Bagian 19

1239 Kata
Khai memikirkan perkataan yang Lamia lontarkan. Bergabung dalam kelompok Axel memang akan membuatnya lebih mengetahui mengenai mereka, tetapi itu juga akan semakin sulit nantinya. Bagaimana jika ia mendapatkan kecurigaan dari mereka dan membuat Khai sendiri yang menjadi hancur. "Gak ada cara lain emang selain gabung sama mereka?" Tanya Khai kepada Lamia. Lamia dengan cepat menggelengkan kepalanya. Menurutnya hanya itu yang bisa Khai lakukan untuk menyelesaikan misinya ini. "Cuman itu satu-satunya cara, Khai. Lagian Lo juga akan mendapatkan banyak manfaat dengan adanya Lo di antara mereka. Lo bisa tau kenapa mereka membully Rama." Khai teringat satu hal. Itu adalah alasannya kenapa ia ada di sekolah ini. Ia ingin mencari tau siapa yang telah membully Rama dan mengapa orang itu melakukannya. Khai sepertinya memang harus bergabung dengan mereka. "Bagaimana caranya?" Tanya Khai akhirnya. Lamia mengangkat kedua pundaknya ketika mendengar pertanyaan Khai. "Gak tau.. kita lihat aja nanti, gimana cara lo untuk masuk ke sana. Tapi satu hal yang harus gue kasih tau ke lo, mereka tidak akan pernah menerima orang yang dengan sendirinya menawarkan diri untuk bergabung dengan mereka. Mereka sendirilah yang akan mengajak orang tersebut untuk ikut masuk ke dalam kelompok mereka. Jadi Lo jangan pernah sekalipun untuk nemawarkan diri lo, kesempatan emas lo akan rusak kalo itu terjadi." Lamia mulai memulai memakan makanannya. Ia lapar berbicara dengan Khai saja. Lamia juga butuh tenaga untuk mengisi energi dan pikirannya untuk misi ini. Di pertengahan makan, Lamia melihat seorang gadis yang sangat cantik. Primadona dari sekolah ini. Melihat itu, Lamia menghentikan makannya dan kembali memberitahu Khai informasi yang mungkin akan Khai perlukan nantinya. "Lo lihat itu.. cewek di arah jam 12," tutur Lamia. Khai mengalihkan pandangannya dan melihat ke arah yang Lamia maksud. "Cewek tercantik di sekolah ini. Semua cowo bisa jatuh sama dia, baik, pintar dan juga ramah." Sambung Lamia lagi. Khai menganggukkan kepalanya. Sepertinya ucapan yang Lamia berikan benar. Cewek itu sangat ramah dengan tersenyum kepada orang-orang yang menegur dirinya. Ia juga terlihat cantik dengan polesan tipis bedak dan liptin tipis yang ia gunakan. Rambut panjang yang digerak itu semakin membuat dia semakin teihat cantik. Bahkan Khai yang baru pertama lihat saja merasa terpesona dengannya. "Namanya Calla. Saudari kembar Axel," ucap Lamia. Khai menatap Lamia tidak percaya. Bagaimana bisa mereka terlihat sangat berbeda satu sama lain. "Gak mungkin.." bantah Khai. Ia kembali menoleh ke arah cewek itu dan kembali melihat wajahnya. Kalau di lihat lebih dalam memang Calla dan Axel terlihat sedikit mirip dalam bentuk wajah dan juga mata mereka. Tetapi sifatnya, kenapa mereka berdua sangat jauh berbeda. "Banyak orang yang memang sama respon nya kayak lo, ketika tau kalau Calla dan Axel saudara kandung. Tapi memang itu faktanya, mau dibilang gimana lagi. Calla di sekolah ini sangat beruntung. Punya wajah cantik dan saudara yang melindunginya. Tidak ada satu orang pun yang berani mencari masalah dengan Calla.. ya karena mereka takut sama Axel." Khai menganggukkan kepalanya. Ia juga sebenarnya memiliki sifat yang berbeda dengan Khai, walaupun mereka saudara kandung. Mungkin saja, sifat kedua orang tua Calla dan Axel berbeda. Jadi mereka berdua memiliki sifat yang berbeda pula. "Yang di sebelah Calla adalah sahabatnya. Azia namanya. Pitar juga tetapi tidak secantik Calla. Mereka selalu berdua kemana pun mereka berada," sambung Lamia lagi. "Gue tau gimana cara untuk mencari perhatian Axel.." Khai Akhirnya membuka suara. "Gimana caranya?" "Dekati adiknya. Mungkin dengan mendekati Calla, dia akan membawa gue ke Axel." "Axel sangat protektif kepada Calla. Gue gak yakin Lo bisa masuk ke dalam kelompok Axel dengan cara dekatin Calla. Tapi.. ya semoga Lo beruntung sih." Lamia tidak mau terlalu memikirkan niat Khai yang ingin mendekati Calla. Tugasnya di sini untuk membantu Khai dan ia tidak boleh menggunakan perasaan di sini. Lia menggelengkan kepalanya. Ia mencoba untuk membuang jauh-jauh pemikiran mengenai perasaannya. Khai dan Lamia kembali melanjutkan makannya. Suasana di meja mereka diam dan senyap. Mereka berdua tidak membuka pembicaraan. Di sisi lain, Calla juga memperhatikan Lamia dan Khai dari mejanya. Ia tidak bisa mengalihkan tatapannya terutama dari Khai. Azia yang menyadari itu tersenyum melihat Calla. "Dia anak baru yang sekelas sama Axel kan? Yang katanya pintar.. ternyata rumornya benar, dia ganteng juga." Azia mencoba untuk membicarakan Khai dengan Calla. "Iya.. rumornya benar ternyata. Tapi sepertinya dia tertarik dengan Lamia. Buktinya mereka makan berdua di kantin," tutur Calla. "Alah! Lo kayak gak tau Lamia aja. Dia kan emang baik, semua murid baru ditemani sama tuh anak. Lagian kalo dia tertarik dengan Lamia, seharunya tuh mereka tertaw satu sama lain atau senyum-senyum malu gitu. Ini keknya serius banget pembicaraan mereka berdua. Jadi.. lo masih ada kesempatan kok, La.." Azia menatap Calla dengan senyuman menggodanya. Calla yang mendapatkan perlakuan seperti itu seketika pipinya memerah. Ia tersipu dengan perkataan Azia. "Penampilan gue gimana sekarang? Cantik gak, Zi? Gue gak mau dia lihat gue aneh gitu. Kan katanya pertemuan pertama tuh harus mengesankan." Azia tertawa melihat tingkah sahabatnya ini. "Lo udah cantik dari dulu, La.. lo itu mengesankan. Lo tatap cowok lima detik aja mereka udah mimisan mungkin," ucap Azia mencoba untuk mencairkan suasana. "Eh.. melebih-lebihkan lo. Gak mungkin lah sampai mimisan. Tapi ngomong-ngomong Khai mirip ya sama Rama. Tatapannya, bentuk wajahnya, mereka kok bisa mirip gitu ya.." "Lo nya aja kali yang masih kepikiran sama Rama. Gue aja gak lihat kesamaan antara dia dan Rama. Lebih ganteng Khai deh keknya ketimbang Rama." Calla menganggukkan kepalanya. Ia menyetujui pernyataan Azia. Memang kalau di perhatikan lebih dalam, Khai akan lebih menang jika berhubungan dengan Wajah. Dan itu semua adalah tipe Calla sekali. Perbincangan antara Calla dan Azia masih terus berlanjut mengenai Khai tentunya. Tawa dan senyuman Calla tercipta di sela-sela perbincangan mereka. Hingga akhirnya makanan mereka habis dan mengharuskan mereka untuk meninggalkan kantin. *** Khai masih terus mencari tau mengenai Calla. Seperti saat ini, ia masih terus mengikuti kemana perginya Calla. Ditemani oleh Lamia tentunya. Khai tidak akan mau kehilangan kesempatan emas yang Lamia bicararakan. Mereka saat ini berada di lapangan bola basket. Kali ini lapangan ini ramai karena sedang ada pertandingan antar kelas. Calla dan Azia menonton pertandingan itu dan diikuti oleh Khai dan Lamia. Mereka duduk tepat di belakang Calla dan Azia duduk. Seperti pertandingan biasanya, hiruk piruk terdengar di dalam ruangan ini. Khai sebenarnya sangat tidak tertarik dengan pertandingan yang sedang di lakukan. Ia hanya berniat untuk mencari tau Calla. Berbeda dengan Khai, Calla malah terlihat sangat senang dengan pertandingan yang sedang ia saksikan. Ia sangat menyukai olahraga, oleh karena itu Calla sangat menyukai menonton pertunjukan olahraga seperti ini. Walaupun ia tidak akan pernah menjadi salah satu di antara orang-orang itu. Fokus Calla teralihkan. Ia kembali mengingat bagaimana ia dan Axel bertengkar karena ia tidak dibolehin untuk mengikuti ekskul olahraga. Calla bahkan tidak berbicara dengan Axel selama satu minggu penuh. Calla menggelengkan kepalanya, mencoba untuk menjauhkan pemikiran masa lalunya. Ketika Calla menyadarkan dirinya, ia sangat terkejut ketika melihat bola yang terbang menuju ke arah wajahnya. Calla seperti membeku ketika melihat bola itu. Ia tidak tau harus menghindar dengan cara seperti apa. Hingga dari belakang satu tangan menghentikan bola tersebut agar tidak mengenai wajah Calla. Alhasil bola tersebut jatuh ke bawah dan tidak mengenai wajah cantik Calla. Calla menghela napas panjang melihat itu. Ia menoleh ke belakang, hendak berterimakasih karena telah menolong dirinya. Dan betapa terkejutnya Calla yang melihat jika Khai lah yang menolong dirinya. Khai tersenyum tipis kepada Calla. Tangan Khai yang tadi memegang bahu Calla perlahan ia lepaskan. Ia mencoba untuk bersikap cool di depan Calla. Calla yang melihat itu seketika jantungnya berdetak dengan kencang. Ia sepertinya memang baru saja jatuh hati kepada Khai.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN