“Haah? Lo serius, cewek semanis Inggrid suka laba-laba? Lo salah kali, Bow,” seru Panthana, nyaris berteriak saking terkejutnya ketika mendengar Bowbow mengatakan Inggrid menyukai laba-laba. Menurutnya tidak masuk akal gadis semanis dan seanggun Inggrid menyukai hewan menyeramkan seperti laba-laba. Seharusnya gadis sepertinya menyukai hal-hal yang manis juga seperti bunga misalnya.
“Beneran, aku gak bohong. Aku liat sendiri kakaknya ngasih kejutan mainan laba-laba gitu. Terus dia bilang Inggrid pasti seneng liat kejutan darinya,” sahut Bowbow, menjelaskan bahwa yang dia katakan memang benar adanya.
“Tapi gue tetep ngerasa aneh.”
“Udahlah, Thana. Mendingan sekarang kamu cepetan siapin hadiah buat dia. Ulang tahunnya kan besok jangan sampe kamu telat ngasih kado.”
“Ya, ya, baiklah. Tapi udah malem gini emangnya ada ya toko boneka yang masih buka? Lagian gue gak yakin bisa nemu boneka laba-laba.” Panthana yang sejak tadi berdiri kini mendudukan dirinya di kursi, depan meja belajarnya. Dia tampak berpikir bagaimana baiknya mencari hadiah untuk Inggrid. Saat ini waktu nyaris menunjukan tengah malam, dia sangsi masih ada toko boneka yang masih buka. Di jam segini bahkan Mall-Mall besar pun pasti sudah tutup.
“Lo sih ngasih tahunya kemaleman? Emangnya lo kemana dulu tadi?” Tanya Panthana seraya memicingkan kedua matanya menatap ke arah Bowbow.
Sore tadi, setelah pulang mengantarkan Dian, Panthana pun langsung pulang ke rumahnya. Namun dia tidak mendapati sosok Bowbow dimana pun. Sang hantu yang biasanya berkeliaran di sampingnya, tiba-tiba lenyap bagai tertelan bumi. Memang dia tahu Bowbow sedang pergi ke rumah Inggrid untuk mencaritahu benda kesukaannya. Tapi menurutnya terlalu lama dia pergi, memangnya membutuhkan waktu selama itu ya mencaritahu benda kesukaan Inggrid?
“Aku tadi sore pergi ke sekolah dulu.”
“Haah? Ngapain lo ke sekolah?” Tanya Panthana, semakin heran setelah mendengar jawaban Bowbow.
“Aku pergi ke toilet cowok di Aula tertutup. Udah lama aku gak kesana sejak ikut kamu.”
Panthana menghela napas panjang. Hantu di hadapannya ini memang aneh, kenapa betah sekali bergentayangan di toilet pria? Atau jangan-jangan semua hantu memang begitu, mereka senang menetap di tempat mereka meninggal. Entah kenapa Panthana yakin kalau Bowbow meninggal di toilet itu. Hanya alasan itu yang paling masuk akal menurutnya, sehingga sang hantu betah bergentayangan di sana. Lain ceritanya jika dia senang bergentayangan di toilet pria karena hobinya mengintip para pria. Panthana menatap jijik ke arah Bowbow ketika membayangkan kebiasaan sang hantu yang teramat m***m menurutnya.
“Kok kamu natap aku aneh gitu?” Tanya Bowbow, menyadari tatapan aneh Panthana padanya.
“Lo yang aneh, kenapa sih betah banget gentayangan di toilet cowok? Lo seneng ngintipin cowok ya di sana? Gue heran ada gitu hantu m***m macam lo,” sahutnya seraya menggeleng-gelengkan kepala berulang kali.
“Ih, apaan sih? Bukan buat ngintipin cowok kok aku ke sana. Lagian kan aku ke sana udah malem, mana ada orang di sana?” Panthana terdiam, benar juga yang dikatakan Bowbow. Hantu itu tidak berbohong, jadi untuk apa dia pergi ke toilet itu? Sepertinya alasan pertama yang terlintas di benaknya tadi memang benar.
“Bow, gue rasa lo emang meninggal di toilet itu deh makanya lo gentayangan di sana. Lo kayaknya kangen banget ya sama toilet itu ampe bela-belain kesana terus pulang larut malam gini?”
“Gak tahu, mungkin aja aku emang meninggal di sana. Eh Thana, tadi kamu bilang, aku pulang larut malam. Jadi kamu udah anggap aku ini bagian dari keluarga kamu ya? Tadi kamu udah ngizinin aku anggap rumah ini sebagai rumah aku, kan?” Panthana terenyak dan sempat terbelalak meski hanya beberapa detik saja, dengan cepat dia memasang kembali raut datarnya.
“Nggaklah, emangnya siapa yang anggap lo keluarga gue? Rumah ini juga bukan rumah lo kok.”
“Tapi tadi kamu bilang ....”
“Ehheemmm!” Panthana berdeham keras supaya Bowbow menghentikan ucapannya. Dia keceplosan tadi, memangnya siapa yang menganggap hantu sebagai anggota keluarganya? Hanya orang gila yang menganggap hantu sebagai keluarganya, terlebih hantu itu sama sekali tidak dikenalnya.
Panthana bangkit berdiri, sekali lagi dia menatap ke arah jam dinding di kamarnya yang sudah menunjukan pukul 11.22 malam.
“Kayaknya gak mungkin ada toko boneka yang masih buka jam segini. Besok pagi aja deh gue nyari hadiahnya. Gue mau tidur,” ucapnya secepat kilat mengalihkan pembicaraan mereka. Diapun melangkah mendekati ranjangnya.
“Eh, jangan gitu. Emangnya kamu yakin besok pagi ada toko boneka yang udah buka? Yang ada nanti kamu telat datang ke sekolah kamu.” Seketika Panthana berhenti melangkah dan menatap ke arah Bowbow.
“Ya, terus gimana lagi? Kan gak mungkin juga kita nyari tokonya malam-malam gini?”
“Kamu gak usah nyari toko boneka, kamu kasih aja laba-laba beneran. Pasti Inggrid makin suka.” Panthana bergidik ngeri membayangkan dia menghadiahkan laba-laba asli untuk Inggrid. Dia sangsi Inggrid akan benar-benar suka menerimanya.
“Nggak, masa gue kasih hadiah laba-laba asli sih ke dia. Lagian gue masih gak percaya dia suka laba-laba,” sanggahnya, tak setuju.
“Kamu tuh ya gak ngehargain usaha aku buat bantu kamu nyari tahu benda kesukaan Inggrid. Giliran dikasih tahu malah gak percaya. Ya udah aku gak mau lagi bantuin kamu soal Inggrid. Percuma aja aku bantuin kamu, kamu juga gak bakalan percaya.” Sepertinya sang hantu tengah merajuk karena sekejap mata dia yang awalnya berhadapan dengan Panthana kini membalik tubuhnya, membelakangi Panthana seolah dia tak sudi lagi bertatapan dengan Panthana.
“Haha, lo marah ya? Lucu juga ya liat hantu yang lagi merajuk gini. Iya deh sorry, gue percaya kok sama lo. Terus, dimana kita mesti nyari laba-laba asli?” Dan sang hantu kembali membalik tubuhnya menghadap Panthana. Wajahnya yang memberengut kini kembali sumringah. Melihatnya membuat Panthana mendesah lelah seraya memutar bola matanya.
“Gampang, kita cari aja di halaman rumah kamu. Di sana kan banyak pohon-pohon, pasti ada laba-laba di sana.” Panthana melirik ke arah jendelanya yang tidak tertutupi gorden. Mendatangi halaman rumahnya di tengah malam begini, jujur saja bukan sebuah ide bagus menurutnya. Mungkin dia memang sudah mulai terbiasa diikuti Bowbow, tapi bukan berarti dia menjadi sosok pemberani yang tidak khawatir akan melihat penampakan hantu menyeramkan di salah satu pohon halaman rumahnya. Dia tidak takut pada Bowbow karena sosok hantu itu tidak menyeramkan seperti sosok hantu yang sering dilihatnya di film-film horor.
Dia bergidik layaknya orang yang kedinginan ketika membayangkan mungkin saja di salah satu pohon di halaman rumahnya dihuni kuntilanak. Dia belum siap dan tidak akan pernah siap jika tanpa sengaja melihat penampakan hantu yang satu itu.
“G-Gue rasa gak perlu nyari malam-malam gini, besok pagi-pagi juga bisa, kan?” Ucapnya, lalu berniat melanjutkan langkahnya menuju ranjangnya. Namun lagi-lagi dia menghentikan langkahnya karena mendengar Bowbow sedang mengejeknya habis-habisan sekarang.
“Kamu takut ya makanya gak mau nyari malam-malam gini? Padahal laba-laba itu pasti pada berkeliaran kalau malam gini. Kamu ini gimana sih Thana, masa gak mau berkorban demi cewek yang kamu suka? Aku gemes banget sama kamu, tahu gak? Pengecut banget sih kamu ini Thana.” Panthana menggeram kesal, tatapannya memicing penuh bahaya menatap Bowbow. Seandainya Bowbow itu bukan hantu, mungkin sudah dia jitak jidatnya karena sudah berani menyebutnya pengecut.
“Gue gak pengecut. OK, siapa takut. Ayo kita cari laba-labanya sekarang!”
“Kita? Kamu aja kali. Aku gak mau nemenin kamu. Aku kan udah berjuang bantuin kamu nyari tahu, sekarang giliran kamu yang berjuang sendiri.” Panthana sudah membuka mulutnya hendak menyahut, namun dia urungkan ketika mengingat mungkin Bowbow akan semakin mengejeknya jika dia memaksa sang hantu untuk menemaninya. Bisa-bisa selain diejek pengecut, dia juga akan diejek penakut oleh Bowbow. Hei ... dia cowok lho, malu banget kan kalau diejek hantu habis-habisan?
Akhirnya Panthana memutuskan memberanikan dirinya mencari laba-laba demi gadis yang dicintainya, Inggrid. Mencarinya seorang diri.
Dia mengendap-endap keluar dari rumahnya dengan sebuah plastik bening dan sarung tangan yang dia pegang di tangannya. Ibu dan adiknya tentu sudah tidur di jam segini, dia tidak ingin menimbulkan keributan yang berakibat membangunkan kedua wanita yang berharga baginya itu. Selain itu, harus beralasan apa jika mereka memergokinya dan bertanya kenapa dirinya malam-malam begini keluar rumah? Bukankah sangat memalukan jika dia harus menjawab untuk mencari laba-laba demi memberikan kado pada gadis yang disukainya? Dia belum siap menceritakan tentang perasaan sukanya pada Inggrid kepada siapapun, termasuk keluarganya sendiri. Di muka bumi ini yang mengetahui perasaannya pada Inggrid, hanya Bowbow seorang.
Panthana sudah berdiri di halaman rumahnya yang cukup luas. Ada berbagai pohon disana, seperti pohon mangga, pohon jambu, belimbing bahkan pohon rambutan pun ada. Oh iya, jangan lupakan pohon beringin berdaun lebat yang juga ada disana. Pohon itu bisa dikatakan paling besar dan tua, karena keberadaan pohon beringin itu pulalah yang membuat Panthana enggan datang ke halaman rumahnya malam-malam begini.
Bukankah hantu terutama kuntilanak senang menghuni pohon beringin? Kira-kira itulah yang dipercaya Panthana karena efek dirinya terlalu banyak menonton film horor.
Dia tak berani melirik ke arah pohon beringin yang tampak gelap karena tak ada lampu yang dipasang di dekat pohon itu. Dia pun memilih mendekati pohon mangga yang berada paling dekat dengan lampu sehingga terlihat terang disana.
Dia perhatikan dengan seksama batang pohon itu, berharap bisa menemukan seekor laba-laba disana.
“Si Bowbow gak lagi ngerjain gue kan nih? Masa iya Inggrid suka laba-laba. Kok gue ragu gini ya?” Gumamnya pada dirinya sendiri, sedangkan kedua matanya masih sibuk menatap batang pohon di depannya.
Tak menemukan keberadaan seekor pun laba-laba di pohon itu, dia mengalihkan perhatiannya pada pohon lainnya. Kembali dia menatap ke arah pohon rambutan yang kini menjulang tinggi di depannya. Dia memutari pohon, setelah diyakini tak menemukan seekor pun laba-laba disana, dia memutuskan untuk berpindah ke pohon yang lain.
Akan tetapi, tiba-tiba langkahnya terhenti. Dia teguk salivanya panik ketika dirasa bulu kuduknya meremang. Bukan hanya itu, dia juga merasakan hawa dingin menerpa kulitnya. seketika dia memeluk dirinya sendiri, dia cemas dan gelisah. Dia yakin hawa menyeramkan yang tiba-tiba dia rasakan berasal tepat dari belakangnya. Tanpa perlu menoleh pun dia tahu, di area belakangnya hanya ada satu pohon yaitu pohon beringin.
Sekali lagi dia teguk salivanya susah payah ketika angin berembus semakin kencang dia rasakan. Kencangnya angin bahkan membuat daun-daun yang tumbuh di pohon-pohon itu bergoyang-goyang dan ada beberapa yang berjatuhan ke tanah.
Perang batin di dalam diri Panthana tiba-tiba menyerang ketika telinganya mendengar suara bisikan tepat dari arah pohon beringin. Dia takut? tentu saja tidak perlu diragukan lagi, dia memang ketakutan hingga bisa saja dia sampai kencing di celana. Untungnya sebagai seorang pemuda remaja yang nyaris menginjak usia dewasa, dia masih mampu mempertahankan harga dirinya dengan tidak melakukan hal memalukan itu. Lucu bukan jika pemuda seusianya harus kencing di celana hanya karena takut pada hantu?
Dia ingin pergi dari sana tapi objek yang dicarinya belum didapatkan. Di sisi lain, suara berbisik itu semakin jelas terdengar telinganya. Akhirnya dia menyerah karena rasa penasarannya lebih mendominasi dibandingkan rasa takutnya. Dia ingin memastikan siapa gerangan yang berbisik di belakangnya itu.
Perlahan namun pasti, dia membalik tubuhnya. Namun, kedua matanya masih belum berani mendongak menatap ke arah pohon, jadi dia memilih menunduk menatap tanah.
Jantungnya berirama bagaikan jantung seorang atlet yang baru saja menyelesaikan latihan lari marathonnya. Untuk kesekian kalinya dia teguk salivanya ketika kini tubuhnya sudah persis berhadapan dengan pohon beringin. Dengan gerakan patah-patah, dia memberanikan diri mendongakan kepalanya. Dia sudah maju sampai sejauh ini, tidak ada jalan untuk mundur lagi.
Tatapannya mulai tertuju ke arah pohon beringin, sejauh ini belum ada yang dilihatnya selain batang pohon. Namun... jantungnya bekerja ekstra lebih cepat dari sebelumnya ketika dia melihat kain putih berkibar-kibar. Kain yang sepertinya sebuah dress yang sedang dikenakan oleh seseorang. Siapapun seseorang yang sedang mengenakan dress itu tengah menghentak-hentakan kakinya sehingga dress yang menutupi kedua kakinya bergoyang-goyang seirama dengan hentakan kakinya.
Kedua mata Panthana kini sudah melotot dengan peluh yang bercucuran dari pelipisnya. Padahal tiupan angin membuat suasana terasa dingin, akan tetapi peluh tetap bercucuran dari pelipisnya. Aneh bukan? Setidaknya Panthana merasa itu aneh. Kenapa dia bisa berkeringat di cuaca dingin pada malam itu?
Tatapannya semakin naik ke atas sehingga kini rambut panjang milik sosok itu terlihat jelas matanya.
Hihihihihihihihihihihihihihihihihi
Dan ketika suara tawa menyeramkan itu terdengar, Panthana tak sanggup lagi pura-pura berani. Dia berniat mengambil langkah seribu, masa bodo dengan laba-laba untuk Inggrid, dia tak sanggup jika harus melihat wajah hantu yang sedang menertawakannya sekarang.
Baru berbalik badan dan bersiap untuk berlari, tiba-tiba dia mendengar suara seseorang yang begitu dikenalnya, berasal dari pohon beringin.
“Thana, ternyata bener kamu emang takut. Hahaha... ini aku kok, gak usah takut.” Mendengar suara itu, mau tak mau Panthana kembali berbalik menatap ke arah pohon. Dia tak takut lagi menatap wajah sosok itu karena dia tahu persis siapa pemilik suara yang sepertinya tampak puas karena berhasil menjahilinya.
Urat-urat marah seketika bermunculan di kening Panthana ketika dia melihat Bowbow sedang duduk manis di dahan pohon beringin.
“Oh, jadi lo barusan sengaja nakut-nakutin gue? Ngapain lo pake dress putih gitu kayak kuntilanak?” Ujarnya dengan intonasi tinggi, bukti nyata hatinya sedang dilanda emosi yang meluap-luap.
“Ssttt... Thana, jangan kenceng-kenceng nyebut namanya nanti dia denger terus nyamperin kamu. Emang kamu mau disamperin kuntilanak?” Sahut Bowbow seraya kembali terkikik geli.
“Udah deh, gak lucu tahu gak.”
“Ternyata kamu emang takut ya? Makanya gak usah sok berani di depanku. Oh iya, kamu udah dapet belom laba-labanya?”
“Belom,” jawab Panthana ketus, bukannya meminta maaf karena perbuatannya telah merusak suasana hati Panthana, sang hantu jahil malah kembali terkikik geli.
“Belum puas juga ya lo ngetawain gue? Gak lucu tahu gak. Udah akh gue males, bodo amat soal laba-laba itu.” Panthana hendak beranjak pergi, dia benar-benar sudah menyerah mencari laba-laba untuk Inggrid.
“Thana, maaf. Aku bantuin kamu nyari laba-labanya deh. Kamu jangan marah lagi ya?” Bujuk Bowbow, namun diabaikan Panthana, pasalnya pemuda itu sudah melangkah jauh meninggalkan Bowbow.
“Thana, aku nemu laba-labanya!!!” teriak Bowbow, sesaat sebelum Panthana memutar kenop pintu rumahnya. Panthana berbalik, menyipitkan matanya menatap sosok Bowbow yang sedang melayang di depan pohon beringin seraya mengisyaratkan dengan tangannya agar dia menghampirinya.
“Sini, Thana, sini. Cepetan. Aku gak bohong. Beneran aku nemu laba-laba di sini.” Panthana mendesah lelah, toh pada akhirnya dia kembali melangkahkan kakinya mendekati sang hantu yang entah sejak kapan sudah seperti sahabat baginya.
Dalam langkahnya dia bertekad, jika Bowbow menjahilinya lagi maka dia tidak akan peduli lagi pada hantu itu bahkan sekalipun hantu itu mengemis meminta bantuannya untuk mencari jati dirinya dan alasan dia menjadi roh gentayangan.
Panthana kini sudah berdiri di dekat Bowbow dengan tatapan matanya penuh curiga. Kali ini dia tak akan percaya begitu saja pada perkataan Bowbow yang ternyata amat gemar menjahili orang lain.
“Itu ... itu laba-labanya. Kamu lihat, kan?” Seru Bowbow heboh seraya menunjuk ke arah batang pohon beringin. Panthana akhirnya mengikuti arah yang ditunjuk Bowbow, rupanya kali ini si hantu tukang jahil tidak membohonginya. Di sana ada seekor laba-laba berukuran besar, berwarna hitam dan berbulu.
“I-Ini kan bukan laba-laba tapi Tarantula,” ujarnya, tak yakin untuk mengambil tarantula yang sedang merayap di batang pohon.
“Tarantula juga laba-laba, Thana. Kamu ini gak tahu, lupa ingatan atau bodoh sih?”
“Yang hilang ingatan itu lo bukan gue. Satu lagi, gue juga gak bodoh,” sanggahnya, tak terima sang hantu menyebutnya bodoh.
“Lagian masa kamu sebut tarantula itu bukan laba-laba, kan jelas-jelas itu jenis laba-laba juga.”
“Iya, gue tahu. Tapi tarantula kan bahaya. Nanti kalau dia gigit Inggrid gimana?”
“Nggak, Thana. Inggrid pasti seneng. Kamu pecaya deh sama aku. Lagian kan dia emang suka laba-laba jadi pasti udah hafal betul cara nanganinnya. Ayo cepet kamu tangkep laba-labanya, nanti dia keburu pergi,” titah Bowbow girang.
Panthana masih ragu, tapi demi membahagiakan Inggrid dia memang harus berani berkorban melakukan apapun untuk membuat sang gadis senang. Akhirnya dengan tangannya yang telah terbungkus sapu tangan, dia menangkap tarantula itu. Segesit mungkin dia memasukannya ke dalam plastik bening yang sudah disiapkannya.
“Yeaaahh ... kamu berhasil, Thana. Tinggal kamu masukin kotak terus bungkus deh pake kertas kado. Besok kamu kasihin ke Inggrid, dia pasti seneng banget nerima hadiah dari kamu.” Panthana tersenyum miris mendengarnya. Namun tak dipungkirinya, dia senang karena berhasil menangkap tarantula itu. Di dalam hati dia berharap semoga yang dikatakan Bowbow memang benar adanya. Semoga Inggrid benar-benar menyukai hadiah darinya.
“Eh, tapi Thana, ulang tahun Inggrid kan lusa bukan besok,” ucap Bowbow sambil terkekeh geli karena sepertinya dia berhasil lagi menjahili Panthana. Seketika Panthana yang sedang menatap ke arah tarantula di dalam plastik, menatap nyalang ke arah Bowbow.
Dia baru ingat kalau hari ulang tahun Inggrid memang lusa bukan besok. Jadi kenapa dia harus susah payah nyari laba-labanya sekarang? Dia menggeram kesal ketika melihat Bowbow sedang tertawa lantang di depannya.
‘Sial, si Bowbow jahilin gue lagi,’ gumamnya dalam hati, kesal.