Bisikan Khai membuat Lamia melebarkan kedua matanya. Lamia tersenyum mendengar bisikan itu. Ia segera berdiri dari duduknya.
"Lo serius ini?" Tanya Lamia mencoba untuk meyakinkan pendengarannya. Khai menganggukkan kepalanya, menandakan jika ia serius dengan ucapannya. Lamia semakin senang, ia sangat ingin memeluk tubuh Khai saat ini. Tapi niatnya itu ia tahan karena masih banyak teman-teman sekelasnya yang masih ada di kelas.
"Karena lo udah bagian dari misi ini, lo harus ngasih tau gue semua hal terkecil mengenai mereka," tutur Khai. Khai tidak ingin terlalu lama menyelesaikan misinya ini. Ia ingin segera mungkin menyelesaikan sehingga Khai bebas dari segalanya.
"Oke.. sekarang lo ikut sama gue."
Lamia pun berjalan mendahului Khai. Khai mengikuti Lamia. Mereka berdua berjalan menuju kantin sekolah. Sebenarnya Khai tidak tau kenapa Lamia malah mengajaknya ke tempat ini. Lamia mengambil tempat di sebuah tempat yang cukup strategis menurutnya. Ia duduk di kursi dan menyuruh Khai juga ikut duduk di depannya.
"Ngapain Lo ngajak gue ke tempat ini?" Tanya Khai. Ia masih bingung mengapa Lamia malah mengajaknya ke kantin yang sebenarnya tidak akan membantu rencananya sama sekali.
"Tunggu aja.. lo akan tau kenapa gue ajak Lo ke sini. Gue mau pesan makanan dan minuman, lo mau apa?" Tawar Lamia.
"Enggak usah," tolak Khai. Lamia bangkit dari duduknya menuju tempat jualan.
Khai yang menunggu di kursi menatap heran orang-orang yang menatap dirinya. Khai tidak tau kenapa mereka menatapnya dengan tatapan seperti itu. Beberapa perempuan yang lewat juga kadang memotret Khai. Khai merasa risih jika suasananya sudah seperti ini.
Ia sesekali melihat ke arah Lamia. Menunggu Lamia untuk kembali duduk bersamanya. Sendirian seperti ini semakin membuat Khai terlihat aneh.
Tak beberapa lama kemudian, Lamia pun kembali duduk bersama Khai. Ia memberikan Khai sebotol jus dingin. "Lama banget lo," ucap Khai dengan sedikit kesal. Ia langsung menyeruput jus yang diberikan oleh Lamia. Lamia tersenyum melihat itu, pasalnya tadi Khai bilang untuk tidak usah membelikannya apapun.
"Ngantri. Bentar lagi makana kita diantar." Lamia tak bisa mengalihkan tatapannya dari Khai sekarang. Entah kenapa ia menjadi suka melihat Khai berada di dekatnya. Biarpun kelihatan dingin, Khai sebenarnya memiliki hati yang hangat. Mungkin Lamia belum bisa mendapatkan kehangatan itu.
"Gue penasaran, kenapa orang-orang pada lihatin gue begitu ya? Penampilan gue aneh emang?" Tanya Khai mengemukakan penasarannya.
"Gak aneh kok.. emang lo lagi viral aja. Kan udah gue bilang, lo akan tau nanti. Ini maksud gue.. semua orang banyak yang suka sama lo. Mulai dari wajah lo, sampai otak lo itu. Murid baru, masuk di kelas unggulan, pintar plus tampan. Dari hari pertama aja udah banyak yang suka sama lo," jelas Lamia.
"Mereka tau dari mana gue pintar dan masuk kelas unggulan? Perasan gue gak pernah bergaul sama siapapun selain lo."
Lamia mengeluarkan handphone dari sakunya. Ia membuka sesuatu dan menunjukkannya kepada Khai. Sebuah situs yang tidak Khai ketahui. Tetapi tertera nama sekolah ini dan juga sebuah foto Khai. Foto di mana Khai duduk di kantin, foto saat ini ia berada. Mungkin foto ini diambil oleh salah satu siswi yang memotretnya tadi.
"Apa ini?"
"Web sekolah. Kalau ada berita-berita terbaru di sekolah ini, akan dengan cepat masuk ke situ. Buktinya foto Lo sekarang ada di situ. Banyak yang udah tau kehadiran lo, Khai. Cuman Lo nya aja yang gak sadar.. mungkin sekarang lo akan sadar setelah gue kasih liat itu."
Khai menscrool web itu ke bawah. Memang banyak berita sekolah yang ada di web ini. Bahkan berita dari perselingkuhan salah satu guru tertera di sini. Tapi Khai masih belum menemui berita mengenai kematian Rama.
"Kenapa berita Rama sama sekali gak ada di halaman ini? Padahal lo bilang semua berita ada di sini," Khai menatap Lamia dalam sambil menunjukkan handphone Lamia.
"Semuanya emang ada di situ, Khai. Terkecuali berita kematian yang sengaja di tutupi. Rama contohnya. Gak akan ada berita Rama di situ, karena memang pihak sekolah akan dengan cepat menghapusnya. Gak adil, ya?"
"Sama sekali gak Adil."
Lamia menghela napas. Mungkin sudah saatnya ia menceritakan sisi buruk dari sekolahnya ini kepada Khai. Mungkin dengan menceritakan ini, Khai akan mendapatkan ide untuk memulai rencananya.
"Pembullyan di sekolah ini sama sekali gak di larang, Khai. Lo sama sekali gak akan di pedulikan. Guru, security dan bahkan murid-murid di sekolah ini akan pura-pura tuli dan buta dengan segalanya. Hanya bisa diam menyaksikan tindakan orang-orang itu. Kalau ada yang bertindak, mungkin orang itu akan dijadikan korban selanjutnya. Bahkan guru saja pernah di bully dan membuatnya mengundurkan diri. Banyak sekali murid-murid di sini yang pindah karena tidak tahan dengan semuanya. Dan banyak juga yang mengakhiri hidupnya karena pembullyan itu. Rama salah satunya," jelas Lamia.
Khai tidak tau ada sekolah yang tidak perduli dengan mental muridnya. Ini adalah sekolah yang sangat aneh menurut Khai.
"Karena itu gue udah muak sama semuanya. Gue gak mau lihat orang-orang itu tertawa di atas penderitaan orang lain. Padahal mereka gak salah tetapi malah mendapatkan perlakuan seperti itu. Gue juga gak tau kapan giliran gue tiba, mungkin aja suatu saat gue akan menjadi korban mereka," sambung Lamia.
"Semua pembullyan yang terjadi, apakah Axel yang melakukannya?"
"Enggak.. tapi rata-rata Axel dan kedua temannya itu yang melakukannya. Mereka itu enggak akan mendapatkan masakan apapun di sekolah ini, Khai. Orang tua mereka punya saham di sekolah ini. Gak mungkin mereka di salahkan atau mendapatkan masalah sekecil apapun."
Seketika Khai mengingat sebuah ruangan yang Axel masuki bersama teman-temannya. Ruangan yang tidak bisa Khai buka sama sekali. "Kemarin gue lihat Axel masuk ke sebuah ruangan yang ada di dekat taman belakang. Ruangan apa itu?"
"Ruangan khusus untuk mereka. Ruangan yang tidak pernah kami ketahui, mungkin hanya mereka bertiga saja yang boleh masuk ke ruangan itu. Ya karena hanya mereka yang punya akses untuk masuk. Sangat sulit untuk masuk ke ruangan itu, Khai."
Khai yang mendengar itu sedikit frustasi. Bagaimana cara ia untuk masuk ke dalam ruangan itu jika hanya Axel dan kedua temannya itu yang memiliki akses.
"Sepertinya misi ini lebih sulit.. gue sama sekali gak memikirkan tentang semua ini."
"Lo salah. Semuanya gampang, Khai. Sangat gampang malahan. Lo bisa masuk ke dalam ruangan itu, Lo juga bisa mengetahui mereka secara pribadi tentunya. Hanya dengan satu cara. Gue rasa cara ini akan sangat mudah lo lakuin. Apalagi sekarang lo lagi viral di sekolah ini. Kehadiran lo akan membuat mereka semakin bersinar."
Khai mengernyitkan dahinya mendengar perkataan yang di lontarkan Lamia. Ia tidak mengerti arah pembicaraan Lamia.
"Maksud lo gimana? Gimana cara agar gue bisa dekat dengan mereka?" Tanya Khai beruntut.
Lamia hendak menjawab pertanyaan Khai, tetapi makanan yang ia pesan akhirnya datang. "Sebentar.. makanan kita datang," tutur Lamia. Wajahnya semakin bersinar ketika melihat makanannya.
Setelah makanan sudah berada di depannya, Lamia kembali menatap Khai dengan serius. Ia mencoba untuk menahan agar tidak menyuapkan makanannya ini ke dalam mulutnya, karena Lamia masih harus berbicara dulu kepada Khai.
"Hanya satu cara, Lo harus masuk ke dalam kelompok mereka, Khai."