khai hanya membutuhkan waktu 25 menit untuk menjawb seluruh soal. Tetapi Khai tidak langsung menyerahkan hasil jawabannya kepada guru yang ada di depan. Khai tau pasti dia akan di suruh menunggu di luar. Karena itu Khai akan menunggu sampai jam ujian berakhir baru ia akan mengumpulkan ujiannya. Menunggu waktu, Khai menggambar di kertas kosong miliknya untuk membuang waktu kosongnya. Tak terasa akhirnya waktu ujian berakhir, Khai mengumpulkan kertas yang sudah berisikan soal-soal yang sudah ia jawab. Khai kembali menoleh ke arah Lamia yang hanya diam duduk di kursinya. Kertas Kami sudah ia kumpulkan. Karena itu ia hanya diam di dalam kelas tanpa melakukan apapun. Padahal beberapa siswa sudah ada yang berjalan untuk istirahat ke dua. Melihat itu, Khai pun berjalan menghampiri Lamia dari belakang. Ia tau kalau tindakan dia saat ini mungkin sudah tidak Khai pikirkan lagi. Khai hanya butuh seseorang untuk melakukan aksinya ini. Khai memegang pundak Lamia dan membisikan kalimat yang sangat ingin Lamia dengar selama ini. "Lo boleh bantuin gue."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN