Bab 01
Zoya Widjaja Erham putri tunggal dari Rendra Erham dan Shinta Widjaja Erham. Zoya gadis tengil yang berusia 21 tahun. Di usianya yang masih sangat muda Zoya tumbuh seperti gadis pada umumnya, karena hal itu membuat Rendra dan Shinta khawatir akan pergaulan putri semata wayangnya tersebut.
Rendra dan Shinta memutuskan untuk memasukkan putrinya ke sebuah pesantren ternama yang ada di sebuah Desa. Mereka tidak ingin Zoya salah jalan karena salah pergaulan di luar sana.
“Ayah, Bunda, Zoya nggak mau masuk pesantren!” rengeknya
“Sayang, ini semua demi kebaikan kamu. Ayah dan Bunda nggak mungkin memasukkan kamu ke pesantren jika bukan karena kebaikan.” ujar Shinta
“Ayah dan Bunda udah nggak sayang sama Zoya makanya bawa Zoya ke pesantren, iya?”
Shinta tersenyum kecil. Beliau mengelus rambut putrinya dengan penuh kasih sayang. Beliau harus bisa lebih bersabar untuk menghadapi sikap putrinya itu. “Tidak ada orang tua yang tidak menyayangi anaknya, sayang. Kalau Ayah dan Bunda tidak menyayangi kamu, kami pasti sudah menelantarkan kamu.”
“Huhh..” Zoya menghela nafas kasar
“Yaudah, ayo dilanjutkan lagi mengemasi barang-barangnya, Bunda bantuin biar cepat selesai.”
“Ck,” decak Zoya dalam hati
Selama mengemasi barang-barangnya bibir Zoya mengerucut kesal. Ia tidak ingin masuk ke pesantren karena terlalu banyak aturan, sedangkan dirinya menyukai kebebasan.
“Kalau nanti Zoya nggak betah gimana, Bun?” tanyanya
“Kamu pasti betah, sayang.”
“Tapi…”
“Udah ah, Ayah sudah menunggu kita di bawah, sayang. Jangan memperlambat nanti kita kemalaman sampainya.”
“Ish, ngeselin!” ucap Zoya dalam hati
***
Pesantren Al-Falah
“Alhamdulillah, akhirnya sampai juga.” ujar Rendra sembari tersenyum lega
Setelah menempuh perjalanan berjam-jam akhirnya Keluarga Rendra sampai di tempat tujuan. Selama di perjalanan Zoya tertidur karena ingin menikmati waktunya dengan bebas untuk terakhir sebelum tinggal di pesantren.
Shinta menoleh ke belakang melihat putrinya yang masih tidur dengan nyenyak. “Yah, Zoya masih tidur.”
“Kebiasaan, Bun.”
“Bunda bangunin dulu!” Rendra mengangguk sebagai jawaban
Shinta menepuk pipi Zoya membangunkan putrinya. “Sayang, bangun! Kita sudah sampai, nak.”
“Zztt..” terdengar suara dengkuran dari Zoya
“Sayang, bangun!”
“Enghh..” lenguh Zoya sembari merentangkan kedua tangannya yang terasa lelah
Zoya mengerjap pelan pertanda mulai bangun. Ia menoleh ke arah Ibunya dengan tatapan bertanya. “Ayo bangun, kita sudah sampai.”
“APA?” pekik Zoya
“Astagfirullah’haladzim, Zoya!” tegur Rendra
Buru-buru Zoya keluar mobil dan melihat lingkungan sekitar. Asri dan tenang itulah yang ia rasakan pertama kali ketika menginjakkan kakinya di Pesantren Al-Falah. “Jadi ini pesantrennya?” batinnya berucap
“Ayah, Bunda, ini beneran Zoya akan tinggal di sini?”
Rendra dan Shinta mengangguk kompak. “Iya, sayang.”
Zoya mengakui tempatnya begitu tenang dan nyaman tapi ia tidak yakin betah tinggal di tempat ini. “Sayang, pakai dulu hijabnya!” ujar Shinta sembari memberikan sebuah hijan dan seketika hal tersebut membuyarkan lamunan Zoya.
“Kenapa harus pakai hijab, Bun?” tanya Zoya dengan wajah polos
“Kita sekarang ada di pesantren, nak. Lingkungan kamu jauh berbeda dari biasanya, dan setiap harinya kamu harus memakai gamis serta hijab seperti sekarang ini.”
“WHAT?” pekik Zoya
Reflek Rendra dan Shinta menutup kedua telinganya mendengar suara pekikan Zoya. “Zoya, turunkan nada bicara kamu! Kita sekarang bukan di rumah, melainkan di tempat umum.” tegur Rendra
“Kenapa Ayah dan Bunda nggak pernah bilang soal itu? Bahkan Zoya baru mengetahuinya sekarang.”
“—“
Rendra dan Shinta mengabaikan pertanyaan Zoya. Tanpa banyak kata Shinta memakaikan hijab pada putrinya lalu menggenggam tangan Zoya membawanya ke sebuah tempat untuk bertemu langsung dengan pengurus pesantren.
“Zoya mau dibawa kemana, Bun?”
“—“
“Ayah, Bunda, kenapa kalian diam saja? Zoya nggak mau, Bunda!”
“Sstt.. jangan berisik, sayang! Nanti kamu juga akan tahu sendiri.” ujar Shinta
Tok.. tok.. tok
Rendra mengetuk pintu di hadapannya sembari tersenyum. Dan tidak lama datanglah seorang laki-laki dari dalam rumah. “Assalamualaikum.” salam Rendra
“Waalaikumsalam.” jawab laki-laki itu sembari tersenyum manis
Deg.. deg.. deg
Tiba-tiba jantung Zoya berdebar kencang setelah melihat kedatangan laki-laki tersebut. Wajahnya begitu tampan, kulitnya putih bersih, memiliki lesung pipi yang menambah kesan manis ketika tersenyum. Zoya langsung jatuh hati pada pandangan pertama.
“Tampan sekali!” ucap Zoya dalam hati
“Ada yang bisa saya bantu, om, tante?” tanya Zeo
“Em.. Abah Edwin dan Ustadzah Arini ada?” tanya Rendra
“Ada, om.”
“Abah ada di dalam. Silahkan masuk, om, tante!” Rendra mengangguk sebagai jawaban
Zeo masuk ke dalam rumah memanggil kedua orang tuanya. Tidak lama terlihatlah Edwin dan Arini keluar dari dalam rumah. Mereka tersenyum melihat kedatangan Renda beserta keluarga kecilnya. Sebelumnya mereka sudah membuat janji, karena hal itu Edwin dan Arini tidak terkejut dengan kedatangan mereka.
“Alhamdulillah. Akhirnya kalian sampai juga.” ujar Edwim
“Alhamdulillah. Allah melancarkan semuanya, meskipun ada sedikit rintangan kecil.” Edwin terkekeh mendengarnya. Tanpa Rendra menjelaskan beliau sudah tahu apa yang dimaksud.
Arini menatap Zoya sembari tersenyum manis. “MasyaAllah. Kamu cantik sekali, nak.” Zoya tersenyum malu-malu mendapat pujian dari Arini. Apalagi Beliau adalah Ibu dari Zeo.
“Terima kasih, tante.”
“Panggil Umi saja, nak!” Zoya mengangguk kaku sebagai jawaban.
Mereka membicarakan Zoya yang akan tinggal di Pesantren untuk menempuh pendidikannya. Zoya hanya bisa pasrah. Ia sama sekali tidak membuka suara karena malas. Namun di satu sisi ia bisa menggunakan kesempatan itu untuk mendekati Zeo. Mereka tinggal di lingkungan yang sama membuatnya mudah untuk mendekatinya.
Zoya sudah menyusun sebuah rencana untuk mendekati Zeo. Meskipun baru pertama melihatnya tidak membuat Zoya takut ataupun berubah pikiran untuk mendekatinya.
Setelah berdiskusi Rendra dan Shinta sepakat untuk meninggalkan Zoya di Pesantren Al-Falah untuk menempuh pendidikan terbaik. Mereka ingin Zoya menjadi anak sholehah. Karena Agama adalah pendidikan utama bagi seorang anak.
Shinta mengelus kepala putrinya dengan lembut dan penuh kasih sayang. Beliau tersenyum sendu karena harus meninggalkan putri satu-satunya untuk tinggal di Pesantren. Beliau pasti sangat merindukannya.
“Sayang, kamu tinggal di sini ya!” ujar Shinta
“Zoya sampai kapan tinggal di sini?”
“Sampai pendidikan kamu selesai.”
“What? 4 tahun?” ujar Zoya sembari menunjukkan empat jarinya
Rendra dan Shinta mengangguk sebagai jawaban. “Nak, kamu nggak perlu khawatir karena ada putra Umi yang akan satu kampus dengan kamu. Kalian bisa berteman baik.” ujar Arini
“Ooh.. jadi dia satu kampus denganku!” ucap Zoya dalam hati
Zoya mengangguk mengerti. Ia menunduk menyembunyikan senyumnya agar tidak ada orang yang merasa curiga padanya. Ia tidak lagi membantah karena akan
tinggal dengan sosok laki-laki yang mencuri hatinya. Zoya harap bisa beradaptasi dengan mudah karena ini semua ia lakukan demi Zeo.
“Ya sudah, Ayah dan Bunda pulang dulu! Kamu jangan nakal di sini. Ikuti peratuan kampus dan pesantren. Kamu sekarang tinggal di sini sendirian, dan jangan membuat Ayah dan Bunda malu.” pesan Rendra pada putrinya tersebut
“Iya, Ayah.”
“Tapi Zoya tidak bisa janji.” lanjutnya dalam hati
***
Malam harinya
Zoya menggaruk pipinya yang tidak gatal. Ia berjalan menyusuri jalan pesantren sembari mengedarkan pandangannya untuk menatap sekeliling. Suara Adzan sholat isya sudah berkumandang namun Zoya tidak kunjung pergi ke Masjid. Ia justru asik berkeliling seolah tanpa beban di hidupnya.
“Ekhm,” dehem seseorang
“Eh,”
Zoya terkejut ketika tiba-tiba mendengar suara deheman seseorang. Ia langsung tersenyum ketika melihat siapa yang ada di dekatnya. “Hai!” sapa Zoya sembari tersenyum manis
“Nggak dengar suara Adzan?” sindir laki-laki tersebut
“Dengar kok.”
“Kalau dengar kenapa masih di sini?!”
Zoya menautkan kedua alisnya bingung. Ia tidak mengerti apa yang dimaksud Zeo. Iya, laki-laki itu adalah Zeo! “Kamu juga ngapain di sini? Sengaja mau nyusulin aku kesini, ya?!” dengan percaya diri Zoya mengatakan hal tersebut pada Zeo yang membuat laki-laki itu semakin tidak suka dengannya.
“Sudah isya, ke Masjid sekarang!” ujar Zeo dengan wajah datar
“Nanti saja!”
“Sekarang!” Zeo menekan kalimatnya agar Zoya segera pergi ke Masjid tanpa nanti-nanti.
Bukannya takut Zoya justru tersenyum manis seolah sedang menggoda Zeo. Zeo mengalihkan pandangannya. Ia tidak munafik jika senyum Zoya begitu manis, namun ia tidak akan goyah hanya karena sebuah senyuman.
“Saya perintahkan sekali lagi cepat pergi ke Masjid sekarang juga!” ujar Zeo penuh penekanan
“Kamu tidak ada hak untuk memerintahku.”
“Apa maksud kamu?”
“Jadikan aku istrimu maka aku akan penuhi semua perintahmu.” ujar Zoya sembari tersenyum
Deg
“Huhh.. Astagfirullah.” Zeo mengusap dadanya agar bisa lebih bersabar. Ternyata ini alasannya kenapa kedua orang tua Zoya meminta putri mereka untuk tinggal di pesantren.
“Mau ke Masjid sekarang atau saya seret kamu!”
“Digendong saja, gimana?!”
Zoya mengedipkan sebelah matanya membuat Zeo beristigfar sebanyak mungkin. Ia mundur beberapa langkah ketika Zoya mendekat ke arahnya. Jika semua perempuan takut dan gerogi berdekatan dengan Zeo namun tidak dengan Zoya. Gadis itu justru merayu Zeo secara terang-terangan.
“Mau ngapain kamu?” ujar Zeo dengan wajah ketakutan. Ia takut ada santri yang lihat, hal itu mengakibatkan kesalahpahaman.
“Mau ngajak ke Masjid kan? Yaudah, ayo!”
“Astagfirullah’haladzim.”
Dan setelah itu Zeo berjalan cepat meninggalkan Zoya seorang diri. Gadis itu terkekeh geli melihatnya. Dan setelahnya Zeo lari terbirit-b***t seolah melihat setan. “Hahaha.. gemesin banget, sih.” gumam Zoya
“Baru pertama kali ini ada laki-laki menjauh dariku. Padahal banyak yang mengatakan jika diriku cantik. Seharusnya dia mendekat bukan lari ketakutan seperti itu.” lanjutnya
Thank U All:)