Bayang Cinta Baru Setelah Putus Cinta

1634 Kata
Hari ini mungkin menjadi hari yang tak terlupakan bagiku, karena menjadi hari dimana aku akhirnya mengetahui bahwa Syarif kekasihku ternyata memiliki wanita lain di belakangku. Ya, aku memiliki kekasih bernama Syarif yang juga menjadi tempat pelarianku untuk mendapatkan curahan kasih sayang yang kurang aku dapatkan dari ayah dan ibuku. Aku dan Syarif sudah berpacaran selama satu setengah tahun saat aku baru mengetahui hubungannya dengan perempuan yang bernama Marlina. Meski aku dan Syarif menjalani hubungan jarak jauh saat itu, karena dia berada di ibukota kabupaten dan bekerja disana, tapi selalu rutin berkomunikasi. Setiap hari pasti dia selalu meneleponku, dan kami juga selalu chatingan lewat inbox f*******:. Meski bukan ponsel android, tapi ponsel jadulku sudah bisa digunakan untuk mengakses f*******: melalui website. Sehingga aku bisa inbox-an dengan Syarif di f*******:. Selama satu setengah tahun pacaran dengan Syarif kami tak pernah bertemu secara langsung, karena aku pun pacaran dengannya secara diam-diam tanpa sepengetahuan ayah dan ibu karena memang ayah dan ibu tak mengizinkan aku untuk pacaran selama masih sekolah. Syarif bukan tidak pernah ingin bertemu denganku, sudah beberapa kali dia mengatakan ingin berjumpa denganku dan bahkan dia pernah ingin datang langsung ke ruamhku. Tapi aku yang takut pada ayah dan ibu tak mengizinkannya datang, dan untuk mencari alasan keluar rumah pun aku tidak tau caranya bagaimana karena aku memang anak rumahan yang jarang keluar rumah. Meski begitu, Syarif tak pernah memaksa ketika aku berkata tak bisa menemuinya karena terkendala izin dari ayah dan ibu. Semua itu terjadi selama satu setengah tahun. Tapi rupanya aku tahu juga kalau ternyata selama enam bulan ke belakang sia sudah punya pacar lain yang juga bekerja di ibukota kabupaten. Sehingga mereka bisa dekat dan bertemu setiap hari. Sedangkan selama denganku, kami tak pernah sekalipun bertemu. Mungkin itu juga yang menjadi alasan mengapa dia akhirnya menduakan aku. Usia kami terpaut 6 tahun, sedangkan perempuan yang jadi selingkuhannya seumuran dengan dia. Aku bisa tahu tentang hubungan mereka ketika aku membuka akun f*******: Syarif yang memang dia beri tahu padaku paswordnya. Disana aku menemukan bukti inboxnya dengan salah satu teman Marlina dan mereka sedang membahas tentang hubungan Syarif dan Marlina. Aku kecewa saat itu, bahkan aku sempat meneteskan air mata karena merasa di khianati olehnya. Setelah mengetahui hal itu, malamnya aku memutuskan untuk langsung menelpon Syarif dan meminta penjelasannya tentang bukti inbox itu. "Kak, aku sudah tau kalau kakak disana punya pacar yang namanya Marlina. Apa maksud kakak membohonginya aku selama ini? Enam bulan lamanya kakak mengkhianati hubungan kita. Bersikap seolah kakak baik-baik saja menjalani hubungan jarak jauh denganku, tapi ternyata kakak malah mengkhianatiku. Kenapa kakak tega?" Ucapku panjang lebar kala sambungan telepon terhubung dengannya. Aku tak memberinya kesempatan bicara karena hatiku sudah terlalu sakit karena kebohongannya. Aku memang memanggilnya dengan sebutan kakak, bahkan selama pacaran tak pernah sekalipun aku menyebut namanya langsung. "Adek tau itu dari mana?" Tanyanya saat aku sudah berhenti bicara. "Aku lihat di f*******: kakak. Aku baca inbox-inbox kakak dengan teman Marlina yang namanya Febi. Aku nggak nyangka kalau kakak akan setega itu sama aku." Jawabku dengan menahan rasa sakit dan kecewa. Huuuuft. Syarif menghembuskan nafas panjang. "Maafkan kakak yah dek. Kakak tidak tahan dengan hubungan jarak jauh kita yang seperti ini. Jadi saat kakak bertemu dengan Marlina, kakak memutuskan untuk berpacaran dengannya. Karena dia selalu ada untuk kakak disini." Tutur Syarif memberikan penjelasan. "Kenapa kakak tidak jujur saja sama aku kalau memang kakak sudah tidak tahan dengan hubungan jagak jauh kayak gini. Mungkin aku nggak akan sekecewa ini kak. Aku juga nggak akan nahan kakak untuk terus sama aku kalau memang kakak udah nggak mau." Ucapku dengan suara lirih karena menahan rasa marah. "Kakak hanya bingung menjelaskannya padamu dek. Kakak juga tidak tega mengakhir hubungan kita begitu saja tanpa ada masalah. Kakak juga sayang sama kamu dek. Meskipun kakak pacaran dengan Marlin, tapi itu nggak menghilangkan rasa sayang kakak sama kamu." Ucap Syarif dengan nada sendu seperti meminta untuk aku maklumi. "Sudahlah kak, sekarang semua kata sayang kakak itu sudah tidak ada artinya lagi untuk Naya. Naya sudah sangat kecewa sama kakak. Sekarang Naya lepaskan kakak untuk bisa bahagia dengan Marlin. Terima kasih untuk satu setengah tahun ini, Momo juga akan Naya kirim kembali sama kakak." Tandasku pada akhirnya tak ingin lagi mendengar penjelasan apapun darinya. Momo adalah boneka beruang berwarna kuning yang dia hadiahkan padaku saat tahun baru, tiga hari sebelum kami resmi berpacaran.z "Baiklah kalau memang itu keputusan adek. Tapi Momo tidak usah dikembalikan. Anggaplah itu hadiah untuk adek saja" balasnya menerima keputusanku untuk mengakhir hubungan kami. Lalu setelah itu aku mengakhiri panggilan telepon kami itu. Aku merasa lega meski sakit hati juga. Padahal aku sudah bertekad untuk setia padanya dan tak lagi mencari pacar. Karena aku pun pernah beberapa kali pacaran dengan orang lain selama ini, makanya aku sudah niat mau setia. Eh, tapi malah dia yang selingkuh. Hari-hariku berjalan seperti biasa. Aku pun sudah cerita pada Meira kalau aku sudah putus dengan Syarif. Meski terlihat baik-baik saja, tapi sejujurnya aku jadi merasa enggan untuk dekat dengan laki-laki lagi. "Biarlah sendiri dulu" pikirku saat itu. Meira pun setuju-setuju saja kalau memang aku memilih untuk tidak pacaran dulu. Seperti biasa, dia sahabat yang selalu mendukung apapun keputusanku. Hari ini adalah hari jumat, dan seperti biasa di hari jumat seperti ini tak ada jam pelajaran, dan murid-murid hanya menghabiskan waktu untuk olahraga, seperti bermain sepakbola ataupun bola volli. Hari itu ada beberapa penduduk yang ikut menyaksikan siswa-siswa yang sedang bermain volli. Karena memang di hari jumat seperti ini, para guru membolehkan jika ada masyarakat yang mau menyaksikan permainan volli di dalam lingkungan sekolah. Aku tak begitu memperhatikan siapa yang datang, sampai salah satu guruku memanggilku untuk mendekat padanya. "Ketos, di panggil sama pak Yunus itu" kata salah seorang adik kelas. Dan yaaah, aku adalah ketua Osis di sekolahku. Mendengar itu aku langsung berjalan menuju tempat pak Yunus duduk dengan beberapa anak muda yang aku tahu warga sekitar sekolah yang datang menyaksikan volli setelah sebelumnya berpamitan dengan Meira. "Ada apa pak? Katanya tadi bapak manggil saya yah?" Tanyaku dengan sopan pada pak Yunus begitu aku tiba di dekatnya. "Ini ada yang mau kenalan dengan kamu Naya" ucap pak Yunus seraya menunjuk pemuda yang duduk disampingnya. Aku yang bingung hanya bisa senyum-senyum sambil garuk-garuk kepala yang sama sekali tak gatal. Salting kali ya? Eh. "Ini Fajri, Naya. Temannya pak guru. Dari tadi dia curi-curi pandang ke kamu makanya pak guru manggil kamu biar dia nggak penasaran lagi sama kamu" ujar pak Yunus lagi, yang membuat laki-laki yang bernama Fajri itu salah tingkah. "Halo Naya, saya Fajri" ucapnya tiba-tiba sambil mengulurkan tangannya ke arahku. Aku pun langsung menjabat tangannya dan menyebutkan namaku meskipun dia sudah tau siapa namaku. Lalu setelah itu aku langsung pamit pada pak Yunus karena sudah salah tingkah. Aku menghampiri Meira dengan senyum salting yang tak kunjung lepas dari bibirku. "Kenapa kamu Nay? Pak Yunus bilang apa?" Tanya Meira yang terheran-heran melihat aku jalan sambil senyum-senyum kayak ODGJ, eh. "Nggak apa-apa Mei" jawabku memilih untuk tak bercerita dulu padanya. Nanti yang ada aku di ledekin karena tadi baru curhat sedih gara-gara putus cinta dan bilang nggak mau dekat sama cowok dulu, masa sekarang sudah kenalan sama cowok baru lagi. Bisa ngakak si Meira mah. ~••~••~ Malam ini aku hanya menghabiskan waktu sambil bermain ponsel. Sejak putus dengan Syarif, aku tak lagi berkomunikasi dengannya meski tidak memblokir akunnya dari pertemanannya. Aku hanya membaca status-status yang di bagikan teman-teman f*******:, karena sudah tidak punya teman inbox-an lagi. Sampai tiba-tiba ada inbox masuk ke facebookku. Fajri: Hai Naya Ini Fajri yang tadi siang itu kah? Karena ingin memastikan aku melihat-lihat beranda facebooknya, dan yup benar dia Fajri yang tadi di kenalkan oleh pak Yunus. Aku pun langsung membalas pesannya. Naya: iya hai kak Karena bingung mau manggil apa, karena tak mungkin juga manggil dia dengan namanya saja, terkesan tak sopan sebab dia lebih tua dariku usianya. Nggak tua-tua amat juga, kelahiran tahun 1996 ku lihat di profilnya tadi, berarti seumuran sama kak Nino. Fajri: Maaf soal tadi yah, pak Yunus malah langsung manggil kamu gitu. Naya: Iya nggak apa-apa kok kak. Santai aja. Tadi juga cuma lagi liatin yang main volli aja. Fajri: Kamu lagi apa Nay? Naya: Enggak ngapa-ngapain sih kak. Cuma lagi rebahan sambil ngeliatin status orang-orang, hehe. Fajri: Nggak lagi chatingan sama pacar kamu? Naya: Nggak kak. Baru putus, wkwk Fajri: Waduh jomblo baru nih. Masih anget dong. Hehe Naya: Anget? Nasi dong, wkwk Aku tertawa-tawa sendiri berbalas chat dengan Fajri ini. Ternyata dia orang yang cukup humoris juga, padahal tadi siang pas di sekolah kelihatan kalem-kalem aja. Taunya seru juga. Karena aku yang terlalu asyik chatingan dengan Fajri sampai ketawa-ketawa ngakak, tanpa sadar malah kedengaran sama ayah dan ibu. "Kenapa kamu Nay ketawa-ketawa sambil liatin ponsel gitu? Lagi ngobrol sama cowok ya?" Tanya ibu dari luar kamarku. "Enggak bu, lagi chatingan sama Meira. Bukan teleponan" jawabku. Dan ibu pun kembali melanjutkan kegiatan nonton sinetronnya bersama ayah. Tuhkan, ayah dan ibu terlalu protektif dan mengawasi aku, makanya selama ini aku juga menjalani hubungan backstreet dengan pacar-pacarku. Orang ketawa-ketawa dikit aja langsung di interogasi gitu. Dulu saja, saat masih pacaran dengan Syarif dan telpon-telponan harus pake suara yang kecil dan pelan biar tak kedengaran sama ayah dan ibu. Aku dan Fajri masih terus saling berbalas pesan melalui f*******:, sampai pukul sepuluh malam aku sudah merasa mengantuk, dan izin untuk tidur lebih dulu darinya. Sebenarnya tadi siang itu bukan pertemuan pertamaku dengan Fajri. Aku sudah sering melihat dia ketika aku dan Meira jajan di toko yang ada di samping sekolah karena Fajri memang bekerja di toko itu. Tapi tak pernah terlibat obrolan berarti selain dia menanyakan aku dan Meira mau belanja apa. Tapi siapa sangka kalau sekarang aku dan dia malah jadi dekat seperti ini, karena di kenalkan sama guruku. Lucu juga kalau di ingat-ingat lagi, karena guruku sendiri yang mengenalkan aku dengan seorang laki-laki.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN