Bagian 20

1119 Kata
Lamia mengernyitkan dahinya melihat tingkah Khai. Ia bahkan sedikit membuka mulutnya ketika melihat kelakukan Khai itu. Tindakan yang dilakukan Khai menurutnya tidak ada gunanya. Lamia sangat ingin memukul kepada Khai agar ia sadar dengan tindakan yang baru saja ia buat. "Gimana menurut lo?" Tanya Khai setelah ia sudah membuat Calla tersipu dengan tindakannya. "Gak berkelas sama sekali," jawab Lamia sewot. Lamia sudah tidak lagi berpokus dengan pertandingan yang berjalan di depannya. "Masa sih.. tapi menurut gue, sepertinya Calla udah mulai tertarik dengan gue. Kita tunggu aja, nanti. Pasti gue akan mulai menarik perhatian Axel dan temannya itu." Lamia tidak lagi merespond perkataan Khai. Ia sudah malas dengan sikap Khai yang seperti itu. Lamia pun berdiri dari duduknya. "Gue mau ke kelas aja, bosen di sini." Tanpa menoleh ke arah Khai, Lamia berjalan pergi meninggalkan Khai yang masih duduk dengan nyaman. Khai yang melihat itu hanya bisa menghela napas. Ia tidak tau harus bagaimana sekarang. Khai memang perlu untuk melakukan semua ini agar misinya selesai dengan cepat. Tapi mungkin kali ini Khai akan mengalah. Ia pun ikut berdiri dari duduknya dan berjalan untuk mengejar Lamia. "Kenapa Khai nyusul Lamia ya?" Tanya Azia kepada Calla. Calla yang mendengarnya juga jadi ikut bertanya dalam hatinya. Calla juga ikut kesal jika seperti ini. Di lain tempat, Lamia sudah berada di kelas dan mengeluarkan buku yang bahkan tidak ia ketahui buku apa yang ia keluarkan itu. Lamia mencoret-coret bukunya. Tak beberapa lama kemudian, Khai menampakkan dirinya. Ia berjalan menuju meja Lamia dan menarik kursi untuk dirinya. Khai tidak tau kenapa ia harus melakukan hal ini. "Lo kenapa?" Tanya Khai. "Emangnya gue kenapa?" Tanya balik Lamia. Khai menghela napas berat mendengar pertanyaan Lamia. Ia sama sekali tidak terbiasa dengan cewek. Apalagi seperti saat ini. Ditanya kenapa, malah di tanya balik. "Gue salah ya?" Tanya Khai dengan hati-hati. Ia tidak ingin Lamia marha dengannya. Karena bagaimanapun, Khai masih memerlukan bantuan Lamia. Ia tidak mau Lamia jadi tidak membantunya hanya karena masalah kecil seperti ini. Lamia tidak menjawab pertanyaan Khai. Ia masih terus mencoret-coret buku miliknya. Khai yang melihat itu langsung merasa jika ia memang sedang membuat kesalahan. Khai tidak tau harus membicarakan hal apa lagi. Lamia saja tidak menatap dirinya. "Khai!" Panggilan itu membuat Khai menoleh ke sumber suara. Ia dapat melihat Axel dan kedua temannya yang sudah berada di kelas, tepat di depan pintu kelas. Khai berdiri dari duduknya dan berjalan mendekati mereka. Ia berhenti tepat di depan Axel. "Kenapa?" Tanya Khai membuka pembicaraan. Axel mengulurkan tangannya di hadapan Khai. Khai yang melihat itu sedikit bingung. Ia tidak tau kenapa Axel mengulurkan tangannya seperti itu. Tetapi Khai pun menerima uluran Axel. "Thanks bro. Lo udah bantuin Adiki gue. Kalo gak ada lo mungkin muka dia udah berdarah," tutur Axel. Khai yang mendengar itu langsung tersenyum. Ia tidak menyangka jika Axel sudah mengetahui mengenai hal ini. Cepat sekali berita menyebar, pikir Khai. "Santai.. gue refleks tadi pas lihat bola itu. Makannya langsung gue tangkis," ucap Khai. Axel melepaskan pegangan tangan mereka dan menepuk bahu Khai. Sepertinya tindakan Khai tadi memang menarik perhatian Axel. Axel dan kedua temannya berjalan masuk ke dalam kelas. Mereka duduk di tempat masing-masing. Khai sebenarnya sangat ingin pembicaraan mereka sedikit di perpanjang. Ini akan sama saja jika tidak ada pembicaraan diantara mereka. Misi ini akan tetap berjalan di tempat. Sama sekali tidak ada kemajuan. *** Jam pulang akhirnya berbunyi. Khai dengan cepat langsung berjalan keluar dari kelas menuju luar sekolah. Ia sudah sangat lelah belajar untuk hari ini. Khai ingin membaringkan tubuhnya di atas kasur. Sebenarnya memang tidak terlalu berat belajar di sekolah, tetapi misi Khai ini lah yang membuat ia sedikit kesulitan berada di sekolah ini. Ia harus mencari teman terlebih dahulu dan harus mendekatkan diri ke Axel baru ia bisa memulai misinya. Khai dapat melihat pak Abdi yang sudah menunggu dirinya. Khai pun segera masuk ke dalam mobil dan bersender di tempat duduk. "Gimana tuan, sekolahnya?" Tanya pak Abdi kepada Khai. "Lelah pak. Banyak banget permasalahan di dalam sekolah itu. Tapi gak terlalu buruk sih untuk hari pertama," jawab Khai masih dengan posisinya. Pak Abdi mulai menjalankan mobil menuju rumah. Khai menggunakan waktu di perjalanan untuk memejamkan matanya sesaat. Ia ingin kembali berpikir mengenai apa rencana untuk besok yang akan ia lakukan. Tak terasa Khai akhirnya sampai di rumah. Ia segera masuk ke dalam rumah dan ia dapat melihat di atas meja makan sudah tersedia banyak makanan yang sangat menggoda. Melihat itu, perut Khai seketika merasa lapar. Khai pun akhirnya memutuskan untuk makan sebelum ia naik ke kamarnya. Beberapa pelayan yang melihat Khai duduk di kursi meja makan langsung menyediakan piring dan sendok agar Khai bisa makan. Khai mengambil lauk pauk dan nasinya. Ia pun mulai memakan makanannya dengan hikmat. Tak beberapa lama, Risma datang dan duduk di depan Khai. Ia menatap Khai penuh selidik. "Gimana sekolah mu?" Tanya Risma. "Baik.. saya sudah tau siapa yang membully Rama. Sekarang saya hanya perlu mencari cara bagaimana agar saya bisa masuk ke dalam kelompok mereka." Khai menghentikan makannya dan menatap Risma. Risma menganggukkan kepalanya. "Bagus.. di hari pertama mu, sudah bisa mendapatkan siapa yang membully Rama. Saya sangat berharap kami bisa menyelesaikan misi ini dengan baik," tutur Risma. Setelah mengatakan itu, Risma berjalan pergi meninggalkan Khai sendiri di ruang makan. Khai pun kembali melanjutkan makannya. Tak beberapa lama kemudian, Khai akhirnya selesai dengan sesi makannya. Ia segera naik ke dalam kamar untuk membersihkan dirinya dan tentunya untuk beristirahat. Kamar Khai sudah sangat bersih. Ia yakin jika para pelayan di rumah ini yang membersihkan kamarnya. Sebenarnya Khai tidak suka orang masuk ke dalam kamarnya tanpa seizinnya. Karena memang biasanya di rumah dulu hanya satu orang saja yang membersihkan kamarnya. Orang itu adalah orang yang sangat Khai percaya. Tetapi selama di rumah ini, Khai masih belum bertemu dengannya. Karena memang tugasnya hanya di rumah sana bukan di rumah utama. Khai mengecek handphone miliknya. Khai mendapatkan sebuah pesan dari nomor yang tidak di kenal. Dengan segera Khai membuka pesan tersebut. Ini link biar Lo bisa masuk ke dalam web sekolah. Besok lo harus sudah bisa untuk menarik perhatian Axel lagi.. sorry gue tadi gak mood banget, makannya gue bersikap begitu tadi. Sampai jumpa besok, Khai.. Lamia Khai yang membaca pesan tersebut seketika tersenyum. Ia pun menyimpan nomor Lamia di handphonenya. Setelah menyimpan nomor Lamia, Khai membuka link web yang diberikan oleh Lamia tadi. Wajah Khai terpampang jelas di halaman utama web. Foto Khai yang menghalangi bola agar tidak mengenai wajah Calla. Banyak sekali yang berkomentar di dalam postingan tersebut. Khai menganggukkan kepalanya. Mungkin dari sini Axel tau kalau dirinya yang tadi membantu Calla. Khai menscrool ke bawah dan ia masih melihat foto-foto dirinya. Khai sama sekali tidak tau kapan foto ini diambil. Tetapi ia menyukai penampilan dirinya di foto tersebut. Karena Khai terlihat sangat tampan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN