Bayaran Mahal Untuk Sebuah Permintaan

1359 Kata
Kegiatanku belakangan ini adalah berlatih bersama Arsen. Seperti yang dia katakan beberapa hari yang lalu, dia memang tidak main-main memberikan perintah padaku. Seolah sedang menyiksaku, dia terus menyuruhku melakukan olahraga yang melelahkan. Dia menyuruhku berlari mengelilingi lapangan, menyuruhku melakukan olahraga pemanasan maupun kegiatan berat lainnya yang bertujuan melatih fisikku agar menjadi kuat. Karena aku yang tak boleh kelelahan, tentu saja aku sangat tersiksa mengikuti pelatihan itu, tapi sekali lagi karena ini demi Lex, aku pun mencoba menahan diri. Aku tak pernah mengeluh lagi meskipun sesakit apa yang tubuhku rasakan. Aku tak ingin Myesha dan Arsen berubah pikiran karena melihatku yang begitu lemah ini. Hari ini seperti biasa aku sedang bersiap-siap untuk mengikuti latihan. Pagi-pagi sekali aku sudah bangun dan kini sedang membereskan tempat tidur, seharusnya sebentar lagi Arsen akan memanggilku. "Ashley, boleh aku masuk?" Refleks aku menoleh ke arah pintu yang menjadi sumber suara, ternyata Lex baru saja muncul dari balik pintu. Aku mendengus. "Tumben sekali kau meminta izin, biasanya kau langsung masuk ke dalam tanpa meminta izin dulu padaku." Lex terkekeh seraya melangkah mendekatiku yang sedang duduk di pinggir ranjang. Lex pun melakukan tindakan yang sama, dia duduk tepat di sampingku. "Waktu itu kau yang menyuruhku meminta izin dulu kalau mau masuk ke kamarmu, kenapa sekarang malah bertanya saat aku melakukan seperti yang kau minta?" "Aku hanya terkejut mendengar kau bersikap sopan di depanku." "Huh, sembarangan. Aku selalu bersikap sopan padamu selama ini." "Hah?" Aku memutar bola mata. "Kapan kau bersikap sopan padaku? Jangan membuatku tertawa, biasanya juga kau tidak segan-segan bersikap di depanku. Bahkan kau sering mengejekku." Saat mengatakan itu aku meninju pelan d**a bidang Lex dengan maksud bercanda dan siapa sangka tiba-tiba dia menangkap tanganku, lalu menggenggamnya erat. Lex juga menatapku sangat lekat sekarang membuatku refleks meneguk ludah karena tiba-tiba dia memasang ekspresi serius seperti ini. Yang paling membuatku gugup karena dia tengah menelisik penampilanku dari ujung kepala sampai ujung kaki. "Ashley, kau baik-baik saja, kan? Kenapa banyak luka di tubuhmu?" Bukan tanpa alasan Lex bertanya seperti ini padaku karena memang benar di beberapa bagian tubuhku terutama lutut dan siku tangan, terdapat luka yang aku tutupi dengan plester. Sebenarnya ini luka yang kudapatkan karena latihan keras yang sedang kujalani beberapa hari ini. Luka karena aku terjatuh saat menuruti perintah Arsen. Aku tersenyum kecil pada Lex. "Tidak apa-apa, ini hanya luka kecil. Jangan khawatir." "Apanya yang luka kecil? Lukamu banyak sekali, Ashley. Lihat, bahkan banyak luka lecet begini." Lex menunjuk pada beberapa luka lecet di tangan dan kaki yang memang tak aku tutupi, luka yang mulai mengering karena sudah beberapa hari yang lalu aku dapatkan. Aku kembali mengulas senyum tipis, berpura-pura baik-baik saja karena tak ingin membuat Lex khawatir, nyatanya luka-luka ini sangat perih kurasakan. "Serius aku baik-baik saja, Lex." "Kenapa kau bisa terluka begini, Ash?" "Aku terjatuh saat berjalan, mungkin karena masih belum terbiasa berjalan dengan kedua kaki ini." Lex tak mengatakan apa pun, tapi dia masih menatapku serius. "Ini karena kau sangat bandel, Ash. Sudah kukatakan seharusnya kau tidak mengikutiku ke daratan, harusnya kau kembali ke Atlantis." Aku yakin raut wajahku sekarang berubah mengeras karena aku kesal sekali mendengar Lex yang terus menyuruhku kembali ke Arlantis seolah dia tak senang aku berada di sampingnya. Karena tak ingin menyembunyikan kekesalanku, aku pun menepis kasar tangan Lex yang menggenggam tanganku. "Berhenti menyuruhku kembali ke Arlantis, Lex. Aku tidak akan pernah kembali ke sana kecuali jika kau ikut denganku pulang." "Berapa kali harus kukatakan padamu, aku tidak akan pernah kembali ke Atlantis. Aku akan tinggal di sini bersama Myesha." Tanpa sadar aku mengepalkan tangan, seperti biasa hatiku sangat sakit setiap kali dia mengatakan ini di depanku. "Kalau begitu jangan menyuruhku kembali ke Atlantis lagi karena selama kau tinggal di sini, maka aku pun akan tinggal di sini." Aku pun bangkit berdiri karena tak ingin lebih lama lagi berdebat dengan Lex tentang masalah ini. Aku berniat pergi menuju pintu ketika salah satu tanganku tiba-tiba dicekal oleh Lex, dia mencoba menghentikan agar aku tak pergi. "Aku heran denganmu, Ash. Kenapa kau sampai seperti ini? Menyiksa dirimu sendiri hanya karena ingin tetap bersamaku?" Ingin rasanya kukatakan aku melakukan ini karena sangat mencintainya dan tak bisa jika harus hidup tanpanya, tapi tentu saja aku menahan diri, tak mungkin aku mengakui itu di depannya. Aku pun hanya diam, tak menjawab apa pun. "Padahal seharusnya sekarang kau tinggal di Atlantis. Hidup dengan bahagia di sana dengan pasanganmu. Sudah saatnya kau mencari pasanganmu sendiri." Sungguh hatiku sakit bukan main mendengar ucapan Lex yang seolah menyiratkan dia sedang menyuruhku mencari pria lain, ini bukti dia tak pernah menginginkan aku. Ini sangat menyakitkan di saat aku begitu menginginkannya menjadi pasanganku, bukan pria lain. "Sudah saatnya kau hidup bersama pasanganmu dan membina sebuah keluarga, Ash. Jangan paksakan dirimu tinggal di sini hanya karena ada aku." Aku mendelik tajam padanya dan sekali lagi kutepis kasar tangannya yang menggenggam tanganku sehingga berhasil terlepas. "Oh, kau ingin sekali melihatku bersama pria lain ya, Lex?" tanyaku, kuyakini suaraku terdengar ketus dan sinis. Tanpa ragu Lex mengangguk. "Ya, karena aku ingin melihatmu bahagia seperti aku yang sudah menemukan kebahagiaan bersama Myesha." Ingin rasanya aku mengatakan bahwa Myesha hanya berpura-pura membalas cintanya karena wanita itu faktanya tak pernah mencintai Lex, tapi aku tak sampai hati menghancurkan hati Lex dengan kebenaran itu sehingga aku hanya memilih diam. "Memiliki pasangan itu sangat menyenangkan, Ash. Kau tidak akan pernah merasa kesepian lagi karena ada seseorang di sampingmu yang bisa setiap saat berbagi apa pun. Aku ingin secepatnya kau bisa merasakan kebahagiaan seperti yang aku dan Myesha rasakan sekarang." Bersamaan dengan Lex yang baru saja menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba aku mendengar suara seseorang membuka pintu kamarku, begitu aku menoleh ternyata itu Arsen dengan kursi rodanya, aku tahu dia sedang menjemputku untuk pergi berlatih. "Lex, kau ingin melihatku memiliki pasangan, bukan?" tanyaku tiba-tiba yang sebenarnya sedang tersulut emosi karena semua yang dikatakan Lex tadi. Lex mengangguk. "Ya," sahutnya. Aku pun mendengus. "Kalau begitu kau akan melihatnya sekarang juga." Aku berjalan menghampiri Arsen yang masih berada di dekat pintu, menatapku dan Lex dengan raut kebingungan karena pria itu tak memahami arah pembicaraan kami ini. Aku berhenti melangkah setelah berdiri di belakang kursi roda Arsen. "Inilah pasanganku, Lex. Sepertimu yang sudah berbahagia karena sudah menemukan Myesha sebagai pasanganmu, aku pun begitu. Arsen adalah pasanganku." Bukan hanya Lex yang terlihat melebarkan mata karena mendengar ucapanku yang melantur dan mengejutkan ini, kurasa Arsen pun demikian jika dilihat dari bola matanya yang terbelalak sempurna seolah akan menggelinding keluar dari kelopaknya. "Apa yang kau katakan barusan, Ash? Kau dan Arsen …" "Seperti kau yang menemukan Myesha sebagai pasanganmu, aku pun begitu. Aku mencintai Arsen." Setelah mengatakan ini, aku pun mendorong kursi roda Arsen meninggalkan Lex, aku tak ingin memperpanjang perbincangan ini dan semakin banyak membohonginya. "Hei, apa-apaan ini? Apa maksudnya kau bicara begitu di depan pria itu?" Aku tak terkejut mendengar pertanyaan Arsen ini, sudah kuduga dia akan bertanya demikian. "Maaf, tapi sekali ini saja tolong bantu aku. Berpura-puralah kita saling mencintai di depan Lex." "Hah? Apa kau tidak waras, kita …" "Ini satu-satunya permintaanku padamu. Tolong bantu aku berbohong di depan Lex. Aku akan melakukan apa pun asalkan kau mau mengabulkan permintaanku ini," ujarku cepat, lagi-lagi memotong ucapannya yang belum selesai. Arsen tak langsung menjawab, dia terdiam seolah sedang menimbang-nimbang keputusan yang harus diambilnya. "Apa kau serius akan melakukan apa pun agar aku mengabulkan permintaanmu ini?" tanyanya kemudian. Tentu saja kutanggapi dengan anggukan karena aku memang tak main-main dengan ucapanku ini. "Baik, akan kukabulkan permintaanmu ini, tapi persiapkan dirimu karena tentunya bantuanku ini tidak gratis, kau harus membayarnya dengan mahal." "Aku harus membayarnya dengan uang?" tanyaku tak paham. Arsen berdecak. "Tentu saja bukan uang, tapi aku akan meminta bayaran yang lain." "Apa itu?" Kali ini Arsen mendengus. "Akan kukatakan nanti, yang jelas saat aku meminta bayaran untuk bantuanku ini, mau tidak mau kau harus menuruti apa pun permintaanku. Paham?" ucapnya seraya menyeringai lebar. Aku meneguk ludah, hanya dengan melihat ekspresi wajahnya, aku tahu Arsen sudah merencanakan sesuatu, tapi akhirnya aku hanya bisa mengangguk karena terpaksa harus menyetujui hal ini agar Lex tak lagi menyuruhku kembali ke Atlantis. Hanya ini satu-satunya cara dan sepertinya aku harus siap menanggung resiko karena sudah nekat meminta bantuan pada Arsen. Entah rencana apa yang sudah menari-nari dalam kepala pria itu?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN