bc

Cinta Untuk Sang Mafia

book_age18+
0
IKUTI
1K
BACA
billionaire
kickass heroine
brave
mafia
drama
gxg
musclebear
like
intro-logo
Uraian

Lima belas tahun lalu, Komisaris William Alexander ditemukan tewas mengenaskan.

Putrinya, Olivia, tumbuh menjadi detektif senior dan menyusup ke dunia mafia demi

membalas dendam. Targetnya adalah Marvel Oliver, putra pewaris klan kriminal yang

diyakini terlibat dalam kematian ayahnya.

chap-preview
Pratinjau gratis
Bab.1.Dendam
Olivia Alexander melangkah memasuki aula tua yang disulap menjadi tempat pelelangan bergengsi malam itu. Gaun hitam panjang membelah anggun lekuk tubuhnya, rambutnya dibiarkan terurai, hitam legam dan bergelombang. Wajahnya memakai riasan lembut, menonjolkan sorot matanya yang tajam, dingin, menyapu sekeliling ruangan tanpa benar-benar tertarik pada siapa pun. Marvel Oliver melihatnya lebih dulu. Dari balik kerumunan tamu elit yang tertawa dan bersulang, matanya langsung terkunci pada sosok wanita itu. Tak ada senyuman di wajahnya, tak ada sapaan basa-basi. Hanya tatapan waspada yang membuatnya yakin wanita itu berbeda. Marvel meletakkan gelas anggurnya dan berjalan mendekat. Ia tak pernah menyukai pesta, apalagi pelelangan gelap seperti ini. Namun malam ini, alasannya berubah. Sosok wanita yang kini berdiri hanya beberapa meter di depannya menyita seluruh perhatiannya. Dan tepat ketika ia hampir mencapai Olivia, seorang pelayan muda tersandung ujung karpet. Nampan di tangannya terguncang, dan sebuah gelas koktail terlepas, meluncur lurus ke arah wanita itu. Tanpa berpikir panjang, Marvel melangkah cepat dan menarik lengan Olivia. Dalam sekejap,btubuh ramping itu terhimpit di dadanya. Gelas koktail jatuh dan pecah di lantai, namun tak satu tetes pun menyentuh gaun mahal itu. Mata mereka bertemu. Sorot mata Olivia membeku, bukan karena kaget, tetapi karena intensitas tatapan Marvel yang begitu dekat dan mengancam stabilitasnya. “Apakah Anda baik-baik saja?” tanya Marvel membuka suara pertama kali, masih mempertahankan kontak mata yang belum putus sejak insiden tadi. Olivia tidak langsung menjawab. Ia justru mendorong tubuh Marvel perlahan, menciptakan jarak tanpa mengatakan sepatah kata pun. Namun sebelum ia sempat berbalik sepenuhnya, Marvel kembali melangkah maju. Tangannya meraih lengan Olivia dengan kendali penuh kehati-hatian, bukan memaksa, tapi cukup kuat untuk menahannya tetap di tempat. Ia melirik ke arah beberapa pelayan yang kini tengah bergegas ke arah mereka, membawa lap dan nampan kosong untuk membersihkan pecahan kaca. Marvel menunduk sedikit, mendekat ke telinga Olivia dan bertanya dengan nada yang lebih rendah dan berat, “Apakah ini… pertemuan pertama kita?” Pertanyaannya sederhana, namun menyiratkan rasa ingin tahu yang dalam, seolah ia mencoba membaca sesuatu lebih dari sekadar kejadian kebetulan. Olivia menatap mata pria itu lagi. Tatapannya tetap tajam, tapi ada senyum tipis yang hampir tidak terlihat menyelusup di sudut bibirnya. “Mungkin iya. Mungkin juga tidak.” Jawabannya mengambang, sengaja dibiarkan kabur, seperti teka-teki yang ia ingin Marvel pecahkan sendiri. Dengan lembut, Olivia melepaskan lengan dari genggaman Marvel. Ia berbalik, melangkah pelan meninggalkan tempat itu, membaur kembali ke kerumunan para tamu. Namun saat ia hampir menghilang di balik dinding manusia dan suara orkestra yang kembali bergema, Olivia menoleh sekilas. Pandangannya bertemu sekali lagi dengan Marvel, dan kali ini, sebuah senyum kecil terukir di wajahnya. Senyuman yang menggoda penasaran. Marvel berdiri diam, masih menatap ke arah wanita itu bahkan setelah bayangannya lenyap. Namun, Marvel tak bisa membiarkan momen itu menguap begitu saja. Ia segera menyusul, melewati pelayan yang masih sibuk, mengabaikan sapaan beberapa tamu, dan akhirnya menemukan sosok wanita itu di balkon samping ruang pelelangan. Angin malam membawa aroma musim gugur, dingin dan segar, menyapu rambut panjang Olivia yang tergerai bebas. Ia berdiri membelakangi pintu balkon, menatap kota yang berkilaudi bawah langit gelap Moskow. Marvel berdiri di sampingnya, menjaga jarak sopan, namun cukup dekat untuk membiarkan kehadirannya terasa. “Pertama kalinya datang ke tempat seperti ini?” tanyanya tanpa menoleh, suaranya tetap rendah dan penuh kontrol. Olivia masih memandangi kota, lalu mengangguk pelan. “Ya. Dan mungkin juga terakhir,”jawabnya santai. Marvel menoleh, meneliti raut wajahnya dari samping. “Kau tidak terlihat seperti seseorang yang tersesat,” ujarnya. Olivia mengangkat bahu sedikit. “Aku tahu apa yang kucari, hanya belum tahu harus menemukannya di mana.” Lalu, tanpa melihat ke arah Marvel, ia bertanya balik, “Kau penawar atau penjual?” Marvel tertawa kecil, nyaris tanpa suara. “Bukan dua-duanya.” Olivia akhirnya menoleh, menatapnya dengan alis sedikit terangkat. “Lalu apa?” tanyanya pelan, seolah tak benar-benar butuh jawaban, hanya ingin mendengar suaranya lebih lama. Marvel tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap mata Olivia, dan untuk beberapa detik,tak satu pun dari mereka bicara. Suasana di balkon seolah menjadi dunia sendiri jauh dari tawa, musik, dan hiruk-pikuk pesta di dalam. Langkah mereka saling mendekat, secara perlahan tapi pasti. Seolah ditarik oleh sesuatu yang lebih kuat dari logika. Ucapan mereka berhenti, digantikan oleh tatapan mata yang menggoda, penuh tanda tanya tanpa jawaban. Marvel mengangkat tangan dan menyentuh ujung rambut Olivia yang tertiup angin, lalu menurunkannya pelan ke samping wajah wanita itu. Sentuhan itu lembut, nyaris tak terasa, tapi cukup untuk mengundang napas Olivia menahan sejenak. “Aku tidak tahu siapa kau,” bisik Marvel akhirnya, “tapi kurasa, aku ingin tahu.” Olivia tidak menjawab. Ia hanya menatap mata Marvel yang kini semakin dekat, dan ketika wajah mereka hanya terpisah beberapa inci, waktu seperti berhenti. Lalu, tanpa peringatan, bibir mereka bersatu dalam ciuman yang dalam, hangat, perlahan, namun sarat dengan ketegangan yang selama ini tertahan. Ciuman itu bukan sekadar dorongan spontan, melainkan pengakuan diam-diam dari dua jiwa yang telah bermain dalam tarikan misterius sejak detik pertama mereka bertemu. Kini, keduanya berada di salah satu kamar pribadi dalam gedung itu. Ciuman mereka tidak berhenti, justru semakin dalam saat pintu tertutup di belakang mereka. Gairah yang semula perlahan kini membuncah, memabukkan logika dan menyapu batas-batas kesadaran. Olivia melepaskan jas yang membalut tubuh Marvel. Jemarinya menyentuh kulitnya, menghantarkan ketegangan yang mengalir di antara keduanya. Marvel merespons dengan menarik pinggang Olivia lebih dekat, membawanya menuju ranjang besar di tengah ruangan yang dingin oleh udara pendingin. Dengan dorongan halus, Marvel membaringkan Olivia dan menindihnya perlahan. Bibirnya menjelajahi kulit leher yang harum dan hangat, memancing lenguhan pelan dari bibir wanita itu. Gaun hitam yang membalut tubuh Olivia telah terlepas dan tergeletak di lantai. Kemeja putih Marvel menyusul, mendarat di atas sofa. Napas keduanya kini memburu, saling berkejaran, memanaskan ruangan yang sebelumnya sejuk. Dalam kegelapan temaram, tubuh mereka menyatu, menghapus batas yang seharusnya dijaga. Detak jantung Olivia berpacu cepat, seiring dengan gerakan Marvel yang semakin intens dan penuh tuntutan naluriah. Jemari Olivia mencengkeram bahu Marvel, meninggalkan goresan samar di punggungnya, bukti dari luapan rasa yang tak terbendung. Marvel menekan lebih dalam, menahan desahan berat di tenggorokannya, sebelum akhirnya bisikan kepuasan lolos dari bibirnya. Dalam kelelahan yang memabukkan, ia membiarkan tubuhnya jatuh di sisi Olivia, terlelap dengan napas berat yang perlahan tenang. Sementara itu, Olivia terdiam sejenak. Ia bangkit dari ranjang dan berjalan menuju kamar mandi. Saat air shower mulai mengguyur tubuhnya, dingin menyentuh kulitnya dan membawa pikirannya kembali pada kenyataan. Setelah beberapa saat di bawah pancuran air, Olivia keluar dari kamar mandi. Rambut panjangnya masih basah, sebagian menempel di bahu. Ia mengenakan gaun mandi putih yang disediakan oleh pihak hotel, mengikatnya ketat di pinggang. Langkahnya pelan menghampiri kursi di dekat meja. Di atasnya, terletak tas tangan kecil berwarna hitam. Ia membuka resleting perlahan, mengeluarkan sepucuk pistol berwarna perak. Olivia berdiri beberapa langkah dari tempat tidur, menatap tubuh Marvel yang masih terbaring setengah tertutup selimut Olivia mengangkat pistolnya perlahan, mengarahkan ujung laras ke arah pria itu. Jemarinya menempel di pelatuk, dan hanya tinggal satu tarikan ringan untuk menyelesaikan semua dendam yang telah ia simpan selama lima belas tahun. Namun sebelum jemarinya sempat menekan pelatuk, Marvel membuka mata dan duduk.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Nona-ku Canduku

read
103.9K
bc

Eat Me, Daddy!

read
27.9K
bc

Hamil Anak Sugar Daddy

read
9.1K
bc

OM DEWA [LENGKAP]

read
6.8K
bc

Lara, Ketika Cinta Tak Memilih

read
12.9K
bc

BRIANNA [Affair]

read
133.2K
bc

SEXY DEVIL UNCLE

read
19.6K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook