Di dalam sebuah aula, Panthana dan Inggrid tengah berlatih bermain Volly. Inggrid tampak senang karena Panthana mulai handal bermain Volly, dia merasa usahanya mengajari Panthana bermain Volly sangat memuaskan. Tidak dipungkirinya, Panthana sangat berbakat dalam hal olahraga terbukti dari dia yang cepat menguasai teknik olahraga lain selain basket yang selalu digelutinya selama ini.
Namun berbeda dengan Panthana, wajah pemuda itu tampak lesu seolah banyak masalah yang sedang dipikirkannya. Jika biasanya dia selalu tertawa gembira jika sedang menghabiskan waktunya bersama dengan Inggrid. Tidak demikian dengan hari ini, karena pertengkarannya dengan teman-temannya di ekskul basket tempo hari telah membuat suasana hati seorang Panthana sangat buruk akhir-akhir ini.
“Thana, lo baik-baik aja kan? Kok lesu gitu? Lo lagi sakit ya?” Tanya Inggrid khawatir, tentu dia menyadari keanehan sikap Panthana karena biasanya pemuda itu akan sangat ceria jika sedang bersamanya.
“Nggak kok, Grid. Gue baik-baik aja. Cuma agak lelah aja,” jawabnya seraya tersenyum tipis.
“Ya udah, kita istirahat aja dulu kalau begitu. Gue gabung dulu sama anak-anak cewek ya?” Panthana tidak menyahut, dia hanya memberikan respon dengan anggukannya.
“Thana, kamu masih mikirin temen-temen kamu ya?” Tanya Bowbow, yang seperti biasa selalu betah melayang di samping Panthana.
“Jangan ngajakin gue ngomong di sini, di sini banyak orang. Gue gak mau dikira gila sama orang lain gara-gara mereka liat gue ngomong sendiri,” sahut Panthana sambil berbisik.
Lalu dia melangkah menuju tempat yang sepi. Dia duduk di lantai seraya menundukan kepalanya. Pertengkarannya bersama keempat sahabat baiknya benar-benar membuat dia kehilangan semangat hidupnya. Jika sedang ada masalah, biasanya dia akan mencurahkan isi hatinya kepada keempat sahabatnya itu. Namun, kini dia sudah tidak bisa melakukannya lagi.
Diam-diam Panthana menyadari bahwa kejadian ini sepenuhnya karena kesalahannya. Dia telah ceroboh melakukan sesuatu tanpa meminta saran maupun pendapat dari teman-temannya dulu. Benar yang dikatakan Danu, seharusnya saat itu dia memberitahu mereka terlebih dulu ketika dia memutuskan untuk bergabung dengan ekskul Volly. Dia juga telah melalaikan tanggungjawabnya sebagai ketua ekskul basket dengan sering bolos tanpa pemberitahuan. Sungguh... dia sangat menyesali perbuatannya yang telah membuat persahabatan mereka menjadi renggang seperti sekarang.
“Lo malah santai-santai di sini padahal yang lain lagi sibuk latihan. Ternyata dugaan gue bener, lo masuk ekskul volly bukan karena serius pengen belajar volly tapi karena lo punya alasan laen, kan?”
Panthana memutar kepalanya ke arah pemilik suara. Roni sedang berdiri menjulang tinggi tepat di belakangnya, membuat suasana hati Panthana semakin bertambah buruk karena kehadiran sang ketua ekskul Volly itu.
“Bener kan yang gue bilang? Gue juga tahu alasan lo masuk ekskul volly,” Tambahnya seraya menghampiri Panthana dan ikut mendudukan dirinya di sampingnya.
“Lo pengin deketin Inggrid, kan? Makanya lo bela-belain masuk ekskul volly. Kayaknya lo suka sama Inggrid. Lo lupa ya udah punya cewek? Apa perlu gue ingetin lo, kalau cewek lo tuh sahabat baik Inggrid?” Panthana terpaku di tempat duduknya, dia diam seolah kehilangan kemampuannya untuk berkata-kata.
“Emangnya lo pikir, Inggrid mau nerima lo yang jelas-jelas pacar sahabatnya? Gue yakin Inggrid gak bakalan mau nikung sahabatnya sendiri. Lo harusnya tahu diri Than, lo udah punya cewek jadi gak usah deketin Inggrid lagi.”
“Ini bukan urusan lo. Lagian gue juga mau putusin Dian kok.” Akhirnya Panthana menyahut dengan wajah putihnya berubah menjadi memerah karena menahan emosinya.
“Ooh, jadi lo secara gak langsung udah ngaku kalau tebakan gue bener ya? Jadi alasan lo ikut ekskul volly karena pengin deketin Inggrid? Gue gak bakalan diem aja, lagian gue udah nyatain perasaan gue kok sama dia, tinggal nunggu jawaban dia aja. Kalau lo berani, coba lo nyatain perasaan lo juga ke dia. Terus kita liat, siapa yang bakalan dia pilih, lo atau gue?” Roni mengatakannya dengan menggebu-gebu, beruntung mereka sedang berada di tempat sepi, di sudut aula sehingga tak ada yang mendengarkan pembicaraan mereka berdua. Tentu terkecuali Bowbow yang melayang di samping Panthana dengan kedua matanya melotot menatap Roni marah.
“Thana, jangan diem aja. Kamu lawan dong. Aku gak suka sama cowok ini. Biar aku kasih pelajaran dia supaya gak ngomong sembarangan lagi,” ucap Bowbow, namun dia urungkan niatnya untuk menjahili Roni ketika Panthana mengangkat telapak tangan kanannya seolah memberi isyarat padanya agar tidak melakukan apapun pada Roni.
“Tentu aja gue juga bakalan nyatain perasaan gue ke dia,” sahut Panthana tegas.
“OK, gini aja. Kita taruhan gimana?”
“Taruhan?” Panthana mengernyitkan dahinya tak paham.
“Kalau Inggrid nerima gue, lo harus keluar dari ekskul volly dan jangan pernah deketin Inggrid lagi.”
“Kalau gue yang diterima Inggrid gimana?” Tanya Panthana, mulai merasa tertarik dengan taruhan yang ditawarkan Roni.
“Gue gak bakalan ganggu lo sama Inggrid lagi.”
“OK, gue setuju.” Roni menyeringai ketika mendengar Panthana dengan penuh semangat menerima tantangan darinya. Setelah itu, tanpa kata Roni melenggang pergi meninggalkan Panthana seorang diri.
***
Hari ini Panthana bertekad akan memutuskan hubungannya dengan Dian. Di samping karena taruhannya dengan Roni, alasan dia ingin memutuskan hubungannya dengan Dian secepat mungkin juga karena dia sudah tidak tega mempermainkan Dian. Dia ingin mengakhiri kebohongan ini dan terbebas dari rasa bersalahnya pada Dian.
Demi rencananya bisa berjalan lancar, dia pun mengajak Dian untuk berkencan sepulang sekolah.
Saat ini, mereka berdua sedang duduk di sebuah restoran Jepang. Panthana pikir, setidaknya hari ini dia harus membuat Dian bahagia barulah setelah mengantarnya pulang, dia akan mengutarakan maksudnya mengajak Dian pergi berkencan yang tidak lain meminta agar hubungan mereka diakhiri.
Dian yang tak tahu menahu tentang rencana Panthana, tampak bahagia karena untuk pertama kalinya semejak resmi berpacaran dengan Panthana, pacarnya itu mengajaknya pergi berkencan. Biasanya dirinyalah yang mengajak Panthana menemaninya meski sering kali berakhir dengan dirinya ditolak oleh Panthana. Selama ini Panthana sering beralasan bahwa dia sangat sibuk dengan kegiatan ekskulnya sehingga tidak bisa menemani Dian.
Dian memesan semangkuk mie ramen di restoran Jepang tersebut, dia menyantapnya dengan lahap. Namun berbeda dengan Panthana yang sejak mendatangi Restoran terlihat gugup dan gelisah.
“Thana, aku seneng deh kamu ngajakin aku makan bareng kayak gini,” ucap Dian, setelah dia meneguk habis es jeruk yang dipesannya. Panthana tersenyum tipis, dia sudah membuka mulutnya hendak bicara namun diurungkannya ketika Dian kembali bicara padanya.
“Tadinya hari ini aku emang mau ajak kamu temenin aku ke suatu tempat,” tambah Dian.
“Oh iya, emangnya kamu mau kemana?”
“Ke Mall. Aku mau minta kamu temenin nyari kado buat Inggrid.” Panthana terenyak mendengarnya. Seketika rencana yang sudah disusunnya, buyar begitu saja dan digantikan dengan berbagai pemikiran tentang Inggrid yang berkecamuk di kepalanya.
“Kado buat Inggrid? Emang kapan dia ulang tahun?” Tanya Panthana sudah bisa menebak alasan Dian ingin membeli kado pasti karena Inggrid berulang tahun.
“Lusa dia ulang tahun. Kamu mau kan temenin aku nyari kado buat dia?” Panthana tidak menyahut namun dia mengangguk penuh semangat. Dia juga berencana mencari kado untuk Inggrid. Menurutnya pasti Dian tahu persis benda apa yang disukai Inggrid yang cocok untuk dijadikan kado.
Setelah menyelesaikan makan mereka, mereka berdua pun bergegas mendatangi salah satu Mall besar yang ada di Jakarta Barat.
Panthana tak mengeluh sama sekali meski Dian terus memasuki satu persatu toko yang ada di Mall tersebut. Dian terlihat ragu dan belum juga menemukan hadiah yang cocok untuk Inggrid.
“Duh, aku bingung nih, ngasih apa ya buat Inggrid?” Tanya Dian, mungkin dia sedang meminta pendapat pada Panthana.
“Emangnya apa yang dia suka? Kamu kan sahabatnya pasti tahu dong apa yang Inggrid suka,” sahut Panthana, berusaha mencari informasi dari Dian melalui pertanyaan yang dilontarkannya barusan.
“Hmm, setahu aku dia suka nulis diary. Ya udah deh, aku kasih buku diary aja. Gimana menurut kamu?”
“Ya, boleh juga tuh,” jawab Panthana seraya tersenyum.
Dia kembali menemani Dian yang kini memasuki sebuah toko aksesoris, disana juga dijual berbagai macam buku diary. Dian memilih buku diary berwarna kuning dengan sampulnya bergambar anime pokemon. Ketika Dian hendak membayarnya di kasir, Panthana bergegas membayarnya. Menurutnya sebagai seorang pacar sudah seharusnya dia yang membelikan semua barang yang dibeli Dian.
“Than, gak apa-apa biar aku aja yang bayar. Ini kan hadiah buat sahabat aku.”
“Gak apa-apa, Di. Kamu kan pacar aku. Jadi biar aku yang bayar,” sahut Panthana, sukses membuat Dian merona, entah karena malu atau dia senang dengan sikap Panthana yang begitu peduli padanya.
“Makasih ya. Oh iya, aku ke toilet sebentar ya, Than.” Panthana mengangguk memberikan izinnya.
Setelah Dian pergi, dia kembali ke rak yang memajang berbagai buku diary. Kini dia tahu Inggrid suka menulis diary dan dia berniat memberikan Inggrid hadiah yang sama dengan Dian yaitu memberinya sebuah buku diary. Tentu saja dia akan membedakan motif buku diarynya dengan Dian.
“Thana, kamu mau ngasih hadiah buku diary juga ke Inggrid?” Tanya Bowbow, yang sukses membuat Panthana terperanjat kaget. Pasalnya dia sedang fokus memilih-milih buku diary yang akan diberikannya pada Inggrid.
“Lo ngagetin gue aja, Bow,” sahutnya jengkel.
“Aku kan gak maksud ngagetin kamu. Jadi serius kamu mau ngasih diary juga ke Inggrid?” Panthana mengiyakan dengan anggukannya. Bowbow mendesah lelah, menurutnya pria macam Panthana ini benar-benar tidak peka dan tidak memiliki inisiatif sendiri. Panthana terlalu polos dan kaku jika berurusan dengan wanita terutama menyangkut Inggrid.
“Jangan dong, Thana. Dian kan udah ngasih dia buku diary, masa mau disamain hadiahnya? Kamu harus ngasih hadiah lain ke dia.”
“Terus gue ngasih apa? Gue kan gak tahu barang kesukaan Inggrid,” timpal Panthana, tak mau kalah. Menurutnya apa salahnya memberikan Inggrid buku diary juga, jelas-jelas Inggrid pasti akan menyukainya. Daripada memberikan benda lain yang belum tentu disukai Inggrid.
“Kamu tanyain aja ke Dian, benda apa lagi yang disukai Inggrid selain buku diary,” saran Bowbow, sempat membuat Panthana tertegun. Namun pada akhirnya dia menggeleng tak setuju.
“Nggak ah, ntar dia curiga lagi kalau gue nanya-nanya soal Inggrid. Gue gak mau dia curiga kalau gue sebenarnya suka sama Inggrid bukan sama dia.”
“Ya ampun Thana, kamu kan tinggal bilang ke dia kalau kamu cuma pengin ngasih hadiah sebagai temen aja ke Inggrid,” sahut Bowbow, tampak gemas dengan kepolosan Panthana.
“Gue tetep gak mau nanyain ke dia. Gue takut dia sadar kalau gue mau jadi pacar dia karena gue manfaatin dia yang deket sama Inggrid. Gue nyesel Bow udah manfaatin Dian kayak gini. Dia pasti marah banget kalau tahu gue udah bohongin dia.” Panthana menundukan pandangannya sepertinya dia sungguh-sungguh dengan perkataannya. Dia menyesali perbuatannya yang telah mempermainkan perasaan Dian yang sepertinya tulus menyukainya.
“Rencananya gue mau mutusin dia hari ini tapi kayaknya mesti gue tunda dulu. Gue gak tega liat dia kayaknya seneng banget mikirin ngasih kado ini ke Inggrid. Gue undur aja beberapa hari lagi.”
“Kalau mau mutusin dia harusnya jangan ditunda-tunda, Thana.”
“Iya, gue tahu. Tapi gue gak bisa bilang hari ini. Mungkin nanti udah ulang tahun Inggrid. Lagian Dian nanti pasti cerita ke Inggrid kalau gue putusin dia. Gue gak mau di hari ulang tahunnya Inggrid jadi kepikiran masalah sahabatnya.”
“Jadi semua emang demi Inggrid. Kamu kok cinta banget sih sama Inggrid?” Panthana memutar bola matanya bosan mendengar pertanyaan Bowbow.
“Gue tuh udah suka sama dia dari dulu banget Bow. Dari gue masih SMP, udah ampir 5 tahunan. Tapi gue gak pernah berani nyatain perasaan gue ke dia. Gue takut dia jadi ngehindarin gue kalau tahu gue suka sama dia.” Bowbow sudah membuka mulutnya hendak menyahut namun diurungkannya ketika Panthana mengisyaratkan dengan tangannya agar dia diam. Awalnya dia heran namun begitu melihat Dian sedang berjalan menghampiri mereka, Bowbow pun mengerti alasan Panthana menyuruhnya diam.
“Ya udah, kalau kamu gak mau nanya ke Dian, biar aku aja yang nyari tahu apa yang Inggrid suka,” ucap Bowbow, lalu menghilang begitu saja tanpa menunggu respon dari Panthana.
Rupanya Bowbow benar-benar melakukan apa yang dia katakan tadi. Sekarang dia sudah berdiri di kamar Inggrid, sukses membuat Inggrid kembali merasakan bulu kuduknya meremang, sama persis seperti ketika beberapa hari yang lalu dia diikuti oleh Bowbow hingga ke kamarnya.
Inggrid sedang berkutat di depan meja belajarnya, sepertinya dia sedang menulis di sebuah diary. Rupanya benar yang dikatakan Dian, Inggrid memang memiliki hobby menulis diary setiap harinya. Namun Bowbow tak menyerah, dia yakin jika dia mencari tahu maka dia akan tahu benda lain yang disukai Inggrid selain buku diary. Dia pun menggulirkan bola matanya ke segala penjuru kamar Inggrid.
Inggrid terenyak dan bergegas bangun dari duduknya ketika dia mendengar suara gebrakan dari arah lemari pakaiannya. Kedua matanya membola dengan tubuh yang mulai gemetar ketakutan ketika melihat pintu lemarinya terbuka dengan sendirinya. Padahal tanpa diketahuinya, Bowbow lah yang membuka pintu lemari pakaiannya.
Bowbow memperhatikan dengan seksama isi di dalam lemari, dia mengembuskan napas kasar ketika tidak menemukan benda yang menarik selain pakaian Inggrid.
“Apa aku suruh Thana beliin Inggrid baju aja ya?” Gumam Bowbow, tentu tak mungkin suaranya ini didengar oleh Inggrid. Inggrid sendiri tengah berjalan ragu menuju lemarinya. Dia menutup pintu lemarinya setelah sebelumnya dia memastikan tidak ada hal aneh apa pun di dalam lemarinya. Setelah pintu lemari pakaiannya tertutup rapat, dia kembali melangkah menuju kursinya masih dengan tatapan matanya tertuju ke arah lemari.
Baru 5 menit duduk tenang di kursi dan hendak melanjutkan menulis, lagi-lagi Inggrid terperanjat kaget. Kali ini laci di mejanya yang tiba-tiba terbuka dengan sendirinya. Kali ini Inggrid tak sanggup lagi menahan rasa takutnya. Dia menelan salivanya susah payah sebelum akhirnya lari terbirit-b***t meninggalkan kamarnya.
“Waah, kayaknya aku udah nakutin Inggrid. Hihihihihi.” Bowbow cekikikan sendiri tampak menikmati kejahilannya yang sukses membuat Inggrid ketakutan.
“Thana pasti marah kalau tahu aku jahilin Inggrid. Aku gak boleh ceritain ini ke Thana,” gumamnya dan kembali terkikik geli.
“Apa sih, Grid, masa di kamar kamu ada hantu?” Seorang pria muda tiba-tiba masuk ke dalam kamar Inggrid seraya berteriak. Bowbow berhenti terkikik dan memperhatikan dengan seksama wajah pria asing yang baru dilihatnya berada di rumah Inggrid.
“Bener, Kak. Tadi lemari sama lacinya kebuka sendiri. Aku gak bohong,” ucap Inggrid, menyahuti kakaknya. Dia berdiri di dekat pintu, tak berani masuk ke dalam kamarnya.
“Kamu halu kali, kebanyakan baca novel horor jadinya kayak gini deh.”
“Beneran, Kak. Kakak tolong periksain kamar aku deh.”
“Iya, iya, kakak periksa kamar kamu. Sekarang kamu tolong dong bawain minum buat kakak. Haus nih.” Inggrid memberengut tak suka, namun pada akhirnya dia tetap menuruti permintaan sang kakak meski mulutnya tak hentinya menggerutu.
Di dalam kamar, sang kakak menuruti keinginan adiknya. Dia memeriksa lemari dan juga laci meja adiknya, dia menghela napas panjang ketika tak mendapati apapun.
“Huuh, Si Inggrid kebangetan takutnya. Lagian mana ada hantu sih di sini?” Ucapnya, tanpa menyadari sesosok hantu yang dibicarakannya kini sedang melayang tepat di belakangnya.
“Oh iya, lusa kan ulang tahun Inggrid. Hm, gue kasih kejutan ah supaya dia seneng.” Sang kakak kembali bergumam ketika tatapannya sempat tertuju ke arah kalender di meja Inggrid. Di dalam kalender itu Inggrid menandai tanggal ulang tahunnya dengan tulisan ‘My Birthday’.
Bowbow tak berkedip ketika memperhatikan kakak Inggrid yang mengeluarkan sebuah benda dari saku celananya. Dia perhatikan dengan seksama benda itu, rupanya benda itu adalah mainan dari karet berbentuk laba-laba. Sang kakak menyelipkan mainan laba-laba itu di dalam buku diary Inggrid.
“Hahaha... si Inggrid pasti seneng banget lihat kejutannya.” Setelah bergumam seperti itu, dia pun pergi meninggalkan kamar adiknya.
“Inggrid suka laba-laba, kok bisa? Padahal laba-laba kan serem. Ya udah deh, aku kasih tahu Thana, biar dia ngasih mainan atau boneka laba-laba aja buat Inggrid. Kalau perlu beliin Inggrid laba-laba asli, hehe...” Bowbow terkekeh geli membayangkan Panthana akan senang mendengar kabar ini. Lalu dia pun melayang pergi dari kamar Inggrid.
Sayang seribu sayang, dia tidak sempat melihat reaksi Inggrid begitu melihat kejutan dari kakaknya. Inggrid duduk kembali di kursinya setelah sebelumnya dia kembali menatap sekeliling kamarnya. Dirasa tak melihat apa pun dan hawa dingin yang membuat bulu kuduknya merinding sudah tak terasa lagi, Inggrid pun hendak melanjutkan aktivitas menulisnya.
Dia membuka buku diary nya, dan seketika dia jatuh tersungkur saking terkejutnya ketika melihat laba-laba di dalam bukunya. Dia berteriak ketakutan sampai kedua matanya berkaca-kaca.
“Kakak!! Ke sini, Kak. Ada laba-laba. Aku takut banget!! Aku benci banget laba-laba. Kak, ke sini!!” Teriaknya, meminta bantuan dari kakaknya untuk mengusir laba-laba itu. Sedangkan sang kakak yang merasa telah sukses menjahili adiknya sedang tertawa lantang di dalam kamarnya karena mendengar teriakan Inggrid.