Bila dihitung hampir satu bulan aku sudah berlatih bersama Arsen setiap hari. Walau setiap hari begitu berat kurasakan, tapi aku tak pantang menyerah. Aku mengikuti apa pun yang diperintahkan Arsen padaku.
Awalnya fisikku yang lemah ini memang tersiksa dengan semua kegiatan yang aku lakukan, tapi lambat laun aku terbiasa sehingga kini perlahan tapi pasti tubuhku mulai menguat sedikit demi sedikit. Bahkan Arsen sekalipun sudah mengakui bahwa keadaan fisikku jauh lebih baik dibandingkan saat pertama kali memulai latihan ini.
Sudah dua minggu Arsen tak lagi hanya menyuruhku berolahraga untuk menguatkan fisikku, melainkan dia sudah mulai mengajariku cara menggunakan senjata. Dia mengajariku cara menyerang dengan pisau, juga dengan senjata bernama pistol. Itulah yang aku lakukan sekarang, aku sedang berada di lapangan bersama Arsen di mana di depan sana ada patung yang dijadikan target yang harus aku tembak. Ada sebuah pistol di tanganku, senjata yang dua minggu ini selalu aku pegang.
“Coba lakukan sekali lagi. Tembakan yang tadi sudah lebih baik dibandingkan sebelumnya.”
Arsen berkata demikian, menyuruhku untuk kembali menembak di saat sudah sekitar dua belas tembakan yang aku lepaskan.
“Jangan lupa isi dulu pelurunya.” Arsen mengingatkan.
Tanpa mengatakan apa pun, aku melakukan seperti yang dia katakan karena dia sudah mengajariku cara mengisi peluru di dalam pistol ini sehingga aku bisa melakukannya sendiri. Setelah memastikan peluru terisi dengan benar, aku mulai membidik targetku yaitu patung nun jauh di depan sana.
“Fokus tatap targetmu, jangan memikirkan yang lain. Kau hanya harus konsentrasi pada satu tujuan yaitu menembakkan pelurumu para patung itu.”
Aku mengangguk, berulang kali Arsen mengingatkan hal ini, walau tak kupungkiri sangat bosan mendengarnya, tapi aku tahu dia melakukan ini demi kebaikanku agar aku cepat menguasai penggunaan senjata ini.
Kini aku dalam posisi menembak, jari telunjukku sudah siap menekan pelatuk sedangkan tatapanku sekarang tertuju sepenuhnya pada patung di depan sana.
Setelah yakin tembakanku tepat, aku pun benar-benar menarik pelatuk. Suara letusan pun terdengar, sebuah peluru meluncur dengan cepat dari moncong pistol di tanganku ini.
Peluru itu melesat sangat cepat hingga tak bisa diikuti dengan mata telanjang, tapi saat peluru itu menancap tepat di d**a patung di depan sana, seketika aku mengembuskan napas pelan. Memang tembakanku tak sesuai dengan harapanku karena yang kutargetkan adalah kepala sang patung alih-alih bagian dadanya, tapi setidaknya tembakanku tak terlalu meleset jauh. Aku masih berhasil menembak sasaran dengan tepat.
“Bagus. Kau sudah cukup menguasai cara menggunakan pistol itu sekarang.”
Aku menoleh pada Arsen yang kuanggap baru saja memberikan pujian padaku.
“Lihat, kan, sudah kukatakan aku pasti bisa jika terus belajar dengan giat dan ulet,” ucapku dengan bangga karena merasa telah berhasil membuktikan ucapanku bahwa jika aku menginginkannya maka apa pun bisa aku lakukan.
Arsen mendengus. “Tapi butuh waktu yang lama sampai kau bisa pada tahap ini.”
“Memangnya dulu saat kau belajar menembak, butuh berapa lama sampai kau bisa melakukannya?” tanyaku penasaran karena ucapannya tadi terkesan merendahkan kemampuanku.
Arsen berdeham. “Yang pasti lebih cepat dibandingkan kau.”
“Masa?” Tatapanku memicing tajam, tak mempercayai sepenuhnya yang dia katakan ini. “Ngomong-ngomong siapa yang mengajarimu cara menembak? Aku yakin dulu ada yang mengajarimu, tidak mungkin kan kau bisa langsung menembak sendiri tanpa belajar dari siapa pun?”
“Aku belajar dari ayahku,” sahut Arsen dan kulihat tatapannya tiba-tiba berubah sendu. Aku meneguk ludah, menyesali pertanyaanku ini yang sepertinya membuat Arsen kembali teringat pada mendiang ayahnya yang katanya tewas di dalam penjara.
“Dulu aku juga berlatih menembak di tempat ini.” Arsen melanjutkan ucapannya, aku tahu dia sedang mengenang kenangan indahnya bersama sang ayah.
“Kenapa ayahmu mengajarimu cara menembak?”
“Untuk melindungi diriku sendiri tentunya. Di luar sana banyak orang jahat asal kau tahu.”
“Apa benar peluru yang ada di pistol ini bisa membunuh manusia?” tanyaku seraya kutatap pistol yang berada di tanganku.
“Bukan hanya bisa membunuh manusia, binatang juga akan langsung mati jika terkena tembakan itu.”
“Apa termasuk ikan?” Pertanyaan ini terlontar dengan sendirinya dari mulutku, ini karena aku penasaran apakah senjata ini bisa juga membunuh bangsa mermaid sepertiku dan Lex.
“Ikan?” Suara tawa pun mengalun kencang dari mulut Arsen. Dia secara terang-terangan menertawakan pertanyaanku yang serius ini. Aku memang ingin mendengar jawabannya.
“Mana ada membunuh ikan dengan menembaknya. Cukup dengan menangkap ikan itu lalu memotongnya dengan pisau, ikan itu akan langsung mati. Atau tidak perlu sengaja dibunuh dengan senjata pun, asalkan ikan itu diletakan bukan di dalam air pasti akan mati sendiri. Pertanyaanmu itu konyol sekali, ya. Aku bingung kau ini sebenarnya terlalu bodoh atau polos.”
Aku memasang ekspresi cemberut di wajahku karena tersinggung mendengar ucapan Arsen yang memang selalu pedas dan menyakitkan seperti ini. Namun, di sisi lain aku tak menyalahkanya karena dia tak tahu ada jenis ikan yang berbeda dengan ikan yang dia tahu selama ini. Ada kami penghuni lautan Atlantis, bangsa mermaid yang juga hidup di dalam air.
“Sudahlah, daripada membahas pertanyaan bodoh seperti itu, lebih baik kau lanjutkan latihannya. Sekarang coba kau tembakan ke arah kepala patung itu.”
Aku meneguk ludah tanpa sadar begitu mendengar permintaan Arsen ini, karena tadi pun aku menargetkan menembak kepala patung itu tapi hasilnya gagal. Aku takut kata-kata pedas akan kembali terlontar dari mulut Arsen jika sampai kali ini aku gagal melakukannya lagi.
“Hei, kenapa malah diam? Ayo cepat tembak kepala patung itu.”
Aku menggeram tertahan, memang selalu seperti ini, Arsen tipe orang yang tidak sabaran, sehingga mau tak mau harus segera kulakukan apa pun yang dia perintahkan atau dia akan kembali mengeluarkan kata-kata yang menyakiti hati.
Sekali lagi aku mencoba membidik kepala patung itu. Jantungku berdetak sangat cepat, khawatir peluru yang sebentar lagi akan kulepaskan ini tidak menancap di tempat yang seharusnya. Namun, aku tetap mencobanya. Tatapanku begitu fokus tertuju pada kepala sang patung. Tak ada hal lain yang kupikirkan selain ingin agar peluru dari pistolku ini menancap di kepala patung itu.
Begitu aku menarik pelatuk karena yakin tembakanku sudah tepat pada target.
DOR!
Suara letusan pun terdengar memekakan telinga. Seperti halnya tadi sebuah peluru meluncur dengan kecepatan tinggi dan kali ini aku lega bukan main karena peluru itu menancap tepat di kening patung itu.
Suara tepuk tangan detik itu juga terdengar, aku pikir itu Arsen yang senang karena aku berhasil menembus target yang dia minta, aku pun berbalik badan menghadap di mana Arsen berada.
“Wow, hebat. Sepertinya kau sudah pandai menggunakan senjata sekarang.”
Namun, rupanya tebakanku salah besar karena yang barusan bersuara dan bertepuk tangan adalah Myesha yang baru saja berjalan menghampiri Arsen. Rupanya wanita itu melihat bagaimana tembakanku tepat sasaran.
“Kak Arsen, kau hebat sekali karena bisa melatihnya sampai sehebat ini dalam menembak. Tidak salah aku meminta Kakak untuk mengajarinya.”
Tatapan Myesha kini tertuju padaku. “Karena sepertinya hasil latihanmu dan Kak Arsen membuahkan hasil yang memuaskan dan kau juga sudah siap menjalankan tugasmu, bagaimana kalau besok kita memulai rencana balas dendam kita pada keluarga Mikelson?” ucapnya seraya menyeringai lebar.
Detik itu juga aku tahu mulai besok hidupku tak akan sama lagi karena aku akan berubah menjadi seorang penjahat yang memiliki tugas untuk menghancurkan sebuah keluarga.