BAB 4

658 Kata
Indri dan kedua orang tuanya sudah sampai diruangan pak bayu . indri menghampiri pak bayu dan bu sofi isterinya. lalu mencium punggung tangan mereka bergantian. tukang rias sudha menunggu sejak berapa menit yang lalu sebelum indri datang dan setelah indri datang , ia pun segera merias sebelum akad di lakukan. saat dirias indri berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh tapi sayangnya air mata itu mengalir tanpa bisa di cegah. tukang riasnya pun kewalahan menyeka air mata indri. "dek, jangan menangis terus dong.. make-up nya nanti jadi luntur looh.. " ucap tukang riasnya "maaf mbak' ucap indri sambil terisak indri pun berusaha menenangkan perasaannya dan berusaha menerima pernikahan ini dengan lapang d**a. ia menghirup nafas dalam-dalam lalu menghembuskan nya lewat mulut dengan kasar. setelah di rias, indri pun ikut duduk dengan ke dua orang tuanya di dalam ruangan pak bayu dan penghulu sudah datang sejak indri di rias tadi. namun calon mempelai prianya belum datang juga. sudah 1 jam pak penghulu menunggu ,pak bayupun sudah mulai gelisah. ia sudah mencoba menghubungi reza tapi telpon nya tidak bisa di hubungngi akhirnya ia menelpon lia sekertaris reza. "dimana reza".?? tanya pak bayu "sedang rapat bersama klien pak" jawab lia "cepat suruh dia kerumah sakit sekarang! kalau tidak, katakan padanya untuk jangan perna menemui aku lagi " ucap pak bayu "tapi pak... ucap Lia terputus belum sempat Lia menyelesaikan kata-kata nya pak bayu sudah memutuskan sambungan telefon nya. sementara di rumah sakit pak penghulu berkata "bagaimna ini pak.? ini jadi atau tidak akad nikahnya.? " "tolong tunggu 1 jam lagi pak" pinta pak bayu memohon. pak penghulu pun menyetujui nya semoga laki-laki  itu tidak datang dan pernikahan ini batal,  batin indri berharap sementara itu reza sedang rapat di ruang rapat .tiba-tiba lia masuk dan membisikkan sesuatu di telinga reza. reza pun mengangguk mengerti. papa benar-benar serius dengan ucapanya.?? batin reza,  ia pun memanggil asistennya romi untuk melanjutkan rapatnya setelah reza pamit undur diri dari rapat, ia segera melajukan mobilnya menuju rumah sakit dengan kecepatan penuh. setengah jam berlalu, reza pun belum menunjukkan Batang hidungnya . indri pun semakin senang dan hatinya berbunga-bunga , ia menunggu sambil memainkan ponsel di tangannya. sudah 45 menit berlalu dan reza juga belum datang-datang , senyum indri pun semakin mengembangkan . ia izin untuk ke toilet sebentar karna sedari tadi ia menahan keinginannya untuk buang air kecil lantaran gugup. saat indri keluar toilet , ia merasa kalau jumlah orang diruangan tersebut bertambah, ia melihat orang di ruang itu satu persatu namun pandangan indri jatuh pada laki-laki berumur nan tampan memakai jas hitam berada di samping pak bayu . indri pun tertegun di depan pintu toilet, ia mendengar laki-laki itu memohon pada pak bayu supaya membatalkan pernikahan ini. "pa.. reza nggak bisa melakukan pernikahan ini pa. pernikahan bukan hal untuk main-main" ucap reza pada pak bayu "siapa yang main-main rez... cepat lakukan pernikahan ini sekarang atau pergi dan jangan pernah temui papa lagi sekalipun papa sudah terkubur di dalam tanah" ucap pak bayu sekaligus memalingkan mukanya dari reza. reza pun tampak berpikir sejenak kemudia mengangguk dengan mantap. "baiklah, kalau itu bisa membuat papa senang. reza akan menikah sekarang" ucap reza tiba-tiba. ia pun berdiri lalu berjalan menuju toilet untuk mengambil wudhu melewati indri yang sedari tadi berdiri di sana. indri pun beranjak dari depan toilet dan duduk di samping ibunya. setalah wudhu, reza duduk di depan penghulu dan sebelum akad di mulai pak penghulu menanyakan maharnya karna memang tidak ada persiapan. reza pun mengeluarkan uang dari dompet nya 10 lembar uang seratus ribuan sejumlah satu juta rupiah. setelah itu pak penghulu dan reza berjabat tangan dan memulai akad nikahnya. "Qobiltu nikahaha watajwijaha bil mahril madzkur , ucap reza dengan lantang kata "sah" terdengar dari semua orang yang ada di dalam ruangan itu. indri hanya bisa menunduk dan memejamkan matanya, tubuhnya terasa bergetar, ibunya menuntunnya untuk duduk di samping reza dan mencium punggung tangan reza. bak bayu merasa lega dan bahagia lalu ia berpelukan dengan pak herman sahabatnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN