Acara makan siangku bersama Ansell bisa dikatakan berjalan lancar, sejauh ini aku bisa menjwab semua pertanyaannya dan sepertinya dia tidak mencurigai apa pun. Dia juga terlihat mempercayai mentah-mentah semua kebohonganku. Kini kami sudah pergi meninggalkan restoran karena Ansell sudah menyelesaikan kegiatan makannya. Kami sedang berjalan beriringan menuju kampusnya karena Ansell bilang dia masih ada mata kuliah setelah ini. “Apa kau masih belum lapar?” Aku yang sedang berjalan sambil menundukan kepala karena meski ragaku ada di sini, pikiranku sebenarnya sedang melanglang buana entah ke mana. Seketika aku mendongak dan menatap Ansell yang tiba-tiba bertanya demikian. “Ya, aku belum lapar. Kenapa memangnya?” “Kalau kau lapar katakan saja, di kampus ada kantin, aku akan menemanimu ma

